
Ban 244. Ketakutan Yao Ningqiao.
Ling An si Dewa Abadi, tiba di desa padat penduduknya. Dia mencium aroma masakan yang membuat perutnya keroncongan. Saat akan memasuki desa, ia melihat banyak orang yang menonton seorang wanita cantik bertarung dengan pria yang lebih tua.
Wanita itu adalah Yao Ningqiao - Permasuri Qiao. Usianya 17 tahun, mengenakan pakaian serba berwarna merah muda, senjata andalan adalah cambuk. Sedangkan pria itu berusia 25 tahun bertubuh pendek dan gemuk, menggunakan senjata gada berwarna emas.
Yao Ningqiao menantang pria itu yang terkenal kuat, dia bercita-cita menjadi yang terkuat dengan mengalahkan semua kultivator di Tiga Alam. Semenjak menjadi murid Yao Shen si Dewa Perusak, ia dengan cepat meningkatkan kekuatannya, dan telah banyak mengalahkan kultivator kuat.
"Bao Gendut, kali ini aku akan serius!" Setelah berbicara, Yao Ningqiao mengayunkan cambuknya ke arah lawannya.
Namun, Bao Gendut segera menggunakan gada untuk menghentikan pergerakan cambuk yang meliuk-liuk seperti ular. Ujung cambuk melilit pegangan gada. Mereka berdua saling tarik-menarik sambil mengalirkan energi spiritual untuk beradu.
Yao Ningqiao menyeringai sambil menghentakkan tangan kanannya yang memegang gagang cambuk. Cambuk pun bergelombang setelah di hentakkan.
Dengan kedua tangannya, Bao Gendut memutar senjatanya agar cambuk lawan ke tarik, lalu melompat mundur untuk menghentikan gelombang cambuk.
Akibatnya, tubuh Yao Ningqiao tersentak ke depan karena kuatnya tarikan lawannya. Namun, dia dengan lincah menghentakkan kaki, dan tubuhnya berputar-putar mengikut daya tarik lawan yang tidak melepaskan lilitan cambuknya.
Bao Gendut terkejut lawan memanfaatkan daya hentakan tarikannya untuk meningkatkan kecepatan. Selain itu, ia melihat Yao Ningqiao tersenyum sambil menghentakkan cambuknya.
Sebelum Yao Ningqiao mendekat, Bao Gendut justru melompat ke depan sambil mengarahkan ujung gada ke arah lawan. Ujung cambuk menjadi longgar dan dengan mudah terlepas.
Sebelum ujung gada yang besar mengenai wajahnya, Yao Ningqiao dengan segera menyetabilkan tubuhnya yang berputar dengan menggunakan tangan kiri bertumpu pada tanah. Lalu secepat mungkin mundur sambil menghentakkan cambuknya.
Ujung cambuk melesat ke arah leher Bao Gendut dengan sangat cepat. Melihat ujung cambuk yang bergerak ke lehernya, Bao Gendut segera menghentakkan kaki kanan untuk mundur menghindari ujung cambuk.
Sayangnya, senjata dan tubuhnya yang berat membuatnya menjadi lambat bergerak. Akibatnya, suara pecutan terdengar oleh semua penonton ketika ujung cambuk mengenai dagu Bao Gendut.
Bao Gendut terhuyung-huyung ke belakang sambil menatap tajam Yao Ningqiao yang tersenyum puas telah melukainya. Dagunya bercucuran darah segar karena terkena ujung cambuk yang terdapat belati tajam.
"Apa perlu dilanjutkan lagi?" tanya Yao Ningqiao sambil memecut cambuknya ke tanah.
"Anggap saja hari ini kau menang!" sahut Bao Gendut dengan nada ketus, lalu dia melemparkan kantong kain yang berisi 200 Batu Mistik, lalu pergi begitu saja.
Yao Ningqiao dengan sigap menerima kantong kain hasil kemenangan yang mengalahkan Bao Gendut. Kemudian, semua penonton bersorak-sorai karena Yao Ningqiao berhasil mengalahkan Bao Gendut yang terkenal kuat senjatanya.
