God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Bai Ze Membuka Mata.


__ADS_3

Bab 158. Bai Ze Membuka Mata. Tewasnya Kaisar Kun dan beberapa musuh.


Sebelum situasi makin memanas, dan membuat Dewa Binatang enggan menyerahkan Pagoda Berlian, Chen Yeon segera menengahinya.


"Baiklah, keinginanmu kukabulkan. Tetapi syaratnya... Kau tahu mereka bertiga bukan lawanmu. Agar seimbang, ketiga Taois juga harus menjadi lawanmu, dan juga jangan menggunakan Kekuatan Jiwamu!"


"Setuju!" jawab Dewa Binatang dan melihat keenam orang yang akan menjadi lawan bertarung.


Semua orang segera memberikan ruang untuk pertarungan mereka. Namun, para raksasa segera menyerang Chen Yeon dan pendukungnya karena tidak adanya bola energi kunang-kunang.


Pang Shui, Xu Huang dan semua sahabatnya, hanya sekilas melihat Dewa Binatang yang tampak santai menghadapi enam Dewa, hanya bisa melihat sekilas karena sibuk melawan para raksasa. Mereka ingin sekali membantu sahabat ini jika tidak melawan raksasa.


"Lebih dari empat ribu dunia telah ku-taklukkan, berikutnya adalah kau!" ucao Dewa Penghancur, dia siap kapanpun untuk menyerang Dewa Binatang.


"Aku Dewa Pemusnah, tak terhitung galaksi telah kukalahkan. Kau selanjutnya, maju!"


"Untuk melindungi rakyatku, jutaan ahli bela diri dari seluruh penjuru dunia telah kukalahkan. Akulah Dewa Petarung!"


Dewa Binatang mengorek kupingnya karena risih mendengar perkataan ketiga calon Pelindung Alam itu. Sebelum dia berbicara, Xu Huang menyahut dengan lantang sambil tetap menyerang raksasa penunggang Banteng.


"Demi kecantikan yang tertindas, aku pahlawan yang akan melindunginya!"


Juan Rou dan Xu Tian Mei langsung mengeluarkan palu raksasa yang menghantam kepala Xu Huang. Dewa Binatang menahan tawanya karena nasib tragis dialami oleh sahabatnya.


"Jangan berikan dia kesempatan untuk melawan, serang bersama!" perintah Taois Xian dan membuat Dewa Binatang berhenti tertawa.


Keenam Dewa itu langsung melesat ke arah Dewa Binatang, mereka menggunakan senjata andalannya. Dewa Binatang menghentakkan kaki kanan hingga membuat ledakan energi yang menyebar ke berbagai arah.


Ledakan energi itu memperlambat pergerakan keenam Dewa itu. Setelah itu, Dewa Binatang muncul dihadapan Dewa Penghancur. Karena naluri pertahanan diri, Dewa Penghancur segera menghunuskan pedangnya.


Namun, oleh Dewa Binatang, pedang itu ditepis dengan telapak tangan kanannya, lalu menggunakan punggung tangannya untuk menyerang dada lawan.


Tubuh Dewa Penghancur terpental ke belakang dan menabrak banyak raksasa, dia terseret sejauh ribuan meter. Dewa Petarung, Dewa Pemusnah dan ketiga Taois tercengang melihat kecepatan lawannya.


"Kecepatan yang luar biasa!" batin mereka.


Baru saja membatin, Dewa Binatang muncul di depan Dewa Pemusnah, dan sekali lagi menggunakan telapak tangan kanannya untuk memukul dada lawan. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan Dewa Penghancur, terseret ribuan meter setelah menabrak banyak raksasa.


Tidak ingin seperti yang dialami oleh kedua rekannya, Dewa Petarung berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu. Sayangnya, Dewa Binatang lebih cepat bergerak, dan sudah berada di sampingnya.


Dewa Petarung merasakan kepalanya seperti dipukul dengan palu ketika telapak tangan Dewa Binatang mengenai telinganya. Dia juga terpental ke samping hingga terseret sejauh ribuan meter.

__ADS_1


Ketiga Taois melepaskan serangan jarak jauh yang terfokus kepada Dewa Binatang. Puluhan serangan itu menghujani tubuh Dewa Binatang, dan itu tidak berhenti, terus dilakukan oleh ketiga Taois.


Ketiga Taois yang tidak henti-hentinya menyerang, tiba-tiba tiga Tubuh Ganda Dewa Binatang muncul di belakang mereka, yang langsung memukul punggung mereka dengan kepalan tangan kanannya.


Saking keras dan kuatnya pukulan Dewa Binatang, ketiga Taois itu saling bertabrakan hingga memicu suara ledakan. Lokasi Dewa Binatang yang diserang secara bertubi-tubi kini ditempati oleh ketiga Taois.


