
Bab 248. Dewi Semesta.
Daratan bersalju kini menjadi genangan air dingin akibat sambaran petir yang sangat panas. Apapun yang dulunya terpendam membeku, kini bisa dilihat oleh mata.
Tak terhitung jumlahnya tanaman langka, kerangka binatang purba, segala jenis pepohonan tua menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang yang berada di sana.
Namun, keinginan untuk mengambilnya jelas tidak mungkin dikarenakan petir api terus-menerus menyambar apapun yang berada di daratan bersalju.
Generasi muda seperti Yao Ningqiao dan Yao Zheng, hanya bisa melihat orang-orang kuat berusaha keras untuk mendekati Tombak Jiwa Berlian Petir. Namun, upaya mereka selalu gagal karena disambar petir api.
Akhirnya, Tombak Jiwa Semesta Petir telah melahap semua Artefak Bintang dan Artefak Alami, menjadikan mereka makanan yang memperkuat aura kekuatannya. Setelah itu, awan hitam petir api perlahan menghilang.
Tidak adanya petir api yang menyambar-nyambar, Tian Bo segera terbang melesat ke arah Tombak Jiwa Berlian Petir. Demikian juga dengan semua orang kuat yang berlomba-lomba mendapatkan tombak itu.
Perebutan pun tidak terhindarkan, mereka saling menjegal agar bisa lebih dekat dengan Tombak Jiwa Berlian Petir. Yao Ningqiao hanya bisa diam melihat tombak incarannya menjadi perebutan. Bahkan gurunya juga ikut serta yang membuatnya makin tak berdaya.
Yao Ningqiao melihat Tombak Jiwa Berlian Petir yang mengeluarkan perisai diri sambil berputar-putar di langit, seakan-akan mengejek semua orang yang berebut.
"Ke mana dia, kenapa tidak melindungi senjatanya?" gumam Yao Ningqiao yang heran sambil mencari keberadaan Ling An.
Dengan Mata Dewa, dia melihat Ling An duduk santai di cabang batang pohon. Sungguh aneh baginya karena Ling An tidak terlihat khawatir jika tombaknya direbut.
Lalu, Yao Ningqiao melihat Ling An menggerak-gerakkan jari telunjuk tangan kanan. Dia terkejut karena jarinya itu mampu mengendalikan Tombak Jiwa Berlian Petir dari jarak jauh, dan melesat ke arah Tian Bo.
Tian Bo yang sedang bertarung dengan seorang kultivator kuat yang memiliki keinginan yang sama, jelas kaget karena Tombak Jiwa Berlian Petir mengincarnya. Dia pikir tombak itu mau menyerahkan diri.
"Lihatlah, aku adalah pilihan terbaik dari tombak ilahi itu!" teriak Tian Bo dengan bangganya, dia menghindari serangan rivalnya dengan terbang menyambut kedatangan Tombak Jiwa Berlian.
Semua orang dengan jelas mendengar ucapannya yang keras. Tidak ingin Tian Bo mendapatkan tombak itu, semua orang menjadi terfokus kepadanya, melepaskan pukulan berenergi jarak jauh.
Yang mengejutkan semua orang, Tian Bo berubah menjadi kabut hitam sehingga setiap serangan tidak mengenainya. Akan tetapi, ujung Tombak Jiwa Berlian Petir mengeluarkan petir ke arah Tian Bo.
Cedarrr... Boom...
Guntur menggelegar keras ketika petir mengenai tubuh Tian Bo yang berubah menjadi kabut hitam. Kehebatan Tombak Jiwa Berlian Petir semakin membuat semua orang ingin memilikinya.
Hu Samhok dan Yu Tien sebagai sahabat dan tim, segera mendekati Tian Bo. Seperti biasanya, mereka akan saling melindungi saat berburu harta. Kali ini mereka melakukan hal yang sama untuk mendapatkan tombak itu.
Ling An yang melihat Yu Tien, rasa keingintahuannya untuk membunuhnya tiba-tiba muncul. Lalu dia menggerakkan jari untuk mengendalikan tombaknya. Tombak itu mengeluarkan tiga serat petir api yang tertuju kepada Tian Bo dan kedua temannya.
Tian Bo dan kedua rekannya tidak panik walaupun diserang oleh tombak incarannya. Hebatnya, Hu Samhok dan Yu Tien memiliki kemampuan yang sama seperti Tian Bo, mereka berubah menjadi kabut hitam agar bisa menghindari petir api.
Cedarrr... Cedarrr Cedarrr...
Sayangnya, petir api mampu mengenai mereka walaupun telah menjadi kabut hitam. Mereka terpental ke bawah dan menghantam tanah yang tergenang air es.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Yao Shen si Dewa Perusak dengan melesat ke belakang Tombak Jiwa Berlian Petir, tangannya mengarah ke gagang tombak.
