God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Manusia Pohon.


__ADS_3

Bab 249. Inti Getah Pohon, Manusia Pohon. Cikal bakal terlahirnya Batu Keabadian.


Karena mengejar Ling An demi mendapatkan Tombak Jiwa Berlian Petir, terpaksa semua orang kuat harus memasuki tempat-tempat yang tidak pernah dijelajahi. Walaupun mereka khawatir akan adanya bahaya tersembunyi di tempat yang tak terjamah, tetap saja mereka melewatinya.


Suara raungan binatang semakin membuat nyali siapapun orangnya menjadi ciut. Di saat melihat di kejauhan ada segerombolan burung pemangsa kultivator, mereka buru-buru bersembunyi di rimbunnya pepohonan. Dan kembali mengejar Ling An saat burung-burung itu lewat.


Karena bahayanya binatang mistik dan kuat, penghuni Tiga Alam menempati wilayah yang saling berdekatan, hanya dipisahkan oleh lautan sebagai pembatas wilayah.


Untuk menjelajahi tempat-tempat yang asing, biasanya dilakukan secara berkelompok untuk menetralisir korban saat berhadapan dengan binatang mistik. Jika beruntung, mereka akan menghadapi seekor binatang mistik yang memiliki Inti Binatang. Jika kurang beruntung, biasanya mereka tidak sengaja masuk ke sarang binatang mistik yang bergerombol.


"Tombak itu sangat cepat, kita kehilangan jejaknya," kata Hu Samhok kepada kedua rekannya.


Mereka terbang perlahan karena tidak menemukan jejak Ling An. Dengan terbang pelan berharap ada tanda-tanda jejak energi dari Tombak Jiwa Berlian Petir. Selain itu, mereka juga mewaspadai sekitarnya agar tidak bertemu dengan binatang mistik.


"Sebentar lagi malam, lebih baik kita cari tempat beristirahat. Besok baru kita lanjutkan pengejaran!" saran Yu Tien sambil melihat ke arah barat, arah Ling An melarikan diri.


Mereka bertiga mendarat di cabang batang pohon besar untuk dijadikan tempat istirahat. Mereka melihat orang-orang kuat yang masih terus mengejar Ling An.


"Itu Dewi Semesta!" seruan Yu Tien saat melihat di langit seorang wanita cantik yang terbang sangat cepat.


"Lihat, Guru mengejarnya! Ayo kita ikut!" ajakan Tian Bo yang segera menyusul Yao Shen.


Hu Samhok dan Yu Tien juga mengikuti gurunya. Jika ada gurunya, mereka tidak lagi khawatir dengan serangan dari binatang mistik...


...****************...


Ling An sudah sangat jauh dari para pengejar, ia memperlambat laju Tombak Jiwa Berlian Petir saat melihat di depannya ada hutan yang pepohonan menjulang tinggi, walaupun tidak setinggi Pohon Peri.


Hutan itu juga tidak bernama karena belum terjamah oleh tangan kultivator. Dia melihat pepohonan besar dan tinggi itu bergerak-gerak, seakan-akan sedang digoyangkan oleh seseorang yang berukuran besar.


Dia meletakkan tombaknya di punggung. Lalu mendarat di cabang batang pohon. Dia melihat salah satu pohon setinggi 24 meter, penampilannya seperti manusia pohon yang sedang berkomunikasi dengan pepohonan di dekatnya.


Ling An merasakan getaran tanah saat ada manusia pohon yang datang, tingginya lebih dari 27 meter. Ling An segera merubah wujudnya menjadi udara agar tidak diketahui oleh manusia pohon yang akan melewatinya.


"Ash, Ibu Peri meminta kita berkumpul di tempat biasanya. Oh iya, apa kau sudah melepaskan Inti Getah Pohon?" teguran dari manusia pohon yang baru tiba yang bernama Oak.


"Oak... Masalah itu, aku minta bantuanmu. Ayo, ikut aku ke tempat biasanya!" pinta Ash yang segera berjalan terlebih dahulu. Oak pun mengikutinya.


Ling An yang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua pohon itu, segera mengikuti mereka. Setiap kali mereka berjalan, pepohonan di sekitarnya memberikan jalan.


Dia terus mengikuti mereka hingga berhenti di sebuah tebing yang ada air terjunnya. Si Ash berhenti tepat di bawah air terjun. Sedangkan temannya yang bernama Oak berhenti di sampingnya.


"Aku sudah tua dan kesulitan untuk melepaskan sebagian kulit di pantatku. Tolong, kau potong kulitku itu!" pinta Ash sambil membungkukkan badan ke depan, lalu tangan kanan yang berbentuk dari akar-akar menunjuk ke pantatnya yang keras.


