God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Menuju Ke Alam Kudus.


__ADS_3

Bab 173. Menuju Ke Alam Kudus.


Banyak istrinya yang tewas, membuat Dewa Abadi meratapi kepergian mereka. Rasa benci kepada Tian Bo ayah kandungnya, tidak bisa lagi terlukiskan. Tidak hanya Pasukan Wanita yang tewas, tak terhitung banyaknya pasukan Kekaisaran Dewa Binatang dan para pejabat yang juga ikut tewas, bahkan sahabatnya Xu Huang dan yang lainnya juga tewas.


Oleh karena itu, Dewa Abadi terpukul atas kematian mereka. Untung saja, Xu Tian Mei diselamatkan oleh Tian Shuwan sebelum dibunuh oleh Bintang Virgo Gorgon, sehingga sahabatnya masih memiliki keturunan. Dewi Aura guru dari Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian juga tewas karena menyelamatkan kedua muridnya.


Untuk mengenang semua istri, para pejabat dan sahabatnya, Dewa Abadi membuatkan kuil untuk meletakkan abu mereka. Kuil itu diberi nama Kuil Ratapan.


Kuil itu berbentuk piramida dengan empat pintu dan empat anak tangga. Ukuran kuil sangat besar, mencapai lebih dari 10.000 meter persegi.


Kini, medan Perang Samudera Hitam dijadikan tempat pemakaman massal bagi para pejuang yang melawan tiga mahkluk rasi bintang. Kaisar Langit, Maharaja Yaksa, para Dewa dan balatentara juga dibuatkan tempat tersendiri, terpisah dari Pasukan Wanita.


Dengan tewasnya dua penguasa Alam Suci, jelas membuat kekuasaan menjadi rebutan antar keturunan. Chen Yeon dan Hu Yue Yan segera mengambil ahli kekuasaan sementara sebelum terjadinya perang saudara.


Kedua wanita itu memutuskan untuk menjadikan Dewa Abadi sebagai pengganti dari Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, namun setelah Dewa Abadi melewati masa berkabung selama 369 tahun.


Altar Dewa Sihir telah hancur dengan sendirinya semenjak Pagoda Berlian kembali ke tempatnya. Tidak ada lagi Bai Ze dan Gemini yang menjadi patung, kedua mahkluk itu menjadi abu. Dan, di atas altar Dewa Sihir yang telah hancur dibangun Kuil Ratapan.


Di dalam Kuil Ratapan, banyak sekali patung-patung dari Pasukan Wanita dan para pejabat Kekaisaran Dewa Binatang, termasuk tunggangannya. Patung-patung itu dibuat oleh Satria 12 Naga, dibuat secara detail sesuai dengan aslinya.


Setelah melewati 369 tahun, Dewa Abadi belum juga keluar dari dalam Dunia Jiwanya. Chen Yeon, Hu Yue Yan, Satria 12 Naga, Xu Tian Mei dengan setia menjaga Kuil Ratapan karena menjadi tempat tinggal Dunia Jiwa milik Dewa Abadi.


Lambat laun banyak kultivator yang berasal dari planet lain mengunjungi medan perang Samudera Hitam untuk menghormati jasa pejuang yang berguguran, terutama untuk menghormati Pasukan Wanita, Kaisar Langit, Maharaja Yaksa dan Dewa-dewi yang gugur.


Akan tetapi, tidak setiap orang yang bisa memasuki Kuil Ratapan, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk untuk menghormati jasa pejuang. Apalagi Xu Tian Mei menjadi galak setelah ibu, ayah dan kakaknya juga tewas. Belum lagi dijaga ketat oleh Satria 12 Naga yang berubah menjadi patung Naga untuk menjaga empat pintu Kuil Ratapan.


Di dalam Dunia Jiwa milik Dewa Abadi.


Tian Lihua, Pang Shui dan semua saudarinya yang selamat dari keganasan Bintang Virgo Gorgon, tidak ada henti-hentinya selalu menghibur suaminya yang masih berduka. Selama masa berkabung, Dewa Abadi duduk bersila seperti patung.


"Kematian saudari kita yang melindungi banyak kehidupan tidak akan pernah sia-sia. Relakan kepergiannya!" hibur Tian Chunhua agar Dewa Abadi tidak terus seperti ini.


