God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Permasalahan Tiga Alam.


__ADS_3

Bab 228. Permasalahan di Tiga Alam.


Dewa Abadi menceritakan semasa hidup Chen Yeon kepada Chen Shu dan keluarganya. Dia menceritakan dari awal pertemuan hingga Chen Yeon tutup usia.


Chen Yeon Mei yang merupakan reinkarnasi dari leluhur Chen Yeon, merasakan Dejavu saat mendengar kisah leluhurnya, seakan-akan dirinya sendiri adalah Chen Yeon. Dia selalu menatap wajah Dewa Abadi sampai membuat pria di samping kiri selalu mencubit lengannya.


"Apakah Dewa mengetahui di mana reinkarnasi leluhur kami?" tanya Chen Shu setelah Dewa Abadi selesai bercerita, dia selalu mencatat semua cerita leluhurnya.


Dewa Abadi melihat Chen Yeon Mei, lalu memberikan anggukan kepala sebagai jawaban, tetapi tidak mengatakannya.


"Wajahnya sangat mirip dengan Putri Anda ini!" ungkap Dewa Abadi dan memalingkan wajahnya melihat ke luar pintu rumah.


Semua orang melihat Chen Yeon Mei dengan rasa bangga. Akhirnya mereka tahu bahwa Dewa Abadi adalah suami dari Chen Yeon, dan menjadi bagian keluarganya walaupun Chen Yeon sudah tiada.


Lalu Chen Shu dan keluarganya melihat ke luar rumah saat mendengar suara banyak orang yang berdatangan. Kecuali Dewa Abadi, mereka buru-buru keluar dari dalam rumah saat melihat penguasa Dinasti Fandui singgah di kediamannya, hal yang belum pernah terjadi selama ini.


Namun, saat Raja Chen beserta keluarganya dipersilahkan masuk ke dalam rumah, mereka dan Chen Shu tidak melihat Dewa Abadi. Namun, mereka melihat foto berukuran besar di dinding, di bawah lukisan Chen Yeon. Itu adalah foto Dewa Abadi bersama dengan Chen Yeon dan putrinya.


Raja Chen segera memejamkan mata untuk mencari keberadaan Dewa Abadi, lalu dia berbicara dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang yang berada di wilayahnya.


"Dewa Binatang Yang Abadi, berikan saya kesempatan untuk menjamu Anda!"


Dewa Abadi yang akan meninggalkan wilayah Dinasti Chen dan menuju ke Dinasti Shandui, segera memerintahkan Merpati Putih yang dijadikan tunggangan untuk berhenti saat mendengar suara Raja Chen. Walaupun Raja Chen merupakan kerabat jauh dari istrinya, tidak ada salahnya untuk bercengkrama dengan mereka, pikirnya.


"Saya ada di taman istana!" jawab Dewa Abadi yang segera menuju ke istana Kerajaan Chen.


Raja Chen mengajak keluarga besar Chen Shu untuk ikut menjamu Dewa Abadi. Mereka dengan terburu-buru kembali ke istana...


Saat Dewa Abadi duduk di taman istana, para pelayan istana yang mengetahuinya jelas panik, mereka buru-buru melayani Dewa Abadi dengan sepenuh hati.


Selain mencari keberadaan musuhnya, Dewa Abadi mengunjungi setiap tempat tinggal kelahiran istrinya karena tidak ada lagi yang dilakukannya, hal yang sebenarnya membuat bingung karena tidak ada lagi tantangan hidup.


Sambil minum teh hangat, dia bersama dengan Merpati Putih yang bertengger di bahu kiri, menatap langit yang dipenuhi dengan bintang.


Dia berpikir, "apakah Dewa Tertinggi tidak merasakan kejenuhan seperti diriku?"


Menjadi abadi dan memiliki kekuatan tingkat tinggi, serta mengalami banyak peristiwa kehidupan, ternyata tidak selamanya menyenangkan. Dewa Abadi meminta suatu benda yang tak terbatas kepada Kitab Suci, karena ingin merasakan hidupnya lebih berarti, tidak monoton seperti ini.


"Apakah kamu memiliki sesuatu yang menarik?" tanya Dewa Abadi kepada Merpati Putih.

__ADS_1


"Tidak ada yang menarik, aku juga merasa jenuh dengan semua ini! Aku melihat orang bahagia, susah, menangis, meningkatkan kekuatan, mati lalu terlahir kembali, dan lain sebagainya. Siklus yang selalu berulang!" jawab Merpati Putih yang sepemikiran dengan Dewa Abadi, ia juga merasa apa yang dirasakan oleh tuannya.


"Kita nikmati bintang-bintang yang saling beresonansi," kata Dewa Abadi.


Ketika Dewa Abadi dan Merpati Putih sedang menikmati indahnya malam, Raja Chen dan banyak orang telah datang. Melihat Dewa Abadi yang begitu tenang melihat langit, tidak ada satupun orang yang menganggu, menghela nafas saja tidak berani.


