
Bab 178. Mengalahkan Qiong Qi.
Dewa Abadi melihat ke arah sumber auman binatang. Dengan Mata Surgawi-nya dia melihat seekor binatang yang ternyata bukanlah Kui Niu, tetap salah satu dari mahkluk rasi bintang.
Kepalanya menyerupai harimau, tubuhnya berbulu Kuda, dan dia memiliki sayap yang besar. Anehnya, dia bisa berdiri tegak seperti manusia, tinggi badan mencapai 250 cm, membawa tombak tiga mata yang seperti trisula. Dari ujung mata tombak itulah yang menyebabkan badan petir. Binatang itu adalah Qiong Qi, nama lainnya adalah rasi bintang Sagitarius.
"Jadi kau yang membunuh Bi Fang?" suara Qiong Qi begitu menggelegar keras saat berbicara dengan Dewa Abadi.
Semua penghuni di tempat ini menutup telinganya karena terlalu keras suaranya. Rasa bahagia sesaat lalu seketika memudar dan berganti rasa takut. Banyak orang yang pingsan karena tidak mampu menahan aura kekuatan dari Qiong Qi.
"Apakah tidak layak untuk dibunuh setelah apa yang telah dilakukannya?" tanya balik Dewa Abadi dengan nada ketus.
"Sebelum membunuhnya, lihat dulu siapa pemiliknya!" sahut Qiong Qi yang jelas tidak terima dengan perbuat Dewa Abadi, walaupun tahu apa yang diperbuat oleh BI Fang selama ini.
Dewa Abadi melambaikan tangan kanannya dan seketika badai petir menghilang beserta awan hitam. Qiong Qi jelas semakin marah dan melesat sangat cepat ke arah musuhnya.
Tidak ingin melihat kehidupan di tempat ini tewas karena pertarungan, Dewa Abadi mengiring lawannya agar menjauhi penduduk, dia melesat ke arah yang tidak berpenghuni.
Sambil mengejar Dewa Abadi, Qiong Qi menghunuskan tombaknya yang mengeluarkan petir putih. Suara "Duarrr...!" berulang-ulang setiap serangan petir tidak mengenai sasaran.
Dewa Abadi meliuk-liuk setiap kali diserang oleh Qiong Qi, dia semakin jauh dari kepadatan penduduk. Tidak jauh dari lokasi, dia melihat pegunungan yang tidak berpenghuni, tempat yang cocok untuk bertarung.
Swosh...
Dewa Abadi meningkatkan kecepatan, demikian juga dengan Qiong Qi. Tidak berselang lama, Dewa Abadi berhenti di puncak gunung dengan menghadap lawan, lalu mengeluarkan Pedang Semesta.
Qiong Qi menghunuskan tombaknya yang mengeluarkan petir, demikian juga dengan Dewa Abadi yang mengayunkan pedangnya. Dari pedangnya juga mengeluarkan petir. Mereka berdua bertarung jarak jauh.
Boom... Boom...
Ledakan keras ketika dua petir saling berbenturan. Namun, petir yang dimiliki oleh Dewa Abadi jelas lebih unggul karena yang dikeluarkan adalah Petir Asyura.
Qiong Qi berguling-guling di udara karena tidak bisa menghindari serangan lawan. Akan tetapi, dia tidak sedikitpun terluka dan segera menstabilkan tubuhnya. Dia makin marah melihat bulu-bulunya hangus terbakar oleh sambaran Petir Asyura.
"Petir Asyura!" gumam Qiong Qi, dia menginginkan Petir Asyura yang sangat langka, dan jarang sekali muncul di dunia.
"Berikan Petir Asyura, dan kau kubiarkan hidup!" pinta Qiong Qi tanpa malu.
Dewa Abadi tersenyum sinis, jelas tidak akan menyerahkan Petir Asyura yang tidak mungkin didapatkannya lagi. Tanpa banyak bicara, dia mengayunkan pedangnya.
Keluar dari ujung pedangnya serat-serat Petir Asyura yang jumlahnya ratusan. Spontan Qiong Qi menghunuskan tombaknya yang juga mengeluarkan petir putih. Kembali suara petir menggelegar keras ketika berbenturan.
__ADS_1
Sekali lagi, Qiong Qi kalah. Dia terpental ke belakang setelah dihujani Petir Asyura. Tetapi yang mengejutkan Dewa Abadi, musuhnya memiliki fisik yang kuat, hanya ada beberapa luka bakar karena tersambar petir.
Entah bodoh atau karena memang meremehkan Dewa Abadi, Qiong Qi menyerang Dewa Abadi. Seperti sebelumnya, tubuh Qiong Qi berguling-guling di udara. Tubuhnya mengeluarkan asap putih karena bulu-bulu terbakar. Saat ini, tubuhnya tinggal kulit yang memerah.
