God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Kenyamanan Yang Terusik.


__ADS_3

Bab 230. Kenyamanan Yang Terusik.


Dewa Abadi tersenyum melihat Bai Ge. Lalu menarik moncongnya sehingga Bai Ge mengepakkan sayapnya untuk lepas dari tangan Dewa Abadi.


Setelah melepaskan moncong Bai Ge, Dewa Abadi melihat orang yang menyerangnya, seorang gadis muda usia 17 tahun. Karena wajah gadis itu mirip sekali dengan Hu Yue Yan, Dewa Abadi segera memblokir serangan Bai Ge sebelum mengenai si penyerang.


Gadis itu bernama Hu Yue Lian, dan memang reinkarnasi dari Hu Yue Yan. Tetap di kehidupannya yang sekarang, dia lebih baik dari Chen Yeon Mei yang tetap terlahir dari rahim Kasta Bangsawan, sedangkan dia terlahir dari rahim seorang Kasta Kesatria.


Hu Yue Lian putri busung dari Raja Hu. Tinggi badan 172 cm, rambut putih sepanjang pinggang, telinga sedikit meruncing ke atas seperti Ras Peri, mata sedikit sipit dengan pupil berwarna biru. Jika dinilai, penampilannya masuk di angka 9,5, hampir sempurna. Jika dibandingkan dengan kehidupan yang dulu, Hu Yue Yan yang sekarang lebih cantik.


"Siapa Anda? Dan kenapa menyerang kami?" tanya Dewa Abadi kepada Hu Yue Lian.


"Aku tertarik dengan burung mu?" jawab Hu Yue Lian dengan polosnya.


Dewa Abadi melihat Bai Ge, lalu melihat ke bawah, melihat burungnya yang tertutupi pakaian. Melihat matanya, Bai Ge jelas tersinggung karena dibandingkan dengan itu.


"Hei, cabul! Matamu bisa nggak melihat dengan normal!?" bentakan Bai Ge yang tidak terima, dia mematuk berulang-ulang telinga Dewa Abadi.


Dewa Abadi tertawa karena senang menggoda Bai Ge, gara-gara gadis muda itu yang memulainya. Sedangkan gadis muda itu sendiri tidak tahu maksud perkataan mereka.


"Apakah kalian sehat?" Hu Yue Lian keheranan melihat Dewa Abadi dan Bai Ge.


Dewa Abadi berhenti menertawakan Bai Ge, lalu kembali melihat Hu Yue Lian dan berkata, "burung yang mana maksudmu?"


Seketika wajah putih Hu Yue Lian menjadi merah karena ucapannya disalah artikan. Padahal yang dimaksudkannya adalah Merpati Putih, bukan burung yang lainnya.


Karena kesal dan ingin membuat Dewa Abadi cemburu, Bai Ge terbang dan hinggap di bahu kiri Hu Yue Lian. Dengan senang hati, Hu Yue Lian membelai kepala Bai Ge dengan lembut.


Sayangnya, Dewa Abadi justru meninggalkannya menuju ke lokasi titik berikutnya. Dia tidak ingin terlalu berlama-lama melihat Hu Yue Lian yang mirip dengan istrinya.


"Aku akan merawatmu dengan sepenuh hati, menjadikanmu sebagai sahabat," kata Hu Yue Lian sambil melihat punggung Dewa Abadi.


"Tidak tertarik!" sahut Bai Ge dengan nada ketus dan segera terbang menyusul Dewa Abadi. Dia kesal karena tidak bisa membalas perilaku Dewa Abadi.


"Jangan pergi!!" cegah Hu Yue Lian sambil mengejar Bai Ge.


"Adik Lian!"


Hu Yue Lian segera berhenti saat dipanggil oleh seseorang yang dikenalinya. Ia membalikkan badan dan melihat sahabatnya, Chen Yeon Mei yang bersama dengan Chen Lique (Putri Lique) dan Chen Jiyan (Putri Jiyan).


Mereka saling berpelukan karena persahabatan. Di saat mereka mengobrol, datang empat pria yang menyukai mereka. Keempat pria itu adalah anak angkat dari Kasta Mahaguru...


Dewa Abadi dan Bai Ge sudah berada di titik lokasi kedua. Seperti sebelumnya, dia merobek kehampaan dan melihat pusaran badai kehampaan. Setelah menutup robekan kehampaan, mereka melanjutkan ke titik lain.


Demikian juga dengan titik-titik yang lainya, yang jumlahnya mencapai 101 titik melingkari wilayah Daratan Pagoda Berlian, situasinya juga sama. Dewa Abadi menghela nafas berat karena tekadnya tidak sesuai dengan kenyataan. Yang membuatnya pusing memikirkan hal ini, kekuatannya yang tinggi masih belum mampu mengatasi hal ini.


"Portal dimensi terbuka pasti karena adanya pemicu... Lebih baik kamu cari pusat pemicunya!" saran Bai Ge.

