
Bab 195. Ratu Laut Selatan.
Kemudian, Dewa Abadi duduk bersila beralaskan rumput. Dia menceritakan kejadian ini kepada semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya.
Waktu berlalu selama 7 hari. Selama itu, Dewa Abadi tidak beranjak dari tempatnya karena terkurung di dalam Formasi Array tingkat Supreme Formasi God. Walaupun kemampuan Dewa Abadi di bidang ini kalah dari Tang Shang, dia masih memiliki cara lain untuk keluar dari tempat ini, yaitu menggunakan Guci Air Mata Dewi yang dimiliki oleh Shuǐ Jingling.
Guci Air Mata Dewi mampu menyerap energi apapun, bahkan energi dari Formasi Alami bisa diserapnya. Dewa Abadi sengaja tidak menggunakan Artefak Alami ini karena tidak ingin musuh mengetahuinya.
Seandainya mereka tahu, sudah pasti akan mengantisipasinya terlebih dahulu sebelum dia keluar dari Dunia Roh. Kehidupan di Dunia Roh yang seimbang ini dikarenakan adanya Formasi Alami. Tanpa adanya Formasi ini, sudah dipastikan Dunia Roh akan dieksploitasi oleh para kultivator kuat.
Dewa Abadi membuka matanya, dan melihat dinding energi perlahan menghilang. Dia segera berdiri dan menuju ke arah Sungai Kematian. Tidak butuh waktu lama, dia berhenti di tepi sungai yang lebarnya mencapai lebih dari 1.000 meter.
Lalu muncul bebatuan dari dasar sungai. Bebatuan itu seperti anak tangga menuju ke dataran tinggi gunung bersalju. Dewa Abadi kembali berjalan melalui bebatuan itu.
Menurut penjelasan dari si Lola, di Sungai Kematian ini dihuni oleh Kraken Mistis. Dewa Abadi selalu waspada terhadap serangan tiba-tiba dari Kraken Mistis. Dia melihat ke air sungai yang keruh, tenang tapi berbahaya.
Dewa Abadi merasa heran karena ujung jalan bebatuan ini tampak semakin menjauhinya. Seharusnya, dengan lebarnya sungai ini, dia sudah sampai di daratan. Tetapi, dia masih berada di tengah-tengah Sungai Kematian, seperti tidak berjalan.
Dia mengepalkan tangan kanannya dan melepaskan pukulan berenergi ke permukaan air.
Boom...
Ledakan energi ketika pukulannya mengenai permukaan air. Air sungai bergelombang, namun dalam sekejap menjadi tenang kembali. Setelah itu, keluar dari dasar air sungai banyak tentakel yang menyerang, dan tentakel itu dari Kraken Mistis.
Namun, Dewa Abadi dengan mudah mengalahkan Kraken Mistis. Dia kembali berjalan, tetapi jalan bebatuan ini semakin menjauhinya. Dia kembali melepaskan pukulan berenergi ke permukaan air, lalu muncul kembali tentakel Kraken Mistis. Seperti sebelumnya, dia dengan mudah mengalahkan Kraken Mistis, dan melanjutkan perjalanannya.
Anehnya, kejadian ini selalu berulang-ulang. Dewa Abadi merenung dengan kejadian ini.
"Sungai melambangkan pikiran ...."
Dewa Abadi mengingat perkataan Tang Shang. Dia segera memejamkan mata dan memblokir panca indera pendengarannya, sebab pikiran dipengaruhi oleh apapun yang dilihat dan didengar.
Melihat dan mendengar membuat pikiran menciptakannya. Dewa Abadi melihat air sungai yang keruh, dipikirannya muncul bahaya yang tersembunyi. Melihat ujung jalan yang semakin jauh, membuat pikirannya seolah-olah sungai ini sangat jauh.
Akan tetapi, setelah Dewa Abadi memblokir panca inderanya. Dia merasakan telapak kakinya menginjak tanah. Dia membuka mata dan telah berada di dataran tinggi. Lalu melihat ke belakang yang masih ada sungai.
Dewa Abadi tersenyum melihat di belakangnya muncul lingkaran Cincin Roh Dewa berwarna Biru-Emas. Cincin ini lebih tinggi dari Cincin Roh Emas yang dimiliki oleh Binatang Roh usia lebih dari satu juta tahun.
"Pikiran mengabulkan apapun yang didengar dan dilihat. Inti dari semua ini, mengendalikan pikiran, jangan pikiran mengendalikan diri. Pikiran menyebabkan kematian, dengan pikiran juga menciptakan keindahan, kekuatan dan kekuasaan."
