God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Reuni.


__ADS_3

Bab 157. Reuni.


Karena Dewa Binatang adalah satu-satunya Dewa yang memiliki Kekuatan Jiwa, dia dengan mudah memasuki lingkaran sinar, dan juga mampu mengalahkan raksasa penunggang Banteng dengan sekali serangan, seperti mengusir nyamuk.


Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa yang mengetahui kemampuan Dewa Binatang, sambil bertarung mereka berbicara mengenai kehebatan Dewa Binatang yang unggul dalam Kekuatan Jiwa.


"Jadi waktu itu dia juga menggunakan Kekuatan Jiwa sehingga berhasil kabur dari kita," ucap Chen Yeon setelah Kaisar Langit selesai berbicara.


Baru saja selesai berbicara, Chen Yeon melihat Dewa Binatang mengeluarkan satu bola energi kunang-kunang yang dulu pernah membuatnya sakit kepala.


Bola energi kunang-kunang itu memutari tubuh Dewa Binatang, setiap kali raksasa mendekatinya, raksasa itu seketika menjadi abu saat terkena bola energi kunang-kunang. Sudah tak terhitung jumlahnya raksasa menjadi abu, hal ini membuat pihak Dewa menjadi lebih bersemangat untuk melawan raksasa.


Akhirnya, para raksasa tidak berani mendekati Dewa Binatang, dan memilih lawan yang tidak memiliki Kekuatan Jiwa. Namun, disaat raksasa memilih Pang Shui yang dilindungi oleh saudaranya dan Xu Huang, tiba-tiba bermunculan banyak bola energi kunang-kunang, membentuk dua garis lurus.


Dua pihak yang berperang itu terbelah menjadi dua, disisi kanan dan kiri dari Pang Shui. Akibatnya, raksasa dan tunggangannya yang dekat dengan bola energi kunang-kunang seketika menjadi abu. Para raksasa yang tidak terkena bola itu segera menjauhinya.


Segera Pang Shui melesat ke arah Dewa Binatang, dan diikuti oleh Xu Huang, Pang Bersaudara dan Juan Rou, termasuk pasukannya.


Chen Yeon, Hu Yue Yan dan yang lainnya melihat Dewa Binatang tertawa bahagia sambil memeluk erat tubuh dari Pang Shui. Mereka tidak menyangka, ternyata selama ini bala bantuan dari Galaksi Mata Hitam berhubungan dekat dengan Dewa Binatang.


"Kamu dari dulu tidak pernah berubah, hahaha!" ucap Xu Huang dan diakhiri dengan tawa bahagia.


Dewa Binatang melepaskan pelukannya, lalu dia memeluk sahabatnya si Xu Fat. Setelah itu dia berkata, "semakin licin kepalamu, perlu amplas ukuran berapa sehingga selicin ini?"


Xu Huang makin tertawa keras sambil melepaskan pelukannya, lalu memukul dada Dewa Binatang. Pang Hong, Pang Heng, Pang Shui, Juan Rou dan kedua anak dari Xu Huang ikut tertawa karena lelucon Dewa Binatang.


"Adik, sudah lama kita tidak bertemu, aku kira kamu melupakan kita!" teguran Pang Hong.


Dewa Binatang memeluk kakak iparnya si Pang Hong. Setelah melepaskan pelukannya, ia berkata, "aku tidak akan melupakan kalian, tidak sedikitpun! Hanya saja, banyak hal yang harus kuselesaikan sehingga tidak sempat untuk mengunjungi Galaksi Mata Hitam!"


Setelah berbicara, Dewa Binatang juga memeluk Pang Heng untuk sesaat. Lalu dia memeluk Juan Rao yang juga sahabatnya. Mereka tidak peduli dengan pertempuran yang ada di sisi kanan dan kiri, sebab bola energi kunang-kunang melindungi mereka.


"Mana anakmu?" tanya Dewa Binatang kepada Juan Rou.


"Itu mereka!" jawab Juan Rou sambil menunjuk ke belakang suaminya, Xu Huang, dan memperkenalkan nama anaknya, "yang laki-laki adalah Xu Tian Jiang, dan yang perempuan adalah Xu Tian Mei."


Dewa Binatang melihat satu pria muda yang lebih tampan dari Xu Huang, dan satu gadis cantik yang fisik tidak sama dengan orang tuanya, lebih langsing dan tinggi. Lalu dia tertawa karena kedua sahabatnya ini menggunakan nama marga Tian untuk anak-anaknya.


"Paman!" sapa Xu Tian Jiang dan Xu Tian Mei sambil menangkupkan kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan kepada yang tua.

__ADS_1


Dewa Binatang menepuk-nepuk pundak mereka berdua, lalu berkata, "dulu Paman melihatmu masih bayi... Setelah kamu dewasa lebih gagah dari bocah gendut itu!"


