
Bab 250. Lao Yi si Dewi Semesta.
Dengan wujud menjadi air, Ling An bersembunyi di air yang kedalamannya mencapai 2 meter, sangat dekat dengan Dewi Semesta yang berada tepat di bawah air terjun. Dari belakang, ia menelan ludah karena melihat kemolekan tubuh Dewi Semesta yang sempurna, dan tidak ada cacat pada kulitnya.
Jika Ling An tidak memiliki kekuatan jiwa, dia sudah pasti akan mimisan, bahkan mungkin akan segera mencumbu Dewi Semesta dengan brutal. Namun, karena dia adalah pria normal, serta di kehidupannya yang sekarang belum pernah bercinta dengan wanita, tongkat kebanggaannya dengan cepat berdiri maksimal.
Perlahan Ling An mendekati Dewi Semesta yang sedang menggosok lehernya yang jenjang. Namun, ia tiba-tiba berhenti saat wanita cantik itu menoleh ke arahnya.
Dewi Semesta merasakan gerakan air yang melawan arus air terjun, tepat berada di belakang betisnya. Dengan Mata Langitnya, dia samar-samar melihat sesuatu yang menahan arus air, dan ada gelembung udara di dalam air.
"Sialan kau!?" umpatan Dewi Semesta dengan suara melengking tinggi.
Dia segera melompat ke kanan sambil melepaskan pukulan berenergi tinggi ke arah Ling An yang diam membeku karena melihat tubuhnya. Namun, tiba-tiba Ling An teringat dengan wajah Putri Mahatma. Saat melihat pukulan berenergi, ia segera berteleportasi.
Boom...
Ledakan keras ketika pukulan berenergi itu menghantam permukaan air, tempat di mana Ling An bersembunyi menjadi air. Air menyembur ke atas karena pukulan itu.
"Tubuhmu sempurna. Sayangnya, aku tidak tertarik! Hahaha!"
Suara Ling An terdengar di telinga Dewi Semesta, di akhir katanya dia tertawa puas melihat tubuhnya yang hanya dibalut dengan pakaian tipis. Dan jelas organ intim dan dadanya yang sintal memanjakan mata.
"Arghhh...?!" teriakan keras Dewi Semesta karena sangat marah.
Seketika teriaknya itu meruntuhkan tebing air terjun, dan merobohkan kubah akar pohon. Karena sangat marah, tubuhnya mengeluarkan cahaya panas yang membakar apapun disekitarnya, dan cahaya itu menutupi seluruh tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian tipis.
Rambut panjang seperti hidup dengan melambai-lambai, dan perlahan tubuhnya melayang ke atas sambil menatap tajam ke arah Timur di mana Ling An kabur.
"Sampai akhir hayatku dan di manapun kau bersembunyi, aku pasti menemukanmu!?" sumpah Dewi Semesta.
Selama hidupnya dari semenjak kecil, tubuhnya tidak pernah pernah dilihat oleh siapapun, ibunya adalah orang terakhir yang pernah melihat tubuhnya di saat usia 7 tahun.
Dewi Semesta menghentakkan kedua tangannya ke depan di mana Ling An melarikan diri. Kemudian, segala elemen yang berada di sekitarnya membentuk gumpalan beraneka warna, ada 24 gumpalan elemen yang berbeda-beda.
Boom boom boom boom...
Rentetan ledakan energi ketika gumpalan-gumpalan itu meledak. Suara ledakan itu terdengar hingga puluhan kilometer. Lalu bermunculan 24 wanita yang tercipta dari ledakan elemen alam.
Wajah-wajah 24 wanita itu seperti kembaran Dewi Semesta, yang membedakan adalah pakaiannya, warna pakaiannya sesuai dengan unsur alam, seperti es, api, air, tanah, dan lain sebagainya. Dan, 24 wanita itu adalah manifestasi dari Dewi Semesta.
Itu adalah skill ciptaannya. Dewi Semesta memberikan nama pada skillnya, namanya unik, yaitu Kitab Wujudku. Dan sesuai dengan namanya, dia mampu menjadikan unsur alam menjadi dirinya sendiri dengan segala kemampuan yang sama.
Kitab Wujudku sama seperti apa yang dimiliki oleh Dewa Abadi, yaitu Kitab Tubuh Ganda. Dewa Abadi bisa menciptakan skillnya itu berkat memiliki Batu Keabadian. Dan, kedua skill itu juga memiliki batas waktu guna.
