
Bab 184. Teguran Dari God Of Partikel.
Melihat kondisi Gongsun Ling berangsur-angsur membaik, Dewa Abadi merenungkan kembali perbuatannya, dan mata batinnya selalu memperhatikan kondisi istrinya yang belum sadarkan diri.
Tanpa disadari oleh Dewa Abadi, tubuh kesadaran seorang pria tua duduk di sisi kanannya. Pria tua itu adalah Tian Ba si God Of Partikel, dia tersenyum melihat cucunya.
"Dengan kemarahan, apakah rasa benci bisa dihilangkan?" Tian Ba membuka pembicaraan dengan memberikan teguran halus.
Dewa Abadi yang mendengar suara kakeknya, tidak membuka matanya, tetap duduk bersila dan mata batinnya selalu memperhatikan istrinya. Tetapi, dia memahami implikasi dari perkataan kakeknya ini.
"Ya, mungkin itu hanyalah sesaat ... Tetapi, dampak dari kemarahan, rasa benci, dendam, dan apapun namanya yang menyebabkan kerusakan, sudah pasti merugikan orang lain dan diri sendiri...," Tian Ba kembali menegur cucunya, dia berhenti berbicara agar ucapannya ditelaah.
"Kakek tahu apa yang kamu rasakan... Kehilangan orang yang dikasihi memang menyesakkan dada. Tetapi, justru mereka menghendaki kamu menjadi seperti ini. Berpikirlah dengan jernih dan jangan terpancing menjadi alat mereka!" lanjutnya.
Dewa Abadi memikirkan perkataan kakeknya. Setelah dipikir-pikir lagi, perbuatan dalam beberapa hari ini telah banyak membunuh orang yang tidak bersalah. Mengingat ketika berada di Alam Tianwu, dia telah diwanti-wanti oleh Kitab Suci agar sebanyak mungkin untuk menyelamatkan kehidupan, agar energi kehidupan setelah kematian tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang membuat kekacauan ini.
Dan tindakannya, justru menguntungkan mereka yang menggunakan tangannya sendiri sebagai mesin pembunuh.
"Masih banyak cara untuk meluapkan kemarahan, salah satunya membuat keinginan mereka tak terwujud. Kita memang sebuah bidak catur di dalam kehidupan, tetapi bukan berarti sebuah bidak tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya sebagai tameng saja. Contohnya sebuah pion, langkahnya pendek, berjalan lurus, dan berada di garis depan...," Tian Ba memberikan ilustrasi kehidupan dengan tujuan cucunya lebih memahami keinginan lawannya, dia berhenti berbicara karena merasakan banyak orang dari tiga penjuru mata angin sedang mendekat.
Dewa Abadi juga merasakan banyak orang yang mendekati lokasinya, namun dia tidak peduli maupun takut. Dia memikirkan banyak hal setelah kakeknya memberikan teguran.
"Dengan langkah cerdas, sebuah pion akan menjadi pemenang digaris akhir. Tak berharga diawal, tetapi menjadi superior diakhiri perjalanannya, bahkan melebihi ratu. Cucuku, yang harus kamu ingat, jadilah raja di dalam permainan catur di kehidupan ini. Ratu catur langkahnya panjang dan bergerak bebas, tapi dia tunduk kepada raja yang langkahnya seperti pion. Renungkan lah!"
Setelah Tian Ba si God Of Partikel memberikan teguran terakhir, dia membelai lembut punggung cucunya. Kemudian, tubuh kesadarannya menghilang seperti tertiup angin.
Dewa Abadi menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan, lalu membuka matanya. Dengan teguran dari kakeknya, dia mendapatkan pencerahan untuk mengahadapi musuhnya.
Keinginan musuhnya, dia diharapkan secepat mungkin untuk membunuh banyak kehidupan dengan memancing kemarahannya. Jika mengikuti keinginan mereka, dirinya adalah orang pertama yang akan dicap sebagai otak segala kejahatan. Sedangkan mereka yang memanfaatkannya, lepas dari segala kejahatan di alam semesta ini.
Kemudian, Dewa Abadi mengetuk udara di depannya. Dari ketukan itu mengeluarkan gelombang energi lembut yang menyebar ke seluruh wilayah Kerajaan Timur dengan kecepatan cahaya. Tiba-tiba, semua orang yang terbunuh perlahan hidup kembali setelah terkena gelombang energi lembut.