__ADS_1


Dewa Abadi segera mengaktifkan Mata Surgawi untuk mencari Formasi Array pemicu terbukanya portal dimensi. Kedua matanya terfokus di wilayah Dinasti Yao. Setelah beberapa waktu mencari, dia tidak menemukan adanya Formasi Array di wilayah Kerajaan Yao.


Dia pun teringat akan perkataan istrinya. Chen Yeon dan Hu Yue Yan pernah berkata, bahwa di Tiga Alam tidak lagi menggunakan Formasi Array tingkat apapun dikarenakan tidak berlaku bagi kekuatan di atas Divine Realm.


Bai Ge tidak hanya sekedar memberikan saran, ia juga ikut mencari dengan menggunakan Mata Langit. Hasilnya juga sama, tidak menemukan satupun Formasi Array di Planet Tiga Alam.


"Aku ingin sayuran kacang polong, perutku lapar!" pinta Bai Ge yang tiba-tiba.


Dewa Abadi tertawa kecil, dia heran kenapa burung kecil ini masih sempat-sempatnya memikirkan hal yang tidak perlu. Dia menuju ke arah wilayah Dinasti Shandui yang belum dikunjunginya, tetapi menuju wilayah yang banyak dihuni oleh Kasta Sudrah.


Di setiap wilayah yang dihuni Kasta Sudrah, masih banyak orang yang membuka rumah makan, termasuk membuka toko jenis apapun untuk memenuhi kebutuhan setiap orang.


Sedangkan di wilayah yang dihuni oleh Kasta Bangsawan dan Kesatria, jarang sekali ada yang mau membuka rumah makan, sebab mereka tidak membutuhkan asupan makanan. Apalagi di wilayah Kasta Mahaguru, tidak ada orang yang membuka usaha.


Di Tiga Alam, semua kebutuhan setiap orang sudah terpenuhi. Jika menginginkan senjata, maka bisa dengan mudah mendapatkan bahan materialnya.


Adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan kultivator di tingkat Hyper Omega ke bawah. Mengenai mata uangnya, di Tiga Alam tidak menggunakan emas, melainkan menggunakan mata uang Batu Roh yang memiliki nilai terendah, dan tertinggi adalah mata uang Batu Mistik.


Tingkat di atas Divine Realm, jarang sekali yang menggunakan senjata untuk bertarung. Bagi setingkat mereka, energi adalah senjata yang lebih ampuh dan kuat selama masih memiliki energi.


Seperti halnya dengan Dewa Abadi, ia tidak lagi menggunakan senjata. Yang digunakan adalah kemampuan uniknya, yaitu Kekuatan Jiwa Semesta. Jika orang lain, mereka menggunakan kekuatan basis kultivasi.


Saat ini, Dewa Abadi dekat dengan wilayah Kasta Sudrah, wilayah paling pinggir dari pusat pemerintahan Dinasti Shandui. Karena tidak ingin kenyamanannya terganggu karena terkenal, ia menyamar sebagai seorang pria yang tidak terlalu menarik perhatian.


Tidak butuh waktu lama, dia menemukan rumah makan yang banyak pengunjungnya. Dia segera memesan sayuran kacang-kacangan untuk Bai Ge, dan untuknya sendiri seperti biasa, suka yang berdaging.


"Baik, Tuan!" jawab si pelayan yang segera membersihkan meja. Setelah itu ia menyiapkan pesanan.


Melihat kehidupan Kasta Sudrah, tidak jauh berbeda dengan kehidupan di tempat-tempat lainnya. Berbedanya di sini dan tempat lain, di sini setiap orang memiliki kekuatan di atas tingkat Dewa Sejati. Mereka bukan seperti seorang pengemis, kehidupan mereka bisa dikatakan makmur karena saking kayanya sumber daya alam di Planet Tiga Alam.


"Kehidupan di sini begitu damai, tempat yang nyaman untuk menikmati hidup! Apakah kamu ingin selamanya tinggal di sini?" Bai Ge membuka pembicaraan dengan suara lirih agar tidak menarik perhatian pengunjung rumah makan.


Dewa Abadi memang terlahir di Alam Kudus, tetapi setelah peristiwa buruk di masa lalu, ia menganggap tidak lagi memiliki tempat kelahirannya. Baginya, selama kaki menginjak tanah di tempat lain, di situlah tempatnya.


"Ada satu benua yang tidak dianggap oleh kultivator. Aku ingin menikmati hidup di sana!" jawab Dewa Abadi.


"Bumi?"


"Benar. Tapi nanti setelah aku kembali ke Alam Tianwu!" jawab Dewa Abadi yang memutuskan untuk menikmati hidup di Bumi.


"Apa enaknya di sana? Bukankah banyak tempat lain yang lebih indah dan makmur!" Bai Ge heran kenapa Dewa Abadi memilih Bumi sebagai tempat tinggal untuk selamanya.


"Aku ingin menonton kehidupan di sana yang saling berperang untuk mempertahankan keyakinannya. Banyak orang pintar tapi bodoh, banyak orang cerdas tapi picik, merasa suci tetapi sebenarnya biang kekotoran, dan masih banyak lagi yang membuatku ingin melihat drama mereka! Mereka sadar tapi tidak menyadari!" jelas Dewa Abadi sambil membuat lukisan di permukaan meja makan dengan jari telunjuk tangan kanan.