Dewa Abadi mendengar suara telepati dari Tang Shang karena telah lulus ujian melewati Sungai Kematian. Dia memahami ini. Dengan kejadian ini, untuk selanjutnya dia telah menebaknya, yaitu gunung melambangkan hati, dan lautan melambangkan jiwa
Dataran tinggi gunung bersalju dihadapannya ini adalah ujian hati. Dewa Abadi tidak segera berjalan karena memikirkan keinginan hatinya, yaitu membalas dendam kepada keluarga sendiri, dan siapapun yang terkait dengan kematian orang-orang yang dikasihinya.
__ADS_1
Keinginan membalas dendam juga karena melihat dan mendengar, lalu muncul pikiran membalas dendam yang tertanam di hatinya. Siapapun orangnya sudah mengetahui, bahwasanya membalas dendam itu memang memuaskan hati, tetap juga merugikan diri sendiri dan orang lain.
"Sadar dan menyadari!" gumam Dewa Abadi dan segera duduk bersila di tepi sungai, dia memejamkan mata untuk mengendalikan keinginan hatinya ini.
Ketika melakukan balas dendam, dalam keadaan sadar, dan menyadari apa yang akan terjadi serta dampaknya. Oleh karena itu, Dewa Abadi tahu apa yang akan terjadi di depannya. Langkah kedua setelah mengendalikan pikiran adalah membersihkan hati dari segala hal yang negatif.
Dewa Abadi duduk bersila sangat lama karena membersihkan hati yang penuh dengan dendam tidaklah mudah. Dia membutuhkan waktu lama karena berusaha memanifestasikan semua orang yang dibencinya.
Di dalam lautan kesadarannya, muncul Tian Bo si Dewa Langit, lalu bermunculan banyak orang kuat. Mereka adalah dalang yang menyebabkan kematian orang-orang yang dikasihinya.
"Anda yang ada di sini adalah musuhku. Apakah aku harus membunuh kalian, atau kalian yang membunuhku?" Dewa Abadi berbicara kepada mereka.
Setelah dia berbicara, Tian Bo dan semua orang itu menyatu. Dewa Abadi terkejut ketika penyatuan mereka berubah wujud menjadi dirinya sendiri. Seketika dia memahami artinya ini, yang mana musuh utamanya adalah diri sendiri. Dihadapannya adalah diri yang hitam, dirinya saat ini adalah yang putih.
"Kalahkan diri sendiri!" ucap Dewa Abadi hitam, dia mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan tertekuk sedikit ke belakang.
Boom...
Dewa Abadi hitam mengeluarkan aura kekuatan tingkat The Realm Of Eternal Darkness. Lalu dia melesat ke arah Dewa Abadi putih. Demikian juga dengan Dewa Abadi putih yang mengeluarkan kekuatan di tingkat yang sama.
Boom boom...
Kedua orang itu saling jual-beli pukulan di udara. Kemampuan mereka sama, dan mengeluarkan apapun yang telah dimilikinya. Seandainya, semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya bisa melihat yang sedang terjadi saat ini, mereka akan melihat sinar kecoklatan yang saling berbenturan. Warna kecoklatan itu berasal dari kekuatan tingkat The Realm Of Eternal Darkness.
Waktu itu dia masih berada di Galaksi Aurora, sebelum kedatangan mertuanya yang membawa Pangeran Kun. Dengan susah payah, Dewa Binatang berhasil mengalahkan sisi gelapnya yang ingin mengendalikan dirinya. Kemenangan itu, membuat Dewa Binatang mengingat masa lalu ketika menjalani siklus Samsara, dan juga meningkatkan kekuatannya. Dan kejadian ini terulang kembali, hanya berbeda kekuatan.
Ketika Dewa Abadi bertarung dengan diri sendiri di laut kesadaran. Diluar tubuhnya telah ada Tang Shang yang duduk bersila berhadapan dengannya.
"Ujian belum dilalui kau sudah mengetahuinya!" gerutu Tang Shang karena tidak menyangka Dewa Abadi dengan cepat memahami apa yang akan dilewati.
Walaupun Dewa Abadi tampak duduk bersila seperti sedang bermeditasi, Tang Shang tahu apa yang sedang terjadi. Musuh terbesar semua kehidupan adalah diri sendiri.
Tang Shang tersenyum melihat di belakang punggung Dewa Abadi kini memiliki dua Cincin Roh Dewa warna Biru-Emas dan Emas-Merah, yang artinya telah lulus ujian hati setelah mengalahkan diri sendiri.
Jika Dewa Abadi berhasil melewati ujian ketiga, yaitu memahami jiwanya, maka akan muncul lingkaran Cincin Roh Dewa berwarna Hijau-Emas. Tang Shang segera menghilang sebelum Dewa Abadi membuka mata.
Setelah kepergian Tang Shang, Dewa Abadi membuka mata, dia melihat dihadapannya adalah Laut Selatan. Lalu melihat ke belakang yang masih ada gunung bersalju.
"Apakah ujiannya semudah ini?" cibir Dewa Abadi yang tidak kesulitan melewati dua ujian.
