God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Mengungsi ke Desa Persik.


__ADS_3

Bab 187. Kembali ke Desa Persik.


Ketiga ratu Dunia Roh mengeluarkan semua kemampuannya untuk melawan patung emas. Mereka memiliki sembilan Cincin Roh dibelakang tubuhnya, dan yang tertinggi adalah Cincin Roh warna Emas.


Tunggangan mereka adalah manifestasi dari Cincin Roh Emas itu sendiri. Elang Emas, Rubah Ekor Sembilan dan Macan Putih, dengan ganas bertarung bersama tuannya.


Sembilan pahlawan tidak jauh dari penguasanya, mereka tidak membiarkan patung emas mendekatinya ketiga ratunya. Sistem Kultivasi kembali bekerja normal sebagaimana mestinya, memberikan peringatan ketika patung emas menyerang dari arah belakang. Namun, ketika kedatangan Dewa Abadi, Sistem Kultivasi kembali menjadi kacau.


Ketika bertarung, ketiga ratu itu masih menyempatkan diri untuk melihat Dewa Abadi yang ikut melawan patung emas, yang mana setiap kali ayunan tombak mengalahkan patung emas dengan sangat cepat dan mudah, lebih cepat dari siapapun yang ikut bertarung.


Patung emas yang dikalahkan menjadi cairan emas, dan dengan cepat menjadi keras. Namun, yang belum disadari oleh semua orang termasuk Dewa Abadi, patung emas itu sebenarnya masih hidup.


Setiap kali tombak terayun, puluhan patung emas seketika hancur berkeping-keping. Dewa Abadi terus merangsek ke arah ketiga istrinya yang kewalahan menghadapi banyaknya patung emas.


Boom...


Ledakan keras ketika Dewa Abadi mengayunkan tombaknya yang menghancurkan banyak patung emas. Setelah itu, dia melihat patung emas yang tidak ada habis-habisnya.


Kemudian, dia mengeluarkan Pedang Semesta yang berada di tangan kanannya. Dengan pikirannya, Tombak Semesta dan Pedang Semesta berubah menjadi pistol. Dia juga mengeluarkan bola-bola energi kunang-kunang yang memutari tubuhnya.


Setelah itu, dia juga menggunakan Teknik Penggandaan Tubuh. Bermunculan 100 ribu orang dengan wajah yang sama, dan juga membawa dua pistol dan bola energi kunang-kunang.


Segera Dewa Abadi dan Tubuh Gandanya menghujani patung emas dengan peluru, demikian juga dengan bola-bola energi kunang-kunang yang meledakkan tubuh patung emas.


Aksinya dengan jelas dilihat oleh semua orang yang bertarung. Ada rasa kagum dan terheran-heran melihat kehebatan Dewa Abadi. Mereka kembali fokus kepada patung emas yang terus-menerus menyerang.


Dengan kehebatan Dewa Abadi yang mampu mengeluarkan 100 ribu Tubuh Ganda, serta mengeluarkan dua Artefak Alami yang didukung dengan energi kunang-kunang, lambat laun patung emas berkurang drastis.


Ketika hari menjelang subuh, Dewa Abadi berhenti bertarung karena patung emas berhasil dikalahkan. Dia terengah-engah disebabkan terlalu banyak mengeluarkan energi spiritual dan Kekuatan Jiwanya. 100 ribu Tubuh Ganda menghilang setelah batas waktu penggunaan berakhir.


Demikian juga dengan semua orang yang ikut bertarung, mereka juga kelelahan. Tidak ada rasa bahagia karena mengalahkan patung emas, sebab kemenangan ini memakan banyak korban jiwa.


Seandainya Dewa Abadi tidak kembali ke reruntuhan Kekaisaran Tang, malam ini adalah hari terakhir mereka menghirup udara. Ketiga ratu Dunia Roh memperhatikan Dewa Abadi yang terpaut jarak 500 meter.


Mereka melihat Dewa Abadi yang terlihat kelelahan, wajahnya pucat dengan keringat bercucuran. Namun yang membuat ketiga ratu itu keheranan karena melihat Dewa Abadi masih waspada dan serius.


Dewa Abadi melihat cairan emas yang mengeras di seluruh wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang, dia merasakan ada energi yang tidak diketahuinya membuat daratan emas ini seperti hidup.


Dia segera mendekati ketiga istrinya yang juga kelelahan. Namun, dihalangi oleh para pahlawan yang dengan sigap melindungi ratunya, mereka khawatir jika Dewa Abadi berniat melukai ratunya.

