God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Lawan Yang Cerdas.


__ADS_3

Bab 234. Lawan Yang Cerdas.


Semua orang penting keheranan melihat Pagoda Berlian 5 lantai yang aneh. Setelah disegel, Cahaya benderang dari pagoda 5 lantai menghilang, dan tidak terjadi sesuatu apapun.


Mahaguru Lu dan Mahaguru Sam mencoba untuk membuka pintu pagoda. Dan, mereka bisa membukanya tanpa kesulitan. Mereka buru-buru memeriksa semua lantai.


"Ada apa ini?" tanya Dewa Abadi kepada Putri Jiyan.


Putri Jiyan dan ketiga sahabatnya jelas kaget. Mereka segera membalikkan badan dan melihat Dewa Abadi yang tidak lagi berwajah pucat, wajahnya kali ini ceria dan dipenuhi dengan semangat.


"Pagoda ini tadi mengeluarkan cahaya benderang yang menyilaukan mata! Apakah Anda baik-baik saja?" jawab Putri Jiyan dan bertanya balik.


Dewa Abadi mengangguk sebagai jawaban. Dia memikirkan Pagoda Berlian 5 lantai yang mengeluarkan cahaya, dia menebak jika ini karena Mahatma yang mengambil Buah Ling.


"Apakah kalian mengetahui tentang Mahatma?" tanya Dewa Abadi yang penasaran dengan sosok wanita muda itu.


"Putri Mahatma adalah anak dari Yang Mulia Dewa Pencipta. Dia dilahirkan secara tidak sengaja. Konon ceritanya...," Putri Lique dengan senang hati menceritakan sejarah terlahirnya Mahatma.


Nama sebenarnya adalah Maha Atma - Jiwa Agung, terlahir secara tidak sengaja ketika Dewa Pencipta menciptakan lima Pagoda Berlian. Keunikannya, mampu menciptakan apapun yang mengandung energi jiwa.


Semenjak terlahir di dunia, Putri Mahatma sudah bisa berjalan, berbicara dan berpikir layaknya orang dewasa. Dia melihat Dewa Pencipta sebagai ayahnya. Lalu meminta untuk tinggal selamanya di dalam Pagoda Berlian.


Semenjak itu, Dewa Pencipta memilih dua orang yang dikhususkan untuk merawat Mahatma putrinya, kedua orang itu tidak lain adalah Mahaguru Lu dan Mahaguru Sam.


Selain Dewa Pencipta, yang bisa berkomunikasi dengan Putri Mahatma adalah Mahaguru Lu dan Mahaguru Sam, selain mereka tidak ada seorangpun yang bisa menemui Putri Mahatma.


"... Kita tidak ada yang tahu seperti apa wajah Putri Mahatma. Menurut keterangan dari Mahaguru Lu, wajahnya cantik, yang melihatnya pasti akan terpesona dan terbius. Saya sendiri ingin menemui dan bersahabat dengannya, tetapi masuk saja tidak boleh apalagi berteman!"


Panjang lebar Putri Lique bercerita. Diakhir ceritanya, membuat Dewa Abadi tersenyum karena dia sudah bertemu dengan Putri Mahatma. Sayangnya diusir setelah mendapatkan Buah Ling.


Seandainya tahu jika Putri Mahatma mampu menciptakan segala jenis energi jiwa, jelas dia akan berusaha untuk merayu putri dari Dewa Pencipta.


Semua orang yang berada di Planet Tiga Alam termasuk Dewa Abadi, tidak tahu bahwa Putri Mahatma terlahir karena Dewa Pencipta memikirkan tentang Dewi Alam Semesta.


(nama lain dari Dewi Alam Semesta adalah Dewa Segala Alam Semesta).


Menurut catatan sejarah masa lalu, Dewi Alam Semesta adalah murid dari Dewa Pencipta yang sangat berbakat. Sedangkan Dewa Perusak adalah adik dari Dewa Pencipta, dan menjadi murid dari Dewa Pemelihara.


Karena bakat Dewi Alam Semesta, kekuatan mampu menyusul Dewa Pencipta gurunya. Namun, karena ambisi yang salah jalan, akhirnya Dewi Alam Semesta disegel oleh Dewa Tertinggi di dalam kehampaan.


Sebagai seorang guru, Dewa Pencipta jelas kecewa dengan muridnya, ia selalu memikirkan muridnya ini sehingga tanpa sengaja lahirlah Putri Mahatma dari buah pemikirannya.

__ADS_1


Demikian juga dengan Dewa Pemelihara, dia juga kecewa karena Dewa Perusak muridnya berambisi untuk menjadi yang terkuat di seluruh Alam Jagat Raya. Untuk mencapai kekuatan tertinggi, Dewa Perusak harus memusnahkan semua alam agar energi kematian bisa digunakannya.