Baru saja dia selesai berbicara, muncul dari dasar air laut, kerang besar berwarna putih. Kerang itu bergerak ke arah Dewa Abadi. Setelah berada di pesisir pantai, kerang itu membuka mulutnya.
Dewa Abadi melihat di dalam mulut kerang itu terdapat tempat duduk yang ditujukan untuknya. Segera dia berjalan menuju ke kerang, lalu duduk di kursi yang empuk. Kerang menutup mulutnya dan masuk ke dalam air laut.
__ADS_1
Dia tidak tahu aja dibawa ke mana oleh kerang ini. Dia bergumam, "jiwa .... Anda ingin tahu adanya diriku di dunia ini?"
Ucapannya tertuju kepada Tang Shang yang memberikan ujian ini. Namun, dia tidak mendapatkan jawaban apapun. Jika ujian kali ini mengenai jiwa, maka bukan sesuatu yang sulit baginya, sebab dia memiliki Kekuatan Jiwa tingkat puncak.
Kerang itu mencapai dasar Laut Selatan, lalu masuk ke dalam sebuah kubah besar seluas Kerajaan Selatan. Di dalamnya kubah itu terdapat kota besar, banyak gedung pencakar langit. Anehnya lagi, di dalam kubah itu hanya ada wanita, tidak ada satupun seorang pria.
Kerang besar itu membuka mulutnya. Dewa Abadi melihatnya banyak wanita cantik yang telah menunggunya, mereka berbaris lurus, pakaiannya seksi sekali yang hanya menutupi bagian dada dan organ intimnya.
"Dewa sudah ditunggu oleh Yang Mulia Ratu. Mari ikut hamba!" salah satu wanita cantik menyambut kedatangan Dewa Abadi.
Dewa Abadi segera mengikuti wanita itu. Dia dipersilahkan masuk ke dalam gerbong kereta yang ditarik oleh enam Kuda Laut. Di dalam, dia melihat dua wanita cantik, lebih cantik dari wanita yang menyambutnya. Satu wanita rambutnya berwarna merah, dan satunya warna biru.
"Silakan duduk! Kami yang melayani Anda selama perjalanan ke istana Kerajaan Laut Selatan!" pinta wanita rambut biru kepada Dewa Abadi.
Dewa Abadi segera duduk menghadap ke arah kusir kereta Kuda Laut, lalu memejamkan matanya karena enggan melihat dua wanita ini yang menggoda iman. Kedua wanita itu segera melayani Dewa Abadi, memijat tangan dan kakinya dengan lembut.
Kedua tangan mereka sesekali dengan sengaja menyentuh kejantanannya. Dewa Abadi tersenyum karena tahu tujuan kedua wanita ini. Dia dengan sengaja mengeluarkan aroma afrodisiak dari tubuhnya.
Namun yang anehnya, kedua wanita itu tidak terpengaruhi oleh aroma afrodisiak. Dewa Abadi kembali tersenyum karena sudah menduga bahwa apa yang dialaminya adalah ilusi.
Sampai akhirnya dia tiba di istana Kerajaan Laut Selatan yang sangat megah. Ketika Dewa Abadi keluar dari gerbong kereta dan menuju ke istana, dia melihat semua orang adalah wanita.
Setelah berada di dalam istana, Dewa Abadi tertawa karena yang dilihatnya adalah si Lola. Ternyata Ratu Laut Selatan adalah si Lola.
"Kenapa Anda tertawa? Menghina saya?!" bentakan si Lola.
Dewa Abadi segera berhenti tertawa, dia membungkuk selayaknya seorang bawahan berhadapan dengan penguasa. "Ratu Lola ... Hahaha!"
Dia tidak bisa menahan tawanya karena lucu memanggil si Lola dengan sebutan ratu. Gadis tomboi menjadi seorang ratu dalam semalaman merupakan hal diluar ekspektasi.
"Pengawal, tangkap dia!" perintah si Lola yang tersinggung dengan sikap Dewa Abadi.
Segera empat wanita cantik membawa senjata tombak menghampiri Dewa Abadi. Namun, sebelum tangan mereka menyentuh tangannya, Dewa Abadi muncul di hadapan si Lola.
"Ratu Ompong, kamu hilang ingatan?" goda Dewa Abadi yang melihat si Lola yang sangat marah.
Boom...
Mendapatkan hinaan seperti ini, si Lola mengeluarkan aura kekuatannya yang berada di tingkat Ruler Of The Universe. Dewa Abadi terpental ke belakang dan menabrak tubuh banyak prajurit wanita. Istana menjadi hancur karena aura kekuatan.
Dewa Abadi syok mengetahui kekuatan si Lola. Dia melihat di punggung si Lola terdapat tiga lingkaran Cincin Roh Dewa.
Dipikirannya, apakah Tang Shang yang memberikan kekuatan kepada si Lola? Atau yang dihadapinya saat ini hanyalah ilusi?
__ADS_1