Ling An melihat pertarungan mereka, sudah menebak jika Bao Gendut akan dikalahkan karena Yao Ningqiao unggul dalam kecepatan, serangan jarak jauh dan lincah.
Sedangkan Bao Gendut memang memiliki kekuatan, senjatanya memiliki daya rusak tinggi, tapi kelemahannya dalam hal kecepatan, dan jangkauan serangannya pendek yang dimanfaatkan oleh lawan.
Di puja-puji oleh penonton, Yao Ningqiao tersenyum puas sambil melihat sekelilingnya, dia masih ingin bertarung.
"Siapa yang ingin melawanku? Taruhannya tetap sama, 200 Batu Mistik jika mampu melukaiku!" tantangan Yao Ningqiao kepada semua orang.
Namun, selain Bao Gendut yang berani melawannya, tidak satupun penduduk desa yang berani menerima tantangan ini. Mereka serempak mundur sebagai tanda tidak berani bertarung.
"Apakah penduduk Desa Yujie memang selemah ini?" ejekan Yao Ningqiao kepada semua penduduk, padahal dia seorang diri dan wanita datang menantang, tetapi tidak ada satupun yang berani melawannya.
Karena semua penduduk menjauh, Yao Ningqiao melihat Ling An yang berdiri menatapnya. Ditatap oleh pria, tidak membuatnya tersinggung karena sudah biasa kecantikannya menarik hati kaum pria.
"Kamu lemah, berani melawanku?" tanya Yao Ningqiao karena Ling An tidak mundur seperti penduduk desa yang menonton.
__ADS_1
Ling An garuk-garuk kepala karena tidak merasa menerima tantangan. Tetapi, melihat dirinya yang tidak mundur dan lebih dekat dengan Yao Ningqiao, dia menduga karena hal ini dikira menerima tantangan.
Ling An menunjuk Tombak Jiwa Berlian Petir sebagai bukti jika tidak lemah. Yao Ningqiao dan semua orang melihat tombaknya. Seketika kedua mata semua orang berbinar-binar penuh keserakahan, sebab tombak itu terlihat sangat kuat dan dibuat dengan bahan berlian.
Yao Ningqiao berjalan lenggak-lenggok mendekati Ling An si Dewa Abadi, kedua matanya tertuju pada tombak yang samar-samar mengeluarkan aura kuat.
Melihat cara Yao Ningqiao yang berjalan, Ling An merasa pernah mengalami momen ini. Namun, dia tidak malas mengingatnya, dan segera mundur saat tombaknya akan disentuh oleh Yao Ningqiao.
Ling An mencium aroma wangi bunga yang membuatnya tertarik dengan Yao Ningqiao. Ia melihat wanita ini tersenyum sambil memecut cambuknya ke tanah.
"1.000 Batu Mistik untuk tombakmu itu. Jika kamu berhasil melukaiku atau merobek pakaianku, 200 Batu Mistik sebagai hadiahnya. Khusus untuk kamu... kamu tidak perlu bertaruh apapun!"
Yao Ningqiao ingin membeli Tombak Jiwa Berlian Petir, dan tidak meminta Ling An untuk bertaruh agar lebih mudah untuk mendapatkan keinginannya. Dia sedang bernegosiasi dengan cara halus.
Semua penonton berbisik-bisik karena 1.000 Batu Mistik terlalu murah jika ditukar dengan Tombak Jiwa Berlian Petir. Mendengar bisikan para penonton, Yao Ningqiao mendengus dingin sambil menatap tajam ke arah semua orang yang langsung terdiam.
"5.000 Batu Mistik untuk tombakmu!" tawaran Yao Ningqiao sambil mendekati Ling An.
Saat jarak kurang dari dua meter, ia menahan tawa karena mendengar suara perut Ling An yang keroncong, tanda sedang lapar. Baru kali ini dia mengetahui jika ada kultivator yang masih merasakan lapar.
"Aku lapar... Bisa kah kamu memasak?" kata Ling An dengan polosnya dan berharap wanita di hadapannya ini mau memberikan makanan.
Sontak membuat Yao Ningqiao tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri, demikian juga dengan semua orang tertawa karena ucapan Ling An.