Ling An melihat di pantat sisi kanan milik si Ash ada benjolan seukuran kepalan tangan orang dewasa. Di tonjolan itu tumbuh duri-duri tajam. Dengan Mata Surgawi, dia melihat tonjolan di dalam kulit terdapat bola berwarna kecoklatan. Dia menebak jika itu adalah Inti Getah yang dibicarakan Manusia Pohon.


Si Oak mengangguk paham setelah mengetahui masalah temannya ini, lalu dia berbicara dengan penuh keyakinan, "oh itu! Masalah sepele, aku juga minta bantuan si Pine. Tahanlah rasa sakitnya, ini hanya sebentar saja! Hei...! Kenapa kau tumbuhan Inti Getah Pohon di pantat? Apakah tidak ada tempat lain?"


Si Oak baru sadar jika temannya ini menyembunyikan Inti Getahnya di pantat. Ling An menahan tawa karena kekonyolan mereka.


"Biar lebih aman dari keserakahan binatang, bodoh!" sahut si Ash dengan nada tinggi. Lalu dia segera kembali membungkukkan badan agar temannya ini tidak terus mengejek.


"Kau menghancurkan harga diriku sebagai Pohon Oak yang disegani!" gerutu si Oak.

__ADS_1


"Tenang saja, ini rahasia kita berdua, oke! Asal kau jangan salah tempat!" ujar si Ash sambil menoleh ke belakang dan tertawa.


"Cih...! Siapa yang sudi mengincar lubangmu (4nus) itu!?" bentakan si Oak yang ingin rasanya menendang pantat temannya ini.


Tangan kanan si Oak yang berwujud akar-akar berubah menjadi pisau tajam. Siap untuk mengambil Inti Getah Pohon. Lalu perlahan mendekatkan tangannya itu ke tonjolan di pantat si Ash.


"Tunggu, tunggu!" cegah si Ash saat merasakan perih, padahal tangan si Oak belum menyentuh kulitnya. Dia buru-buru membalikkan badan dan melihat temannya.


"Aku belum menyentuhmu, dan kau sudah begitu ketakutan!" ejekan si Oak melihat temannya ini tampak ketakutan, ia tertawa.


"Bukannya aku takut, Pak tua! Aku hanya ingin bertanya, buat apa Ibu Peri meminta Inti Getah Pohon kita?" si Ash bertanya dengan nada kesal karena diejek.


"Mana aku tahu, Oak! Yang penting, setelah kita memberikan Inti Getah Pohon, Ibu Peri akan meremajakan sel-sel sari kehidupan kita. Itu lebih berharga daripada milik kita. Apakah kau tahu, jika si Pine saat ini kembali muda dan penuh vitalitas setelah Ibu Peri memberikan energinya? Tidak seperti kita yang tinggal menunggu menjadi pohon mati! Cepat, menungging lah!" jawab si Oak dengan tidak sabaran.


Si Ash dan Oak adalah pohon tua yang usianya telah mencapai di atas lima ribu tahun. Mereka juga seperti manusia yang tidak ingin mati karena usia tua. Namun, Manusia Pohon telah mendapatkan solusi dari Ibu Peri yang bisa meregenerasi sel-sel sari kehidupan mereka.


Sebagai pembayarannya, Manusia Pohon harus memberikan Inti Getah Pohon yang diinginkan oleh Ibu Peri. Jika mereka adalah manusia, tindakan mereka itu seperti mendonorkan darahnya agar lebih sehat dan memiliki usia lebih panjang.


"Aduhh...!!" teriakan si Ash ketika temannya dengan brutal menusuk pantatnya, dan mencongkel Inti Getah Pohon yang telah mengeras di dalam kulitnya.


"Hahaha!" tawa si Oak sambil memegang bola Inti Getah Pohon yang berwarna kecoklatan dan hampir menjadi hitam, tanda usianya lebih tua darinya.


Di bola Inti Getah Pohon itu berkilauan dan mengeluarkan aroma seperti daging yang terpanggang. Aroma itu tersapu angin. Setelah itu, terdengar suara raungan binatang mistik yang kelaparan.


Ling An yang baru pertama kali melihat Inti Getah Pohon, ada perasaan familiar dengan bola itu. Tapi, ia tidak ingat di mana pernah melihat Inti Getah Pohon itu


Setelah intinya diambil, tubuh tua si Ash menjadi lemas. Tetapi hanya sesaat karena mendapatkan air bersih. Dia segera diam sambil menyerap sari-sari dari air terjun untuk memulihkan kondisinya.