Gelak tawa menggema di tengah-tengah peperangan karena lelucon Dewa Binatang. Xu Huang yang diejek tidak sedikit tersinggung, sebab sudah terbiasa jika bersama dengan Dewa Binatang.


Dewa Binatang kembali berbicara sambil melihat Xu Tian Mei, "kamu cantik, dan untung saja tidak meniru penampilan Ayahmu yang merusak mata!"


"Hahaha! Sialan kamu, jelek-jelek begini aku adalah seorang Panglima Perang!" tawa Xu Huang sambil memukul lengan kiri Dewa Binatang.


Dewa Binatang membalas omong sahabatnya, "cocok menjadi Panglima Perang! Setiap musuh yang melihat perut berlemak-mu sudah pasti kacau balau!"


Pasukan Kekaisaran Pang menahan tawa karena lelucon Dewa Binatang, mereka menjadi terharu melihat reuni ini. Di Galaksi Mata Hitam, nama Dewa Binatang sudah sangat terkenal, sebab Xu Huang dan keluarga besar Pang selalu menceritakan kehebatan Dewa Binatang ketika berada di Alam Tianwu.


"Kemana ayah mertua?" tanya Dewa Binatang yang tidak melihat Kaisar Pang Dae Seong.


Kaisar Pang Dae Seong adalah ayah dari Pang Shui dan Pang bersaudara, dia sosok yang baik hati dan bijaksana. Oleh karena itu, Dewa Binatang sangat menghormatinya.


Seketika rasa bahagia menghilang karena pertanyannya. Melihat reaksi mereka dan juga kekasihnya, Dewa Binatang langsung menebak jika sesuatu terjadi pada Kaisar Pang Dae Seong.


"Ayah tutup usia!" jawab Pang Shui sambil meneteskan air mata kesedihan.


"Maaf!" ucap Dewa Binatang sambil memeluk Pang Shui.


"Semua sudah kehendak Alam Semesta. Kita sebagai penerusnya hanya bisa melanjutkan kebaikan beliau. Saat ini, kita berada di tengah-tengah peperangan!" Kaisar Pang Hong sebagai penerus ayahnya segera mencairkan suasana ini.


"Sudah berapa tahun semenjak kemunculan raksasa ini?" tanya Dewa Binatang tanpa melepaskan pandangannya kepada kedua mertuanya.


"Banyak perubahan semenjak fenomena alam semesta ini, waktu berlalu dengan cepat ... Aku sendiri sampai melupakan waktu karena selalu berperang dengan raksasa Bai Ze!" sahut Xu Huang sambil terus melihat para raksasa yang tidak berani mendekat bola-bola energi kunang-kunang.


"Seandainya kita memiliki kemampuanmu, sudah pasti akan mudah mengalahkan para raksasa ini!" sambung Pang Hong yang ingin sekali memiliki Kekuatan Jiwa.


Dewa Binatang memejamkan mata, lalu berkomunikasi dengan semua penghuni di dalam Dunia Jiwanya. Suaranya yang keras membuat semua orang yang berkultivasi membuka mata.


"Saatnya kita berperang! Seperti yang pernah kukatakan dulu, setelah keluar dari Dunia Jiwaku, hidup dan mati berada di tanganmu sendiri. Apakah kalian siap berperang?"


Semua orang yang berada di dalam Pagoda Berlian segera keluar, termasuk semua istrinya. Setelah keluar, serempak semua orang menjawab.


"Kami siap, Yang Mulia Kaisar!"


"Persiapkan diri dan pelajari kekuatan lawan terlebih dahulu!" perintah Dewa Binatang.

__ADS_1


Semua orang melihat apa yang dilihat oleh Dewa Binatang, dimana terjadi peperangan sengit antara Dewa dan raksasa. Yuna Aurora melihat kedua orang tuanya yang ikut pertarungan, wajah-wajah mereka sudah tua dan terlihat lelah.


Kemudian, Dewa Binatang berbicara kepada Pang Shui dan semua sahabatnya, termasuk dengan pasukan Kekaisaran Pang, "ambil satu bola energi Kekuatan Jiwa, telan dan kalian akan memiliki Kekuatan Jiwa, namun itu hanya sementara saja, satu batang dupa."


"Satu batang dupa, sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan raksasa itu. Hahaha!" Xu Huang dengan semangat segera mengambil satu bola energi kunang-kunang, dan segera menelannya bulat-bulat tanpa sedikitpun khawatir, sebab dia percaya dengan sahabatnya.


Seketika tubuh Xu Huang mengeluarkan aura cahaya berwarna kuning, dia merasakan kekuatan yang tidak pernah dialaminya. Segera dia melesat ke arah raksasa yang terdekat. Dengan senjata palu andalannya, raksasa itu seketika menjadi abu.


