
Bab 147. Musuh Baru.
Dewa Binatang telah berada di luar Ibu Kota Kerajaan Datura, dia melihat ke langit karena merasakan energi spiritual dalam skala besar. Dia melihat tiga Taois membentuk Formasi segitiga.
Dewa Binatang tersenyum tipis karena tahu tujuan mereka, yang tidak lain sedang menyegel Benua Peliades agar dirinya tidak bisa kabur. Tiba-tiba senyumannya seketika lenyap, sebab dia melihat lima orang yang baru tiba di Bulan Nordic, mereka yang berasal dari The Living Tribunal Multiverse, 3 pria dan 2 wanita.
"Sangat kuat!" gumam Dewa Binatang.
Dia melihat lima orang itu yang menjadi tiga group, satu orang dimusuhi oleh empat orang, dan empat orang itu juga terlihat saling bermusuhan. Warna pakaian mereka juga berbeda-beda, satu orang berpakaian serba warna hitam, dua orang berpakaian warna biru, dan dua orang yang lain berpakaian warna putih.
Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa juga mengetahui kedatangan mereka. Kedua orang itu segera mendekati Taois Xian. Taois Chen dan Taois Lim juga buru-buru berkumpul dengan Taois Xian. Mereka melihat ke arah Bulan Nordic dengan kewaspadaan tinggi.
Tiga orang yang berasal dari The Living Tribunal Multiverse, mengeluarkan alat yang berbeda-beda bentuk; ada yang berbentuk bulat, segitiga dan kotak. Itu adalah alat khusus untuk melacak Artefak Alami.
Mereka berkomunikasi dengan telepati sehingga Dewa Binatang tidak mengetahuinya. Tidak berselang lama setelah memeriksa alat pelacak, mereka melihat ke arah Benua Peliades. Setelah itu mereka melihat Taois Xian yang berkumpul dengan orang-orang penting.
Tiba-tiba, suara Universe Lightning terdengar di benak Dewa Binatang, "The Living Tribunal Multiverse, nama lainnya adalah Galaksi Pengadilan Jagat Raya. Kakekmu berasal dari sana ... Di sana ada 3 dinasti, Dinasti Anwuzhi (Dark Matter), Dinasti Fandui (Anti), dan Dinasti Shandui. Ketiga dinasti itu memiliki anak turunan yang menyebar ke seluruh alam semesta, mereka adalah Tian, Yu, Zhi dan Guan...,"
Universe Lightning menjelaskan tentang penghuni Galaksi Pengadilan Jagat Raya. Dinasti Anwuzhi dari Suku Yao, Dinasti Fandui dari Suku Chen dan Dinasti Shandui dari Suku Hu. Setiap dinasti itu terbagi menjadi 4 kasta.
Tertinggi dan pertama adalah Kasta Mahaguru yang mengabdi pada urusan spritual dan ilmu pengetahuan. Kedua adalah Kasta Ksatria yang mengurusi seluruh dunia termasuk Maharaja, Kaisar, Raja dan tentara.
Ketiga adalah Kasta Bangsawan terbagi menjadi dua, Bangsawan Atas dan Bangsawan Bawah. Bangsawan Atas adalah orang ahli atau ilmuwan seperti Alkemis, Formasi Array, Formasi Array, pedagang dan lain sebagainya. Dan, Bangsawan Bawah adalah rakyat jelata.
Keempat adalah Kasta Sudrah, kasta ini adalah yang paling terendah daripada yang lainnya. Mereka adalah orang-orang buangan (tak diakui), pengemis, pemulung dan penjahat. Tetapi, bukan berarti mereka orang-orang lemah, mereka juga berkultivasi.
Di Kasta Sudrah, juga memiliki gelar seperti raja dan tentara. Mereka biasanya memiliki tugas khusus yang diharuskan keluar dari Galaksi Pengadilan Jagat Raya, dan umumnya tidak pernah kembali karena banyak penyebab, seperti tewas akibat bersinggungan dengan kultivator dari alam lain, dan The Lord Of Dark Matter berasal dari kasta ini.