Setelah tertawa, Yao Ningqiao berkata, "aku bisa mentraktir kamu makan, tapi... Bagaimana dengan tawaranku?"
"Aku lapar, bagaimana bisa berpikir!" ujar Ling An sambil memegang perutnya yang keroncongan.
Karena baru pertama kali bersentuhan dengan lawan jenis selama di kehidupannya yang sekarang, membuat jantung Ling An berdebar-debar. Apalagi merasakan buah dada besar dan kenyal menyentuh lengannya.
"Kita makan di sana!" ajak Yao Ningqiao tanpa peduli dengan tatapan pria yang iri hati kepada Ling An
Dia sengaja memeluk lengan Ling An agar lebih mudah mendapatkan Tombak Jiwa Berlian Petir, dia menggunakan kecantikan dan kemolekan tubuhnya sebagai bentuk rayuan fisik.
Ling An seperti keledai yang hanya mau mengikuti Yao Ningqiao. Dia melihat mata semua pria yang tampak membencinya. "Kenapa dengan mereka?" tanyanya heran.
"Karena kamu satu-satunya pria yang bisa menyentuhku!" jawab Yao Ningqiao dengan nada bangga, dan semakin erat memeluk lengan Ling An.
Dia melirik Ling An yang sedang melihat sekelilingnya. Secara diam-diam, tangan kanan ke belakang karena ingin merebut Tombak Jiwa Berlian Petir. Namun, saat telapak tangannya sedikit lagi menyentuh tombak, dia kaget karena telapak tangannya seperti disengat petir
Dengan segera Yao Ningqiao melihat telapak tangannya yang merah dan terdapat titik-titik sengatan petir. "Hebat sekali tombaknya! Aku harus mendapatkannya apapun caranya!" batinnya penuh tekad.
"Itu kedai yang menyediakan berbagai menu makanan berdaging. Apapun menu makanannya, kamu bisa pesan," kata Yao Ningqiao yang ingin membuat Ling An merasa nyaman dan senang bersamanya.
"Apapun itu?" penegasan Ling An karena khawatir Yao Ningqiao berbohong, sebab dirinya tidak memiliki Batu Roh dan Batu Mistik sebagai alat pembayaran.
Bai Ge yang berada di dalam Dunia Jiwa milik Dewa Abadi, melihat apapun yang dilihat oleh Ling An, dia jelas cemburu saat Permaisuri Qiao juga ada di masa lalu. Jika tidak dilarang oleh Kitab Suci, dia jelas akan mengusir Yao Ningqiao dan juga memulihkan ingatan Dewa Abadi.
Yao Ningqiao mengangguk sebagai jawaban dan menarik lengannya agar segera tiba di kedai. "Siapa namamu?" tanyanya yang berbasa-basi.
"Ling An!" jawabnya sambil melihat ditengah-tengah kedua alis setiap orang yang dilihatnya untuk mencari tanda.
__ADS_1
Biasanya, jika orang tersebut adalah seorang Dewa, akan memiliki tanda-tanda ke-Dewa-an. Setiap tanda itu berbeda-beda bentuknya, umumnya berbentuk api, tetesan air dan lain sebagainya.
Dia mendapatkan pengetahuan ini karena berasal dari masa depan masih dan masih menjadi seorang Dewa. Dengan kata lain, dia tidak perlu lagi belajar seperti anak yang mulai mengenyam pendidikan.
"Bagaimana tawaranku?" desak Yao Ningqiao yang tidak sabaran untuk mendapatkan Tombak Jiwa Berlian Petir.
Mereka duduk di kursi yang telah disediakan oleh pemilik kedai. Yao Ningqiao sengaja duduk di samping Ling An agar bisa lebih dekat dengan tombak. Jika Ling An tidak mau menjual tombaknya, ia akan dengan paksa merebutnya.
"Makan dulu!" jawab Ling An.
"Berikan kami masakanmu yang terbaik!" pinta Yao Ningqiao kepada pelayan kedai.
"Segera datang, Nona Muda!" jawab si pelayan dan segera menyiapkan pesanan.
"Ling An... Marga cabang mana?" tanya Yao Ningqiao yang baru mendengar ada orang yang memiliki nama Ling.
