God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Fenomena Di Tiga Alam.


__ADS_3

Bab 251. Fenomena Di Tiga Alam.


Ling An terbangun ketika mendengar suara dedaunan yang bergesekan, dia melihat banyak Manusia Pohon yang mengelilingi sebuah pangkal pohon (tunggul/tunggak) berdiameter tiga meter.


Lalu dia melihat sekelilingnya yang ternyata berada di dasar jurang. Di saat mendongak, dia melihat tebing tinggi yang ketinggian lebih dari ratusan meter. Karena malam hari, membuat jurang dalam tidak menjadi gelap karena banyak kelap-kelip cahaya kunang-kunang, dan ada banyak Batu Cahaya yang menerangi.


Yang membuatnya kagum, tanah juga mengeluarkan cahaya kebiruan, dan kelopak bunga menyebarkan serbuk sari yang juga mengeluarkan cahaya. Cahaya-cahaya itu menambah suasana romantis dan indah.


"Apa yang mereka tunggu?" batinnya karena semua Manusia Pohon mengelilingi tunggul pohon, tidak ada satupun yang berbicara.


Tiba-tiba, Ling An merasakan aura kekuatan milik Dewi Semesta yang dengan sangat cepat mendekati jurang ini. Dia buru-buru berteleportasi dan muncul di tebing tinggi.


Dia merubah wujudnya menyerupai lingkungan. Sambil berjongkok, ia melihat kunang-kunang berterbangan mengelilingi tunggul pohon. Kemudian, dia melihat Dewi Semesta sudah berada di dekat tunggul itu.


Kedua mata Ling An terfokus pada kunang-kunang yang membentuk siluet tubuh. Perlahan kunang-kunang itu berubah menjadi sosok wanita yang dikenalnya, wanita itu adalah Putri Mahatma.


"Selamat datang, Ibu Peri!" sapa Manusia Pohon sambil membungkukkan badannya kepada Putri Mahatma.


Dewi Semesta mendengus dingin karena Manusia Pohon tidak menyambutnya. Ada rasa iri hati kepada Putri Mahatma yang dihormati oleh Manusia Pohon. Putri Mahatma tersenyum sebagai balasan atas sapaan Manusia Pohon.


"Seharusnya kamu duduk bersama dengan Dewa Tertinggi, kenapa kamu menolaknya? Bukannya menyenangkan menjadi salah satu dari pencipta!" Dewi Semesta heran dengan Putri Mahatma yang menolak status tertinggi di seluruh Alam Jagat Raya.


Seandainya Putri Mahatma duduk di Tahta Trimurti, dia tidak lagi memiliki pesaing berat di seluruh alam semesta, menjadi satu-satunya wanita yang mutlak dikagumi oleh semua kehidupan.


"Sangat tidak pantas anak melangkahi kepala ayahnya! Dan lagi, kehidupan di duniawi-ku belum sempurna sebelum menyatu dengan belahan jiwaku!" ungkap Putri Mahatma.


Ayah yang dimaksudkannya adalah Dewa Pencipta. Karena kebaikan Putri Mahatma kepada seluruh kehidupan di alam semesta, dan juga sikapnya yang welas asih, Dewa Tertinggi mengangkat Putri Mahatma untuk duduk bersama di Tahta Trimurti.


Namun, dengan bijak Putri Mahatma menolak status tertinggi. Alasannya yang membuat Dewa Pencipta dan Dewa Pemelihara semakin mengagumi sikapnya, yaitu menolak karena Dewa Pencipta adalah ayahnya, dan sudah duduk di Tahta Trimurti, lebih baik Tahta Trimurti untuk calon Dewa yang akan datang.


Waktu itu, Putri Mahatma juga beralasan, "saya terlalu muda dan belum berpengalaman dalam mengurus bahtera rumah tangga (mengurus Alam Jagat Raya). Saya ingin merasakan rasa yang dialami oleh semua kehidupan di dunia. Izinkan saya untuk bereinkarnasi tanpa batas!"