Bai Ge tertawa lirih karena sudah membayangkan apa yang akan dilihatnya nanti jika tinggal di Bumi. Membayangkan saja sudah membuatnya senang dengan kehidupan manusia di Bumi.


"Aku ingin tahu reaksi mereka jika kamu ada di sana. Apakah mereka bisa hidup tenang?" ucap Bai Ge yang tidak sabar ingin segera tinggal di Bumi, dia melihat lukisan energi di meja makan yang dibuat oleh Dewa Abadi.

__ADS_1


Karena pelayan rumah makan sedang menuju ke arahnya, Dewa Abadi mengetuk meja makan sehingga lukisan energi menghilang. Dua pelayan membawa pesanan, menatanya di meja makan.


"Silakan menikmati hidangan!"


Dewa Abadi memberikan tip kepada dua pelayan itu, empat Batu Roh. Dengan senang hati si pelayan menerimanya. Mereka segera meninggalkan Dewa Abadi yang akan menyantap hidangan.


Bai Ge dengan rakus menyantap sayuran kacang-kacangan, tidak peduli dengan tatapan mata setiap pengunjung yang melihatnya.


"Kau berasal dari mana, kenapa aku tidak pernah melihatmu di sini?" teguran seorang pria usia 25 tahun.


Dewa Abadi melirik pria itu yang bertubuh besar dan kekar, tinggi badan mencapai 190 cm, kekuatannya berada di Ranah Mahadewa tingkat Dewa Matahari.


Walaupun Dewa Abadi sudah menyamar, tetap saja mudah diketahui karena kebanyakan orang di Tiga Alam yang saling kenal. Karena jumlah penduduk di Tiga Alam tidak banyak, maka penghuninya dengan cepat saling mengenal.


Selain itu, setiap penduduknya memiliki simbol kasta sebagai identitas. Simbol itu terdapat di kening. Karena di kening sering kali tertutup rambut atau dengan sengaja disembunyikan, maka alternatif lainnya digunakan logo yang disematkan pada pakaian depan.


"Dari Alam Tianwu!" jawab Dewa Abadi singkat.


"Alam Tianwu, di mana itu? tanya pria itu yang tidak pernah mendengar tempat yang disebutkan oleh Dewa Abadi.


"Silakan duduk, aku akan ceritakan!" pinta Dewa Abadi dengan sopan.


Sayangnya, sikap baik Dewa Abadi tidak dihargai. Tanpa adanya persoalan, pria itu menendang meja makan hingga terbelah menjadi dua. Bai Ge terbang, lalu dari kedua matanya mengeluarkan petir yang melesat ke arah pria itu.


Boom...


Seketika tubuh pria itu hancur berkeping-keping terkena petir. Pengunjung rumah makan yang kaget segera berhamburan keluar rumah makan.


Saat teman pria itu akan menyerang Bai Ge, Dewa Abadi segera merubah wujud aslinya. Sontak mereka kaget dan segera berlutut, membenturkan keningnya di lantai.


"Ampun Dewa, maafkan atas kebodohan teman kami!" pinta salah satu orang yang lebih kuat dari temannya yang dibunuh oleh Bai Ge.


Dewa Abadi tersenyum tipis, lalu melemparkan kantong kain berisi dua ratus Batu Roh sebagai pembayaran dan ganti rugi, melemparkan ke pemilik rumah makan. Dia dan Bai Ge menghilang dari pandangan mata semua orang.


Mengetahui jika yang berkunjung adalah Dewa Binatang Yang Abadi, pemilik rumah makan dan banyak orang yang menyesal karena tidak menyambut kunjungan Dewa Abadi.


Dewa Abadi muncul di Daratan Pagoda Berlian, dia ingin berkultivasi sambil menunggu kedatangan musuhnya. Tapi, dia menghela nafas panjang karena melihat empat wanita muda sedang bertarung dengan empat pria.


Karena keempat pria itu adalah anak angkat dari Kasta Mahaguru, jelas keempat wanita itu bukan tandingannya. Bai Ge yang mengerti arti helaan nafas Dewa Abadi, segera bertindak dengan membuka paruhnya. Keluar empat serat petir yang melesat ke arah pria-pria itu.


Boom boom boom...


Rentetan ledakan energi yang berasal dari sambaran petir yang meledakkan tubuh keempat pria itu. Hu Yue Lian dan ketiga sahabatnya jelas kaget dan melihat Dewa Abadi dan Merpati Putih masuk ke dalam Pagoda Berlian berlantai 20.


"Gawat!" seruan Putri Lique yang akan terjadi sesuatu karena Bai Ge membunuh anak angkat dari Kasta Mahaguru.


Walaupun mereka bertarung, mereka tidak mungkin saling membunuh. Tetapi, jika keempat wanita itu tidak melawan, nasib mereka akan lebih mengerikan, sebab lawannya berniat untuk melakukan tindakan tak senonoh.

__ADS_1


__ADS_2