"Tangkap dia dan ambil tombaknya. Jika melawan, bunuh!" perintah Dewi Semesta.
24 wanita itu segera menghilang dari hadapan Dewi Semesta. Dia ingin menangkap Ling An untuk mencongkel mata yang telah melihat tubuhnya. Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kitab untuk mengetahui siapa sosok Ling An yang sebenarnya, sebab memiliki kemampuan unik yang bisa menjadi elemen.
Apa yang dikeluarkan oleh Dewi Semesta adalah salinan Kitab Kehidupan yang dimiliki oleh setiap anggota Istana Tahta Trimurti. Karena kitab itu hanyalah salinan, maka butuh pembaruan untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai para Dewa.
Setelah membuka setiap lembaran Kitab Kehidupan, ia tidak menemukan seorang Dewa yang memiliki ciri-ciri seperti Ling An, seperti memiliki Tombak Jiwa Berlian Petir, skill menjadi wujud elemen, dan memiliki dua tanda ke-Dewa-an.
"Mungkin aku perlu memperbarui Kitab Kehidupan ini," gumamnya karena tidak menemukan informasi tentang Ling An.
__ADS_1
Setelah menyimpan kitabnya, dia melihat ke arah kaburnya Ling An. Setelah itu, tubuh Dewi Semesta memudar dan dengan cepat menghilang. Karena kemarahannya, tebing air terjun dan sekitarnya menjadi porak-poranda.
Setelah kepergiannya, alam segera memulihkan diri sendiri, hutan yang porak-poranda itu perlahan tumbuh rerumputan dan tunas pepohonan.
Setelah itu, tebing air terjun yang hancur, menyemburkan cairan magma yang meluber ke segala arah. Cairan magma itu mengering, dan perlahan membentuk bebatuan selama cairan magma terus menyembur...
...****************...
Ling An menggunakan Tombak Jiwa Berlian Petir di saat dikejar-kejar oleh 24 wanita elemen. Dia tidak sedikitpun takut maupun panik karena tombaknya sangatlah cepat, justru tertawa karena senang dikejar-kejar oleh wanita super cantik.
Dia mengurangi kecepatan laju tombaknya sambil menoleh ke belakang. "Ayo gadisku, kejarlah kekasihmu ini yang tampan!"
24 wanita elemen itu meningkatkan kecepatan semaksimal mungkin agar segera menangkap Ling An. Mereka membalas perkataannya dengan kompak dan bernada tinggi.
"Lebih tampan seekor kera daripada kau!?"
Ling An sedikit meningkat kecepatan di saat 24 wanita elemen itu terpaut jarak 300 meter, lalu dia membalas ucapannya mereka, "kenapa tidak mengejar itu kera jika tampan? Hahaha!"
Dhummm...
Dentuman keras ketika Ling An memaksimalkan kecepatan tombaknya, sebab 24 wanita elemen itu melepaskan pukulan berenergi tinggi. Dalam sekejap mata, Ling An menghilang karena sudah sangat jauh.
24 wanita elemen itu juga meningkatkan kecepatannya sehingga memicu dentuman energi yang menimbulkan asap putih di langit. Dewi Semesta muncul di tengah-tengah 24 wanita elemen.
"Menyebar!" perintahnya dan segera dipatuhi oleh tubuh kembarannya.
Semua orang melihat ke langit karena merasakan aura kuat dari Dewi Semesta dan 24 wanita elemen. Di langit seperti garis-garis lurus berwarna putih yang melaju dengan kecepatan cahaya.
Ling An tersenyum senang karena banyak orang mengejarnya seperti seorang idola yang dipuja-puja oleh penggemarnya.
"Jika aku lebih jelek dari kera, tidak mungkin kamu mengejarku! Lihat, semua orang itu begitu bernafsu untuk mengejar-ngejar diriku yang tampan ini," katanya dengan suara yang sangat keras.
Mendengar perkataannya, semua orang yang mengejar langsung berhenti karena muntah-muntah. Mereka segera kembali mengejarnya, kali ini sangat ingin membunuh Ling An.
Yao Ningqiao yang berada di Desa Yujie, melihat Ling An. Anehnya, dia tertawa karena ucapannya itu terasa konyol. Yao Zheng membeku melihat tawanya yang tidak pernah dilihat selama ini, dia selalu mendapatkan sikap dingin dan bentakan dari Yao Ningqiao.
