God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Mendapatkan Bloodlust Axe.


__ADS_3

Bab 62. Mendapatkan Bloodlust Axe.


Sebelum para pejabat istana maju satu per satu, Raja Long Ying merapal mantra untuk mengaktifkan Bloodlust Axe. Setelah selesai, Bloodlust Axe mengeluarkan cahaya berwarna kemerahan untuk sesaat.


Kemudian, senjata kapak legendaris itu bergerak ke tengah ruang istana, melayang setinggi dua meter. Ketika berhenti di tengah ruang istana, semua orang merasakan aura yang menindas tubuh. Mereka perlahan mundur karena untuk menghindari tekanan.


Semua istri Dewa Binatang yang awalnya tidak tertarik, namun kini berbeda setelah Raja Long Ying mengaktifkan Bloodlust Axe, mereka ikut tertarik untuk mendapatkannya. Mereka pikir senjata kapak itu tidak jauh beda dengan milik suaminya.


Aura kekuatan yang dipancarkan senjata itu berbeda dengan Artefak Bintang yang sudah mereka ketahui. Yang jelas, Artefak Bintang dan Bloodlust Axe jauh berbeda dalam segi aura kekuatannya.


Dewa Binatang makin bersemangat untuk mendapatkan Artefak Alami setelah Mahkota Maharaja miliknya beresonansi. Demikian juga dengan Pedang Semesta yang dulu pernah bergabung dengan Tombak Semesta, senjata itu memberikan informasi kepada Dewa Binatang tentang Bloodlust Axe.


Dari informasi yang didapat dari Pedang Semesta, Bloodlust Axe merupakan 9 bagian dari artefak kuno yang tersebar di alam semesta, selain Pedang Semesta, Tombak Semesta dan Kapak Haus Darah.


Enam artefak itu tiga di antaranya dipegang oleh Kaisar Langit, yaitu Pagoda Emas. Pagoda yang hampir saja membunuh Dewa Binatang, Yuna Aurora dan Yuke.


Kedua adalah artefak Kipas Surgawi. Konon katanya, Kipas Surgawi pernah digunakan untuk memusnahkan satu planet dalam sekali hembusan angin dari kipas tersebut.


Ketiga adalah Tombak Trisula Sihir (Magic Trident Spear) yang memiliki kekuatan dalam pengendalian elemen air, angin dan es. Ketiga Artefak Alami tersebut jarang sekali dikeluarkan oleh Kaisar Langit. Dikeluarkan saat dalam keadaan genting atau menghadapi lawan yang tangguh seperti Dewa Binatang.


Maharaja Yaksa juga memiliki satu Artefak Alami, yaitu Palu Ilahi (Divine Hammer), senjata ini mampu mengeluarkan kekuatan petir.


Secara keseluruhan, sisanya telah dimiliki oleh Dewa Binatang memiliki, yaitu Pedang Semesta, Tombak Semesta, Mahkota Maharaja, Guci Air Mata Dewi yang pernah didapatkan ketika berada di Alam Tianwu, dan Bloodlust Axe yang kini berada di depan matanya.


Jika Dewa Binatang berhasil mendapatkan Bloodlust Axe, total dia memiliki lima Artefak Alami. Menurut informasi dari Mahkota Maharaja, jika semua Artefak Alami disatukan, maka jiwa dan tubuhnya menjadi abadi.


Sebenarnya, Artefak Alami tidak hanya ada sembilan, tapi lebih dari itu, hanya saja Pedang Semesta tidak mengetahuinya karena artefak tersebut tersebar di seluruh penjuru alam semesta.


"Siapa yang pertama, silakan maju. Semoga beruntung!" kata Raja Long Ying yang membuyarkan lamunan semua orang yang ingin mendapatkan Bloodlust Axe.


Dengan semangat berapi-api, Menteri Dalam Negeri Kerajaan Naga maju. Semua orang melihatnya dan berharap dia gagal mendapatkan Bloodlust Axe.


Menteri Dalam Negeri memasang kuda-kuda sambil mengeluarkan basis kultivasi di Ranah Raja Bijak level 6. Kemudian, tangan kanannya diselimuti oleh energi spiritual, lalu perlahan meraih gagang Kapak Haus Darah.


Baru saja akan menyentuh gagang Bloodlust Axe, tubuhnya terpental ke belakang, dan hampir saja menabrak para pejabat. Untungnya, para pejabat segera membuat perisai energi sehingga tubuh Menteri Dalam Negeri tidak sampai mengenainya.


"Gagal...! Selanjutnya, silakan maju!" ucap Raja Long Ying yang tidak memberikan kesempatan kedua untuk bawahannya.