Setelah penolakan Putri Mahatma, Dewa Tertinggi mengerti tujuannya dan mengabulkan permintaannya yang ingin bereinkarnasi dengan sesuka hati.


"Apakah sudah menemukannya?" tanya Dewi Semesta sambil melihat ke langit, yang mana akan terjadi gerhana bulan sesaat lagi.


"Sudah. Dan yang kulakukan saat ini adalah proses untuk pertemuan itu!" jawab Putri Mahatma dengan jujur.


Walaupun Ling An jauh dari dasar jurang, dia masih dengan jelas mendengar obrolan kedua wanita itu. Mengetahui Putri Mahatma berhubungan baik dengan Dewi Semesta, dia menjadi takut mendekati Putri Mahatma.


Tetapi, dihatinya berdebar-debar karena bahagia, dia yakin bahwa dirinya adalah belah jiwa Putri Mahatma, satu-satunya pria yang akan mendampingi Putri Mahatma.


"Siapa dia?" tanya Dewi Semesta dengan antusias karena penasaran dengan sosok pria yang paling beruntung itu.


"Dia memiliki kesamaan denganku, wajahnya sangat tampan melebihi pria di dunia manapun. Bagiku, dia sangat sempurna!" jawab Putri Mahatma sambil melirik ke atas.


Tiba-tiba Dewi Semesta tertawa kecil. Setelah berhenti dia berkata, "aku kira pria kera pembawa tombak itu! Untung saja hati nurani-mu tidak salah pilih! Hahaha!"


Putri Mahatma tersenyum saat teringat dengan Ling An yang dimaksudkan oleh Dewi Semesta. Lalu dia menganggukkan kepala kepada Manusia Pohon di depannya. Ada 12 Manusia Pohon mengeluarkan Inti Getah Pohon yang telah dipersiapkan, termasuk si Ash ada Oak.


Ling An yang mendengar jawaban Putri Mahatma, seketika hatinya hancur berkeping-keping. Keyakinannya bahwa menjadi belah jiwa, ternyata salah besar.


Dan tanpa sadar, air matanya menetes karena bukan pilihan Putri Mahatma. Dia tidak lagi terpesona melihat senyumannya itu yang mampu memicu bunga bermekaran.


Sebelum pergi, ia melihat sekali lagi Putri Mahatma. Ling An melihat 12 buah Inti Getah Pohon melayang ke arah Putri Mahatma. Kemudian, Putri Mahatma membuka mulutnya yang mengeluarkan 12 Inti Getah Pohon. Total 24 Inti Getah Pohon itu memutari tubuhnya.


Dewi Semesta menyilangkan kedua tangan ke dadanya sambil melihat Inti Getah Pohon. Lalu dia berkata, "cabut dulu sumpahmu, baru aku mau membantumu."


Putri Mahatma tersenyum sambil menjentikkan jari tangan kanan. Dari 12 Inti Getah Pohon itu mengeluarkan serat-serat energi kekuatan jiwa, melesat ke arah 12 Manusia Pohon yang memberikan intinya.

__ADS_1


Si Ash, si Oak dan 10 Manusia Pohon berlutut saat serat-serat energi kekuatan jiwa memasuki tubuhnya. Seketika kulit tuanya rontok, lalu dengan cepat meregenerasi kulit pohon yang baru. Mendapatkan energi Kekuatan Jiwa, 12 Manusia Pohon itu penuh dengan vitalitas seperti muda dulu.


"Kembalilah!" perintah Putri Mahatma setelah membalas kebaikan Manusia Pohon yang telah memberikan Inti Getah Pohon.


Semua Manusia Pohon membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan. Lalu segera meninggalkan jurang, menuju ke arah Barat Laut, melewati jalur masuk ke jurang.


Lalu Putri Mahatma melihat Dewi Semesta sembari menegur, "pikiranmu liar! Pikiranmu yang mengatakan bahwa ucapanku adalah sumpah!"


"Bagaimana pikiran tidak menjadi liar saat kamu mengatakan - suatu hari nanti, kau justru jatuh cinta kepadanya. Ingat kata-kataku ini - Apakah kamu lupa kata-katamu itu?" sergah Dewi Semesta yang tidak suka dengan teguran Putri Mahatma, ia mengulangi perkataan itu saat di Pohon Peri.


