
Bab 180. Dunia Roh.
...****************...
Di Alam Kudus.
Dewa Langit, Dewa Surgawi dan para Dewa berkumpul di satu tempat, mereka melihat Galaksi Sembilan Rasi melalui Cermin Sihir, terutama melihat Dewa Abadi yang berjuang keras melewati tantangan.
Mereka terkejut saat mengetahui kekuatan Dewa Abadi yang sebenarnya. Raut wajah mereka tampak serius karena sudah mengetahui apa yang akan terjadi nanti ketika Dewa Abadi datang ke Alam Kudus.
Tian Bo si Dewa Langit selalu tertawa puas melihat rivalnya yang gelisah, dia selalu berkata-kata yang memancing emosi mereka. Namun, rivalnya tidak sedikitpun terpancing karena sudah terbiasa dengan ocehannya.
"Jangan tertawa puas, karena anak yang kau buang itu sudah pasti akan membalas dendam!" ucap Dewa Surgawi dengan nada ketus.
"Jika dia bisa. Ingat, hidup matinya tergantung aku!" sahut Tian Bo yang tidak takut kepada putranya si Dewa Abadi.
Tian Bo memiliki rahasia yang mampu membunuh Dewa Abadi. Dewa Langit dan semua orang yang berada di tempat ini mengetahuinya. Rahasia ini hanya diketahui oleh mereka, sedangkan pihak luar tidak mengetahuinya. Bahkan, keluarga besar Tian dan Zhi tidak tahu.
"Lambat laun dia juga akan tahu!" teguran dari Dewa Surgawi.
"Jika tidak terlambat!" sahut Tian Bo dengan penuh keyakinan.
"Tantangan berikutnya, sudah pasti dia akan mudah melewati. Aku akan perintahkan ciptaanku untuk menghadapinya," kata Dewa Surgawi yang tidak ingin kalah dari rivalnya si Tian Bo.
"Terserah!" sahut Tian Bo yang tidak sedikitpun khawatir jika Dewa Abadi dikalahkan oleh rivalnya.
Inilah perlombaan yang selalu terjadi di Alam Kudus, yaitu menciptakan kehidupan untuk diadu seperti binatang. Jika salah satu ciptaannya bertahan hidup, maka akan diproduksi secara massal, dan disebarkan ke seluruh alam semesta untuk mengumpulkan energi dan sumber daya.
Sedangkan pihak yang kalah, harus selalu mendukungnya, mengakuinya sebagai yang terbaik dan berinvestasi di dalam proyeknya.
Jika ciptaannya mengumpulkan energi dalam bentuk kekuatan, maka ketika mati energi mereka akan diterima oleh si pencipta, sedangkan sumber daya jelas juga didapatkan. Tujuan utama perlombaan ini, hanya untuk meningkatkan kekuatan, dan jelasnya menjadi satu-satunya penguasa di Alam Kudus.
Tian Zhi Shimo si Dewa Abadi adalah ciptaan dari Tian Bo. Kelahirannya karena Kitab Kultivasi Ganda, dengan menggabungkan Energi Yin dan Yang, tetapi tidak secara langsung berhubungan intim. Sedangkan Tian Lihua, Tian Shuwan, Tian Chunhua dan Tian Mei Yin, mereka terlahir secara normal, melalui proses hubungan intim.
Ibu dan nenek dari Dewa Abadi, jelas tidak tahu tujuan dari Tian Bo. Ketika Tian Bo menciptakan Kitab Kultivasi Ganda, dia beralasan karena ingin memiliki anak laki-laki. Istrinya jelas senang dan memenuhi keinginan Tian Bo.
Sayangnya, setelah kelahiran Tian Zhi Shimo, semua keluarga termasuk istrinya dan keempat putrinya melindungi Tian Zhi Shimo. Karena hal itu, Tian Bo menciptakan Naga 12 Elemen yang diambil dari DNA putranya.
Setelah berhasil, justru ciptaannya memicu kemarahan Universe Lightning si Dewa Pemelihara, terjadilah Bencana Petir Semesta yang sangat terkenal di alam semesta...
__ADS_1
Dewa Surgawi berkomunikasi telapati kepada ajudannya untuk memberikan perintah. Ajudannya segera melaksanakan perintah. Lalu semua orang melihat Cermin Sihir, yang mana Dewa Abadi telah masuk ke dalam lubang hitam...
...****************...
Saat ini, Dewa Abadi telah berada di dunia lain, tempat untuk menghadapi tantangan yang ke-5 dari 9 tantangan.
Dunia ini benar-benar membatasi ruang geraknya, dia tidak bisa terbang, bahkan kekuatannya ditekan sedemikian rupa sehingga hanya mampu mengeluarkan basis kultivasi di titik terendah, berada di tingkat Supreme Being (Half God).