"Kenapa kamu tertawa? Wajahnya kan jelek, dan memang lebih jelek dari kera!" Yao Zheng cemburu dan tidak ingin Yao Ningqiao tertawa hanya untuk Ling An.
Seketika Yao Ningqiao berhenti tertawa, dia menatap tajam Yao Zheng yang langsung menundukkan wajah karena takut. Lalu dia berkata dengan nada ketus, "kau memang tampan...,"
Yao Zheng langsung menatap wajah cantik Yao Ningqiao dan mengembangkan senyuman bahagia, karena baru kali ini dipuji.
"Tapi, kau tidak semenarik Ling An. Kau kan lihat dia, seharian ini selalu dikejar-kejar oleh banyak orang kuat. Namun, tidak ada satupun orang yang bisa menangkapnya!" lanjutnya Yao Ningqiao. Ia segera terbang mengejar Ling An tanpa peduli dengan Yao Zheng.
Yao Zheng menjadi lemas dan harga dirinya hancur lebur karena tidak dipuji, melainkan dibanding-bandingkan dengan Ling An. Pengawalnya memalingkan wajah karena ingin tertawa melihat tuannya yang tidak bisa berkutik saat bersama dengan Yao Ningqiao.
"Bunuh pria jelek itu dan ambil tombaknya! Sebelum berhasil, jangan pernah kembali!?" perintah Yao Zheng dengan nada membentak kepada pengawalnya.
Empat pengawalnya saling berpandangan sebagai bentuk komunikasi telepati. Tiga orang segera mengejar Ling An yang menuju ke arah Selatan, dan satu orang tetap berada di sisi Yao Zheng untuk terus melindungi...
Dewi Semesta jelas sangat marah, tapi ucapan Ling An menyadarkannya. Jika dia terus-menerus mengejar seperti orang kasmaran, maka sama saja merusak reputasi dan kecantikannya yang sangat tidak cocok bersanding dengan Ling An.
Apalagi banyak orang melihatnya yang mengejar-ngejar Ling An. Karena tidak ingin semua orang berpikir negatif kepadanya, Dewi Semesta segera berhenti, lalu menjentikkan jari sehingga 24 wanita elemen menjadi asap.
__ADS_1
"Selama kau ada di Tiga Alam, kau berada di genggaman tanganku! Cepat atau lambat, aku pasti menangkapmu!" gumam Dewi Semesta. Ia segera menghilang.
Sekali lagi, Ling An berhasil meloloskan diri dari kejaran banyak orang kuat berkat kecepatan laju tombaknya. Karena masih penasaran dengan Manusia Pohon, dia meletakkan tombaknya di punggung, lalu segera berteleportasi dan muncul di tempat terakhir saat diserang oleh Dewi Semesta.
Dia terheran-heran melihat tempat yang dihancurkan oleh Dewi Semesta telah ditumbuhi rerumputan dan tunas pepohonan. Kemudian, dia segera mengikuti dua Manusia Pohon yang meninggalkan jejak di tanah.
Jejak langkah kaki Manusia Pohon tidak menuju ke arah Pohon Peri, melainkan ke arah daratan tinggi yang disebut dengan Pegunungan Hehua, yang dikelilingi oleh lautan. Jika dilihat dari langit, bentuk pegunungan itu menyerupai bunga teratai.
Bukit-bukit tinggi melingkari pesisir pantai. Setelah perbukitan, akan ada lembah curam yang juga berbentuk melingkar. Lebih dalam lagi, akan ada pegunungan, disebut Pegunungan Dalam yang juga berbentuk melingkar.
Pegunungan Dalam melingkari satu gunung berapi yang sangat tinggi, yaitu Gunung Hehua yang tertutupi oleh salju abadi. Pegunungan itu terkenal sangat berbahaya bagi siapapun, tepatnya berada di tengah-tengah wilayah tiga suku. Luas diameter wilayahnya 200 km lebih.
Di masa depan, Pegunungan Hehua menjadi Daratan Pagoda Berlian, tempat untuk menyegel Yao Shen si Dewa Perusak.
Ling An terus mengikuti jejak langkah kaki dari Manusia Pohon. Saat hari menjelang malam, tepatnya di pesisir Laut Spiritual, dia melihat ujung kepala Manusia Pohon saat berjalan di air laut. Tidak hanya ada dua, melainkan banyak Manusia Pohon menuju ke Pegunungan Hehua.
