God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Kitab Perjanjian Lama.


__ADS_3

Bab 38. Kitab Perjanjian Lama.


Pintu gerbang istana terbuka ketika awan yang dikendarai oleh Dewa Binatang mendekat. Menyeruak keluar udara yang sangat menyegarkan.


Dewa Binatang melihat seseorang yang seluruh tubuhnya bercahaya dan tidak terlihat penampilannya apakah pria atau wanita.


"Mari, ikuti saya!" ucap orang tersebut yang ternyata seorang wanita.


Sambil mengikuti wanita itu, Dewa Binatang teringat jika dirinya tadi berada di tengah Altar Cermin Kebenaran, dan aneh tiba-tiba berada di Negeri Atas Awan.


"Apa ini mimpi atau nyata?" tanya Dewa Binatang kepada wanita itu.


"Bisa dikatakan mimpi dan juga nyata! Dirimu saat ini hanyalah kesadaran yang dibawa oleh Cermin Kebenaran. Nanti Anda akan tahu kenapa berada di tempat ini!" jawab wanita itu sambil berjalan.


Ketika masuk ke Istana Surga, Dewa Binatang melihat lima patung yang wajahnya ditutupi kain putih, tingginya 9 meter. Patung yang berada di tengah membawa pedang yang tertancap di ubin, sedangkan yang lainnya membawa pedang ganda, tombak, payung, dan alat musik Guzheng (Kecapi).


Di depan kelima patung tersebut ada sebuah panggung kecil yang terbuat dari emas, tinggi 140 cm, di puncaknya terdapat meja terbuat dari emas dengan panjang 120 cm dan lebar 60 cm, panggung tersebut seperti mimbar.


Melihat senjata kelima patung tersebut, Dewa Binatang merasa pernah melihatnya, tapi entah di mana. Dia berusaha untuk mengingat siapa yang orang yang senjatanya sama. Tapi yang jelas, patung yang berada di tengah adalah pria dan keempat patung lain adalah wanita jika dilihat dari pakaiannya.


Karena tidak mengingat orang yang memiliki senjata yang sama, dia mengalihkan perhatian di kanan dan kirinya, di mana banyak patung dengan wajah dan pakaian yang berbeda-beda. Patung-patung itu lebih kecil, seukuran manusia normal, ada yang setingkat 190 cm dan adapula yang setinggi 165 cm.


Semua patung kecil tersebut berdiri tegak dan menghadap ke kelima patung yang berukuran besar ada tinggi, tampaknya kelima patung tersebut adalah pemimpin mereka.


Setelah dekat dengan panggung, wanita itu berhenti berjalan dan membalikkan badan, lalu dia bertanya, "apa yang Anda ketahui tentang kelima patung ini?"


Dewa Binatang tersenyum tipis karena ditanya hal yang tidak dikenali. Lalu dia berkata sambil melirik ada apa di atas panggung kecil, "Anda bercanda! Bagaimana saya bisa tahu siapa kelima patung itu jika wajahnya tertutup! Tapi, dilihat dari pakaiannya, di tengah adalah pria, dan kemungkinan keempat patung lain adalah istrinya!"


Di atas panggung tersebut ada sebuah kitab besar yang berwarna keemasan, dan kemungkinan terbuat dari emas murni. Dia penasaran dengan isi di dalam kitab emas itu.


"Anda benar! Di tengah adalah patung pria, suami dari keempat patung ini. Anda silakan dekati kelima patung tersebut dan amati dengan seksama setiap ukiran di senjatanya," kata wanita itu.


Dewa Binatang mendekati patung yang paling kanan, patung yang membawa alat musik Guzheng. Setelah sangat dekat, dia mengamati setiap ukiran yang diukir dengan simbol-simbol Formasi Array.

__ADS_1


Melihat alat musik Guzheng itu, itu bukan sekedar alat musik yang digunakan untuk hiburan semata, melainkan senjata yang mampu merusak jiwa seseorang ketika mendengar petikan Guzheng.