"Menurut Anda, kehidupan seperti apa yang menarik di saat kekuatan kita berada di tingkat tertentu?" tanya Dewa Abadi kepada semua orang, lalu berdiri sambil membawa cangkir teh, dan memberikannya kepada Raja Chen.


"Terima kasih!" ucap Raja Chen dengan hati gembira karena tidak menyangka Dewa Abadi mau melakukan hal seperti ini.


Semua orang memikirkan perkataan Dewa Abadi yang sangat dalam maknanya. Semua orang pasti pernah mengalami siklus kehidupan, terlahir dan menghirup udara, tumbuh dewasa dan memiliki anak, kemudian menjadi tua, setelah itu menunggu ajalnya.


Tidak jauh berbeda dengan Dewa maupun kultivator, yang membedakan hanya kekuatan untuk bertahan hidup agar tidak menua (abadi / umur panjang). Apapun jenis kehidupan, proses jalan kehidupan tidak jauh berbeda, berawal dari tidak ada menjadi ada.


Seandainya seluruh kehidupan di alam semesta menjadi damai, apakah semuanya menarik? Jika di seluruh alam semesta terjadi kekacauan, apakah juga menarik? Inilah yang dipikirkan oleh semua orang.


"Dewa, Dinasti Fandui dan Dinasti Shandui memang terlihat damai... Tapi sebenarnya, setelah kejadian di Alam Kudus, Dewa Langit dan Dewa Surgawi seringkali mengunjungi Pagoda Berlian dan Dinasti Anwuzhi," kata Raja Chen untuk membuka pembicaraan karena sulit untuk menjawab pertanyaan Dewa Abadi yang penuh makna.


"Lalu?" tanya Dewa Abadi yang ingin tahu tentang musuhnya itu.


"Kami tahu tujuan Anda di sini! Sebelum saya mengatakan apa yang terjadi di Tiga Alam, mari kita makan malam, walaupun setingkat kita tidak perlu makanan duniawi. Hahaha!" Raja Chen dengan sengaja membuat lelucon agar mencairkan suasana canggung.


Karena telah memiliki dan hidup bersama dengan banyak istri-istri cantik, kecantikan mereka tidak membuat Dewa Abadi terpesona. Hal yang membuat hatinya terasa kosong karena tidak ada lagi yang menantang.


"Apakah kedua dewa itu melakukan hal yang buruk bagi kehidupan di sini?" tanya Dewa Abadi setelah menyantap hidangan.


Raja Chen mengangkat tangan kanan agar semua wanita yang menari berhenti. Lalu empat orang pria membawa papan miniatur peta Tiga Alam, dan meletakkannya di tengah-tengah ruangan yang dijadikan tempat tarian.


Raja Chen melihat Menteri Pertahanan Dinasti Fandui untuk menjelaskan tentang permasalahan di Tiga Alam.


"Perkenalkan, saya Chen Kai, Menteri Pertahanan Dinasti Fandui. Saya akan langsung pada poin penting. Dinasti Fandui dan Dinasti Shandui saat ini sedang bersiap-siap untuk menghadapi serangan Dinasti Anwuzhi yang ingin menguasai Daratan Pagoda Berlian...,"


Chen Kai menjelaskan kepada Dewa Abadi tentang permasalahan di Tiga Alam. Dinasti Ànwùzhí yang dipimpin oleh Raja Yao, telah mengingkari perjanjian kuno karena diprovokasi oleh Dewa Langit dan Dewa Surgawi.


Seandainya kedua dewa itu tidak memiliki kekuatan tingkat Creator Of The Universe, Raja Chen dan Raja Hu tidak akan takut dengan Raja Yao. Dan, Raja Yao sendiri tidak mungkin mau menjadi bawahan kedua dewa itu, yang membuatnya harus mengingkari perjanjian kuno untuk tidak mengintervensi Daratan Pagoda Berlian.


Karena tujuan kedua dewa itu yang ingin melepaskan Dewa Perusak yang tersegel di Pagoda Berlian, akhirnya dengan senang hati Raja Yao mendukung mereka.


Karena sulitnya menemukan keberadaan Dewa Abadi, tidak mungkin Dewa Langit dan Dewa Surgawi selama jutaan tahun hanya terfokus untuk mencarinya. Sambil mencari Dewa Abadi, mereka memutuskan untuk sesegera mungkin melepaskan segel Dewa Perusak.

__ADS_1


Namun, karena kuatnya segel yang dibuat oleh Dewa Tertinggi, serta sulitnya memasuki Galaksi Pengadilan Jagat Raya, mereka selalu mengalami kendala.


