
Bab 182. Tantangan Yang Membuat Dewa Abadi Murka.
Dewa Abadi menjentikkan jari yang membuat mayat para perampok terbakar dengan cepat. Dia melihat Interspatial Ring milik pemimpin perampok, dan cincin itu terbang ke arahnya.
Dia memeriksa isi cincin bukan karena menginginkan harta, melainkan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail. Dia mendapatkan peta Dunia Roh milik pemimpin perampok.
Di peta usang itu, ada banyak tanda lingkaran di setiap wilayah, lalu ada tanda silang yang juga di wilayah yang berbeda. Namun yang membuat Dewa Abadi bingung, dia melihat tiga tanda lingkaran yang disilang, entah apa artinya.
Karena salah satu dari tiga tanda lingkaran disilang tidak jauh dari tempatnya, ia memutuskan untuk memeriksa lokasi tersebut, berharap mendapatkan informasi tentang musuhnya.
Dengan mengikuti petunjuk dari peta, Kuda Surgawi segera terbang menuju lokasi tersebut yang berjarak kurang dari empat belas kilometer. Dia melewati hutan lebat yang luas, jurang, dan melihat banyak Binatang Roh yang memiliki ukuran besar.
Binatang Roh sama halnya dengan Binatang Mistik, yang memiliki kecerdasan, mampu berkultivasi layaknya manusia, dan memiliki cincin roh yang penting bagi kultivator. Pada tingkatan tertentu, Binatang Roh mampu merubah wujudnya menjadi manusia.
Cincin Roh adalah bagian dari sisa-sisa yang dikeluarkan oleh Binatang Roh yang disebut dengan istilah Core setelah kematian, pengorbanan, atau kontrak mereka dengan manusia.
Cincin Roh adalah tubuh energi khusus yang mewakili kultivasi binatang roh. Dalam hampir semua kasus, itu tidak mewakili usia mereka yang sebenarnya karena makhluk roh tidak berkultivasi berdasarkan usia, tetapi berdasarkan kedewasaannya. Hal ini terlihat dengan bagaimana ciri-ciri fisik yang terkenal digunakan untuk membedakan kultivasi binatang roh.
Binatang Roh diburu ketika master roh (Beast Tamer) mengalami kemacetan, dan untuk meningkatkan kekuatan tempur. Setelah kematian Binatang Roh, pengorbanan, atau kontrak mereka dengan manusia, maka hanya orang yang telah memberikan pukulan mematikan yang dapat menyerap cincin roh.
Cincin Roh Biasa dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan usianya;
Putih : Cincin Roh 10 tahun.
Kuning : Cincin Roh 100 tahun.
Hijau : Cincin Roh 1.000 tahun.
Biru : Cincin Roh 10.000 tahun.
Ungu : Cincin Roh 100.000 tahun.
Merah : Cincin Roh 200.000 Tahun.
Hitam : Cincin Roh 400.000 Tahun.
Oranye : Cincin Roh 600.000 Tahun.
__ADS_1
Emas : Cincin Roh Dewa 1.000.000 Tahun.
Namun, dalam kasus cincin roh berumur sejuta tahun, itu mungkin muncul dalam warna berbeda tergantung pada atributnya, dan disebut dengan Cincin Roh Dewa. Contoh: Biru-Emas, Emas Merah Tua, Abu-abu Tua, Hijau-Emas, dan lain sebagainya.
Kekuatan Binatang Roh di dunia ini tidak jauh berbeda kultivator, hanya saja diberi peringkat. Peringkat 1 adalah yang paling terlemah, setara dengan tingkat Kelahiran, dan terkuat di peringkat 19, setara dengan tingkat Supreme Being (Setengah Dewa). Namun, pada kasus-kasus tertentu muncul Binatang Roh di atas tingkat Supreme Being.
Bagi Dewa Abadi sebagai Dewa Binatang, dia tidak pernah mengeluarkan Cincin Roh dikarenakan dirinya adalah penguasa dari semua jenis binatang di alam semesta. Apapun yang dikehendakinya, maka cincin roh dalam bentuk jenis binatang apapun bisa dikeluarkan untuk melawan.
Tidak berselang lama, Dewa Abadi tiba di lokasi bertanda. Saat ini, dia melayang di atas danau. Dia melihat sekeliling dan tidak menemukan satu orang pun.
Dewa Abadi melihat bayangan hitam di dalam air danau. Karena penasaran dengan apa yang ada di dalam dasar danau, dia memutuskan untuk mendaratkan Kuda Surgawi. Dia memasukkan tunggangan ke dalam Dunia Jiwanya.