__ADS_1


Akan tetapi, Dewa Abadi melewati mereka tanpa melihat ketiga istrinya yang selalu menatapnya dengan kewaspadaan tinggi.


"Jika kalian ingin hidup, ikutlah denganku!" ucapnya tanpa berhenti berjalan.


Semua orang yang mendengar ucapannya jelas bingung karena tidak tahu maksudnya. Mereka pun mengabaikan Dewa Abadi, sebab belum mengambil cairan emas yang mengeras sebagai hasil jerih payahnya setelah bertarung.


"Memang Anda kuat, tetapi bukan berarti kami mau tunduk kepada Anda!" sahut salah satu pahlawan wanita yang bernama Lola, ia adalah bawahan dari Ratu Mu Yu Huang.


"Apa maksud Anda? Bukankah kita berhasil mengalahkan ciptaan Kaisar Tang!" selidik Ratu Da Xia.


Menurut pengetahuan mereka, patung emas Cancer ini diciptakan oleh Kaisar Tang untuk melindungi harta.


Dewa Abadi berhenti berjalan sambil tersenyum tipis. Lalu dia berkata, "harta akan membuat kalian sengsara! Selama masih ada dedaunan, itu lebih berharga daripada harta yang tidak mungkin menyelamatkan kalian!"


Setelah berbicara, dia kembali berjalan hingga tidak lagi terlihat punggungnya. Setelah kepergiannya, tanah di seluruh wilayah reruntuhan tiba-tiba bergetar seperti gempa. Hal ini membuat semua orang terkejut.


Belum lepas dari keterikatannya, emas yang mengeras perlahan mulai membentuk wujud manusia. Akhirnya semua orang baru sadar dengan ucapan Dewa Abadi.


"Ikuti dia!" perintah Ratu Mu Yu Huang yang segera menyusul Dewa Abadi.


"Yang Mulia Ratu Mu, apakah tidak lebih baik kita berlindung di kerajaan masing-masing?" cegah dari Lola yang enggan mengikuti Dewa Abadi.


"Lebih baik kita ikuti dia. Lalu kita baru membahas masalah ini untuk menemukan solusi!" dukungan Ratu Da Xia yang juga menyusul Dewa Abadi sebelum patung emas terbentuk dengan sempurna.


Semua orang mengikuti ketiga ratu dengan tergesa-gesa karena tidak mungkin melawan patung emas. Setelah tidak ada orang di reruntuhan Kekaisaran Tang, patung emas telah hidup kembali dan lebih kuat.


Kemudian, muncul dari dalam tanah patung emas Cancer Taowu yang pertama kali dilihat oleh Dewa Abadi. Kemudian, tubuhnya yang berbalutkan emas mulai rentak dengan sangat cepat. Kulit tubuhnya terkelupas dan kulit emas seketika menjadi tanah.


Setelah itu wujudnya yang mengerikan berubah menjadi manusia yang memiliki empat mata, dua mata berada di keningnya, dan di matanya seperti halnya manusia. Kulit tubuhnya berwarna kuning, tinggi badan mencapai 250 cm, telinganya menyerupai binatang Macan, memiliki ekor panjang. Wajahnya menyerupai Kaisar Tang, seorang pria paruh baya yang penuh kharismatik.


"Terima kasih telah membakar tubuhku dengan Api Semesta!" ucap Taowu yang mengambil wujud asli dari Kaisar Tang.


Taowu memanfaatkan Api Semesta untuk menyempurnakan fisik serta kekuatannya. Saat ini, kekuatannya berada di atas semua penghuni di Dunia Roh, di tingkat Dewa Sejati.


Tetapi, jika tidak berada di Dunia Roh yang memiliki Formasi Alami, maka kekuatannya yang sebenarnya berada di tingkat Ruler Of The Universe, lebih kuat dari Dewa Abadi yang berada di tingkat The Realm Of Eternal Darkness.


Dengan emas yang ditempa dengan api secara berkelanjutan, maka emas akan semakin murni. Dan hal ini yang dilupakan oleh Dewa Abadi.


Taowu melambaikan tangan kanan dan kiri yang mengeluarkan energi supranatural. Tanah di seluruh wilayah reruntuhan bergetar. Kemudian, perlahan tanah membentuk istana, dan juga bermunculan banyak bangunan sebagai infrastrukturnya.

__ADS_1


Dia kembali melambaikan tangan kanannya. Lalu, patung emas yang seperti patung perlahan bergerak. Dengan gerakannya, membuat kulit berbalutkan emas menjadi retak. Kulit tubuhnya rontok dan menjadi tanah. Mereka pun kini menjadi manusia yang mengenakan zirah perang. Gerakan mereka tidak lagi kaku dan layaknya seperti manusia.