"Suami, aku juga tidak terima dengan mertua. Ayo, kita balas dendam!" ajak Tian She Meili yang sejak lama ingin pergi ke Alam Kudus untuk mengalahkan Tian Bo si Dewa Langit.


Dewa Abadi membuka mata dan melihat semua istrinya yang duduk di depannya, dia melihat semua istri utamanya yang selalu setia menunggu, ada 350 istri yang selamat dari keganasan Bintang Virgo Gorgon.

__ADS_1


"Berikan aku waktu 369 hari untuk bermeditasi. Setelah itu, kita pergi ke Alam Kudus untuk membuat perhitungan. Persiapkan diri kalian!" Setelah berbicara, Dewa Abadi kembali menutup matanya.


Yuna Aurora, Qin Diao Chin dan semua saudarinya saling berpelukan karena bahagia melihat suami yang akhirnya berbicara setelah 369 tahun. Menunggu 369 hari, tidak lama bagi mereka.


Dao Li Xia keluar dari dalam Dunia Jiwa untuk mengabarkan berita ini kepada Satria 12 Naga dan yang lainnya, bahwa Dewa Abadi akan keluar setelah 369 hari...


Tepat di hari 369, Dewa Abadi membuka matanya, dia melihat istrinya yang ikut bermeditasi di depannya. Duduk bersila dengan sangat tenang dan nyaman. Kemudian, dia melihat ke luar Dunia Jiwanya, yang mana Chen Yeon dan Hu Yue Yan sedang menerima tamu dari Alam Suci.


Mendengar hembusan nafas dari Dewa Abadi, semua wanita yang mendengar segera membuka mata, mereka melihat suaminya yang kembali ceria seperti dulu.


Yuna Aurora segera memeluk Dewa Abadi karena sangat merindukannya. Lalu berganti dengan semua saudarinya, dan terakhir yang memeluknya adalah Qiaofeng si Dewi Samudera.


"Siapa mereka yang berada di luar?" tanya Dewa Abadi.


"Mereka adalah keturunan dari Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa!" jawab Qiaofeng sambil ikut melihat ke luar Dunia Jiwa.


"Chen Yeon dan Hu Yue Yan menginginkan kamu untuk menjadi penguasa tunggal di Alam Suci. Apakah kamu bersedia?" tanya Qin Diao Chin.


Dewa Abadi melihat Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian, lalu menjawab, "aku ingin bebas dan tidak ingin terikat dengan apapun. Aku ingin selalu menemani kalian selamanya. Lebih baik, berikan saja kepada keturunan mereka!"


Setelah melihat kematian banyak istri, sahabat dan orang-orang kepercayaannya, Dewa Abadi jelas tidak ingin menjadi penguasa lagi, sebab sama saja akan mengulangi kejadian ini jika suatu hari nanti kembali terjadi Peperangan Global.


"Aku akan katakan hal ini kepada Chen Yeon," kata Shuǐ Jingling, ia segera keluar dari Dunia Jiwa bersama dengan Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian.


Dewa Abadi keluar dari istananya bersama dengan semua istrinya. Setelah berada di luar, dia melihat Dunia Jiwanya begitu sepi karena banyak penghuninya ikut serta dalam Peperangan Global.


"Ilmuwan kita telah menciptakan mesin waktu yang baru. Apakah kamu tidak ingin mengulangi waktu sebelum kedatangan Gorgon?" ide Tian She Meili.


Dewa Abadi merenung sejenak untuk memikirkan segalanya jika kembali ke masa lalu.


"Menggunakan mesin waktu sama saja merubah segalanya, tidak terkecuali musuh kita. Lain halnya jika untuk menuju ke masa depan, itu masih lebih baik!" tolak Dewa Abadi sebab hal ini akan bertentangan dengan hukum alam.


Selain itu, dia tidak ingin menggunakan mesin waktu yang mengakibatkan Dewa Pencipta dan Dewa Pemelihara menjadi murka. Jika tetap menggunakan mesin waktu, yang paling dikhawatirkan oleh Dewa Abadi adalah Dewa Perusak.


"Yang lalu kita jadikan pembelajaran. Masa depan terbentang luas di hadapan kita!" tutur Tian Lihua.

__ADS_1


Kemudian, Dewa Abadi menghilangkan semua teknologi canggih dan infrastruktur pendukungnya. Dia ingin di dalam Dunia Jiwanya kembali ke awal yang masih alami.


