
Bab 47. Menyembuhkan Putri Hua.
Setelah Putri Hua tenang karena Dewa Binatang tidak berniat buruk. Mereka berdua duduk di tanah beralaskan tikar, jarak mereka terpaut satu meter. Kedua mata mereka saling berpandangan untuk menyelidiki.
Dewa Binatang tidak segera membuka pembicaraan dengan tujuan agar Putri Hua yang berbicara terlebih dahulu.
"Apa benar yang kamu katakan?" akhirnya Putri Hua angkat bicara setelah berpikir tentang semua perkataan Dewa Binatang.
"Iya, aku bisa menyembuhkan lukamu itu. Kamu juga bisa mencari tahu tentang informasi terkini Suku Pohon. Tapi, untuk menyembuhkan lukamu... Rekan-rekanku harus kamu lepaskan, dan semua Suku Angin harus bersatu dengan Suku Pohon, minimal membentuk aliansi!" jawab Dewa Binatang dengan menjelaskan tujuannya.
Memang tidak mudah mempersatukan seluruh penghuni Mysterious Land, dia membutuhkan bukti nyata dengan menunjukkan kemampuan serta dukungan dari Suku Pohon. Jika Bangsa Elves bersatu, maka jalan selanjutnya akan mudah dilalui, yaitu mempersatukan Ras Naga, Ras Giant dan yang lainnya.
Kata-kata membentuk aliansi, membuat Putri Hua sedikit mempercayai ucapannya karena Suku Pohon baik-baik saja. Dia tidak segera berbicara untuk berpikir.
Dewa Binatang mengeluarkan kemampuannya, kemampuan dalam hal membaca pikiran. Dia memeriksa kenangan Putri Hua.
Dan, nasib Suku Angin lebih buruk daripada Suku Pohon. Sebelum kedatangannya di Mysterious Land, Demon Rabbit Mythical telah memporak-porandakan hunian Suku Angin. Selama ini, Suku Angin yang mengetahui persembunyiannya si Mulut Besar, dan mereka menjaga pintu masuknya dengan tujuan untuk tidak membuat kekacauan.
Suku Angin sengaja tidak membicarakan hal ini kepada siapapun, karena merekalah yang menciptakan Demon Rabbit Mythical. Persilangan antara kelinci dan darah dari Ras Giant. Dan tujuan mereka untuk menciptakan monster sebagai penjaga sukunya.
Sayangnya, hasilnya di luar ekspektasi. Darah kelinci dan Ras Giant menjadikan binatang monster yang memiliki kecerdasan. Seringkali mereka kecolongan ketika salah satu Demon Rabbit Mythical keluar dari persembunyiannya dan membuat kekacauan.
Luka yang diderita oleh Putri Hua akibat serangan Demon Rabbit Mythical. Waktu itu dia dan semua Suku Angin bertarung dengan Demon Rabbit Mythical dan bersusah payah membuat binatang monster itu masuk ke dalam persembunyiannya.
Tidak hanya Putri Hua yang terluka, banyak Suku Angin yang juga terluka. Hingga kini, mereka kesulitan untuk menanggani luka beracun. Banyak Suku Angin yang meninggal dunia setelah satu tahun bertahan, jika lebih dari itu di anggap beruntung. Rasa putus asa sudah menghinggapi pikiran Suku Angin.
Sedangkan Kepala Suku Angin yang merupakan ayah dari Putri Hua mengalami hal yang sama, kini dalam keadaan kritis. Selama itu, seluruh Suku Angin menutup rapat-rapat masalah ini.
Dan, kebetulan mereka melihat kedatangan kapal Interstellar. Rasa putus asa menghilang dan berganti harapan besar. Mereka pernah mendengar jika Planet Nibiru memiliki Elixir Penyembuh tingkat Saint. Oleh karena itu, Suku Angin memburu Evilyn.
"Zaman selalu berulang. Ciptaannya sendiri yang membuat kehancuran! Konyolnya lagi, tidak ada perubahan. Setiap kehidupan akan melakukan kebodohan yang sama!" cemoohan Dewa Binatang terhadap kecerdasan manusia dan ras lainnya.
"Apa maksudmu?" tanya Putri Hua yang merasa tersindir.