"Pasukan Cancer, besok malam ini kita musnahkan dunia ini!" perintah Taowu kepada pasukannya, lalu dia masuk ke dalam istana.


Pasukan Cancer segera membentuk kolom berbaris, berbaris rapi di depan jalan keluar menuju ke arah jalan simpang lima...


Dewa Abadi menuju ke Desa Persik untuk beristirahat, dia menggunakan Kuda Surgawi sebagai tunggangannya. Kuda Surgawi melesat dengan sangat cepat.


Ternyata, ketiga ratu Dunia Roh tidak menyusul Dewa Abadi, melainkan kembali ke tempatnya masing-masing untuk mengambil harta. Sedangkan pasukannya diperintahkan untuk mengungsikan penduduk ke wilayah Kerajaan Timur.


Para pahlawan memimpin pasukannya agar penduduk yang akan diungsikan menjadi patuh...


Dewa Abadi tiba di Desa Persik. Bing Nan dan penduduk desa menyambutnya. Bing Nan segera melapor kepadanya, bahwa ketiga ratu Dunia Roh kemarin datang. Namun, dia tidak mengijinkan mereka masuk ke dalam Formasi Perlindungan Desa Persik.


"Mereka akan datang. Persiapkan tempat bagi mereka!" perintah Dewa Abadi.


"Dewa, jika mereka masuk ke desa ...."


"Selama diriku di sini, kalian jangan khawatir!" sela Dewa Abadi sebelum Bing Nan setelah berbicara.


Bing Nan khawatir jika penguasa Dunia Roh diizinkan masuk akan membuat masalah. Bing Nan dan penduduk membungkuk sebagai bentuk penghormatan. Lalu mereka segera melaksanakan perintahnya.


Dewa Abadi segera menuju ke rumahnya untuk memulihkan kondisinya. Dia benar-benar kelelahan. Dua pelayan yang berasal dari penduduk Desa Persik menjalankan tugas melayani Dewa Abadi.


Ketika Dewa Abadi berada di dalam kamar dan membaringkan tubuhnya, Qin Diao Chin berbicara, "Sayang, saudari Gongsun Ling telah siuman, tetapi dia masih belum mengingatkan apapun. Apa yang harus kita lakukan?"


Semua istrinya telah berusaha untuk membantu Gongsun Ling agar ingatannya pulih. Mereka selalu bercerita awal mula pertemuan dengan Dewa Binatang, memperlihatkan lukisan, foto dan video agar Gongsun Ling mengingat masa lalu. Namun, Gongsun Ling justru bertambah bingung dengan apa yang dilihatnya.


"Biarkan dia terbiasa bersama dengan kalian!" jawab Dewa Abadi, lalu dia menelan 10 butir Pil Pemulih Energi. Setelah itu dia memejamkan mata agar pil dapat bekerja secara maksimal.


Ketika sore tiba. Ketiga ratu terlebih dahulu dengan bersama dengan tiga pahlawan. Sedangkan enam pahlawan bersama dengan pasukannya mengawal rakyat yang mengungsi di Desa Bunga. Karena banyaknya rakyat di Dunia Roh, mereka tertinggal jauh dari ketiga ratu.


Bing Nan dan penduduk Desa Persik menyambut kedatangan tiga ratu itu. Ketika mempersilahkan mereka di tempat yang telah disediakan, mereka malah menolaknya karena ingin menemui Dewa Abadi.


Dengan terpaksa, Bing Nan mengantar ketiga ratu menuju ke kediaman Dewa Abadi yang sederhana. Ketiga ratu itu keheranan melihat rumah sederhana berlantai dua, berbeda jauh dengan apartemen yang dihuni oleh penduduk desa.


Namun, ketika berada di dalam, mereka dibuat takjub melihat interior rumah sangat istimewa. Mereka segera duduk di kursi tamu sambil menunggu Dewa Abadi keluar dari kamar di lantai dua. Mereka dilayani oleh dua pelayan.


Sedangkan Bing Nan menunggu di depan kamar Dewa Abadi dengan hati gelisah karena khawatir ditegur. Dia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar.

__ADS_1


Sambil menunggu Dewa Abadi, ketiga ratu itu membuat rencana untuk mengalahkan patung emas. Melalui Infomasi dari mata-mata, mereka tahu kondisi di reruntuhan Kekaisaran Tang...


__ADS_2