
Bab 186. Patung Emas Cancer.
Akhirnya Dewa Abadi tiba di ujung lorong. Di hadapannya terdapat anak tangga menurun, panjangnya mencapai 9 meter dengan lebar 1 meter. Dia melihat ruangan besar seperti dunia bawah tanah dipenuhi yang dengan harta berharga, emas batangan yang tertata rapi membentuk piramida di kirinya, koin emas menggunung di sisi kanannya.
Di tengah-tengah emas itu terdapat berbagai jenis senjata yang diletakkan di rak kayu, jumlahnya sangat banyak, dari Armament Grade Beast hingga Artefak Bintang 5.
Semua dinding ruangan ini juga terbuat dari emas. Berlian berbagai ukuran berapa di belakang rak senjata, disimpan di dalam peti harta yang tidak ditutup karena terlalu banyaknya belian.
Namun, Dewa Abadi tidak tertarik dengan harta itu, dia terfokus pada patung mahkluk aneh yang terbuat dari bahan emas.
Tubuhnya menyerupai harimau, memiliki banyak rambut dan cukup panjang, memiliki ekor panjang. Dia memiliki dua gigi panjang dan bengkok yang tumbuh dari belakang telinganya.
Memiliki empat mata, tetapi dua mata lebih kecil yang berada di atas sepasang mata besar, kakinya seperti kepiting yang jumlahnya ada enam, memiliki capit kepiting berada di depan, dan tinggi patung mahkluk aneh itu mencapai 6 meter.
"Itu Rasi Bintang Cancer. Di dunia dikenal dengan sebutan Taowu. Itulah wujud aslinya," kata Fu Zhu yang melihatnya.
"Akhirnya ketemu juga!" ujar Dewa Abadi sambil mendekati patung emas.
Ketika Dewa Abadi menuruni anak tangga, keluar ribuan anak panah dari dinding ruangan bawah tanah yang melesat ke arahnya. Anak panah kali ini lebih kokoh dan berbahaya, merupakan jenis Artefak Bintang 5 tahap puncak.
Dia segera mengeluarkan Tombak Semesta yang sudah lama tidak digunakannya. Dewa Abadi memutar tombaknya untuk menangkis ribuan anak panah. Suara dentangan benda logam menggema di ruangan bawah tanah.
Anak panah patah menjadi dua dengan mudahnya. Namun, dinding ruangan masih terus mengeluarkan ribuan anak panah. Sambil terus menangkis anak panah, dia mendekati patung emas Rasi Bintang Cancer.
Ketika disibukkan dengan menangkis serangan anak panah, datang dari belakang patung emas itu, dua bola besi berduri yang melesat ke arah Dewa Abadi. Melihat itu, Dewa Abadi dengan segera mengayunkan tombaknya ke lantai.
Boom...
Ledakan keras ketika semua serangan dari jebakan hancur berkeping-keping. Batangan emas, koin dan senjata berserakan dimana-mana karena hempasan energi. Seketika itu mekanisme jebakan tidak lagi mengeluarkan serangan.
Setelah itu, pintu masuk tertutup dengan sendirinya. Kemudian patung emas tiba-tiba menjadi hidup. Yang mengejutkan Dewa Abadi, batangan emas, koin emas, berlian, dan senjata bergerak ke arah patung emas.
Harta berharga itu menyatu dengan patung emas, yang membuatnya menjadi semakin besar dan tinggi. Ruangan bawah tanah bergetar seiring bertambah besarnya patung emas.
Di luar Pohon Mata Dunia, tiga ratu, para pahlawan dan banyak prajurit telah mengelilingi pohon mati. Mereka segera mundur menjauhi pohon mati ketika merasakan getaran hebat dari dalam tanah.
Mereka terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi ini, mereka bersiap untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Dan yang mengejutkan semua orang, Pohon Mata Dunia yang terkenal sekokoh besi muncul retakan.
Retakan di pohon itu menjalar ke atas dengan sangat cepat. Dan tidak berselang lama, suara "Boom...!" terdengar sangat keras. Pohon Mata Dunia meledak, serpihan pecahan kayu yang tajam menyebar ke segala arah.
Para prajurit yang masih kaget dengan suara ledakan banyak yang terlambat menghindari serpihan kayu tajam, tubuh tertusuk serpihan kayu yang membuat mereka berteriak kesakitan.
__ADS_1
Tidak berhenti setelah Pohon Mata Dunia meledak, tanah semakin hebat getarannya. Ketiga ratu, para pahlawan dan banyak prajurit yang panik semakin panik.