Setelah itu, tanpa rasa takut dengan sosok bayangan hitam berukuran besar, dia menghentakkan kaki kanan sehingga air danau menyembur ke atas. Namun, sosok bayangan hitam itu tidak keluar.
"Ehem...! Dunia ini dipilih karena memiliki Formasi Alami yang berusia jutaan tahun!" Dewa Abadi menghela nafas berat karena tidak bisa menggunakan kemampuannya, dan semua itu karena Formasi Alami yang melindungi Dunia Roh.
Dewa Abadi mengetahui adanya Formasi Alami saat membuat Formasi Perlindungan di Desa Persik. Karena Formasi Alami inilah semua kemampuannya dibatasi.
Karena bayangan hitam tidak mau keluar dari dalam danau, dia memutuskan untuk masuk ke dalam danau. Baru saja masuk, pencahayaan di dalam air perlahan mulai meredup. Dewa Abadi berhenti berenang dan melihat ke atas.
Keunggulan cacing mutan ini adalah memanipulasi elemen, tubuh yang teramat besar, serta mampu membuat ilusi. Karena kemampuannya itu, Dewa Abadi tidak mengetahui jika danau yang dilihatnya adalah mulut cacing mutan. Ketidaktahuannya dikarenakan adanya Formasi Alami.
Mengetahui jika terjebak, tidak sedikitpun membuat Dewa Abadi menjadi panik maupun ketakutan, dia justru menyunggingkan senyuman mengejek.
"Cacing ingin memakan diriku? Bermimpi lah! Akan kuobrak-abrik isi perutmu!"
Setelah Dewa Abadi berbicara, binatang itu telah sepenuhnya menutup mulut. Kemudian, dia terhisap ke dalam kerongkongan cacing mutan. Dewa Abadi tidak berusaha untuk melawan, sebab ingin tahu apa yang ada di dalam perut binatang ini.
Tidak butuh waktu lama, ia telah berada di dalam pusat perut cacing mutan. Di dalam lambung dipenuhi dengan cairan asam urat berbentuk pasta yang sangat pekat. Ketika Dewa Abadi menginjakkan kakinya di asam urat, dia merasakannya seperti berdiri di atas jelly, terasa kenyal.
Namun, bukan asam urat yang menjadi perhatiannya, melainkan dia melihat ada tempurung kura-kura yang kosong. Diameter tempurung mencapai 17 meter. Karena penasaran, dia menuju ke tempurung itu.
Saat masuk ke dalam tempurung, dia melihat banyak emas batangan, miliaran koin emas, peti harta berisi penuh berlian sehingga pintu tidak bisa ditutup, dan masih banyak lagi harta di dalam tempurung itu.
Dewa Abadi menduga jika semua harta ini milik binatang yang melahapnya, dan tidak tertarik dengan harta yang melimpah ini. Dia terfokus pada sesuatu yang menjadi petunjuk penting mengenai musuhnya, yaitu prasasti logam setinggi 30 cm dan lebar 15 cm.
Dewa Abadi membaca isi dari prasasti logam.
__ADS_1
"Selamat atas keberhasilan Anda melewati tantangan sebelumnya! Di tantangan kali ini, Anda harus mengalahkan 4 penguasa Dunia Roh, 12 pahlawan yang menjadi pelindung, dan pendukungnya. Pahlawan itu sudah ada di Dunia Roh jauh sebelum kedatangan Anda, 236 tahun lalu. Jika Anda mampu mengalahkan mereka, maka Anda bisa berlanjut ke dunia berikutnya. Yang pasti, keempat penguasa itu sangat cantik dan cerdas. Aku harap Anda berhasil membunuh mereka, semoga berhasil!"
Boom...
Dewa Abadi menghancurkan prasasti logam karena tidak terima dijadikan sebagai objek permainan mereka. Siapapun orangnya sudah pasti akan murka diperlakukan seperti ini. Karena permainan mereka, Dewa Abadi kehilangan banyak istri, sahabat, orang-orang kepercayaannya, dan pasukannya.
Empat penguasa itu adalah pemimpin empat kerajaan di Benua Roh, mereka adalah ratu. Kerajaan Barat dikuasai oleh Ratu Mu Yu Huang, Kerajaan Timur dikuasai oleh Ratu Gongsun Ling, Kerajaan Utara dikuasai oleh Ratu Da Xia, dan Kerajaan Selatan dikuasai oleh Ratu Juan Rong.
Sedangkan pahlawan itu berasal dari Planet Bumi, mereka adalah anak-anak muda pilihan yang berprestasi, cerdas, kreatif, berambisi, dan penuh dengan imajinasi.