Setelah semua orang yang terbunuh hidup kembali, mereka terlihat kebingungan, melihat sekitarnya dan banyak orang yang juga kebingungan dengan keadaannya saat ini.
__ADS_1
Dewa Abadi mampu membangkitkan mereka karena memiliki Batu Keabadian, yaitu Third Eye Stone. Efek dari batu ini akan membuat orang yang dibangkitkan kehilangan ingatan secara permanen. Namun, masih bisa dipulihkan kembali dengan menggunakan kemampuan dari Throat Stone.
Semua orang bisa dibangkitkan oleh Dewa Abadi karena belum mati lebih dari tujuh hari. Jika lebih dari itu, mereka yang dibangkitkan seperti halnya mayat hidup. Kemampuan dari Batu Keabadian bisa digunakan walaupun berada di domain Formasi Alami, bisa digunakan karena sama-sama terlahir secara alami.
Saat ini, semua orang yang hidup kembali seperti bayi baru dilahirkan, kebingungan harus berbuat apa, pikiran suci tanpa adanya keegoisan di hati. Yang mereka rasakan saat ini adalah rasa lapar dan haus. Naluri untuk bertahan hidup membimbing mereka untuk memenuhi kebutuhannya.
Dewa Abadi melihat mereka, dia berbaur dengan semua orang yang mencari makanan, tetapi dia hanya sekedar mengikuti dengan maksud mempelajari kehidupan baru.
Ratu Mu Yu Huang, Ratu Juan Rong, Ratu Da Xia, para pahlawan dan banyak orang penting tercengang melihat wilayah Kerajaan Timur menjadi kawah seluas lautan. Mereka juga melihat banyak orang yang berlarian ke segala arah untuk mencari makanan dan air minum.
Ketiga ratu memerintahkan kepada para pahlawan dan pasukan untuk mencari keberadaan Ratu Gongsun Ling beserta yang lainnya, dan juga memerintahkan untuk mencari keberadaan orang yang menjadi penyebab kekacauan ini. Mereka juga memerintahkan kepada pasukannya untuk memberikan makanan kepada orang-orang yang tampak kelaparan.
Dewa Abadi duduk di bawah pohon rindang dengan bersandar di batangnya, dia melihat ketiga ratu Dunia Roh. Dia tersenyum tipis melihat ketiga ratu itu yang ternyata juga istrinya, kondisi mereka sama seperti Gongsun Ling, hilang ingatan.
Beberapa prajurit melihat Dewa Abadi yang sedang duduk melamun, mereka mengabaikannya karena dianggap seperti orang-orang yang baru dihidupkan.
"Apa yang harus kamu lakukan kepada mereka? Membunuhnya agar bisa keluar dari sini atau tidak?" tanya Yuna Aurora yang melihat apapun diluar Dunia Jiwa.
"Seandainya aku membunuh mereka, apakah benar kita bisa keluar dari sini?" tanya balik Dewa Abadi kepada semua istrinya.
"Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, musuh yang kita dikalahkan adalah mahkluk Rasi Bintang. Untuk menemukan mahkluk itu, peta yang kamu dapatkan itu bisa jadi memiliki petunjuk. Kedua, kita harus bisa berpikiran dua atau tiga langkah kedepan dari mereka!" interupsi dari Tian Lihua.
Mereka yang dimaksud oleh Tian Lihua adalah orang-orang di Alam Kudus. Dewa Abadi mengeluarkan peta milik perampok, dia mempelajari titik yang diberi tanda. Mengingat adanya binatang mutan yang seharusnya tidak ada di Dunia Roh, itu menandakan bahwa mahkluk Rasi Bintang bersembunyi di dunia ini.
"Suami, dunia ini tidaklah buruk-buruk amat, apa salahnya lebih lama berada di sini? Jika kamu tidak membunuh ketiga saudari kita itu, kamu harus membantu mereka agar kembali mengingat masa lalunya," kata Dao Li Xia agar suaminya bisa menikmati hidup selayak manusia normal, bukan sebagai seorang Dewa.
Dewa Abadi menghela nafas panjang karena tahu keinginan istrinya ini, dia menyimpan peta sambil melihat ketiga istrinya yang duduk di punggung binatang. MU Yu Huang duduk di punggung Elang Emas, Juan Rong duduk di punggung Macan Putih, sedangkan Da Xia duduk di punggung Rubah Ekor Sembilan.