"Kau membuatku kehilangan kesabaran!?" kegeraman Qiong Qi.
Kemudian, tubuhnya mengeluarkan kilatan petir yang perlahan membentuk logam yang melindungi kulit. Tidak berselang lama, seluruh tubuhnya telah terlindungi logam.
Qiong Qi melesat ke arah Dewa Abadi dengan sangat cepat. Kecepatannya membuat Dewa Abadi terkejut, dia segera mengaktifkan zirah perangnya. Setelah itu, dia melesat ke arah lawannya yang menghendaki pertempuran jarak dekat.
Bunyi dentangan sangat keras ketika dua senjata saling berbenturan. Setiap kali senjata beradu, dampaknya menghancurkan apapun yang berada di sekitarnya, pepohonan hancur berkeping-keping, bahkan tanah bermunculan retakan dan lubang.
Walaupun bertempur itu jauh dari kehidupan, tetap saja kekuatan mereka dengan jelas dirasakan oleh semua orang. Tak terhitung banyaknya kehidupan yang meregang nyawa karena terkena gelombang kejut energi.
Gunung yang menjadi lokasi pertempuran, saat ini telah berubah menjadi daratan akibat benturan energi. Serpihan bebatuan seketika menjadi debu karena terkena gelombang kejut dua kekuatan.
Di kejauhan, pergerakan mereka berdua seperti kilatan, benar-benar sangat cepat. Setiap kali dua senjata berbenturan, terlihat jelas serat-serat petir yang memporak-porandakan sekitarnya. Kemudian, mereka melesat semakin tinggi ke langit.
Satu hari, pertarungan mereka masih belum berhenti, tidak ada diantara mereka yang mundur. Di hari berikutnya, Dewa Abadi perlahan mulai tersudut karena Qiong Qi meningkatkan kekuatan secara bertahap.
Tetapi, Dewa Abadi masih mampu mengimbangi kekuatan lawannya. Semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwa, siap kapanpun untuk memberikan energinya untuk mendukung Dewa Abadi. Mereka jarang sekali mengedipkan mata karena tidak ingin melewatkan pertarungan ini, namun tetap saja ikut tegang walaupun hanya melihatnya.
Pada hari ke-3, Qiong Qi yang awalnya menyudutkan Dewa Abadi, kini dirinya yang disudutkan ketika Pedang Semesta mengeluarkan Api Semesta. Setiap kali berbenturan, zirah perangnya perlahan-lahan mulai mencair.
Ketika Dewa Abadi akan mengayunkan pedangnya, Qiong Qi mengeluarkan seluruh kekuatannya yang sengaja tidak keluar selama pertarungan.
Boom...
Luapan energi membuat Dewa Abadi terpental ke belakang dan berguling-guling di udara. Dia segera menstabilkan tubuhnya. Ia tersenyum sinis karena sudah menunggu lawannya mengeluarkan seluruh kekuatan.
Dewa Abadi mengusap darah dari sudut bibirnya, dia tidak sedikitpun gentar menghadapi lawan yang memiliki kekuatan tingkat The Realm Of Eternal Darkness.
"Kau memaksaku untuk mengeluarkan semua kekuatan! Masih ada kesempatan untuk hidup. Pilihanmu hanya ada dua, berikan atau aku membunuhmu!" ujar Qiong Qi.
"Aku pilih yang ke-3, membunuhmu!" jawab Dewa Abadi yang segera mengalirkan energi Kekuatan Jiwanya kedalam Pedang Semesta.
Kini, Pedang Semesta semakin mengerikan ketika mendapat dua energi, Api Semesta dan Kekuatan Jiwa. Qiong Qi terkejut namun hanya sesaat, dan berganti ketakutan karena merasakan aura Pedang Semesta, dia melihat bola-bola energi kunang-kunang memutari tubuh lawannya.
Dewa Abadi melesat ke arah musuhnya dengan sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Qiong Qi terbelalak melihat kecepatan lawannya yang meningkat drastis, dia juga merasakan aura Pedang Semesta yang makin menekan tubuhnya.
Sebelum lawannya dekat, Qiong Qi juga melesat ke depan sambil menghunuskan tombaknya yang dialiri energi supranatural, ujung tombaknya terarah leher Dewa Abadi.
__ADS_1
Boom...
Ledakan keras ketika dua ujung senjata saling berbenturan. Mereka berdua berhenti di udara karena saling menekan senjata, dan tidak peduli dengan dampak bagi kehidupan dunia ini yang sudah porak-poranda.
