
Bab 142. Terkepung!
Tanpa menggunakan Mata Surgawi, Dewa Binatang dengan jelas menemukan lokasi pusat keberadaan Pagoda Berlian, yang mana ada sinar besar melesat ke langit yang berasal dari dalam gubuk bambu. Dia langsung menebak jika Pagoda Berlian tersembunyi di dalam gubuk itu.
Sebelum menuju ke gubuk bambu, dia merasakan banyak tekanan kuat dari luar angkasa, aura kekuatan dari segala penjuru mata angin. Dewa Binatang melihat ke luar angkasa dengan menggunakan Mata Surgawi.
Kaisar Langit datang bersama banyak Dewa-dewi, di belakangnya mengikuti 50 ribu tentara langit. Maharaja Yaksa tidak ketinggalan, dia membawa banyak orang kuat yang menjadi bawahannya, dan juga membawa 100 ribu tentara Asyura.
Dewa Binatang juga melihat beberapa sinar yang berasal dari Alam Kudus, melesat dengan sangat cepat. Tetapi bukan mereka yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan lima sinar seperti meteor yang berasal dari The Living Tribunal Multiverse.
Karena jarak antara Bulan Nordic, Observable Universe dan The Living Tribunal Multiverse sangat jauh, dia tidak mengetahui kekuatan mereka, hanya bisa menerka-nerka dengan melihat kecepatan mereka, diperkirakan setingkat dengannya di tingkat Epsilon, mungkin lebih tinggi.
"Siapa yang cepat, dialah pemenangnya!" gumam Dewa Binatang yang segera berubah wujud udara dan melesat ke arah gubuk.
Baru saja tiba di depan pintu gubuk, sinar yang tadinya terlihat jelas tiba-tiba menghilang, tidak ada lagi binatang mitologi, dan Bulan Nordic kembali seperti semula.
Dewa Binatang segera masuk ke dalam gubuk bambu, namun dia tidak melihat apapun selain perabotan rumah yang rusak dan lapuk, tetapi dia melihat ada tiga jejak kaki wanita dan merasakan aura yang dikenalnya.
"Ketiga wanita itu sudah ada di sini terlebih dahulu... Apakah mereka sudah mendapatkannya? Tetapi kenapa aku tidak melihat mereka keluar dari gubuk?" gumam Dewa Binatang yang bertanya-tanya.
Dia membalikkan badan untuk melihat apakah ada jejak di luar gubuk, namun tidak menemukan apa-apa. Kembali dia memeriksa di dalam gubuk, siapa tahu mendapatkan petunjuk jejak dari Pagoda Berlian.
Sekali lagi pemeriksaan, dia tetap tidak menemukan apa-apa selain jejak kaki ketiga wanita yang kabur saat bertemu di Lubang Neraka. Karena tidak menemukan petunjuk lain, Dewa Binatang mengeluarkan energi kekuatan jiwanya.
Dengan energi kekuatan jiwanya yang memenuhi ruang di dalam gubuk, dia merasakan ada tiga titik yang sangat kecil seukuran partikel atom, tepatnya di atas jejak kaki. Dia menduga jika ketiga titik itu adalah Dunia Jiwa milik mereka.
Karena banyak orang yang makin dekat dengan gubuk bambu, dia segera mengunci ketiga titik itu dengan persepsinya, lalu membuat kurungan dengan energi kekuatan jiwanya. Ketiga titik itu terkurung di dalam kubus energi kekuatan jiwa.
Dewi Pesona dan kedua seniornya melihat Dewa Binatang berada di dalam gubuk, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa kabur. Mereka tercengang ketika Dewa Binatang mengetahui keberadaan Dunia Jiwanya.
Ingin keluar jelas tidak mungkin, jika dipaksakan keluar dari Dunia Jiwanya sama saja bunuh diri. Jadi, mereka hanya bisa pasrah dan berharap Dewa Binatang tidak mampu memasuki Dunia Jiwanya.
Setelah berhasil mengurung Dunia Jiwa milik ketiga Dewi, Dewa Binatang menyimpan kubus energi ke dalam Dunia Jiwanya sendiri. Kemudian, dia tersenyum tipis karena gubuk bambu telah terkepung, tubuhnya sedikit bergetar.
Dia keluar dari gubuk bambu dan melihat Kaisar Langit yang yang duduk bersila di atas bunga teratai, lalu melihat Maharaja Yaksa yang berdiri di kereta perang. Dia juga melihat semua musuhnya seperti Kaisar Kun, kedua mertuanya, Kaisar Lei, dan banyak Dewa-dewi yang telah siap untuk bertarung.
Sebelumnya, mereka melihat Dewa Binatang ketika menghantam tanah, dan buru-buru ke Bulan Nordic karena khawatir musuhnya terlebih dahulu mendapatkan Pagoda Berlian.