Putri Mahatma geleng-geleng kepala karena Dewi Semesta tidak memahami ucapannya. Karena membutuhkan bantuannya, dia pun menjelaskan ucapannya itu.


"Suatu hari nanti, entah kapan itu akan terjadi! Terjadinya itu dikarenakan pikiranmu yang merealisasikannya. Saat itu terjadi, kuharap kamu mengingat ucapanku hari ini!"


Dewi Semesta terdiam memikirkan perkataan Putri Mahatma yang memang benar. Dia mengembangkan senyuman bahagia sambil memeluk erat tubuh Putri Mahatma.


"Kamu memang Adik yang bijak! Baiklah, kapan kita mulai?" pujiannya dan bertanya, ia melepaskan pelukan, lalu duduk di tunggul pohon.


"Tunggu gerhana bulan sempurna. Kita bisa mulai saat ini agar prosesnya tepat!" jawab Putri Mahatma.


Dewi Semesta segera duduk bersila, punggungnya saling berdempetan dengan Putri Mahatma. Lalu dia merentangkan kedua tangan ke depan. Dari ujung jari-jari tangannya mengeluarkan energi spiritual.


Dia mengalirkan energi 24 elemen alam yang memasuki bola Inti Getah Pohon. Sedangkan Putri Mahatma juga merentangkan kedua tangannya ke depan, lalu mengalirkan energi Kekuatan Jiwa ke semua Inti Getah Pohon.


Karena mendapatkan dua energi itu, Inti Getah Pohon memancarkan cahaya benderang yang menerangi jurang. Ling An yang sedari tadi melihat segera mendongak, ia melihat gerhana bulan yang akan sempurna.


Semua kehidupan di Tiga Alam seketika terdiam saat dunia menjadi gelap gulita. Semua kultivator segera keluar dari kediamannya, dan segera duduk bersila di tanah tanpa alas, mereka akan menyerap energi gerhana bulan.


Demikian juga dengan semua binatang di Tiga Alam, membuka mulutnya lebar-lebar untuk menyerap energi gerhana bulan.


Ketika gerhana bulan telah sempurna, Pegunungan Hehua bergetar hebat, sebab energi gerhana bulan total terpusat pada 24 Inti Getah Pohon. Ling An yang berjongkok seketika terduduk karena guncangan kuat.


Dewi Semesta segera menjauhi karena telah selesai membantunya. Melihat kecantikan Putri Mahatma melebihinya karena energi gerhana bulan, ada rasa iri hati kepadanya. Tidak ingin kalah cantik, dia segera menyerap energi gerhana bulan total.


Boom boom boom boom...


Ledakan keras ketika 24 Inti Getah Pohon meledak. Ledakan keras itu mengejutkan Ling An dan Dewi Semesta. Dampak gelombang kejut ledakan itu menghempaskan tubuh Ling An, bahkan Dewi Semesta yang kuat juga berguling-guling di udara.


Ling An segera bangkit dan syok saat melihat lembaran kulit pohon menutupi Pegunungan Hehua. Kulit pohon raksasa itu berasal dari 24 Inti Getah Pohon yang meledak. Kulit pohon itu mengeluarkan serat-serat petir yang membentuk pola-pola aneh.


Kemudian, Ling An yang sudah terbang jauh di langit, melihat Putri Mahatma duduk bersila di tengah-tengah kulit pohon. Dia melihat kulit tubuh Putri Mahatma menjadi berwarna coklat pohon, tidak lagi terlihat wajah cantiknya.


Boom...


Pegunungan Hehua meledak, ledakannya mengguncang Planet Tiga Alam. Hebatnya lagi, lembaran raksasa kulit pohon itu memblokir serpihan ledakan super besar agar tidak mengenai kehidupan di Tiga Alam. Kulit pohon raksasa itu menyerap material ledakan Pegunungan Hehua.