Ditanya hal ini, membuat Ling An kebingungan harus menjawab apa, sebab namanya ini pemberian dari Zhi Xiu Juan.
"Namaku pemberian dari seorang wanita cantik, namanya Xiu Juan. Dan aku terlahir dari tanaman jiwa!" ungkap Ling An dengan jujur karena hanya itu yang bisa dikatakannya.
Seketika raut wajah Yao Ningqiao tidak sedap dipandang karena tidak suka ada wanita lain yang lebih cantik darinya. Walaupun Ling An tidak menyebutkan nama wanita itu secara lengkap, ia sudah menebak siapa wanita yang dimaksudkannya.
"Lebih cantik mana wanita itu denganku?" tanya Yao Ningqiao yang ingin Ling An menilainya.
Ling An melihat wajah cantik Yao Ningqiao, ia mengamati wajahnya dengan seksama. Karena duduk berdampingan, Yao Ningqiao merasakan nafas Ling An yang mengeluarkan aroma wangi khas pil. Demikian juga dengan Ling An yang merasakan nafas Yao Ningqiao yang harum.
"Kamu dan dia memiliki kecantikan yang berbeda. Kecantikanmu menarik perhatian pria yang selalu ingin berdekatan. Sedangkan dia, kecantikannya membuat pria malu untuk mendekati. Intinya bagiku, kamu dan dia adalah kecantikan yang terlahir khusus...," Ling An berhenti berbicara saat melihat dua pelayan membawa banyak makanan.
"Khusus apa?" tanya Yao Ningqiao yang tidak sabaran, detak jantung berdebar-debar karena ucapan Ling An tidak seperti pria pada umumnya yang selalu berusaha untuk merayunya.
"Kamu terlahir khusus untukku!" Lanjut Ling An.
Yao Ningqiao tertawa lepas karena ucapannya sangat membual. Dirinya yang cantik tidak mungkin bersanding dengan pria berwajah pas-pasan seperti Ling An. Gurunya si Yao Shen saja sampai terpikat olehnya.
Oleh karena Yao Shen si Dewa Perusak yang jatuh cinta kepada Yao Ningqiao, maka Yao Ningqiao sering kali selalu menghindari Yao Shen yang hanya dianggap sebagai seorang guru, tidak lebih dari itu, dan sesuai dengan perjanjian waktu itu.
Jika diibaratkan langit dan bumi, Ling An adalah bumi dan Yao Shen adalah langitnya. Dan, ketampanan Yao Shen tidak sedikitpun menarik hati Yao Ningqiao.
Sayangnya, Yao Ningqiao juga tidak mengingat tentang kehidupan di masa depannya. Saat pertama kali melihat Ling An si Dewa Abadi, dia sudah jatuh cinta, bahkan sampai membuat tantangan agar Dewa Abadi mau menjadi suaminya.
Setelah pesanan ditata di meja. Ling An dengan segera menyantap makanan dengan tergesa-gesa. Yao Ningqiao sampai melongo melihat Ling An sangat rakus.
"Terlahir dari tanaman jiwa?" batin Yao Ningqiao yang mengingat ucapan Ling An sesaat lalu, dia keheranan karena Ling An seperti Dewi Kesuburan di Pohon Peri.
Karena Ling An masih melahap makanan, ia mengurungkan niat untuk mengorek identitasnya. Lalu dia mengerutkan kening karena melihat seseorang pria yang tidak disukai sedang berjalan ke arah kedai.
"Dia lagi... Kenapa orang ini selalu mengejarku!" batin Yao Ningqiao yang sangat kesal.
Lalu dia mengeluarkan beberapa Batu Roh dan meletakkannya di meja sebagai pembayaran makanan yang dipesan. Tiba-tiba, Yao Ningqiao menarik pergelangan tangan Ling An dan menyeretnya menuju ke belakang kedai makanan.
Ling An yang sedang asyik-asyiknya makan, jelas kesal karena tindakan Yao Ningqiao. Tangan kirinya menggapai paha ayam panggang saat Yao Ningqiao menyeretnya.
__ADS_1