Lima orang itu yang berasal dari Galaksi Pengadilan Jagat Raya, mereka berasal dari Kasta Bangsawan Atas dan berprofesi sebagai Pemburu Harta. Orang yang berpakaian hitam berasal dari Dinasti Anwuzhi, namanya Yao Shuo, kekuatannya berada di tingkat Holy Light Realm level 6.
__ADS_1
Dua orang berpakaian warna putih berasal dari Dinasti Fandui adalah Chen Yeon (wanita), kekuatannya berada di tingkat Holy Light Realm level 5. Dan rekannya bernama Chen Ying, kekuatan sedikit lebih rendah 1 level.
Dua orang yang berpakaian biru berasal dari Dinasti Shandui adalah Hu Weiheng, kekuatannya berada di tingkat Holy Light Realm level 5, dan rekannya yang kekuatannya lebih rendah 1 level adalah seorang wanita bernama Hu Yue Yan.
Akhirnya, Universe Lightning selesai berbicara. Dewa Binatang terdiam sambil kedua matanya terfokus pada mereka yang berasal dari Galaksi Pengadilan Jagat Raya. Dia tidak peduli dengan asal-usul kakeknya yang berasal dari Galaksi Pengadilan Jagat Raya, sebab ada rasa benci dihatinya.
"Tujuan mereka, kamu sudah pasti tahu. Saran Guru, jika tidak mampu mempertahankan Pagoda Berlian, lebih baik serahkan saja. Saat ini, kamu belum waktunya berseteru dengan mereka!" peringatan Universe Lightning yang terdengar di benak Dewa Binatang.
Dewa Binatang mengepalkan kedua tangannya karena bertekad untuk tetap mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya, walaupun tahu dirinya saat ini masih lemah dan tidak mungkin melawan mereka.
"Setidaknya mereka harus berusaha terlebih dahulu sebelum saya secara terpaksa memberikan Pagoda Berlian!" tekad Dewa Binatang, namun tidak ada balasan dari gurunya.
Segera Dewa Binatang menghilang dan muncul di dalam Dunia Jiwanya. Dia akan kembali beraksi memburu Dewa ketika malam tiba...
Setelah mengetahui lokasi Pagoda Berlian, Chen Yeon berbicara kepada Yao Shuo, "sesuai dengan perjanjian, Pagoda Berlian dipergunakan secara adil sesuai dengan kesepakatan pemimpin kita. Untuk saat ini, kita buang segala perselisihan!"
"Terserah! Aku hanya mematuhi perintah beliau!" sahut Yao Shou tanpa melihat Chen Yeon, tetap melihat ke arah Benua Peliades.
Taois Xian sedikit terkejut, tetapi dirinya tetap tenang menghadapi orang yang kuat. Walaupun tidak pernah singgah di Galaksi Pengadilan Jagat Raya, dia tahu jika Yao Shuo bukan berasal dari Alam Kudus.
"Siapa yang membawa Pagoda Berlian?" selidik Yao Shuo, kedua matanya menatap tajam ke arah Taois Xian.
"Kalau boleh tahu, siapa nama Anda?" selidik Taois Xian dengan nada sopan.
"Tidak perlu tahu siapa aku! Sekali lagi, siapa yang membawanya?" jawab Yao Shuo dengan nada ketus dan kembali bertanya, dia sedikit mengeluarkan aura kekuatannya dengan maksud mengintimidasi lawan bicaranya.
Tiga Taois, Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, tubuh mereka gemetaran karena menahan aura kekuatan dari Yao Shuo. Mereka tidak menyangka sosok pria paruh baya ini memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat.
Setelah Yao Shuo menarik aura kekuatannya, Taois Xian dan yang lainnya baru bisa bernafas lega, namun tidak berani membuang nafas secara sembarang.
__ADS_1
"Dewa Binatang yang membawa Pagoda Berlian, bocah itu di dalam Hutan Kematian. Saat ini, dia sudah terkepung!" ungkap Taois Xian sambil menunjuk ke arah Benua Peliades.
