
Bab 191. Mencari Petunjuk.
Ketika Dewa Abadi keluar dari kediamannya, ia melihat para pahlawan dan banyak orang-orang penting telah menunggunya. Namun, Bing Nan dan kedua pelayannya tidak ada diantara mereka.
Dia melihat si Lola dan Nicola tampak serius saat berbicara. Keluarnya Dewa Abadi menghentikan obrolan mereka.
Nicolas dan rekan-rekannya menghampiri Dewa Abadi, lalu dia berkata, "Dewa Shimo, pemimpin kami telah menghilang. Apakah Anda bisa membantu kami?"
"Bantuan seperti apa?" tanya Dewa Abadi, padahal dia sendiri tahu di mana keempat ratu Dunia Roh.
"Dunia ini tidak lagi memiliki seseorang pemimpin. Keadaan seperti ini tidak baik karena akan membuat kekacauan. Bisakah Anda menjadi pemimpin kami?" ungkap Nicolas.
"Aku tidak tertarik maupun berminat. Kalian saja yang memimpin dunia ini!" tolak Dewa Abadi. Setelah itu meninggalkan mereka untuk mencari Bing Nan.
"Jangan-jangan Anda mengetahui pemimpin kami!" tuduhan Nicolas dengan nada tinggi.
Penolakan Dewa Abadi diluar skenarionya, jelas Nicolas tidak menerima hal ini. Oleh sebab itu dia menuduh Dewa Abadi. Sebenarnya dia telah mengetahui jika keempat ratu Dunia Roh berada di dalam Dunia Jiwa, namun dia kehilangan komunikasi dengan ratu Dunia Roh setelah Dewa Abadi menutup pandangan mata semua orang di dalam Dunia Jiwa.
"Anda pasti telah membunuh pemimpin kami!" imbuh rekan Nicolas yang bernama Xavier.
Dewa Abadi membalikkan badan dan melihat para pahlawan yang terlihat sangat marah.
"Aku tidak memusnahkan dunia ini karena mereka. Bagaimana mungkin aku tega membunuh istriku?" ungkap Dewa Abadi yang membuat semua orang terperangah.
"Jangan membual kau?! Sejak kapan pemimpin kami menjadi istrimu?!" bentakan Xavier yang tidak terima, sebab dia sangat mencintai Ratu Juan Rong, walaupun rasa cintanya tidak pernah diungkapkannya dikarenakan perbedaan status.
"Percaya atau tidak, itu urusan kalian!" sahut Dewa Abadi dan meninggalkan mereka.
Dia mendengar dengan jelas umpatan kemarahan mereka yang tertuju kepadanya, namun dia tidak peduli sedikitpun. Baginya, mereka hanyalah semut yang tidak layak untuk ditanggapi serius.
"Dewa, maafkan kami! Mohon dimaklumi!" ucap Nicolas sambil mengejar Dewa Abadi bersama si Lola.
"Aku akan mencari mereka. Hanya bantuan ini yang bisa kulakukan," kata Dewa Abadi saat kedua pahlawan berada di sampingnya.
Sebenarnya dia jelas tidak mencari penguasa Dunia Roh, melainkan mencari petunjuk keberadaan rasi bintang Cancer. Dia ingin menemui Bing Nan sekedar untuk bertanya tentang situasi selama dirinya berada di dalam kamar.
"Kami mengikuti Anda!" pinta Nicolas.
"Tidak perlu. Kalian hanya memperlambat perjalanan!" penolakan Dewa Abadi dengan cara yang kasar.
"Apakah yang kamu katakan? Kau kira kami tidak bisa berbuat apa-apa? Hah!" bentakan si Lola yang tidak terima dengan ucapannya.
__ADS_1
Dewa Abadi tidak menggubris perkataan si Lola, dia masuk ke dalam apartemen. Dia bertanya kepada penduduk desa, namun mereka tidak mengetahui keberadaan Bing Nan semenjak Dewa Abadi berada di kamar.
Salah satu dari penduduk desa berkata, bahwa Bing Nan berpamitan kepadanya untuk berburu binatang yang akan dijadikan makanan. Semenjak itu, Bing Nan tidak pernah kembali. Penduduk desa sudah mencarinya disekitar hutan di dekat desa, namun tidak menemukannya.
Dewa Abadi keluar dari apartemen dengan banyak pikiran. Dia curiga jika para pahlawan yang menjadi dalang menghilangnya Bing Nan. Yang menjadi pertanyaan dihatinya, apa tujuan mereka menculik Bing Nan?
Dari segi kekuatan dan kemampuan, jelas Bing Nan bukanlah apa-apa bagi pahlawan, dan juga tidak ada sesuatu yang menonjol pada dirinya yang melebihi pahlawan.