"Bisa berkembang biak itu sudah merupakan hal yang luar biasa. Buat apa menciptakan sesuatu yang pada akhirnya di luar kendali dan ekspektasi! Tujuan semua kehidupan adalah bertahan hidup... bisa makan, minum, tertawa melihat keturunannya...! Alam sudah menyediakan apapun untuk kita, buat apa mencari masalah yang sulit dihadapi?" teguran Dewa Binatang yang tertuju kepada Suku Angin dan ras lainnya.
__ADS_1
Kata ciptaan menyadarkan Putri Hua, dia tertunduk lesu karena tahu kesalahan Suku Angin. Dia pikir rahasia Suku Angin sudah diketahui oleh Suku Pohon.
"Semua sudah terjadi... Kita tidak tahu harus bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini! Si Mulut Besar berkembang biak dengan cepat, untung saja mereka terkurung!" ungkap Putri Hua.
Dewa Binatang tertawa ringan karena kekonyolan Suku Angin, bisa menciptakan sesuatu yang berbahaya tapi tidak bisa mengatasinya. Tiba-tiba terbersit di pikirannya untuk menjadikan Demon Rabbit Mythical sebagai pasukan melawan invasi.
"Tidak ada yang namanya jalan buntu ketika pikiran jernih...!" kata Dewa Binatang.
Putri Hua segera menatap wajahnya, dia seperti melihat harapan besar di kedua matanya. Nalurinya berkata bahwa pria ini bukanlah orang biasa, jika orang biasa tidak mungkin Dao Li Xia menikahinya dan menjadi Kepala Suku Pohon.
"Cermin Kebenaran... Pasti telah memberikan petunjuk kepada Suku Pohon, apakah benar?" tanya Putri Hua dengan penuh semangat.
Dewa Binatang mengangguk sebagai jawaban. Lalu dia bercerita kembali, dari awal mula bisa berada di Mysterious Land hingga menjadi Kepala Suku Pohon. Tapi, dia tidak mengatakan telah bertemu dengan penjaga Istana Surga dan Negeri Atas Awan.
Mengetahui jika Cermin Kebenaran memberikan petunjuk dan kemampuan Dewa Binatang saat mengalahkan Demon Rabbit Mythical seorang diri, membuat hati Putri Hua makin memiliki harapan besar.
"... Saat ini, siapa yang mewakili Kepala Suku Angin selama beliau terluka?" tanya Dewa Binatang setelah bercerita, cerita yang membosankan karena sering diceritakan.
Sebenarnya dia sudah tahu, sengaja bertanya agar Putri Hua secara pribadi berbicara. Setelah membaca kenangan wanita cantik ini, Putri Hua memang memegang kepemimpinan sementara Kepala Suku Angin.
"Aku, tapi hanya sementara. Tolong, selamatkan Suku Angin dari masalah ini!" jawab Putri Hua yang tiba-tiba bersujud dengan kepalanya di benturkan ke tanah.
"Suku Angin dan Suku Pohon adalah saudara, sudah sepatutnya aku sebagai Kepala Suku Pohon membantu kalian. Sekarang, kita tangani masalah ini satu per satu. Di mulai dari menyembuhkan lukamu dan yang lainnya," kata Dewa Binatang.
Putri Hua mengangguk berulang-ulang sebagai respon, terlihat kedua matanya akan mengeluarkan air mata bahagia. Dewa Binatang melihatnya, dia menghela nafas panjang. Awalnya ingin menemukan jiwa kakaknya, tapi tidak pernah terbesit di pikiran untuk menjadi penguasa Mysterious Land.
"Anggap saja ini tugas sebelum mendapatkan keinginanku!" batin Dewa Binatang.
Sebagai seorang Dewa, dia bisa melakukan apapun. Tetapi, dia tidak bisa melawan kehendak Alam Semesta yang menginginkannya harus seperti ini. Jadi, dia hanya mengikuti apa yang menjadi skenario yang harus diperankannya.
Melihat Putri Hua yang kesulitan untuk berbicara, Dewa Binatang berkata, "balikkan badan dan perlihatkan lukamu, aku perlu memeriksa lukamu!"
Putri Hua segera membalikkan badan. Kemudian, sebelum melepaskan pakaian bagian atas, dia berpikir sejenak.
"Dia sudah melihat tubuhku yang seharusnya ini adalah hak suami... ku!" batinnya.