__ADS_1
"Serahkan Pagoda Berlian itu!" pinta Maharaja Yaksa, lalu dia melihat ke atas.
Datang kultivator dari Kuil Alam Kudus, tiga tetua yang dikenal dengan sebutan Taois; Taois Chen, Taois Lim dan Taois Xian. Diantara mereka ada juga Dewa Petarung dan Dewa Pemusnah.
Kedatangan mereka segera disambut oleh kedua penguasa Alam Suci, lalu diikuti oleh bawahannya. Setelah bertukar sapa sejenak, kelima orang dari Kuil Alam Kudus berjalan menuju ke arah Dewa Binatang yang masih terkepung.
Dewa Binatang sedikit terkejut karena kedua calon Pelindung Alam Semesta telah menerobos ke tingkat Epsilon, Dewa Petarung berada di level 2, dan Dewa Pemusnah di level 1, kekuatan mereka setara dengannya.
Ketiga Taois itu lebih kuat; berada di tingkat Divine Realm; Taois Chen di level 5, Taois Lim di level 7 dan Taois Xian di level 8.
Sungguh kekuatan mereka saat ini tidak mungkin dilawan oleh Dewa Binatang. Jika hanya melawan kedua calon Pelindung Alam Semesta, dia kemungkinan besar masih unggul. Tetapi melawan ketiga Taois tersebut, dia jelas akan berpikir ulang.
"Dewa Binatang, baru kali ini kita berjumpa. Nama Anda sudah lama kami dengar, sungguh anak buangan yang jenius," sapaan Taois Xian.
Dewa Binatang mengunci alisnya karena dianggap sebagai anak buangan. Dibenaknya, apakah di Alam Kudus dirinya tak diakui oleh keluarganya? Lalu apa alasannya? Jika memang benar tak diakui, pantas saja dirinya beserta keempat kakaknya dijadikan tumbal sebagai ganti hukuman.
"Kenapa diam? Kau pikir kita selama ini tidak tahu apa-apa tentang dirimu, kami selalu mencatat setiap kehidupanmu! Untuk mencapai kekuatan dengan cepat, kau menggunakan teknik terlarang, Teknik Kultivasi Ganda. Sungguh Dewa tak bermoral!" Dewa Pemusnah tidak sabaran karena Dewa Binatang diam saja ketika gurunya (Taois Xian) menyapa.
"Serahkan Pagoda Berlian, Batu Keabadian dan semua Artefak Alami milikmu, dan juga serahkan Teknik Kultivasi Ganda agar kami musnahkan!!" sambung Dewa Petarung lalu disusul dengan senyuman sinis.
Menyerahkan miliknya yang didapatkan dengan susah punya, jelas tidak mungkin. Lebih baik bertarung dengan seluruh kekuatannya. Yang pasti, dia tidak akan memberikan apapun yang sudah menjadi miliknya.
"Untuk Pagoda Berlian, aku tidak memilikinya. Saat aku datang di sini, aku tidak menemukan apapun," kata Dewa Binatang dengan jujur, lalu dia kembali berbicara sebelum mereka, "apa yang kalian minta... Maaf, aku tidak mungkin menyerahkannya!"
Ketiga Taois itu dan kedua calon Pelindung Alam Semesta, mereka sudah menduga jika Dewa Binatang tidak pasti akan menolak untuk menyerahkan hartanya. Berbeda dengan kedua penguasa Alam Suci dan bawahannya, mereka terlihat geram karena melihat dengan mata kepala jika Dewa Binatang mendapatkan Pagoda Berlian.
"Guru, izinkan kami menangkapnya!"
Maharaja Yaksa selalu ingin mencari nama dihadapan orang-orang yang berasal dari Kuil Alam Kudus, berharap diizinkan tinggal di Alam Kudus. Taois Xian mengangguk sebagai jawabannya.
Boom...
Suara ledakan energi spiritual ketika gubuk bambu diledakkan oleh salah satu tentara Asyura. Saat ini, tidak ada jalan kabur bagi Dewa Binatang, dia terkepung oleh tentara Asyura yang dipimpin langsung oleh Maharaja Yaksa.
Dewa Binatang merasakan aura kekuatan mereka yang terfokus kepadanya. Berhubungan kekuatannya lebih tinggi, aura kekuatan mereka tidak sedikitpun mempengaruhinya.
Akhirnya, Dewa Binatang mengetahui kekuatan lawan yang sebenarnya.
__ADS_1
Kekuatan Maharaja Yaksa, berada di tingkat Hyper Omega level 10, terlihat auranya yang akan menerobos ke level 11. Dia membawa empat jenderalnya yang kekuatannya berada di tingkat Half Super Omega.