"Dewa, biarkan Lola saja yang mendampingi Anda selama pencarian!" pinta Nicolas.
Dewa Abadi menatap mata Nicolas, dia membaca ingatan pria itu. Namun, dia tidak menemukan informasi tentang Bing Nan. Lalu menghela nafas panjang sambil melihat si Lola yang telah berganti pakaian, mengenakan zirah perang. Karena tidak ingin terus-menerus dicurigai, dia mengangguk kepala sebagai jawabannya.
Dewa Abadi dan Lola keluar dari Desa Persik. Para pahlawan dan banyak orang mengiringi kepergiannya.
"Semoga pemimpin kami cepat ditemukan! Jika tidak, Anda satu-satunya orang yang layak menggantikan mereka!"
Dewa Abadi berhenti berjalan karena ucapan Nicolas yang menginginkannya menjadi penguasa tunggal di Dunia Roh. Si Lola juga berhenti berjalan.
"Ini sudah menjadi keputusan kami, karena Anda lebih kuat dari kita!" jelas si Lola.
Lagi-lagi Dewa Abadi menghela nafas panjang karena tidak menemukan sesuatu di ingatan wanita disebelahnya ini. Kepalanya pusing karena memikirkan solusi agar mendapatkan Kristal Energi bergambar Cancer tanpa harus membunuh istrinya.
Dewa Abadi telah berdiskusi dengan semua istrinya untuk mendapatkan solusi. Awalnya hasil diskusi memutuskan untuk mengambil paksa Kristal Energi bergambar, namun diurungkan karena dikhawatirkan jiwa keempat istrinya ikut tewas. Jika jiwa mati, jelas tidak mungkin bisa hidup kembali.
"Akan kupikirkan nanti!" jawab Dewa Abadi yang ambigu, "apakah ada tempat yang misterius dan berbahaya di dunia ini? Tempat yang membuat banyak orang takut menjelajahinya!" lanjutnya dengan bertanya.
Si Lola berpikir sejenak sambil menatap wajah Dewa Abadi. Setelah beberapa saat, dia menjawab, "ada tiga tempat berbahaya dan tidak ada satupun orang yang berani menginjakkan kaki. Pertama yang terdekat dari tempat ini adalah di wilayah utara...,"
Sambil melanjutkan perjalanan menuju ke utara sebagai tujuan pertama mencari petunjuk keberadaan rasi bintang Cancer, si Lola menceritakan ketiga tempat berbahaya bagi siapapun kepada Dewa Abadi.
Lokasi pertama berada di tengah Laut Utara. Konon kabarnya, ada pulau yang bisa bergerak sendiri. Setiap tujuh hari, pulau ini bisa berpindah tempat sejauh satu kilometer. Lokasi pergerakannya tidak pernah keluar dari wilayah Laut Utara.
Pulau itu dikenal dengan sebutan Pulau Penyu karena bentuknya yang sama. Pulaunya Luas dan seperti cangkang kura-kura saat dilihat dari atas.
Setiap orang yang akan mendekati Pulau Penyu selalu diterpa badai tsunami jika menggunakan kapal laut. Jika terbang, akan selalu muncul tornado yang melahap mereka. Tetapi, ada juga orang yang berhasil melewati halangan itu, tetapi tidak pernah kembali setelah menginjakkan kakinya di Pulau Penyu.
Tempat kedua yang berbahaya ada di wilayah Barat, berada di Lembah Berhantu. Luas lembah itu seperti Lembah Hijau, tetapi bentuknya seperti labirin rumit. Setiap kali orang yang masuk tidak pernah kembali. Jika berhasil keluar dari tempat itu, selalu menjadi orang gila yang berteriak-teriak hantu. Oleh sebab itu, tempat ini disebut Lembah Berhantu.
Tempat ketiga yang berbahaya berada di wilayah Selatan, Sungai Kematian. Sungai ini menjadi satu-satunya jalan menuju ke Laut Selatan, setiap orang yang melintasinya sungai itu selalu mengalami hal mengerikan karena adanya binatang air seperti Gurita, berukuran besar melebihi Desa Persik. Gurita itu disebut Kraken Mistis. Siapapun orangnya yang melintasi Sungai Kematian, tidak ada yang pernah selamat.
Ketiga tempat berbahaya itu melimpah ruah dengan sumber dayanya yang dibutuhkan oleh kultivator. Sayangnya, lokasi itu sangatlah berbahaya.