Menteri Dalam Negeri seketika kecewa karena tidak mampu menyentuh Bloodlust Axe, tapi dia tidak marah karena tahu batasannya. Tangannya merasakan panas seperti terbakar, namun dia berusaha untuk menahan rasa sakitnya karena banyak orang penting.

__ADS_1


Kemudian, maju menteri lainnya yang sudah berada di depan Bloodlust Axe. Seperti sebelumnya, menteri itu juga terpental ke belakang sebelum menyentuh gagangnya.


Satu per satu semua pejabat istana mengalami kegagalan sebelum menyentuh gagang Kapak Haus Darah. Lalu kini tiba waktunya bagi keluarga kerajaan.


Putri mahkota Long Bowen terlebih dahulu maju dengan semangat. Sebelum memegang gagang Bloodlust Axe, dia menyempatkan diri untuk melihat Evelyn.


Evilyn mendengus dingin karena tidak suka dengan tatapan serta sikap sombong putra mahkota. Angela yang tahu segera menggodanya, tapi justru mendapatkan Evilyn sedang melotot kepadanya.


Long Bowen merapal mantra untuk mengendalikan Bloodlust Axe, namun Raja Long Ying segera menegurnya, "percuma jika kamu menggunakan mantra itu! Tujuanku mengadakan sayembara ini bukan hanya sekedar mampu membawanya, melainkan mampu untuk menggunakan serta mengeluarkan kekuatan Bloodlust Axe!"


Oleh leluhur Ras Naga, setiap keturunan diharuskan untuk menghafalkan mantra pengendali Bloodlust Axe. Tujuannya agar setiap keturunan meneruskan menjaga senjata legendaris itu.


Long Bowen menjadi malu karena ditegur ayahnya, dia melihat semua orang yang menahan tawanya. Dia segera mengeluarkan basis kultivasi di Ranah Bumi level 2, lalu tangan kanannya berubah menjadi cakar naga agar mampu memegang gagang Bloodlust Axe.


Semua orang melihatnya dengan penuh antisipasi. Ada yang berharap putra mahkota juga gagal, sebagian keluarga kerajaan ada yang berharap putra mahkota mampu mendapatkan Bloodlust Axe.


Perlahan cakar putra mahkota mendekati gagang Bloodlust Axe, dia merasakan energi spiritual yang menolak tangannya. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha untuk menahan aura kekuatan Bloodlust Axe yang mendorong tubuhnya.


Keluar otot-otot di tangan dan wajahnya saat menahan dorongan energi spiritual yang keluar dari Bloodlust Axe. Long Bowen berteriak keras untuk mendapatkan semangat. Akhirnya dia berhasil memegang gagang Bloodlust Axe.


Long Bowen hampir saja berteriak kegirangan karena berhasil. Akan tetapi, dia merasakan energi spiritualnya diserap oleh gagang Bloodlust Axe, lalu dia juga merasakan darahnya ikut tersedot.


Segera Raja Long Bowen bertindak dengan merapal mantra untuk mencegah putranya tewas. Seketika tangan putra mahkota bisa terlepas dan langsung pingsan, wajahnya pucat menandakan kekurangan darah, rambutnya sebagian telah memutih.


"Segera rawat dia! Berikan Elixir Penyembuh dan Pemulih yang terbaik!" perintah Raja Long Ying kepada para Kasim istana.


Para pejabat yang sebelumnya gagal menghela nafas panjang karena telah gagal. Kini mereka tidak lagi ingin memiliki Bloodlust Axe. Demikian juga dengan istrinya Dewa Binatang yang bergidik ngeri melihat kekuatan Bloodlust Axe.


"Selanjutnya!" perintah Raja Long Ying setelah putra mahkota dirawat.


Raja Long Ying melihat para pejabat, keluarga kerajaan dan para jenderal yang tidak berani mendekati Bloodlust Axe. Lalu dia melihat ke arah tempat duduk pemimpin Suku Elf.


"Kepala Suku Pohon, silahkan maju!" pinta Raja Long Ying kepada Dao Li Xia.


"Maaf, Yang Mulia, Kepala Suku Pohon yang baru adalah suamiku ini!" ungkap Dao Li Xia sambil memperkenalkan Dewa Binatang.


Dewa Binatang segera maju beberapa langkah, lalu memperkenalkan dirinya, "Saya, Tian Zhi Shimo, Kepala Suku Pohon yang baru, Yang Mulia!"