Dewa Abadi melihat tiga pahlawan yang hidup kembali sedang diintrogasi oleh ketiga ratu itu. Mereka tampak kebingungan dengan semua pertanyaan yang dilontarkan, mereka benar-benar hilang ingatan.
"Apa yang terjadi ini sungguh aneh!" kata Ratu Juan Rong.
"Mungkin mereka amnesia sementara setelah terkena aura kekuatan!" tebakan Ratu Mu Yu Huang.
__ADS_1
Ratu Da Xia melihat ke ajudannya, lalu memberikan perintah, "rawat mereka sebagaimana mestinya!"
Albert dan kedua rekannya segera dibawa oleh ajudan Ratu Da Xia. Kemudian, Ratu Mu Yu Huang mengendalikan Elang Emas agar terbang. Ketika berada di udara, ia sekali lagi melihat sekitarnya. Tidak berselang lama, kedua matanya mengunci seorang pria yang penampilannya bukan berasal dari Dunia Roh.
Elang Emas melesat ke arah Dewa Abadi setelah diperintahkan oleh Ratu Mu Yu Huang. Ratu Da Xia dan Juan Rong menyusulnya. Sembilan pahlawan segera menyusul pemimpinnya.
Dewa Abadi melihat kedatangan ketiga istrinya itu, namun dia bersikap seolah-olah tidak kenal maupun panik. Tetap duduk bersandar di batang pohon. Ketiga istrinya melayang di udara, terpaut jarak 20 meter.
Sistem Kultivasi yang dimiliki oleh para pahlawan segera memberikan suara peringatan bahaya.
[Bahaya... Bahaya! Segera menjauh!
Para pahlawan segera bertanya kepada Sistem Kultivasi mengenai identitas diri dari Dewa Abadi. Akan tetapi, Sistem Kultivasi tiba-tiba menjadi kacau dengan memberikan jawaban yang tidak pasti. Sistem Kultivasi gagal mengidentifikasi siapa Dewa Abadi dan maupun kemampuannya.
Kegagalan Sistem Kultivasi membuat para pahlawan kebingungan karena ini baru pertama kali terjadi semenjak memilikinya.
Para pahlawan segera memberitahukan kepada pemimpinnya bahwa orang yang bersandar di batang pohon sangat berbahaya. Namun, ketiga pemimpinnya menghiraukan peringatan, justru mereka turun dari punggung binatang tunggangannya.
Dengan panik, kesembilan pahlawan itu buru-buru mendahului pemimpinnya dengan maksud memberikan perlindungan.
Salah satu dari para pahlawan berbicara kepada Dewa Abadi dengan nada tinggi, dia bernama Nicolas, "kenapa kau tidak berdiri menyambut Ratu kami?"
"Menyambut Ratu? Memangnya siapa dia? Orang hebat, kuat, kaya raya, berwawasan luas, berpenampilan cantik, status sosial tertinggi melebihi siapapun? Jika iya, mereka sekecil debu di luasnya Alam Semesta ini! Mereka tidak layak untuk dihormati maupun disambut. Alam Semesta tidak menilai itu semua!" sahut Dewa Abadi dengan nada ketus namun tegas.
Ucapannya membuat para pahlawan dan ketiga ratu itu berpikir. Kata-kata, Alam Semesta tidak menilai itu semua, memiliki banyak makna. Ada perasaan kecil di hati mereka.
Dewa Abadi berdiri, lalu berjalan ke arah Desa Persik. Gerakannya seperti angin yang dalam sekejap menghilang dari hadapan. Ketiga ratu itu segera naik ke atas panggung tunggangannya, mereka menyusul Dewa Abadi yang penuh misteri, mereka belum tahu jika Dewa Abadi adalah suaminya.
Para pahlawan dan banyak prajurit kerajaan menyusul ketiga ratunya dengan tergesa-gesa karena khawatir dengan keselamatan pemimpinnya.
Namun, secepat apapun mereka menyusul Dewa Abadi, tetap saja tidak melihat punggungnya. Mereka pun menebak-nebak jika Dewa Abadi adalah orang yang menjadi penyebab kehancuran Kerajaan Timur.
Yang tidak diketahui oleh mereka, Dewa Abadi tidak menuju ke Desa Persik, melainkan menuju ke titik bertanda lingkaran disilang yang kedua, dia berharap mendapatkan petunjuk keberadaan mahkluk Rasi Bintang.
__ADS_1