Setelah gurunya terkena pukulan, Dewa Petarung dan kedua rekannya melesat ke arah Dewa Binatang yang menjadi tiga Tubuh Ganda. Sayangnya, sebelum membalas serangan lawannya, Tiga Tubuh Ganda memukuli mereka bertiga secara membabi-buta.


Para raksasa yang berada di dekat pertarungan itu tidak terpengaruh, sebab tubuh raksasa tahan terhadap energi spiritual. Anehnya, para raksasa tidak ikut campur, mereka lebih memilih lawannya lemah.


Chen Yeon sudah menebak hasil pertarungan mereka, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan Dewa Binatang. Sejak awal kemunculannya, ia sudah menduga jika kekuatan Dewa Binatang pasti meningkat dratis karena memiliki Pagoda Berlian.


Ketiga Taois segera bangkit dan membantu murid-muridnya yang dipukuli oleh Tubuh Ganda Dewa Binatang.


Karena kecepatan yang luar biasa, Tubuh Ganda Dewa Binatang seperti berkedip-kedip ketika memukuli sekujur tubuh calon Pelindung Alam Semesta, sehingga ketiga Dewa itu tidak sempat untuk membalas pukulannya. Ketiga Dewa itu seperti anak-anak yang melawan orang dewasa dengan segudang pengalaman bertarung.


Dengan bergabungnya ketiga Taois, ketiga Dewa itu baru bisa menghindari setiap pukulan dari Tubuh Ganda Dewa Binatang...


Karena hiruk-pikuknya pertempuran, Chen Yeon dan pendukungnya tidak memikirkan dimana tubuh asli dari Dewa Binatang saat ini. Mereka disibukkan oleh para raksasa yang terus-menerus keluar dari altar Dewa Sihir, sesekali melirik pertarungan Dewa Binatang...


*****


Jauh dari medan pertempuran, sepasang suami istri yang sudah tua berlutut dihadapan seorang pria dan wanita muda. Mereka adalah Dewa Binatang bersama dengan Yuna Aurora. Kedua pasangan yang berlutut itu adalah Hernandes Celosia dan Azalea Aurora.


"Ibu, cinta sejati sampai kapanpun tidak mudah untuk dipisahkan, seperti halnya Ibu dan Ayah," ucap Yuna Aurora dengan tutur bahasa yang lembut.


"Maafkan Ibu, Nak!" pinta Azalea Aurora sambil terisak-isak.


"Semenjak Ibu dan Ayah ingin memisahkan kita, kami sudah memanfaatkan!" ucapan Yuna Aurora sambil melihat Dewa Binatang yang mengangguk sebagai respon.


Yuna Aurora langsung dipeluk oleh kedua orang tuanya. Yuna Aurora tidak lagi mampu menahan air matanya yang akhirnya menetes di pipinya.


"Rasa sakit apapun akan menghilang, manakala semua orang saling menyadari dalam keadaan benar-benar sadar...," ucap Dewa Binatang ketika muncul di atas tembok pertahanan, dia mengeluarkan Seruling Pengendali Jiwa.


"Apakah aku bisa membuang rasa sakit ini?" sambungnya sambil menempelkan Seruling Pengendali Jiwa di bibirnya.


Dewa Binatang bahagia melihat Yuna Aurora dan mertuanya akhirnya berdamai, tetapi tidak dengan dirinya yang masih berselisih dengan kedua orang tuanya. Masa lalu Dewa Binatang beserta keempat kakaknya tidak jauh berbeda dengan Yuna Aurora, namun Yuna Aurora lebih cepat berdamai dengan kedua orang tuanya.


Ketika Seruling Pengendali Jiwa ditiup, terdengar lantunan musik yang menyiksa jiwa siapapun. Para raksasa yang mendengar lantunan musik dari Seruling Pengendali Jiwa, seketika tubuh mereka meledak. Semua Dewa dan balatentara menutup telinganya sambil berguling-guling di tanah.


Chen Yeon dan yang lebih kuat dari Dewa Binatang, masih bisa menahannya, tetapi tubuhnya gemetaran. Mereka tidak menyangka Dewa Binatang yang asli memiliki segudang kemampuan.

__ADS_1


Anehnya, hanya Xu Huang, Pang Shui dan semua sahabatnya yang tidak terpengaruhi suara lantunan musik dari Seruling Jiwa, termasuk pasukan Kekaisaran Pang. Mereka justru menikmati suara Seruling Pengendali Jiwa yang menenangkan hati, termasuk Yuna Aurora dan kedua orang tuanya.


Calon Pelindung Alam Semesta dan ketiga Taois, mereka juga berguling-guling di tanah saat mendengar Seruling Pengendali Jiwa. Seluruh tubuh mereka penuh dengan luka, hampir seluruh tulangnya patah. Berhubungan mereka adalah Dewa, tulang yang patah secara perlahan pulih. Sedangkan tiga Tubuh Ganda, telah menyatu dengan tubuh aslinya.