Jika targetnya mendengar suara musik Guzheng, dia akan mengalami halusinasi, jika tidak mampu mengendalikan dirinya saat terkena ilusi, maka bisa dipastikan akan menjadi gila, ketakutan dan berujung kematian. Selain membuat kekacauan pada jiwa targetnya, alam musik Guzheng jika bisa langsung digunakan untuk melukai hingga membunuh korbannya.


Dewa Binatang menyentuh simbol-simbol Formasi Array dengan tangan kanannya. Lalu membaca tulisan yang terukir dengan indah, "Melodi Kasih Dan Kematian!"


Setelah membaca ukiran tersebut, dia menjadi teringat dengan seseorang wanita. Ketika teringat siapa pemilik alat musik Guzheng, tiba-tiba jiwanya tersedot ke dalam alat musik tersebut.


Wanita yang tubuhnya bercahaya itu mengangguk sebagai respon ketika Dewa Binatang sudah mengingat siapa patung yang membawa alat musik Guzheng. Dia tetap menunggu sampai Dewa Binatang kembali.


Dewa Binatang terkejut melihat dirinya sendiri bersama wanita pemilik Guzheng Melodi Kasih Dan Kematian, yang tidak lain adalah Tian Mei Yin, kakak keempat dan sekaligus istrinya.


Setelah mengingat Tian Mei Yin, dia mengingat semua patung wanita, yang membawa pedang ganda adalah Tian Lihua, kakak pertamanya. Yang membawa payung adalah Tian Chua Hua, kakak keduanya. Sedangkan yang membawa tombak adalah Tian Shuwan, kakak ketiganya. Ketiga kakaknya juga bersama Tian Mei Yin.


Dia meneteskan air mata melihat masa lalunya yang sangat bahagia. Waktu itu, jauh sebelum dirinya mati karena Bencana Petir Semesta, bencana yang hampir memusnahkan alam semesta.


Dewa Binatang melihat Tian Mei Yin memainkan musik, Tian Lihua dan Tian Shuwan menari untuknya. Sedangkan dirinya tidur miring melihat kedua kakaknya. Tian Chun Hua menyuapinya dengan buah anggur.


Saat itu, hari di masa hidupnya yang bahagia, selalu bersama kemanapun bersama keempat kakaknya. Namun semuanya berubah ketika datang Bencana Petir Semesta.


Sayangnya, karena yang dilihatnya adalah kenangan masa lalu, keempat kakaknya jelas tidak ada respon. Dia hanya bisa melihat dirinya waktu itu yang sangat bahagia.


Lalu datang seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah ayahnya, Tian Bo. Kedatangan Tian Bo membuat Tian ketiga kakaknya berhenti karena dirinya diajak. Sedangkan Dewa Binatang akhirnya bisa menghentikan air mata karena melihat ayahnya.


"Ayah ada perlu dengannya sebentar, kalian di sini saja," kata Tian Bo kepada keempat putrinya.


Tian Zhi Shimo alias Dewa Binatang mengikuti ayahnya. Karena ingin tujuan Tian Bo mengajak Tian Zhi Shimo. Dewa Binatang ingin mengikuti juga, namun tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Ayah pasti ingin menjadikan suami kita sebagai bahan uji coba untuk menciptakan kehidupan baru!" sungut Tian Mei Yin yang tahu tujuan Tian Bo mengajak Tian Zhi Shimo.


"Ini gara-gara mereka yang menantang ayah!" sahut Tian Shuwan yang nada bicaranya terdengar geram pada sekelompok orang.


"Yang penting suami kita baik-baik saja. Jika ada sesuatu yang buruk terjadi kepadanya, tidak peduli ayah kandung, aku pasti akan membuat perhitungan!" Tian Lihua menimpali dan nada ketus yang ditujukan untuk Tian Bo.

__ADS_1


"Ayo, kita ikuti suami kita... Perasaanku jadi tidak enak!" ajak Tian Chun Hua sambil berjalan keluar dari kediamannya dan diikuti oleh tiga saudarinya.