Pada akhirnya, waktu berulang, yang mana Dewa Tertinggi membuat lima Pagoda Berlian untuk menyegel Dewa Perusak. Hingga saat ini, Dewa Perusak tersegel di tengah lima Pagoda Berlian...


Setelah Putri Lique selesai bercerita, Dewa Abadi kembali melanjutkan tugasnya, yaitu mengaktifkan Formasi Kurungan yang sudah dibuat oleh banyak orang.


Melihat Dewa Abadi yang telah pulih sepenuhnya. Raja Chen dan Raja Hu mengikutinya, lalu disusul oleh Mahaguru Lu dan Mahaguru Sam. Keempat wanita muda itu yang telah jatuh cinta kepada Dewa Abadi, jelas tidak ingin jauh darinya.


Yang membuat Dewa Abadi dengan mudah dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan orang kuat, semuanya berasal dari energi Kekuatan Jiwanya, yang mana memberikan rasa damai, nyaman dan senang saat berdekatan dengan Dewa Abadi.


Dewa Abadi merampungkan tugas mengaktifkan Formasi Kurungan tanpa kelelahan. Semua itu karena Buah Ling yang masih terus mengisi dantian-nya.


Seperti yang dikatakan oleh Putri Mahatma, "Satu buah ini lebih dari cukup untuk mengisi penuh energi Kekuatan Jiwa Anda...,"


Yang dialami oleh Dewa Abadi, Buah Ling melebihi ekspektasinya, mampu terus mengisi dantian-nya sebelum energi Kekuatan Jiwanya berkurang saat digunakan.


"Seandainya Putri Mahatma menjadi istriku. Aku tidak lagi kebingungan akan kekurangan energi jiwa, dan tidak perlu lagi memiliki banyak istri untuk mengisi energi!" batin Dewa Abadi penuh harap.


"Jangan lupakan aku! Wanita di belakangmu juga menyukaimu, aneh jika kamu menolak mereka!" sahut Bai Ge yang mendengar batin Dewa Abadi, dia meliriknya dengan sinis karena mengabaikan kecantikan.


Dewa Abadi tertawa kecil, setelah itu dia berkata kepada Bai Ge dengan pikirannya, "aku ingin memiliki satu pasangan untuk selamanya, seperti Putri Mahatma!"


Perkataan Bai Ge membuat Dewa Abadi tertawa keras sehingga mengejutkan semua orang yang sedang berjalan di belakangnya. Mereka pikir Dewa Abadi stress karena akan menghadapi musuh kuat.


"Mana mungkin Dewa Binatang membutuhkan tabib binatang, sama saja palu memukul palu, dan bunyinya berdentangan!" sahut Dewa Abadi yang tidak lagi berkomunikasi dengan pikirannya.


"Kamu semakin nggak waras!" ujar Bai Ge dengan tersenyum jijik melihat Dewa Abadi.


Akhirnya semua orang mengerti, bahwa Dewa Abadi sedang berbicara dengan Merpati Putih. Walaupun tidak tahu awal pembicaraan, mereka ikut tertawa lepas karena paham.


Sebelum Dewa Abadi kembali bercanda dengan Bai Ge, Mahaguru Lu menyela, "Dewa, bagaimana dengan titik-titik portal dimensi yang berada di wilayah Dinasti Anwuzhi?"


Dewa Abadi berhenti dan melihat ke arah wilayah Dinasti Yao yang dipisahkan oleh lautan luas. Karena kurang puas melihat, ia segera melayang ke atas dan berhenti saat diketinggian 500 meter dari permukaan tanah. Semua orang yang bersamanya mengikuti.


"Saya sudah berkomunikasi dengan Omniverse. Jumlah Pasukan Omniverse memang banyak, tetapi mereka tidak akan keluar sebelum kultivator dari dunia lain menjadi umpan meriam...," Dewa Abadi berhenti berbicara saat membalikkan badan untuk menatap wajah semua orang.


"Semua ini bisa dihentikan asal kita bisa membunuh Dewa Langit dan Dewa Surgawi. Tetapi, selain mereka berdua, apakah tidak ada yang lainnya? Sebelum saya datang ke tempat ini...," lanjutnya, dengan menceritakan pengalamannya sewaktu berhadapan dengan energi kabut hitam yang telah menyebar ke seluruh galaksi.


Semua orang mendengar dan mengetahui kehebatan energi kabut hitam yang mampu menjadi kehidupan berubah menjadi Pasukan Kegelapan. Sebenarnya, para raja dan Mahaguru telah memikirkan hal ini, mereka terus mengawasi setiap orang yang berada di wilayah Dinasti Shandui dan Fandui.


Selama ini, semenjak titik-titik portal dimensi dibuat oleh musuh, mereka tidak menemukan ada orang yang memiliki energi kabut hitam, semua orang adalah kultivator normal, tidak ada keanehan pada mereka.