Bahkan, kemampuannya dalam mengendalikan elemen juga dibatasi, dua hanya bisa menggunakan 5 elemen dasar, yaitu Api, Tanah (Kayu), Air, Angin dan Logam.
Dia seperti manusia fana dengan kekuatannya saat ini. Walaupun gitu, dia tidak akan mati karena memiliki Batu Keabadian dan Kitab Kultivasi Delapan Hukum Jiwa. Untung saja Dunia Jiwanya masih bisa diakses, dan juga masih bisa terbang karena memiliki Kekuatan Jiwa sebagai sumber energinya.
Di dalam pikirannya, keadaan seperti ini karena 3 faktor penyebab. Pertama, karena adanya Formasi Array buatan dan alami. Kedua, karena adanya Artefak Alami. Ketiga, pihak yang menciptakan Galaksi Sembilan Rasi memiliki kekuatan jauh di atasnya.
Dan, Dewa Abadi berpikiran jika keadaannya saat ini karena faktor kekuatan pihak lain. Dia pun teringat dengan peta raksasa yang dibuat oleh Trimurti, yang mana situasi di seluruh alam semesta dalam kendali mereka.
Saat ini, Dewa Abadi berada di Dunia Roh (Spirit Realm), dunia yang sangat indah dan subur. Dunia ini melimpah dengan oksigen, dan melebihi Planet Bumi di zaman purba.
Pada zaman purba di Bumi, banyak terdapat binatang raksasa karena faktor oksigen yang melimpah, sehingga pertumbuhannya setiap kehidupan lebih besar dan kuat.
Melihat Dunia Roh, Dewa Abadi tidak sedikitpun mengaguminya maupun terheran-heran, sebab dia sudah sering menjalani kehidupan dengan geografis alam yang berbeda-beda. Bahkan hidup di dunia neraka sudah pernah dilaluinya. Dunia ini tidak jauh berbeda dengan Mysterious Land yang diciptakan oleh istrinya.
Sayangnya, dia saat ini seperti manusia fana, jelas tidak bisa menggunakan Mata Dewa apalagi Mata Surgawi. Karena penasaran dengan Dunia Roh ini, dia memejamkan mata dan melepaskan kesadarannya untuk menyelidiki dunia ini. Lagi-lagi dibatasi, kesadarannya hanya bisa menjangkau tidak lebih dari 100 meter dari posisinya.
"Anggap saja saat ini sedang berpetualang dengan tujuan mencari musuh!" gumam Dewa Abadi yang justru tertantang karena kondisinya yang dibatasi, dia melihat jalan setapak yang sering dilewati.
Dia segera mengeluarkan Kuda Surgawi untuk dijadikan tunggangannya. Dia naik ke punggung dan mengendalikannya menuju ke arah timur. Dia tidak menggunakan Kekuatan Jiwa untuk terbang karena menghemat energinya.
Dunia Roh adalah dunia supernatural, tempat bagi kultivator yang kekuatannya terbatas di tingkat Supreme Being. Dunia ini berasal dari Local Interstellar, lokasinya berada di perbatasan dua galaksi. Seperti yang sudah-sudah dilalui oleh Dewa Abadi, dunia ini tidak ada yang namanya teknologi canggih, semuanya alami dengan peradaban kuno.
Dunia Roh juga memiliki struktur pemerintahan tersendiri seperti pada umumnya. Dulu, kekuasaan tertinggi di pegang oleh seorang kaisar yang membawahi beberapa kerajaan. Namun struktur pemerintahan itu berubah karena kekacauan yang terjadi 200 tahun yang lalu.
Saat ini, hanya ada empat kerajaan, yaitu Kerajaan Selatan, Barat, Utara dan Timur. Tanpa adanya penguasa tunggal, maka persaingan pun sering terjadi untuk merebutkan sumber daya alam.
Keempat kerajaan itu bukan berarti satu-satunya yang berkuasa dan terkuat, ada beberapa pendukungnya yang juga berkuasa karena memiliki kekayaan, seperti klan, sekte dan perguruan bela diri.
Perguruan bela diri dan sekte adalah tempat munculnya cikal-bakal orang-orang kuat dan akan menjadi pemimpin baru di Dunia Roh. Di perguruan dan sekte ini menjadi titik pusat rujukan bagi setiap orang untuk menyekolahkan anaknya agar berwawasan luas, memiliki ilmu bela diri dan sebagainya.
Dewa Abadi melihat desa kecil yang kehidupannya memprihatinkan. Ketika dia datang, penduduk desa ketakutan dengannya. Mereka segera menutup pintu rumah dan jendelanya.