Melihat Xu Huang, segera Pang Hong, Pang Heng, Pang Shui, Juan Rou, Xu Tian Jiang dan Xu Tian Mei, mereka mengambil satu bola energi kunang-kunang, dan menelannya. Demikian juga dengan pasukan Kekaisaran Pang yang saling berebut.


Tubuh mereka juga sama seperti Xu Huang, mengeluarkan aura cahaya berwarna kuning. Segera mereka menyerang para raksasa. Sisa bola energi kunang-kunang memutari tubuh Dewa Binatang.


Chen Yeon dan pendukungnya melihat apa yang dilakukan oleh Dewa Binatang, jelas mereka terkejut karena bola energi itu bisa digunakan untuk pihak luar.


Chen Yeon, Hu Yue Yan, Hu Weiheng dan Chen Ying muncul mengepung Dewa Binatang. Lalu disusul dengan Taois Xian, Taois Chen, Taois Lim, Dewa Petarung, Dewa Pemusnah, Dewa Penghancur, Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa. Bahkan semua musuhnya dan para Dewa juga mengepungnya, kecuali Hernades Celosia dan Azalea Aurora yang justru menjauhi medan perang.


Dewa Binatang berdiri ditengah-tengah mereka, tidak sedikitpun takut. Dia maju mendekati Hu Yue Yan. Namun, karena bola-bola energi kunang-kunang memutari tubuhnya, maka Hu Yue Yan dan yang lainnya segera mundur karena merasakan pusing.


"Pagoda Belian adalah Artefak penting untuk menyelamatkan seluruh kehidupan di alam semesta. Karena kau mengambilnya, inilah yang terjadi! Jika kau tidak menyerahkannya kepada kami, maka yang terjadi adalah Peperangan Global Trimurti!" jelas Chen Yeon agar Dewa Binatang mau menyerahkan Pagoda Berlian.


"Peperangan Global Trimurti? Apa maksudmu?" tanya Dewa Binatang yang memang tidak tahu apa-apa.


Chen Yeon mengangkat tangan kanannya ketika Dewa Petarung yang terkenal tidak sabaran akan menjawab. Chen Yeon segera menjelaskan tentang Peperangan Global Trimurti dengan sabar. Dengan kesabaran, ia berharap Dewa Binatang mau menyerahkan Pagoda Berlian, tanpa harus bertempur habis-habisan.


"... Raksasa itu adalah Bai Ze, salah satu mahkluk purba dari 12 rasi bintang. Pagoda Belian bukan sekedar Artefak Alami biasa, itu adalah kunci untuk menyegel kekuatan dari Dewa Perusak. Jika Pagoda Berlian tidak dikembalikan ke tempatnya, lambat laun keempat Pagoda Berlian yang lain menjadi lemah. Anda tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!"


Dewa Binatang merenungi penjelasan Chen Yeon. Setelah beberapa saat, dia berkata sambil melihat calon Pelindung Alam Semesta, "aku akan serahkan Pagoda Berlian, tapi...,"


"Tapi apa, katakan apa yang kau inginkan?" tanya Chen Yeon dengan segera.


"Mereka bertiga harus melawanku!" pinta Dewa Binatang sambil menunjuk ke arah calon Pelindung Alam Semesta.


Chen Yeon, Hu Yue Yan, Hu Weiheng dan Chen Ying, mereka langsung memikirkan keinginan Dewa Binatang, mereka masih khawatir akan kelicikan Dewi Binatang seperti tempo hari.


"Kenapa kau memilih mereka? Mereka bukanlah lawanmu, lawanmu adalah kami!" sahut Hu Yue Yan yang ingin bertarung dengan Dewa Binatang demi harga dirinya yang pernah dikalahkan.


"Calon Pelindung Alam Semesta? Sebutan yang konyol, apa yang terjadi saat ini saja tidak sanggup mereka tangani!" sindiran Dewa Binatang.


"Anak muda, jaga ucapanmu!? Pelindung Alam Semesta dicetuskan oleh pimpinan dari Kuil Kudus, tidak seharusnya kau menghinanya?!" bentak Taois Xian yang menutupi rasa malunya, tidak hanya dia saja yang malu, calon Pelindung Alam Semesta yang paling malu karena sindiran ini.

__ADS_1


"Ini kenyataan, bodoh!" sahut Xu Fat dengan suara yang keras, karena adanya Dewa Binatang, dia tidak takut lagi dengan Chen Yeon.


Dewa Binatang tertawa karena ucapan sahabat yang sambil menyerang para raksasa. Perkataan Xu Huang semakin mempermalukan Taois Xian dan anggotanya.


__ADS_2