Raja Long Ying dan semua orang melihat Dewa Binatang. Banyak pertanyaan di benak mereka, tapi enggan untuk bertanya bagaimana bisa menjadi Kepala Suku Pohon.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin berbicara dengan pemimpin suku. Berhubungan waktunya mendesak, mungkin setelah peperangan ini berakhir. Jika Kepala Suku Pohon menginginkan Bloodlust Axe, silakan mencobanya. Seandainya berhasil, syarat sebelum harus dipenuhi. Apakah Anda ingin mencoba keberuntungan?" terang Raja Long Ying dan diakhiri dengan bertanya.


Dengan tegas Dewa Binatang berbicara, "semoga saya beruntung dan memenuhi persyaratan ini, Yang Mulia!"


Raja Long Ying mengangguk sebagai respon. Segera Dewa Binatang mendekati Bloodlust Axe yang masih melayang di tengah ruang istana. Semua istrinya sangat berharap agar suaminya mendapatkan Bloodlust Axe.


Dengan berhasilnya Dewa Binatang, maka langkah selanjutnya untuk membuat aliansi dengan mudah terealisasi sesuai rencana.


Tidak seperti yang lainnya, Dewa Binatang tidak mengeluarkan basis kultivasinya. Semua orang keheranan dibuatnya. Mereka yang menggunakan kekuatannya saja gagal, apalagi tidak menggunakannya.


Ketika Dewa Binatang sangat dekat dengan Bloodlust Axe, terpaut sejauh lengan tangan, semua orang samar-samar merasakan energi yang bukan berasal dari energi spiritual, energi lain yang membuat mereka merasa damai dan tenang.


Jelas mereka tidak mengetahui jika Dewa Binatang mengeluarkan sedikit kekuatan jiwanya untuk menaklukkan Bloodlust Axe.


Semua orang syok berat melihat Dewa Binatang dengan cerobohnya memegang gagang Bloodlust Axe. Semua istrinya hampir saja berteriak keras, karena khawatir dengan suaminya akan mengalami nasib buruk seperti putra mahkota.


Dewa Binatang memegang erat gagang Bloodlust Axe tanpa kesulitan. Tapi, Bloodlust Axe mengeluarkan cahaya kemerahan dan juga bergetar, lalu disusul suara dengungan.


"Sekarang kamu menjadi milikku!" batin Dewa Binatang dan langsung mengikat hubungan jiwa dengan Bloodlust Axe.


"Roar....!!"


Bloodlust Axe mengeluarkan raungan Naga, lalu keluar seekor Naga besar dari dalam Bloodlust Axe. Sontak membuat Raja Long Ying dan semua kaget dan ketakutan. Mereka langsung mundur hingga merapatkan tubuhnya ke dinding istana.


Tubuh Naga yang besar dan panjang itu melingkari Dewa Binatang sehingga semua mata tidak melihatnya. Kemudian, muncul kabut tebal yang makin menghalangi jarak pandang mata.


Di dalam kabut tebal itu, Dewa Binatang dikelilingi oleh lima artefaknya yang membentuk wujud manusia, empat pria muda tampan dan satu wanita cantik.


Wanita cantik itu adalah perwujudan dari Guci Air Mata Dewa, dia adalah Shuǐ Jingling, dan keempat pria muda itu adalah perwujudan dari Pedang Semesta, Tombak Semesta, Mahkota Maharaja dan Bloodlust Axe.


Shuǐ Jingling memeluk erat Dewa Binatang, dia sangat merindukan kekasihnya. Semenjak petulangan di Alam Tianwu, baru kali ini dia keluar setelah diijinkan oleh Dewa Binatang.


"Lama sekali aku... Maksudku kita, menunggu momen seperti ini. Aku merindukanmu!" ucap Shuǐ Jingling tanpa melepaskan pelukannya.


Dewa Binatang tertawa ringan sambil melihat pria muda yang merupakan perwujudan dari Bloodlust Axe. Dia segera melepaskan pelukan Shuǐ Jingling untuk berbicara kepada Bloodlust Axe.


"Sekarang aku adalah Tuanmu, dan mereka semua adalah perwujudan dari Artefak Alami seperti dirimu. Entah ini kehendak Alam Semesta atau tidak, tapi pertemuan kita menandakan sesuatu hal yang akan merubah sejarah. Apakah kamu bersedia mengikutiku?" kata Dewa Binatang dan diakhiri bertanya kepada Bloodlust Axe


Bloodlust Axe melihat sesama Artefak Alami, lalu dia segera menjawab, "karena mereka juga menjadi bagian dari Anda, maka saya tidak perlu lagi untuk menolaknya. Sebelumnya, tidak ada seorangpun yang mampu membangkitkan saya dari tidur panjang, sebab mereka tidak memiliki kekuatan jiwa sebagai syaratnya."

__ADS_1


__ADS_2