Dengan wujud menjadi air, Ling An masuk ke dalam Laut Spiritual. Perlahan mendekati Manusia Pohon yang bernama si Ash. Ling An segera menempel di punggung si Ash yang bercabang-cabang, berjalan beriringan dengan si Oak.
Kemudian, dia merubah wujudnya menyerupai cabang batang pohon. Dia memejamkan mata dengan santai di punggung bercabang si Ash.
"Kenapa tubuhku menjadi berat?" si Ash keheranan karena punggungnya terasa ada yang membebani, "lihat punggungku, apa ada sesuatu benda yang menempel?" pintanya kepada si Oak.
Si Oak hanya melirik punggung si Ash, tapi tidak melihat apapun yang tersangkut di punggung bercabang. "Mungkin itu karena pengaruh Inti Getah Pohon milikmu," katanya.
"Ayo cepat, sebelum gerhana bulan tiba!" imbuhnya.
Si Ash hanya mengangguk sebagai respon, dan ucapannya juga masuk akal. Diambilnya Inti Getah Pohon sangat besar pengaruhnya bagi Manusia Pohon. Wajar jika tubuhnya menjadi berat dan mudah lelah.
Mereka segera mempercepat langkah kakinya, demikian juga dengan semua Manusia Pohon yang berduyun-duyun datang ke Pegunungan Hehua.
Ling An mendengar obrolan mereka gara-gara dirinya tiduran di atas cabang batang pohon di punggung si Ash. Dia memejamkan mata sambil memulihkan energi setelah seharian ini dikejar-kejar oleh banyak orang kuat...
Dewi Semesta berada di depan Pohon Peri, dia menemui Putri Mahatma. Namun, Putri Mahatma seperti sebelumnya, tidur meringkuk tanpa peduli dengan siapapun yang sedang melihatnya.
"Aku baru pertama kali dilecehkan oleh pria! Bantu aku menangkapnya!" Dewi Semesta membuka pembicaraan dengan berkeluh kesah tentang kejadian memalukan di hari ini.
"Ada sebab ada akibat," ucap Putri Mahatma dengan menggunakan komunikasi telepati.
Walaupun dia seperti tertidur, kejadian di Tiga Alam tidak lepas dari pengawasannya. Dia juga tahu apa yang dialami oleh Dewi Semesta, dan tidak menyalahkan Ling An.
"Aku hanya menikmati hidup. Di saat aku mandi, dia mengintip! Wanita mana yang tidak marah jika dilecehkan oleh pria? Jika dia tidak memiliki Tombak Ilahi, aku sudah pasti mudah menangkapnya. Adik, tolong bantu aku menangkapnya. Apapun permintaanmu, pasti aku berikan asal bisa dan ada!"
Dewi Semesta memelas seolah-olah dirinya sangat permalukan oleh Ling An. Padahal dia ingin mendapatkan Tombak Jiwa Berlian Petir.
"Kamu pikir aku anak kecil yang mudah dibohongi? Lao Yi, tidak selamanya kecantikan bisa memenuhi keinginanmu. Ingat, kamu adalah calon Dewi yang akan duduk di Tahta Trimurti, seharusnya kamu sudah belajar membuang semua ego duniawi!" teguran dari Putri Mahatma yang sangat paham dengan sifat Dewi Semesta.
Dewi Semesta menghentakkan kedua kakinya di udara karena kesal di tegur. "Ya sudah, jika kamu tidak mau membantuku, dan juga aku tidak akan mau membantumu!" ancamnya.
Putri Mahatma segera duduk dan menatap wajah cantik Lao Yi si Dewi Semesta. Lalu dia berkata, "suatu hari nanti, kau justru jatuh cinta kepadanya. Ingat kata-kataku ini!"
Setelah berbicara, Putri Mahatma menghilang dari hadapan mata Dewi Semesta yang mengigil saat di sumpah. Mengingat wajah Ling An yang jelek, jelas tidak mungkin sudi mendekatinya, apalagi menjadi kekasihnya.
"Tidak, tidak! Aku tidak mau! Adik, cabut ucapanmu barusan!?" teriakan keras Dewi Semesta yang segera mengejar Putri Mahatma...
__ADS_1