Sedangkan Dewa dan Dewi yang menjadi pendukungnya, berjumlah 10 orang, kekuatan mereka berada di tingkat Half Super Omega dari level 2 hingga level 12.
Kekuatan 100 ribu Tentara Asyura, terendah di tingkat True Resonansi dan jumlahnya 95 ribu prajurit, sisanya yang lima ribu prajurit, tertinggi di tingkat True Omega. Sungguh kekuatan yang mengerikan.
Sedangkan kekuatan yang dimiliki oleh Kaisar Langit, sedikit lebih kuat dari Maharaja Yaksa, di level 12 puncak, dan tidak lama lagi akan menerobos ke tingkat Epsilon. Kaisar Langit membawa 9 Dewa dan 1 Dewi, mereka adalah jajaran penting di Istana Langit; ada Dewa Kebijaksanaan, Dewa Tapak Emas, Dewa Kultivasi, Dewa Kipas, Dewa Es dan Salju, Dewa Ilusi, Dewa Laut, Dewa Matahari.
Dan yang terakhir adalah Dewi Aura, ia adalah guru dari Dewi Pesona, Dewi Kedamaian, Dewi Seribu Wajah adalah murid termuda, dan murid tertua adalah Dewi Seribu Wajah. Dewi Aura, kekuatannya berada di tingkat Hyper Omega level 7. Kekuatannya setara dengan Dewa Kebijaksanaan, di atas 8 Dewa lainnya.
Kaisar Langit juga membawa empat jenderal bersaudara; Jenderal Barat bernama Xuan Di, Jenderal Timur bernama Xuan Wu, Jenderal Utara bernama Xuan Tian, dan Jenderal Selatan bernama Xuan Di Shang. Diantara mereka, yang tertua adalah Xuan Di Shang, kekuatannya berada di tingkat Hyper Omega level 8, adik-adiknya terpaut 1 level dan yang terendah adalah Xuan Wu di level 5...
Melihat kekuatan musuhnya, Dewa Binatang tidak sedikitpun takut, bahkan tidak sedikitpun takut terhadap ketiga Taois itu walaupun basis kultivasi kalah jauh dari mereka.
"Suami, biarkan kita keluar!" pinta Tian Lihua yang ingin membantu Dewa Binatang, walaupun ia bisa saja keluar dari Dunia Jiwa tanpa harus meminta izin kepadanya.
Dewa Binatang tidak segera menjawab, dia justru melihat ke arah Local Interstellar untuk melihat peristiwa 12 galaksi sejajar. Dia mengunci alisnya karena 12 galaksi sejajar bergerak lebih cepat dari perkiraannya.
"Jika hari ini terjadi pertempuran besar, apakah hari ini adalah Peperangan Global? Jika benar, bukankah sama saja mempercepat kebangkitan Lord Dark Matter! Tidak, jangan sampai itu terjadi, aku harus mencegahnya!" batin Dewa Binatang yang belum siap harus menghadapi Lord Dark Matter karena kekuatannya yang rendah.
"Tangkap dia!" perintah Maharaja Yaksa.
Namun, Dewi Aura tiba-tiba muncul di depan Maharaja Yaksa sambil tangan kanannya terangkat ke atas, tanda agar semua tentara Asyura tidak segera menyerang Dewa Binatang.
"Tunggu sebentar!" cegah Dewi Aura sambil menatap wajah Dewa Binatang.
Maharaja Yaksa tidak marah dengan tindakan Dewi Aura, justru dia tersenyum sambil mendekatinya. Demikian juga dengan Kaisar Langit yang tidak mencegah perbuatannya. Berbeda dengan Dewa Petarung dan Dewa Pemusnah yang sudah tidak sabaran ingin membunuh Dewa Binatang.
"Di mana muridku?" tanya Dewi Aura yang nada suaranya menenangkan hati.
Dewa Binatang jelas kebingungan karena tidak tahu siapa muridnya. Namun, kebingungannya hanya sesaat, dia teringat dengan ketiga Dewi yang baru saja ditangkapnya.
"Siapa mereka, aku tidak tahu?" tanya balik Dewa Binatang, walaupun sudah menebak.
"Dewi Kedamaian, Dewi Kasih dan Dewi Pesona, mereka adalah muridku. Sesaat lalu sebelum kita tiba, mereka meminta bantuan. Katanya, kau mengurung mereka. Serahkan mereka, atau ...!" jawab Dewi Aura sambil mendekati Dewa Binatang.
Maharaja Yaksa mengepalkan kedua tangannya karena Dewi Aura dengan sengaja menjauhinya. Dia makin membenci Dewa Binatang yang selalu saja menarik perhatian wanita, apalagi sudah merebut Dewi Cahaya yang bereinkarnasi di tubuh Yuna Aurora.
__ADS_1