Kemudian, ledakan keras kembali terdengar ketika ruangan bawah tanah tidak mampu menampung tubuh besar patung emas. Ledakan dari dalam tanah itu menjadi tsunami yang bergulung ke segala arah.
Para prajurit yang terlambat menghindari tsunami berteriak ketika tergulung tsunami tanah. Benar-benar malam hari yang menjadi bencana bagi semua orang yang berada di wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang.
Para penguasa yang berhasil selamat dari dua ledakan tak terduga tercengang saat melihat patung emas berukuran raksasa. Mereka juga melihat Dewa Abadi yang melayang di udara dengan memegang erat tombaknya.
"Semuanya menjauh!" perintah Dewa Abadi kepada para penguasa dan pasukan yang masih selamat.
Sayangnya, semua orang mengabaikan ucapannya karena melihat patung emas yang sangat bernilai tinggi. Tatapan mereka terfokus kepada harta yang selama ini menjadi perburuan.
Patung emas itu tiba-tiba bergerak ke arah Dewa Abadi, gerakannya membuat tanah berguncang yang menyadarkan semua orang. Kaki kanan dari patung emas terangkat ke arah Dewa Abadi.
Boom...
Ledakan keras ketika kaki raksasa membentur tanah dan tidak sedikitpun mengenai sasarannya. Mengetahui patung emas itu mampu menyerang, membuat semua orang berlarian menjauhi reruntuhan kekaisaran.
Tetapi, orang-orang yang kuat hanya mundur beberapa puluh meter, entah apa yang dipikirkan mereka. Ketiga ratu dan para pahlawan melihat Dewa Abadi melesat ke arah perut patung emas.
Namun, capit patung emas berusaha untuk menangkap Dewa Abadi sebelum mendekatinya. Dewa Abadi menghindari capit patung emas, dan kembali menghunuskan tombaknya yang membentur capit.
Yang mengherankan Dewa Abadi, capit patung emas itu tidak sedikitpun berlubang setelah terkena ujung mata Tombak Semesta. Dia meningkatkan tenaganya untuk menebus pertahanan capit patung emas.
Ketiga ratu, para pahlawan, serta pendukungnya semakin serius karena pertarungan Dewa Abadi dan patung emas melebihi ekspektasinya. Mereka pikir patung emas itu hanya sebuah benda tanpa kekuatan, mereka juga menganggap bahwa Dewa Abadi mampu dikalahkan jika bekerja sama.
Nyatanya, kekuatan mereka jauh dari Dewa Abadi dan patung emas. Sistem Kultivasi semakin kacau karena tidak mampu menganalisa kemampuan Dewa Abadi, hal ini membuat para pahlawan tidak lagi mengandalkan Sistem Kultivasi.
Boom...
Ledakan keras kembali terdengar ketika Dewa Abadi meningkatkan kekuatannya secara bertahap. Kali ini bukan energi spiritual, melainkan energi Kekuatan Jiwa. Dampaknya membuat banyak orang merasakan pusing.
Anehnya, hanya patung emas yang tidak terpengaruh oleh energi Kekuatan Jiwa, dikarenakan dia adalah benda mati dan bukan mahkluk hidup. Patung emas bisa bergerak karena dia memiliki sistem robot.
Karena patung emas mampu menahan serangan Kekuatan Jiwa, Dewa Abadi mengalirkan energi Api Semesta ke tombaknya. Seketika tubuh patung emas mulai bereaksi terhadap suhu panas, tubuhnya membara, dan perlahan melunak.
Karena Api Semesta dikeluarkan membuat wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang terbakar hebat, panasnya dirasakan oleh seluruh penjuru Dunia Roh.
Saat ini, para penguasa telah keluar dari wilayah pertarungan. Mereka tidak tahu harus berkata apa dengan kegilaan ini. Secara naluri, mereka berusaha untuk bertahan hidup dengan bersembunyi di tempat yang berair.
Pergerakan patung emas perlahan mulai melambat karena tubuhnya mencair. Dan Dewa Abadi tidak lagi menyerangnya, namun terus menghunuskan tombaknya yang dialiri energi Api Semesta dan Kekuatan Jiwanya.
__ADS_1
Akhirnya, patung emas pun telah sepenuhnya mencair. Wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang digenangi cairan emas yang perlahan mulai mengeras.
Tetapi, Dewa Abadi tidak sedikitpun senang maupun bangga setelah mengalahkan patung emas. Dia terlihat serius karena pertarungannya ini tergolong sangat mudah. Selain itu, patung emas tidak mengeluarkan Kristal Energi bergambar Cancer, hal ini membuatnya tetap waspada.