__ADS_1


"... Yang tidak kita sadari, saat ini kita berada di dekat dengan Dewa Perusak yang tersegel. Kemungkinan besar, dia tahu apa yang kita lakukan. Anggap saja kita membuat rencana untuk mengalahkan musuh, tetapi musuh itu berada di depan kita saat membuat rencana! Dengan kata lain, kita diibaratkan sedang bermain catur. Kita harus jeli dan pandai mengatur strategi dihadapan lawan...," Dewa Abadi menghela nafas panjang.


Sejujurnya, dia bingung harus bagaimana menghadapi lawan yang berada di dekatnya, tapi tidak terlihat. Lawan mengetahuinya rencana, tetapi dia tidak mengetahui pikiran lawannya.


Bisa dibayangkan bagaimana pusingnya Dewa Abadi memikirkan hal ini. Dia selalu tertawa untuk mengalihkan kekhawatirannya. Dengan tertawa, hatinya bisa bebas dan tenang, dan berharap menemukan solusi untuk menghadapi lawan yang cerdas.


"Dewa, menghadapi lawan seperti ini, kita hanya bisa menunggu...," kata Mahaguru Sam, lalu melanjutkan berbicara dengan komunikasi telepati, "saat musuh menyerang, kita jangan sampai membunuh mereka! Cukup dilumpuhkan, biar diurus oleh para prajurit dan kultivator yang akan menyegel kekuatan mereka!"


"Memang ini satu-satunya jalan untuk mengatasi mereka. Tetapi, kita jangan lengah dan terus waspada, tetap awasi lawan yang berpura-pura menjadi kawan. Gerak-gerik mereka pasti akan kita ketahui di saat waktu itu tiba. Intinya, 101 titik di sini adalah kunci keberhasilan mereka membebaskan junjungannya!" interupsi Dewa Abadi.


Semua orang penting mengangguk paham. Kemudian, mereka segera melanjutkan tugasnya masing-masing sesuai rencana. Hanya keempat wanita muda itu yang masih bersama dengan Dewa Abadi.


Dewa Abadi mengeluarkan empat cincin, dan itu adalah Winged Golden Armor Ring. Lalu memberikan kepada Hu Yue Lian dan ketiga sahabatnya.


"Selama pertempuran terjadi, jangan jauh dariku," kata Dewa Abadi sambil membagikan cincin itu.


Dengan senang hati keempat wanita itu menerima pemberiannya. Segera mereka mengenakannya, mengigit ujung jari telunjuk dan mengeluarkan setetes darah yang diusapkan ke Winged Golden Armor Ring.


Mereka memejamkan mata saat terkoneksi dengan cincinnya. Dewa Abadi kembali melihat ke arah Dinasti Anwuzhi. Setelah itu dia duduk di pasir sambil menunggu kedatangan mereka.


Melihat Dewa Abadi panas-panasan di bawah terik matahari, keempat wanita itu merasakan kasihan. Mereka segera mengeluarkan payung agar Dewa Abadi tidak kepanasan.


"Kamu... Apakah tidak cari tempat berteduh daripada di sini! Kulitku bisa hitam mengikuti caramu ini!" gerutu Bai Ge.


Dewa Abadi menahan tawa, demikian juga dengan keempat wanita di belakangnya. Lalu dia berkata, "baru kali ini ada burung berkulit!"


"Siapa yang berkulit? Lihat bulu-bulu ku yang halus nan indah, apakah matamu buta?!" protes Bai Ge yang tidak terima dikatain berkulit, ia mematuk telinga Dewa Abadi berulang-ulang karena kesal.


Keempat wanita itu menahan tawa sampai air mata keluar. Baru kali ini ada seekor burung yang ketakutan menjadi hitam gara-gara terik matahari yang panas.


Dewa Abadi tidak membalas ocehan Bai Ge yang marah. Jika dibalas, akan semakin menjadi-jadi nantinya...


Ketika hari menjelang sore, Dewa Abadi, Bai Ge dan keempat wanita itu melihat salah satu titik portal dimensi di wilayah Dinasti Anwuzhi. Titik itu mengeluarkan fluktuasi energi spasial, tanda portal dimensi akan terbuka.


Putri Jiyan segera mengabarkan kepada ayahnya dan semua orang penting tentang terbukanya portal dimensi. Mereka segera berdatangan ke tempat Dewa Abadi yang masih duduk bersila di pasir laut.


Karena tidak adanya Formasi Kurungan, titik portal dimensi itu dengan cepat terbuka lebar, diameter mencapai 345 meter, berada di atas laut, dekat dengan pesisir pantai wilayah Dinasti Anwuzhi.


Setelah terbuka maksimal, portal dimensi itu menghisap air laut dengan sangat cepat. Seluruh kehidupan di dalam laut juga ikut terhisap kedalamnya.


Para jenderal Dinasti Fandui dan Dinasti Shandui segera mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi lawan yang akan segera datang. Mereka tahu bahwa tujuan portal dimensi itu menghisap air laut, agar lautan menjadi medan perang terbuka.

__ADS_1


__ADS_2