__ADS_1
Melihat kondisi desa ini, dia menebak jika baru saja terjadi perampokan. Dan, dirinya dianggap salah satu dari perampok.
Datang seorang pria tua dengan tergesa-gesa, namanya Bing Nan, Kepala Desa Persik. Dia segera berlutut sambil berkata, "Tuan, kami tidak lagi memiliki apapun yang berharga. Tolong, jangan siksa kami lagi! Jika kami sudah panen, kami pasti akan menyetorkan hasilnya kepada Anda!"
Dewa Abadi menghela nafas berat karena tahu penderita mereka. Dia melihat langit yang seakan-akan menertawakan penderita setiap kehidupan yang tertindas.
"Alam semesta begitu luas ... Aku seorang Dewa pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat kehidupan setara!" gumam Dewa Abadi yang penuh penyesalan karena tidak bisa berbuat banyak untuk kehidupan.
Dia segera turun dari tunggangannya, lalu membantu pria tua itu agar tidak berlutut. "Aku tidak ada niatan buruk terhadap kalian. Apakah tampangku seperti penjahat?" ucapnya sambil melihat pria tua.
Pria tua itu memberanikan diri untuk melihat Dewa Abadi, dia baru sadar penampilannya berbeda dari siapapun di Dunia Roh, lalu dia melihat Kuda Surgawi yang sangat langka, kuda yang bisa terbang.
"Apakah Anda bukan berasal dari dunia ini?" tanya pria tua itu dan di anggukan oleh Dewa Abadi.
Pria tua itu bernafas lega karena Dewa Abadi bukanlah orang yang ditakutinya. Kemudian, dia pun bercerita tentang keadaan saat ini, yang mana di desa baru saja dijarah oleh murid-murid dari perguruan karena telat membayar upeti, bukan perbuatan dari perampok seperti yang dipikirkan oleh Dewa Abadi.
Murid-murid itu berasal dari Perguruan Roh Api, yang dipimpin oleh Ling Ceng Liong, orang yang memiliki kekuatan tingkat Holy Monarch level 9, dia juga memiliki cincin roh warna merah sebagai penunjang kekuatannya (Kekuatan Tempur). Cincin rohnya adalah binatang Kera Api berusia 150 ribu tahun.
Ling Ceng Liong sangat disegani di Dunia Roh karena kekuatannya, sebab dia salah satu dari orang yang memiliki kekuatan Holy Monarch, menurut sepengatahuan Bing Nan.
Mengetahui struktur kekuasaan dan kekuatan di Dunia Roh, dia Abadi tidak keheranan, sebab dia sudah mengetahui apapun jenis tingkat kultivasi di alam semesta.
Tempatnya saat ini dikuasai oleh Kerajaan Timur yang dipimpin oleh Raja Ling Zhaoyang Hong - Raja Hong. Setiap tiga bulan sekali, penduduk Desa Persik harus menyetorkan upeti kepada Perguruan Roh Api. Jika terlambat, dampaknya yang sudah dilihat oleh Dewa Abadi.
Keterlambatan untuk membayar upeti dikarenakan gagal panen karena hama tikus dan belalang yang merusak kebun buah, ladang sayuran dan sawah. Hal ini tidak terjadi di Desa Persik saja, melainkan terjadi di seluruh Dunia Roh.
"Bolehkah aku tinggal di sini?" tanya Dewa Abadi yang ingin membantu penduduk Desa Persik.
Bing Nan keheranan mendengar permintaan pria muda yang tampak tidak pernah hidup di tempat memprihatinkan seperti ini.
"Apakah Anda yakin mau menginap di tempat kumuh ini?" tanya balik Bing Nan yang malu tidak bisa memberikan pelayanan terbaik untuk Dewa Abadi.
"Tempat ini indah, siapa yang tidak mau tinggal di tempat ini? Butuh sedikit perbaikan, hasilnya akan melebihi kota besar!" pujian Dewa Abadi karena mengetahui potensi wilayah Desa Persik.
"Tuan Muda, Anda jangan terlalu tinggi berekspektasi! Desa ini akan pulih setelah wabah berhenti, itupun butuh waktu lama. Ketika wabah berhenti, kita ... Harus membayar upeti. Bagaimana kita memiliki biaya untuk memperbaiki kondisi ini!" sahut Kepala Desa Persik.
Dewa Abadi tersenyum sambil melihat Bing Nan, lalu berkata, "jika aku boleh tinggal, apapun yang menjadi kendala di sini, tidak perlu Anda pikirkan!"
Bing Nan menatap wajah tampan Dewa Abadi yang tampak masih berusia 17 tahun. Dipikirannya, seberapa banyak koin emas yang dimilikinya? Usianya saja masih muda dan pastinya tidak memiliki biaya untuk membangun desa menjadi kota.
__ADS_1