Sambil berhenti mengalirkan energi Api Semesta dan Kekuatan Jiwanya, dia melihat sekeliling untuk mencari keberadaan rasi bintang yang sesungguhnya. Namun, tidak ada pergerakan apapun disekitarnya.
"Apa dia yang sebenarnya bersembunyi di tanda lingkaran berikutnya?" gumam Dewa Abadi yang menebak-nebak.
"Mungkin saja. Mungkin patung emas ini hanyalah sebagai petunjuk awal!" Interupsi dari Tian Lihua.
"Kalau begitu kita menuju ke tempat berikutnya," kata Dewa Abadi yang ingin sesegera mungkin untuk menemukan keberadaan makhluk Rasi Bintang Cancer.
Dewa Abadi melesat ke arah barat. Setelah kepergiannya, para penguasa yang bersembunyi segera keluar dan bergegas menuju ke wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang.
Saat ketiga ratu dan para pahlawan tiba, mereka dikejutkan oleh cairan emas yang telah menjadi keras. Kedua mata mereka berbinar-binar melihat emas. Namun, sebelum mereka berebut emas, tiba-tiba wilayah reruntuhan bergetar hebat.
Yang mengejutkan semua orang, emas itu perlahan membentuk wujud manusia emas, jumlahnya mencapai miliaran, melebihi jumlah penghuni di Dunia Roh. Manusia emas itu diam seperti patung, tinggi badan mencapai 170 cm, patung emas itu seperti prajurit yang mengenakan zirah perang, semuanya membawa senjata tombak.
Melihat patung emas itu seperti patung, salah satu orang yang serakah mendekati patung emas terdekat. Ketika dia akan menyentuh tombok yang tertancap di tanah, tiba-tiba tangan kiri patung emas mencekik leher orang tersebut, dan mematahkan lehernya seperti ranting kering.
Kemudian, orang lain yang juga serakah buru-buru mendekati patung emas itu, dan nasib tidak jauh berbeda dengan orang pertama. Melihat itu, para penguasa segera memerintahkan kepada semua orang untuk tidak bertindak ceroboh.
"Jika kalian ingin hidup, jangan sentuh patung emas itu!" teriak Ratu Mu Yu Huang kepada semua orang yang akan mendekat.
Setelah dia berbicara, tiba-tiba semua patung emas serempak bergerak menyerang siapapun yang hidup di dekatnya. Para penguasa segera memerintahkan semua orang untuk melawannya karena tidak ada jalan lain untuk melarikan diri.
Ketiga ratu dan para pahlawan mengeluarkan segera kemampuannya dalam melawan miliaran patung emas. Luapan energi spiritual dirasakan oleh Dewa Abadi yang telah keluar dari wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang. Dia melihat ke belakang dan melihat letupan energi spiritual di wilayah itu.
"Apakah mereka berebut emas?" dugaan Dewa Abadi.
Karena pengelihatannya seperti manusia fana, dia tidak bisa mengaktifkan Mata Surgawi maupun Mata Dewa. Karena itu dia hanya bisa menebak-nebaknya. Namun, rasa cinta kepada ketiga istrinya yang kehilangan ingatan, membuatnya menjadi khawatir akan keselamatan mereka.
Dewa Abadi memutuskan untuk kembali demi melihat kondisi ketiga istrinya. Rencana awal, setelah mengalahkan mahkluk Rasi Bintang Cancer, dia akan mengembalikan ingatan ketiga istrinya secara bertahap.
Dia terbang dengan kecepatan tinggi menuju reruntuhan Kekaisaran Tang. Tidak butuh waktu lama, dia telah tiba. Dewa Abadi terkejut melihat miliaran patung emas yang menyerang kehidupan yang bergerak.
Dia melihat ketiga istrinya kewalahan menghadapi patung emas. Ketiga istrinya masih jauh dari dirinya karena saking banyaknya patung emas.
Tidak ingin kehilangan istri lagi, dia segera mengeluarkan Tombak Semesta. Lalu mengalirkan energi Api Semesta dan Kekuatan Jiwanya dengan skala rendah. Dia tidak ingin dampak kekuatannya membunuh ketiga istrinya.
Di saat akan menuju ke arah ketiga istrinya yang sedang berjuang hidup, dia diserang oleh banyak patung emas yang bisa terbang. Mau tidak mau, dia harus melawan mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
Boom...
Ledakan keras ketika Dewa Abadi menghancurkan tubuh patung emas...