Karena ledakan itu membuat Ling An kembali terhempas gelombang kejutnya, dia seperti dilempar dengan sangat keras. Demikian juga dengan Dewi Semesta yang terhempas jauh, untungnya dia segera menyetabilkan tubuhnya agar tidak berguling-guling.


"Sehebat inikah orang yang menolak Tahta Trimurti!" kekaguman Dewi Semesta kepada Putri Mahatma yang tetap tenang duduk bersila di atas lembaran kulit pohon raksasa.


Lalu Mata Langitnya melihat banyak kultivator terhempas gelombang kejut energi. Lalu dengan segera mereka berbondong-bondong menuju ke Pegunungan Hehua.


Ling An segera berteleportasi dan muncul di luar Pegunungan Hehua yang telah menjadi daratan panas. Dia kembali tercengang karena lembaran kulit pohon itu menyusut.


Dari tubuh Putri Mahatma yang tidak lagi dikenali, keluar cahaya benderang yang lebih terang dari sebelumnya, dan melesat ke arah gerhana bulan total.


Melihat akan terjadi ledakan lagi, Dewi Semesta segera melesat ke langit, menuju ke luar angkasa. Demikian juga dengan semua orang yang keluar dari Tiga Alam dengan kecepatan maksimal.


Dhummm...

__ADS_1


Dentuman super besar yang suara berkali-kali lipat lebih keras daripada ledakan Pegunungan Hehua. Gerhana bulan total hancur berkeping-keping karena berbenturan dengan tubuh Putri Mahatma.


Dampak benturan itu mengakibatkan munculnya lubang hitam di luar angkasa. Selain itu, gelombang kejutnya menghempaskan apapun yang berada di sekitar pusat ledakan.


Banyak kultivator yang berjatuhan karena terhempas gelombang kejut energi yang membuat kepala pusing sangat teramat. Hebatnya lagi, Tiga Alam hanya berguncang hebat tanpa memicu bencana alam.


Tetapi, rasa sakit kepala yang dialami kehidupan di Tiga Alam, membuat semua orang berguling-guling sambil memegang kepalanya, keluar darah segar dari tujuh lubang di tubuhnya. Untungnya saja, rasa sakit kepala itu hanya sesaat saat lubang hitam di luar angkasa menghilang.


Dewi Semesta yang aman, Mata Langitnya dengan jelas melihat Putri Mahatma berubah menjadi ular raksasa yang ukuran tubuhnya mampu melingkari Planet Tiga Alam. Tubuhnya mengigil ketakutan karena ular raksasa itu sekilas meliriknya.


Dan, ular raksasa itu menghilang ketika masuk ke dalam lubang raksasa. Kemudian, dia melihat kulit pohon yang menjadi kecil juga ikut masuk ke lubang hitam. Setelah itu, lubang hitam menghilang dengan cepat.


Dewi Semesta mengusap peluh membasahi wajah, dia geleng-geleng kepala karena tidak tahu apa tujuan Putri Mahatma. Untungnya saja perbuatannya yang mengerikan itu tidak memicu bencana di galaksi ini.


Lalu dia terbelalak melihat Putri Mahatma keluar dari tempat lubang hitam yang telah menghilang. Dia melihat Putri Mahatma menjadi seberkas sinar dan melesat ke arah Pohon Peri. Dewi Semesta buru-buru mengejarnya, sebab dipikirnya banyak pernyataan yang perlu dijawab oleh Putri Mahatma, yang bukan adik kandungnya.


Ketika berada di depan batang pohon transparan, Dewi Semesta melihat Putri Mahatma yang tidur meringkuk. Lalu dia menegurnya, "apa tujuanmu melakukan semua ini? Untungnya saja tindakanmu tidak membuat kehancuran di galaksi ini!"


Sebelum Putri Mahatma menjawab, Dewi Semesta mencecar banyak pertanyaan karena ingin tahu.


"Ular raksasa jenis apa yang kamu ciptakan? Ke mana kulit pohon raksasa itu?"