__ADS_1
Putri Hua masih perawan. Menurut aturan Suku Angin dan lainnya, siapapun pria yang sengaja atau tidak melihat tubuh wanita, maka diharuskan bertanggung jawab menikahi si wanita. Berhubungan kejadian ini tidak disengaja, serta tujuan Dewa Binatang yang ingin menyelesaikan masalah Suku Angin, dia tidak mengungkapkan aturan ini.
Dia akhirnya melepaskan pakaian bagian atas dan memperlihatkan bahunya yang terluka. Dewa Binatang bergeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Putri Hua.
"Lukamu ini mudah disembuhkan dengan Pil Penyembuh atau Elixir. Tapi sebelum itu, luka ini perlu dibersihkan agar tidak menginfeksi syaraf jaringan darah. Baru setelah itu, obat penyembuh bisa dimaksimalkan," kata Dewa Binatang.
Baginya, luka beracun ini bukanlah sesuatu yang menyulitkannya sebagai seorang ahli Alkemis tingkat tinggi. Kemudian, dia menotok bagian tubuh di luar luka Putri Hua.
Seketika Putri Hua pingsan. Sebelum tubuhnya ambruk ke belakang, Dewa Binatang menahan tubuhnya dengan tangan kanan. Kemudian, jari telunjuk tangan kiri menyentuh bagian tengah luka cakaran Demon Rabbit Mythical.
Perlahan, asap hitam keluar dari luka tersebut dan darah hitam yang merupakan racun memasuki jari telunjuknya. Dewa Binatang menyerap racun yang bermanfaat karena memiliki elemen racun.
Jika dia tidak menotok tubuh Putri Hua, bisa jadi proses penyembuhan ini membuatnya kesakitan saat racun diserap. Setelah semua racun menghilang dari tubuh Putri Hua, Dewa Binatang memasukkan Pil Penyembuh ke dalam mulut Putri Hua.
Perlahan luka cakaran itu mulai menutup. Tidak berselang lama, bahu Putri Hua kembali seperti semula, putih dan halus kulitnya. Dewa Binatang membuka kunci totokan.
Putri Hua membuka mata, dan melihat lukanya telah menghilang dan tidak lagi merasa siksaan yang telah dialaminya selama ini. Dia tidak tahu bagaimana caranya Dewa Binatang membuat keajaiban ini.
Segera dia membalikkan badan dan memeluk erat tubuh Dewa Binatang. Dia melupakan diri, di mana tubuhnya yang belum mengenakan pakaian lagi sehingga dadanya menempel.
"Terima kasih... Terima kasih!" ucap Putri Hua sambil meneteskan air mata bahagia.
"Hal sepele. Tubuhmu hangat dan ...!" jawab Dewa Binatang.
Spontan Putri Hua melepaskan pelukannya dengan membalikkan badan lagi. Dia sangat malu dengan diri sendiri yang bertindak berlebihan. Segera dia membenahi pakaiannya.
Setelah menarik napas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan untuk menenangkan hati dan pikiran, dia membalikkan badan dan melihat Dewa Binatang yang tersenyum.
"Aku sebagai wakil... Maksudku, sebagai pemimpin sementara Kepala Suku Angin, siap menerima perintah dari Kepala Suku Pohon. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Putri Hua yang nada bicaranya berubah tegas.
Dewa Binatang tertawa sambil mencolek hidung Putri Hua. Karena malu, Putri Hua menyentuh hidungnya yang dicolek sambil memalingkan wajahnya.
"Biasa saja. Aku lebih suka dengan sikap aslimu seperti tadi," ucap Dewa Binatang yang suka dengan sikap sewajarnya, lalu berbicara kembali, "perintahkan anak buahmu untuk melepaskan rekan-rekanku. Setelah itu, baru aku menyembuhkan yang terluka. Anggap saja apa yang baru kamu alami sebagai bukti niat baikku!'
Karena masih malu-malu, Putri Hua mengangguk sebagai jawaban. Segera dia keluar dari tendanya. Sebelum keluar, dia melihat diri, khawatir pakaiannya kurang rapi.
__ADS_1
"Tolong tunggu di sini!" pinta Putri Hua dan di anggukan oleh Dewa Binatang.
Sebelum Putri Hua keluar dari tenda, Dewa Binatang menghilangkan Domain energinya yang menutupi tenda. Kemudian, Putri Hua keluar tanpa tahu tentang domain energi.