Tian She Meili menghela nafas berat karena tidak bisa kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan saudarinya sebanyak mungkin. Lalu ia dan semua saudarinya mengikuti Dewa Abadi yang keluar dari Dunia Jiwa.


Kemunculan Dewa Abadi, membuat Satria 12 Naga segera berubah menjadi manusia. Chen Yeon, Hu Yue Yan dan Xu Tian Mei segera menyambutnya. Lalu menceritakan apapun yang terjadi selama 369 tahun ini.


"Suami, kita akan kembali ke Alam Suci untuk menjadi pimpinan di Pengadilan Surga. Izinkan kami untuk pergi dan akan kembali setelah calon penguasa itu mampu melindungi Alam Suci!" pinta Dewi Kedamaian setelah Chen Yeon selesai bercerita.


"Itu sudah kewajiban kalian! Setelah urusanku beres, aku pasti akan menemui kalian!" Dewa Abadi mengizinkan kedua istri itu.


Dewa Kasih dan Dewi Kedamaian bergantian memeluk Dewa Abadi, memberikan ciuman hangat. Setelah itu, kedua istrinya keluar dari Kuil Ratapan menuju ke Alam Suci.


"Kami juga akan kembali. Jika sempat, mampirlah ke tempat kami, kita dengan senang hati menyambut kedatanganmu!" pamit Chen Yeon.


Dewa Abadi menjabat tangan Chen Yeon dan Hu Yue Yan secara bergantian. Dia tahu kedua wanita ini memiliki tugas yang lebih penting di Galaksi Pengadilan Jagat Raya.


"Suatu hari nanti, aku pasti akan datang ke tempat kalian," ucap Dewa Abadi dan di anggukan kepala oleh Chen Yeon dan Hu Yue Yan.


Dewa Abadi, semua istrinya dan Satria 12 Naga mengiringi kepergian mereka. Di luar Kuil Ratapan, banyak orang yang bersorak-sorai karena melihat Dewa Abadi yang namanya telah dikenal di seluruh Alam Semesta.


"Di masa depan, tugas kalian untuk melindungi alam semesta. Aku percaya kalian mampu mengemban tugas ini."


Setelah berbicara kepada semua orang yang mengunjungi medan Perang Samudera Hitam, Dewa Abadi dan semua istrinya naik ke punggung Satria 12 Naga yang berubah menjadi wujud aslinya. Termasuk Xu Tian Mei yang sudah menjadi bagian dari keluarga besarnya sebagai pengganti sahabatnya.


"Roarrr...!!" raungan Satria 12 Naga saat terbang ke langit.


Dewa Abadi menuju ke Alam Kudus yang merupakan tujuan utamanya, tetapi bukan akhir dari semua kejadian yang telah terjadi. Dewa Perusak atau yang disebut dengan The Lord Of Dark Matter, merupakan lawan terberat yang sebenarnya.


Agar Dewa Perusak untuk selamanya tersegel, satu-satunya jalan adalah mengalahkan semua pendukungnya, tidak terkecuali Tian Bo si Dewa Langit yang menjadi tangan kanannya yang memicu kejadian ini.


Battleship Excel Super Destroyer telah dihancurkan oleh Bintang Virgo Gorgon. Oleh sebab itu, Dewa Binatang menggunakan Satria 12 Naga sebagai tunggangannya. Sengaja Dewa Binatang tidak membuat kapal luar angkasa yang lebih canggih, sebab tidak material alam tidak mampu melawan kultivator di atas tingkat True Omega...


Setelah kepergian Dewa Abadi, seseorang pria berdiri di atas Kuil Ratapan, dia adalah God Of Partikel yang selalu mengawasi cucunya. Dia mencatat semua kejadian ini karena sudah menjadi tugasnya.


"Pertengkaran antara keluarga tidak bisa lagi kucegah. Semoga cucuku bisa bersikap bijak untuk memaafkan mereka!" harapan God Of Partikel.

__ADS_1


Tian Ba si God Of Partikel, sudah seringkali memberikan peringatan kepada putranya Tian Bo agar tidak meneruskan perbuatannya, namun peringatannya tidak dihiraukan.


Dia segera menyusul cucunya yang telah jauh dari Planet Peliades.


__ADS_2