Yao Shuo mengikuti jari telunjuk dari Taois Xian, dia tersenyum tipis melihat Benua Peliades disegel dengan energi spiritual, lalu dia mencemooh ketiga Taois itu, "Formasi Array masih berlaku di alam ini? Jika di tempatku, keahlian ini khusus untuk anak-anak yang baru berkultivasi!"
Setelah mencemooh, Yao Shuo buru-buru melesat ke arah Benua Peliades karena rivalnya telah berada di sana. Setelah melewati atmosfer, dia tersenyum tipis karena merasakan aura familiar yang berasal dari golongannya.
Ketiga Taois menahan amarahnya karena dihina oleh Yao Shuo. Sedangkan Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa hanya bisa menghela nafas berat karena tidak menyangka ada sosok yang lebih kuat dari utusan Kuil Alam Kudus. Kedatangan Yao Shuo dan rombongannya membuka mata mereka, bahwa di atas langit masih ada langit.
Taois Xian dan rombongannya terkejut karena tidak melihat kelima pendatang baru itu, seolah-olah mereka memiliki kemampuan berkamuflase. Mata Dewa yang dimilikinya juga tidak mampu melacak keberadaan mereka.
"Pagoda Berlian ... Lebih baik tarik semua pasukan agar tidak bersinggungan dengan mereka. Kita awasi mereka dari Bulan Nordic!" perintah Taois Xian yang tidak ingin berurusan dengan kelima pendatang baru itu.
Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa segera berkomunikasi telepati dengan bawahannya agar keluar dari Benua Peliades. Demikian juga dengan Dewa Petarung dan Dewa Pemusnah, mereka segera mundur setelah diperintahkan oleh Taois Lim.
Mereka berkumpul di Bulan Nordic. Dewa Petarung segera protes keras, dia tidak terima karena belum mengalahkan Dewa Binatang.
Dewa Amarah juga protes karena sahabatnya si Dewa Kemalasan telah dibunuh oleh Dewa Binatang. Namun, Taois Chen segera menjelaskan perihal kedatangan pendatang baru. Mengetahui jika ada orang yang lebih kuat sedang memburu musuhnya, seketika raut wajah mereka berganti menjadi riang.
Namun, berbeda dengan Dewi Aura, ia terlihat muram karena muridnya si Dewi Pesona telah terbunuh, dan tahu siapa pelakunya...
...****************...
Dewa Binatang berada di depan Pagoda Berlian, yang mana saat ini sudah dimanfaatkan oleh istrinya untuk berkultivasi. Semua istrinya telah masuk ke dalam Pagoda Berlian, naik ke lantai secara bertahap untuk menyesuaikan kekuatannya.
"Holy Light Realm... Sangat kuat!" gumam Dewa Binatang yang menginginkan tingkatan itu, tingkatan yang membutuhkan waktu lama untuk mencapainya.
Kehadirannya tidak diketahui oleh siapapun karena masih berubah menjadi udara. Dia segera masuk ke dalam Pagoda Berlian, masuk dari pintu paling dasar.
Ketika baru saja masuk, dia terkejut karena berada di tempat lain, seperti berada di dunia yang sangat luas, jauh berbeda ketika dilihat dari luar. Uniknya, tempat ini seperti anak tangga berukuran raksasa yang bertingkat-tingkat. Setiap anak tangga mampu dihuni oleh jutaan jiwa. Untuk naik ke lantai berikutnya, maka harus melewati setiap anak tangga yang jumlahnya ada 20.
__ADS_1
Saat ini, Dewa Binatang tersenyum melihat rakyatnya juga ikut berkultivasi. Tidak ingin menganggu mereka, dia terbang agar lebih cepat mencapai ujung lantai pertama.
Akan tetapi, tubuhnya menjadi sangat berat sehingga gagal untuk terbang. Dia menepuk keningnya sendiri karena lupa bahwa di tempat ini tidak bisa terbang. Jadi, mau tidak mau, dia harus berjalan atau lari agar segera tiba di ujung lantai pertama.