Qiong Qi terbelalak ketika bola-bola energi kunang-kunang melesat ke arahnya, dia yang berdekatan jelas tidak bisa menghindar. Dan...
Boom boom boom...
Ledakan energi ketika tubuh Qiong Qi dihujani bola-bola energi kunang-kunang, dia terpental ke belakang dan melepaskan tombaknya. Dewa Abadi segera mengambil tombak lawannya, dan melesat ke arah lawan yang masih berguling-guling di udara.
Sling...
Pedang Semesta menebas leher Qiong Qi. Panas Api Semesta, darahnya tidak sampai menyebur keluar dari tubuhnya karena langsung menjadi asap. Sebelum kepala dan tubuh lawannya terjatuh, Dewa Abadi segera mengeluarkan tungku emas sebagai wadah.
Kepala dan badan musuhnya masuk ke dalam tungku. Dewa Abadi segera menutup tungku dan menyegelnya. Semua istrinya, Chen Yeon, Hu Yue Yan, dan Satria 12 Naga tercengang melihat kecepatan kehebatan Dewa Abadi.
Mereka tidak menyangka kekuatan Dewa Abadi berada di tingkat The Realm Of Eternal Darkness. Mereka pikir Dewa Abadi masih berada di tingkat Divine Realm.
Yang tidak diketahui oleh mereka, Dewa Abadi mendapatkan kekuatan setingkat ini karena pemberian dari Dewa Pemelihara - gurunya. Pemberian ini sebagai hadiah dan kompensasi karena telah mengembalikan Pagoda Berlian.
Waktu itu, Dewa Pemelihara menyentuh dahi muridnya untuk mengeluarkan Pagoda Berlian yang tersimpan di dalam Dunia Jiwa, tetapi juga memberikan kekuatan. Oleh karena itu Dewa Abadi tidak mengeluh.
Seandainya Dewa Abadi tidak mengembalikan Pagoda Berlian, sudah tentu kekuatannya bisa lebih dari tingkat The Realm Of Eternal Darkness, walaupun membutuhkan waktu lama. Tetapi, Dewa Abadi justru mengembalikan Pagoda Berlian demi menghentikan bencana alam semesta.
Karena mendapatkan kekuatan secara instan, dan juga dalam masa berkabung, Dewa Abadi membutuhkan waktu selama 369 tahun untuk penyesuaian diri. Membutuhkan waktu lama karena suasana hatinya yang penuh dengan kesedihan.
Jika dipaksakan untuk menstabilkan pondasi dalam suasana hati buruk, dikhawatirkan akan menimbulkan Iblis Hati yang menghambat kultivasinya. Dampak terburuk jika dipaksakan jelas akan merusak dirinya yang bisa-bisa mencelakai banyak orang.
Oleh karena itu, Dewa Abadi tidak takut sedikitpun saat berhadapan dengan Fu Zhu dan Qiong Qi.
"Sialan kau?!" bentakan Qiong Qi yang masih hidup walaupun kepalanya terpisah, badannya berusaha untuk keluar dari tungku emas.
Segera, Dewa Abadi memasukkan tungku emas kedalam Dunia Jiwanya. Yuna Aurora dan semua saudarinya tahu apa yang harus dilakukan, mereka segera segera mengekstrak tubuh Qiong Qi.
Qiong Qi berteriak kesakitan karena Yuna Aurora membakarnya dengan Api Semesta, dia tidak menyangka ada satu orang yang juga memiliki Api Semesta. Chen Yeon, Hu Yue Yan, dan Shuǐ Jingling segera mengeluarkan energi spiritual untuk menjadikan Qiong Qi sebagai Pil Kultivasi tingkat tinggi.
Dewa Abadi membuang nafas lega karena berhasil mengalahkan Qiong Qi. Dia melihat sekelilingnya yang tidak sedap dipandang. Dia mendarat di tanah dan duduk bersila untuk memulihkan kondisi.
Saat ini, dia diam seperti patung. Dan, Dewa Abadi tidak bisa masuk kedalam Dunia Jiwanya karena aturan...
Setelah pertarungan berlalu selama beberapa bulan, banyak orang yang mendekati Dewa Abadi. Mereka memberikan penghormatan kepadanya karena menjadi penyelamat.
__ADS_1
Disekitar tempat duduk Dewa Abadi, banyak dupa, bunga beraneka ragam bertaburan, dan banyak makanan serta buah. Semua itu dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk rasa terima kasih.
Di tempat Dewa Abadi, dibangun kuil pemujaan yang dibangun secara bergotong royong. Setiap hari, ratusan masyarakat datang untuk memberikan penghormatan kepadanya...