"... Karena dengan energi kematian dari para korban berjatuhan di sini yang bisa menghancurkan segel Dewa Perusak, kita harus mencegahnya. Kami perkirakan, mereka akan membuka banyak portal dimensi di titik-titik ini...," Chen Kai menunjukkan titik-titik di papan peta miniatur.


Titik-titik itu berada di sekitar Daratan Pagoda Berlian, melingkari wilayah itu. Tetapi, lebih banyak titik-titik itu berada di wilayah Dinasti Anwuzhi.


"Tujuan mereka, agar semua kultivator di seluruh penjuru alam semesta datang ke Tiga Alam. Dewa Abadi, kami harap Anda membantu kita menggagalkan rencana mereka!"


Panjang lebar Menteri Pertahanan Dinasti Fandui menjelaskan permasalahan Tiga Alam kepada Dewa Abadi yang belum mengetahuinya.


Setelah mendengarkan semua ini, Dewa Abadi menyimpulkan bahwa, intinya seperti yang pernah dikatakan oleh Kitab Suci, yaitu menekan korban berjatuhan agar energi kematian tidak dimanfaatkan oleh beberapa orang kuat.


Peperangan Global di Planet Peliades, sudah berhasil membuat Dewa Perusak lepas dari segelnya. Dan untungnya, kekuatan Dewa Perusak belum sepenuhnya pulih, sehingga berhasil disegel kembali oleh Dewa Tertinggi. Tindakan Dewa Tertinggi, Dewa Abadi belum mengetahuinya.


"Apakah dulu Dewa Perusak pernah lepas dari segelnya?" tanya Dewa Abadi.


"Dua kali, yang terakhir setelah peperangan di Planet Peliades! Tetapi berhasil ditangani oleh Yang Mulia Trimurti!" jawab Raja Chen.


Dewa Abadi mengangguk paham. Akhirnya dia tahu kenapa Kitab Suci memberikan tugas kepadanya untuk menyelamatkan kehidupan sebanyak mungkin.


"Apakah kabut hitam yang pernah ada di luar angkasa pada waktu itu adalah ulah mereka, siapa pelakunya?" sekali lagi Dewa Abadi bertanya.


Ketika Dewa Abadi mengantarkan Chen Yeon dan Hu Yue Yan untuk mengembalikan Pagoda Berlian, mereka yang akan tiba di Galaksi Pengadilan Jagat Raya terjebak di dalam kabut hitam, waktu itu masih Dewa Abadi masih bergelar Dewa Binatang.


"Kabut hitam itu merupakan energi kematian dari para korban di Planet Peliades. Berkumpul di luar angkasa karena tidak bisa memasuki galaksi ini. Selain bisa membuka segel, energi kabut hitam itu merupakan sumber kekuatan Dewa Perusak. Untung saja kapasitasnya tidak banyak sehingga belum bisa untuk memulihkan kekuatannya!" jelas Menteri Pertahanan Dinasti Fandui.


"Mungkin kabut hitam itu yang membuat keluarga Chen Yeon menghilang!" dugaan Dewa Abadi sambil melihat ke arah Chen Shu.


"Bukan karena itu, Dewa! Leluhur kita menghilang setelah kabut hitam itu tidak ada!" jawab Chen Yeon sambil melihat Dewa Abadi.


Dewa Abadi berpikir sejenak. Setelah beberapa saat, dia berkata, "karena tujuan saya untuk mengalahkan Dewa Langit dan Dewa Surgawi, jelas saya akan berpartisipasi untuk menghentikan mereka. Apa yang harus saya lakukan untuk membantu kalian? Dan kapan portal dimensi akan terbuka?"


Raja Chen dan semua orang akhirnya bisa bernafas lega karena Dewa Abadi memiliki tujuan yang sama untuk menghentikan rencana musuh.


Dengan dukungan dari kultivator di Tiga Alam dan Merpati Putih (Benih Petir Semesta), Dewa Abadi jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengalahkan kedua musuhnya itu, dia sendiri jelas tidak mungkin mengalahkan mereka. Hal ini yang membuat Dewa Abadi bersemangat karena memiliki tujuan hidup.


"Dewa, saya akan undang Raja Hu dan keluarga besar Hu Yue Yan untuk membicarakan hal ini. Mengenai kapan portal dimensi akan terbuka, kita sendiri masih belum mengetahuinya. Tapi pada umumnya, portal dimensi akan memicu fluktuasi energi yang bisa kita ketahui! Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu mereka bergerak!" terang Raja Chen.


Dewa Abadi mengangguk paham. Kemudian, dia dipersilahkan untuk beristirahat, dilayani secara pribadi oleh dua putri istana. Yang mengherankan, Chen Yeon Mei juga ikut melayaninya.

__ADS_1


Sedangkan Raja Chen dan pejabat istana segera berkomunikasi dengan Raja Hu, dan menyiapkan segalanya untuk bahan pertemuan...


__ADS_2