"Dewa Binatang, hentikan! Kamu bisa membunuh semua orang!" pinta Chen Yeon yang tidak ingin semua Dewa tewas.


Akan tetapi, Dewa Binatang tidak menggubris permohonan Chen Yeon. Tiba-tiba suara ledakan terdengar keras. Chen Yeon melihat Kaisar Kun dan semua putranya yang kini menjadi ampas, lalu melihat tubuh Ancestor Adalvino Altair juga meledak karena Seruling Pengendali Jiwa.


Demikian juga dengan Kaisar Lei, Kaisar Bowen, Dewa Api Phoniex dan semua keturunan mereka meledak di depan mata Chen Yeon. Sebelum semua musuh Dewa Binatang satu demi satu meledak, Chen Yeon melesat ke arah Dewa Binatang.


Tiba-tiba, Chen Yeon berlutut di hadapan Dewa Binatang. "Tolong, hentikan!" pintanya.


Seketika Dewa Binatang berhenti meniup Seruling Pengendali Jiwa, dia tidak menyangka wanita kuat ini mau-maunya berlutut demi orang yang tidak ada hubungan darah.


Semua orang segera duduk setelah tidak lagi mendengar suara Seruling Pengendali Jiwa, tetapi rasa sakit di kepalanya masih belum reda, dan tujuh lubang dari tubuh mereka masih mengeluarkan darah segar.


Dewa Binatang berjongkok di depan Chen Yeon, lalu bertanya, "kenapa kamu mau melakukan hal memalukan seperti ini?"


"Tidak ada yang namanya memalukan. Aku melakukan ini karena mereka adalah keluargaku. Mereka bertarung bersamaku sudah sangat lama, dan semua demi menyelamatkan kehidupan, apakah mereka pantas harus tewas seperti ini?"


Jawaban Chen Yeon telah menyentuh hati Dewa Binatang. Lalu dia memegang kedua bahu Chen Yeon agar tidak berlutut seperti ini. Chen Yeon pun berdiri sambil menatap wajah Dewa Binatang. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat.


Kemudian, Dewa Binatang melihat melihat Kaisar Langit, Maharaja Yaksa dan semua musuhnya yang masih hidup, mereka menundukkan wajahnya karena malu.


"Mulai saat ini, tidak ada yang namanya calon Pelindung Alam Semesta, sebab Alam Semesta tidak perlu dilindungi dan dibela. Dan, kau dua penguasa Alam Suci, buang semua pikiranmu yang iri hati, berlakulah selayaknya seorang pemimpin yang bijaksana. Sifat kalian ini, lebih hina dari binatang!" teguran keras Dewa Binatang terhadap musuhnya.


Kaisar Langit, Maharaja Yaksa dan semua Dewa yang merasa ditegur hanya bisa menundukkan wajahnya, tidak ada satupun kata terucap dari mereka.


"Apa yang dikatakan oleh Dewa Binatang adalah benar! Dengan mata kepalaku sendiri, ucapan kalian tidak sesuai dengan apa yang kulihat hari ini. Jika Dewa Binatang berkehendak, kalian hari ini sudah seperti yang baru saja tewas!" Chen Yeon membenarkan perkataan Dewa Binatang, ia selama ini selalu mendengar fitnahan mereka yang tertuju kepada Dewa Binatang.


Dewa Binatang tersenyum sinis, lalu melihat ke arah Bai Ze yang masih diam mematung. Kemudian, Yuna Aurora berdiri di sisi kanannya, dan Chen Yeon dan sisi kirinya.


"Kedua orang tuaku malu untuk berpamitan," ucap Yuna Aurora.


"Tidak apa-apa, mereka membutuhkan waktu untuk menenangkan hati setelah sekian lama kita berselisih!" jawab Dewa Binatang.


"Kakak...!!" teriakan Pang Shui yang melesat ke arah Yuna Aurora. Mereka berdua berpelukan dengan erat untuk melepaskan kerinduan.


Juan Rou segera menyusul, dan diikuti oleh semua sahabat Yuna Aurora. Xu Huang ingin rasanya ikut memeluk Yuna Aurora, tetapi takut saat dilirik oleh Dewa Binatang...


Hu Yue Yan, Hu Weiheng dan Chen Ying segera mengatur barisan pasukan yang kocar-kacir karena Seruling Pengendali Jiwa. Hari ini, Dewa Binatang telah menyadarkan banyak Dewa yang selalu memusuhinya. Terutama Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa yang telah sadar atas semua kesalahannya...

__ADS_1


Tetapi, permasalahan belum selesai. Altar Dewa Sihir kembali mengeluarkan banyak raksasa penunggang Banteng merah. Dan Bai Ze, tiba-tiba membuka matanya...


__ADS_2