Semua pohon besar segera mematuhi perintah dengan merapat diri dengan pepohonan di dekatnya. Kemudian, akar-akarnya membentuk sebuah kubah besar yang melindungi si Oak dan si Ash.


Roarr...


Raungan binatang yang marah karena tidak bisa lewat. Mereka mengayunkan cakarnya ke pohon yang menghalangi jalan menuju ke sumber aroma Inti Getah Pohon. Akan tetapi, kulit pepohonan purba itu sangatlah kuat, hanya ada bekas cakar yang tidak dalam.


"Aku sudah selesai," kata si Ash setelah luka di pantatnya pulih.


Mereka berdua segera menuju ke arah Utara. Gerakan mereka sangat cepat karena menggunakan akar-akarnya sebagai kaki. Setiap langkahnya sejauh puluhan meter.


Melihat ke mana mereka akan pergi, Ling An mengurungkan niat untuk mengikutinya, sebab arahnya ke wilayah Suku Shanhu. Dan, dia juga merasakan banyak aura kekuatan yang berdatangan ke arahnya.


Ling An masuk ke dalam kubah akar yang digunakan oleh kedua Manusia Pohon. Lalu dia bersembunyi di belakang air terjun. Dia akan mengikuti Manusia Pohon itu setelah pemburu tombaknya jauh dari tempat ini.


Dengan Mata Surgawi, dia melihat ke atas, yang mana banyak orang kuat melewati lokasinya. Kedua matanya tertuju kepada sosok wanita cantik melebihi Putri Mahatma, dan wanita itu adalah Dewi Semesta.


Merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, Dewi Semesta segera berhenti terbang, dia melihat ke arah air terjun yang tertutup akar-akar pohon purba. Ling An segera menonaktifkan Mata Surgawi-nya karena diketahui oleh Dewi Semesta.


Lalu dia keluar dari balik air terjun, melompat ke atas dan memegang akar yang menjuntai ke bawah. Dari balik celah-celah akar pohon, dia melihat wanita super cantik. Ling An terkejut saat melihat dua bola energi melesat dari arah Utara yang menargetkan Dewi Semesta.


Boom boom...


Ledakan hebat ketika serangan itu membentur perisai energi milik Dewi Semesta. Ling An dengan jelas melihat wanita cantik itu tidak sedikitpun terluka.


Lalu Ling An melihat Yao Shen yang muncul di dekat Dewi Semesta, terpaut jarak 70 meter. Kemudian, di belakangnya berdatangan banyak orang, di antara mereka ada dua orang yang ingin dibunuhnya.

__ADS_1


"Kau turun ke Tiga Alam, apa tujuanmu?" tanya Yao Shen kepada Dewi Semesta.


"Bukan urusanmu! Pergi, sebelum aku bertindak berlebihan!" hardik Dewi Semesta tanpa melihat Yao Shen, dia tetap melihat ke bawah karena orang yang mengawasinya tidak lagi dirasakan


"Aku sudah bertanya baik-baik tapi kau membalasnya dengan mengusir kami! Apakah kau melupakan aturan Istana Tahta Trimurti, hah?!" bentakan Yao Shen.


Karena marah, dari tubuhnya mengeluarkan energi kabut hitam. Kecuali Dewi Semesta, semua orang segera menjauhi Yao Shen karena merasakan aura kematian. Lalu mereka melihat daun pepohonan besar di bawah menjadi layu, dan perlahan mengering.


Dewi Semesta hanya meliriknya tanpa sedikitpun takut dengan energi kabut hitam yang mengerikan itu. Dia menghentakkan kaki kiri sehingga mengeluarkan gelombang energi spiritual yang menetralisir kabut hitam.


Namun, Yao Shen meningkatkan kekuatan energi kabut hitam sehingga lingkaran hitam di bawah kakinya meluas. Dampaknya dua energi itu saling berbenturan dan memicu ledakan bertubi-tubi dengan suara keras.


Ling An yang berada di bawah tidak sedikitpun terpengaruh oleh gelombang energi yang saling berbenturan, sebab dia dilindungi oleh akar-akar pohon. Dia melihat tubuh Dewi Semesta mengeluarkan cahaya benderang yang menekan energi kabut hitam.


"Kau pikir aku takut? Tidak, tidak sedikitpun! Pergi dari Tiga Alam, atau... Aku tidak segan-segan melukai wajah cantikmu!" ancaman Yao Shen.