Dengan tetap tidur meringkuk, Putri Mahatma menjawab dengan menggunakan komunikasi telepati. "Membuatkan jalan untuk belahan jiwa agar menemuiku! Suatu hari nanti, kamu akan mengetahuinya. Tapi itu masih sangat lama! Aku ingin tidur dan jangan ganggu!"


"Hei...! Kamu jangan membuat teka-teki aneh! Ayolah, katakan yang sebenarnya. Apakah kamu ingin aku tua karena penasaran?" Dewi Semesta kembali dibuka kesal karena Putri Mahatma selalu menyembunyikan sesuatu hal penting.


"Sebelum tua, rawatlah kekasih kera- mu itu. Kasihan, Ling An terus-menerus terguling di udara! Hehehe...!" goda Putri Mahatma, dan di akhiri dengan tawa riang.


Jelas Dewi Semesta seketika menjadi marah, nafas di hidungnya sampai mengeluarkan api kemarahan. Lalu dia memukuli batang pohon transparan agar hancur, dia ingin sekali memukuli Putri Mahatma yang selalu meledeknya. Tetapi, sekuat apapun pukulannya, batang Pohon Peri tidak tergores.


"Aku bersumpah, kamu menjadi istrinya seumur hidup?!" karena amarah, Dewi Semesta mengucapkan sumpah serapah.


"Terima kasih! Aku sudah menunggu sumpahmu itu," ucap Putri Mahatma yang segera duduk dan melihat Dewi Semesta, ia mengembangkan senyuman bahagia karena disumpah.


Cedarrr...


Petir menggelegar keras ketika Dewi Semesta bersumpah, tanda jika sumpahnya itu terkabul. Seketika Dewi Semesta tertawa terbahak-bahak karena bahagia. Dia membayangkan bagaimana Putri Mahatma bersanding dengan Ling An yang lebih jelek dari seekor kera.


Namun, dia seketika berhenti tertawa karena melihat senyuman bahagia Putri Mahatma. Dia teringat kata-katanya di Pegunungan Hehua sebelum membantunya.


"Pria tertampan di alam semesta? Bagaimana mungkin wajahnya seperti kera dibilang tampan? Seleramu benar-benar di luar nalar! Hahaha!"


Dewi Semesta kembali tertawa terbahak-bahak karena Putri Mahatma yang cantik tetapi seleranya terhadap penampilan pria begitu rendah.


"Cantik sih, tapi kok gila!"


Tiba-tiba suara familiar pria terdengar jelas di telinga Dewi Semesta, dia melihat Ling An yang terlihat jijik melihatnya tertawa.


"Keraaaaa...!!" teriak keras dari Dewi Semesta yang tidak terima dengan ejekan Ling An.


"Hahaha!" tawa si Ling An sambil melesat memutari Pohon Peri karena dikejar oleh Dewi Semesta yang sangat galak.


Putri Mahatma kembali tidur meringkuk, ia tertawa ringan karena kekonyolan Ling An dan Dewi Semesta yang seperti anak-anak...


Inti Getah Pohon, akan ditemukan oleh Dewa Binatang saat berada di Benua Jiang Shan di Galaksi Kelahiran, yang akhirnya memiliki Batu Keabadian. Sedangkan ular raksasa yang masuk ke dalam lubang hitam, di masa depan akan muncul di Continent Twins Moon.


Bersambung.


(Note: Terima kasih sobatku yang telah mengikuti karya fiksi saya dari awal di Noveltoon! Mungkin sobatku bosan dengan cerita di karya God Of Beast 2 - Revenge. Sejujurnya, GOB 2 sudah tamat ketika Dewa Binatang menjadi Dewa Abadi. Dewa Binatang telah membalas dendam kepada musuhnya yang dibunuh saat berada di Planet Peliades. Untuk tanya jawab tentang alur cerita GOB 2 Revenge, kita bisa berinteraksi di group chat.

__ADS_1


Saya berharap sobatku terus mendukung karya saya ini agar terus berkembang menjadi lebih baik. Dukungan Anda dalam semangat saya. Sehat selalu, bahagia dan banyak rejekinya. Salam!)


__ADS_2