Namun, yang mengejutkannya dan semua orang, Tombak Jiwa Berlian Petir berputar-putar dengan mengeluarkan serat-serat petir api yang melesat ke segala arah.
Yao Shen dan semua orang buru-buru menghindari sambaran petir api, sebagian menggunakan perisai energi untuk menangkis. Akan tetapi, serat-serat petir api itu mengikuti kemanapun targetnya menghindar.
Sedangkan yang menggunakan perisai energi, seketika berjatuhan karena petir mampu menembusnya perisainya. Walaupun tidak tewas tersambar, tetap saja mereka merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Bai Ge yang selalu memantau kejadian di luar Dunia Jiwa milik Dewa Abadi, jelas kaget karena Mahaguru Sam - Hu Samhok bersekutu dengan Dewa Perusak.
Pantas saja Dewa Abadi selalu masuk ke dalam jebakan. Ternyata, ada mata-mata yang selalu memberikan informasi kepada Dewa Langit dan Dewa Surgawi.
"Jika kita tidak berada di masa lalu, selamanya kita tidak tahu siapa sebenarnya Mahaguru Sam itu!" gumam Bai Ge sambil mengamati musuhnya.
__ADS_1
Lalu dia melihat Yao Shen si Dewa Perusak yang dikejar-kejar oleh serat-serat petir api. Bai Ge melihat tanda ke-Dewa-an di kening Yao Shen. Melihat tanda itu, dia sudah memastikan bahwa itu adalah musuh utama yang mengacaukan seluruh alam semesta di masa depan.
"Jika aku tidak dilarang oleh Yang Mulia Kitab Suci, dan bukan orang pilihan, sudah pasti aku membunuhmu hari ini!"
Bai Ge sangat marah karena Dewa Perusak adalah dalang dari semua yang dialami Dewa Abadi sehingga kehilangan banyak orang yang dicintai. Karena dia menjadi satu dengan Dewa Abadi, maka segala rasa sakit yang dialami oleh Dewa Abadi sudah pasti dirasakannya juga.
Lalu, Bai Ge kembali fokus melihat Tombak Jiwa Berlian Petir yang terus berputar-putar dan mengeluarkan serat-serat petir api. Setiap orang yang mendekat tanpa rasa takut, selalu dihujani oleh petir api.
Walaupun berulangkali tersambar, mereka masih terus bangkit dan kembali mengejar Tombak Jiwa Berlian Petir. Semua orang lambat laun merasakan jika tombak incarannya seperti dikendalikan, termasuk Yao Shen yang segera mencari orang yang mengendalikan itu tombok.
Tidak butuh waktu lama, Yao Shen dan banyak orang yang mengetahui siapa orang yang mengendalikan tombak. Mereka melihat Ling An yang sedang menggerak-gerakkan jari untuk mengendalikan tombak.
Merasakan tatapan mata dari banyak orang kuat, Ling An bukannya takut, justru tersenyum hangat, lalu dia melayang di udara sambil berbicara, "kalian semua tidak mungkin bisa mendapatkannya! Kita sudah puas bermain-main. Ayo kita pergi!"
Dia tidak membunuh Tian Bo dan Yu Tien dikarenakan banyak orang kuat. Setelah berpamitan kepada semua orang, Tombak Jiwa Berlian Petir melesat ke arah Ling An. Saking cepatnya tombak itu, memicu ledakan keras karena daya dorong energi.
Semua orang membeku melihat Ling An menggunakan Tombak Jiwa Berlian Petir sebagai tumpuan kakinya. Lalu melaju dengan kecepatan cahaya menuju ke arah Utara.
Dalam sekejap mata, semua orang tidak lagi melihatnya. Yao Shen segera terbang dengan kecepatan maksimal mengejar Ling An dan tombak itu. Demikian juga dengan semua orang kuat yang menginginkannya.
"Garis keturunan cabang, kalian mundur semua!" perintah Yao Shen kepada marga cabang, seperti marga Tian, Guan, Yu dan marga Zhi.
Dia tidak ingin marga cabang berpatisipasi dalam perebutan Tombak Jiwa Berlian Petir. Karena berebut saat tombak itu melahap artefak, membuat semua orang tidak bisa berpikir jernih karena serakah. Seandainya semua orang tidak berebut dan saling bekerja sama, sudah pasti akan mendapatkan tombak itu.
Akan tetapi, perintahnya tidak digubris oleh keempat marga itu, termasuk Tian Bo dan Yu Tien. Mereka berubah menjadi kabut hitam dan melesat ke arah Utara...
...****************...
Di kejauhan, ada seorang wanita yang sangat cantik melebihi semua wanita yang ada di alam semesta. Tinggi badan mencapai 267 cm, pakaiannya perpaduan dua warna, putih dan biru. Rambutnya yang panjang juga perpaduan dua warna, hitam dan putih.