Dia menjentikkan jarinya, lalu bermunculan ratusan jarum hitam yang mengarah ke Dewi Semesta. Namun, Dewi Semesta melambaikan tangan kirinya sehingga ratusan jarum hitam itu menguap.


"Kau junior, berani-beraninya menghentikan aku yang diutus oleh Yang Mulia Dewa Tertinggi! Apakah kau ingin statusmu dicabut?" balas Dewi Semesta yang mengancam Yao Shen.


Seketika Yao Shen menghilangkan energi kabut hitam miliknya. Dia tidak mau statusnya sebagai calon murid Istana Tahta Trimurti dicabut. Tetapi, bukan berarti dia takut dengan Dewi Semesta yang statusnya berada di atasnya.


Istana Tahta Trimurti berada di Alam Jiwa, tempat semua jiwa berlabuh dan menunggu giliran untuk bereinkarnasi kembali. Di Alam Jiwa, terdapat 9 istana. Dan setiap istana dihuni orang-orang yang memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.


Menurut pengetahuan kehidupan di dunia saat ini, 9 istana itu sama halnya dengan 7 lapis langit, yang mana setiap istana itu dihuni oleh orang-orang pilihan. Sedangkan tingkat ke-8 adalah tempat bagi penerus yang akan duduk di Tahta Trimurti.


Di istana ke-8, adalah tempat yang tidak berpenghuni, sebab belum ada yang mampu memasukinya. Tingkatan ke-9 adalah tempat Dewa Tertinggi mengawasi seluruh Alam Jagat Raya.


Untuk memasuki setiap di istana pertama, seseorang harus memiliki kontribusi besar terhadap alam semesta. Intinya, semakin besar perbuatan baik yang dilakukan, maka untuk masuk ke istana berikutnya akan lebih mudah.


Sedangkan Yao Shen, di masih menjadi calon penghuni Istana Tahta Trimurti, dan belum secara resmi menjadi anggota istana pertama. Jika dia melakukan kejahatan, statusnya akan dicabut oleh seniornya.


"Maafkan saya yang tidak tahu!" sesal Yao Shen sambil menangkupkan kedua tangannya sebagai bentuk rasa penyesalan dan hormat kepada seniornya.


"Aku turun karena mendapatkan tugas untuk mengambil Tombak Ilahi. Pergilah, dan jangan sekali-kali ikut campur!" ungkap Dewi Semesta dan mengusir semua orang.


Tombak Ilahi adalah nama sebutan untuk Tombak Jiwa Berlian Petir. Sebenarnya, Dewi Semesta tidak mendapatkan tugas dari Dewa Tertinggi. Dia kebetulan sedang melewati Tiga Alam saat Tombak Jiwa Berlian Petir membuat kehebohan di daratan bersalju.


Yao Shen tersenyum masam karena diusir oleh seorang wanita cantik. Jika bukan karena tidak ingin kehilangan status di Alam Jiwa, dia sudah pasti akan melakukan hal buruk terhadap Dewi Semesta.


"Saya akan sebarkan tujuan Anda agar semua orang tidak mengejar Tombak Ilahi. Saya undur diri, permisi!"


Yao Shen meninggalkan Dewi Semesta yang tidak sedikitpun menanggapinya. Di hatinya, sebenarnya suka dan juga jengkel kepada Dewi Semesta. Ada tiga wanita yang tidak sedikitpun menganggapnya penting, mereka adalah Putri Mahatma, Yao Ningqiao muridnya, dan terakhir adalah Dewi Semesta.


Jika mereka adalah wanita lain, dengan ketampanannya serta bakat, sudah pasti setiap wanita dengan mudah takluk, bahkan tanpa perlu merayunya. Hanya ketiga wanita itu yang membuat harga dirinya sebagai pria hancur.


Tetapi, demi duduk di Tahta Trimurti, dia harus dengan sekuat hati untuk membuang semua emosi negatif...


Dewi Semesta melirik kepergian Yao Shen dan ketiga muridnya itu, dan diikuti oleh banyak orang orang yang menjadi pengikutnya. Setelah mereka tidak lagi terlihat, ia segera turun ke kubah yang terbuat dari akar-akar pohon, tempat persembunyian Ling An.


Saat masuk ke dalam kubah akar pohon, dia tidak melihat siapapun selain air terjun. Karena tempatnya nyaman dan indah, dia memutuskan untuk tinggal di tempat ini.


Dengan lambaian tangannya, muncul sebuah pondok kayu. Dia segera masuk ke dalam pondoknya. Tidak berselang lama, dia keluar dengan pakaian terusan yang tipis, dia akan mandi di bawah air terjun...

__ADS_1


__ADS_2