__ADS_1
"Oh iya! Ada satu tempat lagi yang paling berbahaya dari ketiga tempat itu, Laut Selatan. Konon kabarnya, ada seseorang wanita cantik yang mampu menyerap jiwa siapapun yang memasuki Laut Selatan!" panjang lebar si Lola berbicara mengenai tempat-tempat yang tidak berani dijelajahi oleh kultivator.
"Apakah tempat itu sudah ada sebelum kamu tiba di sini?" selidik Dewa Abadi.
"Tempat itu sudah ada sebelum adanya pemerintahan Kekaisaran Tang. menurut catatan sejarah, Kaisar Tang adalah satu-satunya orang yang pernah memasuki keempat tempat berbahaya itu, dan kembali dengan keadaan selamat, sebelum dia menjadi seorang kaisar. Karena kekayaannya yang didapatkan dari tempat itu, dia mampu mendirikan kekaisaran. Relief di Pohon Mata Dunia, sudah pasti Anda amati, bukan?" jawab si Lola dengan antusias karena berharap Dewa Abadi mengunjungi tempat-tempat berbahaya itu.
Dewa Abadi memikirkan perkataan si Lola dan menyinkronkan dengan relief di Pohon Mata Dunia. Dengan cerita ini, dia bisa mengerti bagaimana caranya Kaisar Tang mendapatkan banyak kekayaan untuk mendirikan suatu pemerintahan tunggal.
"Arah kita menuju ke Laut Utara. Apakah kita akan menuju ke Pulau Penyu?" tanya si Lola saat Dewa Abadi diam.
"Iya. Seberapa jauh tempatnya?" jawab Dewa Abadi dan bertanya balik.
"Dari sini ... 1 hari 1 malam paling cepat, jika kita bisa terbang tanpa henti dengan kecepatan tinggi!' jawab si Lola dengan ragu-ragu, sebab dia tidak pernah menuju ke wilayah Laut Utara dari arah Desa Persik.
Si Lola adalah bawahan dari Ratu Da Xia yang menguasai Kerajaan Utara, ia sering berada di pesisir pantai Laut Utara untuk mengamati Pulau Penyu. Dia pernah mencoba untuk mencari tahu apa yang ada di pulau itu, namun perjalanannya selalu dihalangi oleh ombak tsunami, dan Sistem Kultivasi selalu memberikan peringatan bahaya.
"Iya, kita ke sana!" jawab Dewa Abadi dan segera melayang.
"Tunggu, aku tidak bisa terbang seperti Anda!" teriak si Lola karena khawatir ditinggal oleh Dewa Abadi, dia bisa terbang dengan menggunakan Cincin Roh, namun memiliki keterbatasan dalam penggunaannya.
Dewa Abadi berhenti sambil mengulurkan tangan kanannya. Si Lola memegang tangannya dengan tangan kiri, wajah merah karena malu. Tiba-tiba Dewa Abadi menarik tangan si Lola sehingga tubuh berputar, dan sudah digendong.
"Jangan mencari kesempatan!" peringatan si Lola yang tidak ingin situasi ini dimanfaatkan oleh Dewa Abadi.
"Tidak tertarik!" sahut Dewa Abadi dengan nada ketus, dia segera terbang sangat cepat menuju ke arah Laut Utara.
"Jika kau bukan laki-laki, sudah pasti aku hajar!" kekesalan si Lola sambil melihat ke depan, wajah dan rambutnya diterpa angin.
"Anggap saja aku adalah perempuan. Ayo pukuli aku!" tantang Dewa Abadi yang senang membuat wanita tomboi marah.
"Tidak berminat!" jawab si Lola dengan nada yang juga tidak kalah ketus.
"Dasar lemah syahwat, selalu banyak alasan!" cibir Dewa Abadi.
"Apa kau bilang? Katakan lagi, aku tidak dengar?!" bentakan si Lola, lalu mengigit lengan Dewa Abadi.
Siapapun orangnya sudah pasti tidak akan terima diejek seperti ini, apalagi usia masih muda dan dalam masa produktif. Dewa Abadi tertawa dan tidak sedikitpun merasakan sakit digigit.
"Sudah lemah syahwat, ternyata juga ompong!" ejekan Dewa Abadi yang semakin membuat si Lola marah.
Gigitannya semakin keras, namun malah membuat Dewa Abadi tertawa keras. Tidak ada henti-hentinya mereka bertengkar mulut saat perjalanan menuju ke arah Laut Utara. Dengan kecepatan tinggi, mereka telah tiba di pesisir pantai Laut Utara, kurang dari setengah hari.
__ADS_1
Dewa Abadi menahan tawa karena melihat mulut si Lola kesulitan untuk menutup setelah mengigit, alias sedikit mangap. Mungkin giginya terasa ngilu. Lalu dia melihat Pulau Penyu dengan menyempitkan matanya.