Jika dinilai dari angka 1 hingga 10, wanita itu berada di angka 10, sempurna kecantikannya. Bahkan bunga secantik apapun akan tunduk karena merasa malu melihat kecantikannya.
Jika wanita itu menjadi seorang pria, ketampanannya mampu membuat wanita manapun takluk dengan sendirinya. Sayangnya, wajahnya ditutupi oleh kain putih yang tidak bisa ditembus oleh Mata Dewa. Hanya terlihat kedua matanya yang berwarna biru.
Dari segi kekuatan, bakat dan apapun yang dimiliki oleh pria dan wanita di dunia ini, Dewi Semesta atau Dewa Semesta jauh lebih unggul. Tetapi, ada satu wanita lain yang bakatnya setara dengannya, yaitu Putri Mahatma.
Walaupun Putri Mahatma tidak secantik wanita itu, aura kasih yang dipancarkan membuat dunia bersorak-sorai gembira karenanya. Daratan kering dan tandus, akan menjadi subur ketika Putri Mahatma menginjakkan kaki di daratan gersang itu.
Putri Mahatma, selalu melihat Ling An dan Tombak Jiwa Berlian Petir. Namun, dia tetap berada di dalam Pohon Peri, enggan untuk keluar karena belum waktunya.
Dewi Semesta segera menyusul Ling An. Saking cepatnya bergerak, gerakannya seperti menggunakan skill teleportasi...
*****
Ling An telah sangat jauh dari semua pemburu tombaknya. Saat ini, dia berada di depan Pohon Peri, tepat di batang yang transparan. Kehadirannya tidak diketahui oleh para penjaga Pohon Peri karena menggunakan wujud udara.
Pohon Peri itu sangatlah besar diameter lingkarannya, diameter lingkarannya seukuran kota besar, tingginya mencapai awan-awan hingga puncaknya tidak terlihat. Dan, batang pohon transparan itu berada di tengah-tengahnya.
Ling An tidak peduli dengan ukuran pohon raksasa itu, sebab dia melihat Putri Mahatma yang sedang tertidur pulas, berpakaian serba berwarna putih tanpa memperlihatkan sedikitpun kulit di tubuhnya, bahkan telapak kakinya tidak terlihat karena mengenai sepatu energi. Kedua telinganya sedikit runcing, bibir tipis berwarna merah muda.
Jika dinilai dari angka 1 hingga 10, kecantikan Putri Mahatma berada di angka 9,5. Hampir sempurna, dan itu menurut penilaian Ling An si Dewa Abadi.
"Perasaan yang aneh!" gumamnya karena tiba-tiba muncul rasa cinta kepada Putri Mahatma yang baru dilihatnya.
Telapak tangannya menyentuh batang pohon transparan. Dan anehnya, dia tidak merasakan sakit kepala seperti yang dialami oleh banyak orang saat menyentuh batang pohon itu.
Tiba-tiba, Putri Mahatma terbangun, perlahan dia duduk. Setelah duduk, ia menatap wajah Ling An yang melongo melihatnya. Dia tidak sedikitpun tertarik dengan Tombak Jiwa Berlian Petir yang berada di punggung Ling An.
Kemudian, Putri Mahatma menyentuh batang pohon transparan tepat di hidung Ling An. Seketika, Ling An gemetaran dan terjatuh meluncurkan ke bawah.
__ADS_1
Anehnya, dia tersenyum puas karena sentuhan yang tidak sedikitpun menyentuh kulit di hidungnya. Dia merasakan kedamaian hati yang tidak pernah dirasakannya.
Boom...
Tubuhnya menghantam tanah dengan keras karena jarak jatuhnya sangat tinggi. Namun dia tidak sedikitpun terluka, dan Mata Surgawi-nya terus melihat Putri Mahatma.
"Apapun caranya, aku harus memilikimu! Hahaha! Aku menemukan belahan jiwaku!" Hahaha!"
Ling An seperti orang gila yang sedang jatuh cinta. Dia tertawa terbahak-bahak karena hidupnya menjadi memiliki arti dan bermakna. Seakan-akan lahirnya hanya untuk Putri Mahatma.
Yang tidak diketahui oleh Ling An, karena sentuhan jari telunjuk tangan kanan dari Putri Mahatma, wajah tampannya yang asli bisa dilihat oleh siapapun. Namun, itu hanya sesaat dan kembali seperti semula, jelek dan tidak menarik minat wanita cantik.
Karena Ling An tertawa seperti orang gila, para penjaga Pohon Peri mengetahuinya. Mereka segera berdatangan ke arah sumber suara tawa.
"Jelek, mereka datang!"
Suara Putri Mahatma terdengar di telinga Ling An, ia segera berhenti tertawa dan berdiri. Bukannya takut dengan kedatangan para penjaga, dia justru kembali tertawa keras karena belahan jiwanya mau berbicara dengannya. Bahkan tidak tersinggung karena dibilang jelek.