236 tahun yang lalu, mereka datang melalui Altar Pemanggilan yang dimiliki oleh keempat kerajaan di Dunia Roh. Datang dari Planet Bumi 30 anak muda, dari usia 16 tahun hingga 17 tahun. Dari 30 anak muda pilihan itu, yang berhasil lulus ujian hanya 12 orang, dan sisanya dikembalikan ke Planet Bumi.
Mereka dipanggil dengan tujuan untuk melawan kejahatan, dan kejahatan itu tidak lain adalah Dewa Abadi. Selain itu, mereka didatangkan untuk menekan hegemoni klan dan sekte agar tunduk kepada kekuasaan sang ratu.
Setelah 12 anak muda itu terpilih sebagai pahlawan, mereka dibekali dengan Sistem Kultivasi untuk mencapai kekuatan dengan cepat. Sistem Kultivasi seperti halnya dengan Sistem Pencipta yang diciptakan oleh Dewa Abadi, namun ada perbedaan besar antara dua sistem tersebut, yaitu pada sumber daya yang dimiliki oleh Sistem Kultivasi lebih terbatas.
Karena anak muda pilihan itu hidup dalam teknologi informasi, maka mereka dengan mudah memahami Sistem Kultivasi. Selama 236 tahun setelah kedatangan para pahlawan, mereka telah mencapai ketinggian yang mencengangkan di Dunia Roh.
Para pahlawan itulah yang meruntuhkan kekaisaran di Dunia Roh sehingga wilayahnya dibagi menjadi empat, yang saat ini dikuasai oleh keempat ratu tersebut. Setelah meruntuhkan kekaisaran, para pahlawan itu melindungi ratunya masing-masing, menunggu kedatangan Dewa Abadi.
Untuk mengisi waktu luang, para pahlawan itu mendirikan perguruan bela diri, yang kini merajai wilayahnya masing-masing. Melalui pengetahuan dari Sistem Kultivasi, prestasi perguruan lebih cepat dikenal dan menjadi favorit para orang tua yang menginginkan putra dan putrinya menjadi seperti pahlawan.
Karena orang yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang, membuat persatuan keempat penguasa itu mulai luntur. Para penguasa itu membatalkan kesepakatan bersama, yang mana wilayah pusat kekaisaran yang diruntuhkan bebas dari kekuasaan siapapun.
Lunturnya hubungan antar kerajaan karena provokasi dari para pahlawan yang berambisi untuk menguasai Dunia Roh. Kemudian, sang ratu memerintahkan para pahlawan untuk memperebutkan wilayah kekaisaran. Jadilah wilayah itu medan pertarungan antara perguruan bela diri, klan dan sekte, hingga saat ini. Dan korbannya adalah rakyat jelata...
"Kalian membangkitkan binatang buas yang tertidur! Baiklah, jangan salahkan aku jika alam semesta ini kubuat porak-poranda, termasuk Alam Kudus yang menjadi dasar amarahku!" ucap Dewa Abadi yang tidak terima diperlakukan seperti ini.
Kemudian, dia mengambil apapun yang berharga di dalam tempurung kura-kura. Harta ini akan dijadikan modal perjalanannya untuk membuat kekacauan di seluruh Alam Semesta dan Alam Kudus.
Semua istrinya, Satria 12 Naga, Chen Yeon dan Hu Yue Yan juga marah karena dijadikan objek permainan para penguasa di Alam Kudus. Prasasti logam itu sudah dengan jelas menyatakan bahwa tantangan ini merupakan perlombaan yang mereka inginkan.
Setelah keluar dari tempurung kura-kura, Dewa Abadi menyunggingkan senyuman penuh kemenangan sambil melihat ke atas, dia memiliki rencana yang tidak ada diduga-duga oleh musuhnya.
"Kalian mungkin selama ini mengawasiku... Tetapi, satu hal yang tidak kalian ketahui ... Tidak lama lagi kalian akan melihatnya!" ucap Dewa Abadi sambil mengeluarkan Pedang Semesta, lalu mengayunkan pedangnya berkali-kali ke segala arah.
Boom boom boom...
Ledakan hebat menghancurkan perut cacing mutan. Cacing mutan bahkan tidak merasakan sakit ketika dibunuh oleh Dewa Abadi. Setelah itu, ia terbang ke langit menatap ke arah Kerajaan Timur.
__ADS_1
(Note: Secara umum, hegemoni adalah istilah yang mengacu pada dominasi atau kekuasaan yang dimiliki oleh kelompok, entitas, atau negara tertentu atas kelompok lain, atau sistem yang lebih luas.)