Mendengar obrolan mereka, Dewa Binatang berusaha untuk mengingat masa lalu ketika Tian Bo mengajaknya. Namun, dia tidak mengingat apapun kejadian waktu itu. Seandainya tubuhnya bisa digerakkan, sudah pasti akan mengikuti mereka.


Tiba-tiba pandangannya menjadi buram dan dalam sekejap mata telah kembali di depan patung Tian Mei Yin. Dewa Binatang sedikitpun kebingungan dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Lalu dia duduk tepat di bawah patung Tian Mei Yin.


"Apa yang kamu alami adalah kenangan dari nona muda Tian Mei Yin!" ungkap wanita yang tubuhnya bercahaya.


Dewa Binatang mengangguk sebagai respon, dia lemas karena sangat merindukan keempat kakaknya. Setelah keheningan sejenak, dia melihat wanita bercahaya.


"Siapa Anda dan di mana keempat jiwa kakakku?" tanyanya.


"Sebelum saya menjawab, ada yang harus Anda ketahui. Silakan lihat Kitab Kebenaran ini terlebih dahulu!" pinta wanita itu.


Dewa Binatang menjadi bersemangat karena akan bertemu dengan jiwa kakaknya, lalu dia bergegas berdiri dan berjalan ke panggung kecil. Dan wanita itu berdiri di sebelah kirinya.


"Ini adalah Kitab Perjanjian Lama, kumpulan dari kitab yang pernah Anda sebarkan ke seluruh penjuru alam semesta... Kitab Pengetahuan. Apa yang ada di sini adalah asli, dan Kitab Pengetahuan tidak lagi tersebar maupun di bawa oleh Kuil Alam Kudus?" terang wanita itu sebelum membuka Kitab Kebenaran.


Jauh sebelum adanya Dewa Binatang, Kitab Pengetahuan disimpan di dalam Kuil Alam Kudus, namun dicuri oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Celestial She alias Ular Bencana, atau yang dikenal dengan sebutan Celestial Snake.


Setelah dicuri oleh Celestial She, pihak kuil Alam Suci memburunya dengan mengirimkan Satria 12 Naga. Namun, Celestial She yang akhirnya bisa lolos setelah mengalahkan mereka.


Akan tetapi, Satria 12 Naga tidak menyerah begitu saja karena ini adalah tugas suci, mereka terus mengejar Celestial She hingga ratusan tahun berlalu.


Hingga akhirnya Celestial She bertemu dengan Dewa Binatang di Alam Tianwu. Pertemuan mereka diawali dengan pertarungan yang dimenangkan oleh Dewa Binatang.


Celestial She menjadi jinak dan membuat keputusan yang besar bagi hidupnya, yaitu memutuskan untuk mengikat hubungan jiwa dengan Dewa Binatang, dengan kata lain menjadi pasangan Dao.


Setelah itu dan kebetulan Dewa Binatang menginginkan Kitab Pengetahuan, maka Celestial She menyerahkan kitab tersebut kepadanya. Dia menyerahkan kitab tersebut bukan karena Dewa Binatang adalah suaminya, melainkan dia tidak bisa membuka Kitab Pengetahuan.


Semenjak itu, Kitab Pengetahuan berada di tangan Dewa Binatang. Dan kebetulan juga di Alam Tianwu, dia bertemu dengan Satria 12 Naga. Dan ternyata, Dewa Binatang adalah tuan mereka, dengan kata lain mereka tercipta berkat darahnya, garis darah Naga 12 Elemen.


Dan, karena Tian Bo terlahir-lah Naga 12 Elemen, dan itu juga awal mula kebahagiaan Tian Zhi Shimo bersama keempat kakaknya yang direnggut oleh Bencana Petir Semesta.

__ADS_1


Bersambung.


(Untuk kisah Celestial She dan Dewa Binatang, bisa dibaca di Novel Alam Tianwu sessions vol 1. Untuk kelanjutan novel Alam Tianwu, setelah God Of Beast 2 tamat. Dukungan karya ini dengan Like, Komentar dan Vote agar saya terus tetap berkarya. Sehat selalu, bahagia dan banyak rejekinya. Salam)


__ADS_2