Melihat kekonyolan Ling An, Putri Mahatma mengembangkan senyuman hangat, senyuman yang baru pertama kali terjadi. Senyumannya itu membuat tanaman langka bermunculan di sekitar Pohon Peri. Batang pohon transparan tumbuh bunga-bunga indah yang mengeluarkan aroma wangi.
Ketika para penjaga Pohon Peri akan menangkap Ling An, ia melayang dan berhenti di batang pohon transparan, melihat Putri Mahatma yang tidak lagi tersenyum.
Para penjaga itu segera mengejarnya, namun tiba-tiba dihalangi oleh tanaman langka yang menjerat kakinya sehingga tidak bisa terbang. Kemudian, tubuh mereka terlilit akar-akarnya. Mereka tercengang karena baru pertama kali melihat Putri Mahatma terbangun.
Mereka berusaha keras untuk lepas dari jeratan akar agar bisa menatap wajah Putri Mahatma. Sayangnya, jeratan akar semakin erat mengikat tubuhnya.
"Kamu harus menjadi milikku, saat ini dan selamanya!" tekad Ling An yang tidak ingin siapapun memiliki cinta Putri Mahatma.
"Berusahalah dan aku tidak pergi ke mana-mana!" tantangan Putri Mahatma yang suaranya hanya bisa didengar oleh Ling An.
Tanpa banyak bicara karena ingin memiliki Putri Mahatma, Ling An mengambil Tombak Jiwa Berlian Petir, dia mundur dan menghunuskan tombaknya ke arah batang pohon transparan, dia ingin menghancurkannya penghalang itu
Boom... Boom boom boom...
Ledakan keras berkali-kali ketika Ling An berusaha keras untuk menghancurkan batang pohon transparan. Hebatnya, Pohon Peri itu tidak sedikitpun bergetar, tergores pun tidak.
Yang tidak disadarinya, banyak orang yang berdatangan ke Pohon Peri. Ling An terus-menerus berusaha menghancurkan batang pohon transparan. Putri Mahatma selalu menatap wajahnya. Lalu kedua matanya tertuju kepada seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Dewi Semesta yang melayang di langit.
"Pergilah, banyak orang berdatangan!" pinta Putri Mahatma dengan nada lembut.
Ling An segera berhenti dan menatap wajah Putri Mahatma dengan penuh kasih sayang. Lalu ia menyentuh batang pohon transparan dengan telapak tangan kanannya.
"Aku pasti akan mengeluarkanmu!" janjinya dan di anggukan kepala oleh Putri Mahatma.
Ling An mengembangkan senyuman hangat karena mendapatkan respon. Lalu dia membalikkan badan dan melihat banyak orang yang berdatangan. Dia tidak melihat Dewi Semesta karena berada jauh di langit.
Buru-buru dia menggunakan Tombak Jiwa Berlian Petir sebagai pijakan kakinya. Melesat ke arah Barat dengan kecepatan cahaya. Putri Mahatma mengiringi kepergiannya dengan tatapan mata. Kemudian, batang pohon transparan menjadi gelap, sama seperti warna kulit pohon. Dia kembali membaringkan tubuhnya dengan meringkuk.
"Aku selalu ada di sini, Dewa Abadi!" jawabnya yang membalas perkataan Ling An.
Semua orang yang melihat arah kepergian Ling An, segera mengikutinya walaupun sudah tidak lagi terlihat. Yao Shen si Dewa Perusak menghampiri batang pohon transparan yang menjadi gelap.
Dia berhenti di depan batang pohon transparan dengan jarak lima meter. Dia sempat melihat Putri Mahatma yang tampak sedang berkomunikasi dengan Ling An.
"Siapa dia?" batin Yao Shen yang ingin tahu indentitas Ling An, sebab hanya Ling An yang bisa membuat Putri Mahatma terbangun.
"Aku harus membunuhnya dan mengambil tombaknya!" tekad Yao Shen karena cemburu.
Selama ini, dia sering mengunjungi Putri Mahatma semenjak masih balita. Namun selama itu, dia tidak pernah mendapatkan respon dari Putri Mahatma. Semenjak Putri Mahatma si Dewi Kesuburan masih bayi, dia sudah jatuh cinta kepadanya, sebab memiliki karakteristik berbeda dari wanita manapun.
__ADS_1
Yao Shen segera membalikkan badan merasakan aura kuat di langit. Dia segera melihat ke langit dan terlihat seberkas sinar melesat ke arah Barat.
"Dia lagi!" gerutu Yao Shen karena mengenal sosok wanita cantik itu. Dia buru-buru menyusulnya karena tidak ingin Tombak Jiwa Berlian Petir jatuh ke tangan Dewi Semesta.