
Bab 196. Kekuatan Baru.
Dewa Abadi berdiri sambil membersihkan pakaiannya yang kotor, kedua matanya tertuju kepada si Lola yang melayang di udara. Mereka berdua saling berhadapan.
Namun yang mengejutkan Dewa Abadi, muncul di kening si Lola Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka 1. Ketika si Lola merentangkan telapak tangan ke arahnya, dia melihat telapak tangan kanan dan kiri terdapat dua Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka 2 dan 3.
Di saat si Lola akan menyerang Dewa Abadi, berdatangan banyak prajurit wanita yang segera berbaris rapi di belakang, jumlahnya mencapai 100 ribu prajurit. Yang mengejutkan Dewa Abadi, kekuatan para prajurit itu di tingkat Holy Light Realm, satu tingkat dibawahnya.
Jika melawan mereka, jelas Dewa Abadi pasti akan kalah, belum lagi melawan si Lola yang lebih kuat darinya. Dia berpikir, bagaimana caranya untuk mendapatkan ketiga Kristal Energi bergambar Cancer itu jika yang dihadapinya menang jumlah dan lebih kuat?
Lola mengurung niat untuk menyerang Dewa Abadi dan berkata, "kau bukanlah lawanku. Jadilah tangan kananku, maka kesalahanmu akan kuampuni!"
"Apakah ini ilusi atau nyata? Apa hubungannya dengan ujian jiwa?" Dewa Abadi bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Kalahkan aku dulu sebagai bukti bahwa Anda kuat!" tantang Dewa Abadi yang ingin memastikan bahwa si Lola dan prajurit wanita itu bukanlah ilusi.
"Mereka yang akan melawanmu!" ucap si Lola sambil menunjuk ke arah belakang.
Dewa Abadi membalikkan badan dan melihat delapan sinar melesat ke arah dengan kecepatan tinggi. Ketika tiba di hadapan Dewa Abadi, mereka mendarat di tanah dengan keras sehingga membuatnya terseret mundur
"8 pahlawan dengan kekuatan The Realm Of Eternal Darkness!" seruan Dewa Abadi yang lagi-lagi dibuat terkejut oleh si Lola, dia mengucek matanya karena belum percaya apa yang dilihatnya ini nyata atau hanya mimpi.
Akan tetapi, apa yang dihadapinya dan dilihat semua nyata, bukan ilusi. Delapan pahlawan itu adalah tangan kanan dari ratu Dunia Roh, Nicolas, Xavier dan yang lainnya.
Dewa Abadi gemetaran karena merasakan aura kekuatan semua orang ini difokuskan kepadanya. Dengan aura kekuatan mereka saja membuktikan bahwa mereka nyata.
Apa yang dialaminya saat ini telah mengguncang jiwanya yang tidak mampu melihat kenyataan ini. Ternyata masih banyak orang kuat melebihinya di dunia ini, belum lagi jika berhadapan dengan penghuni Alam Kudus, pasti jumlahnya lebih banyak.
"Apakah Anda sudah siap melawan kami?" teguran Xavier.
"Anda terlihat takut? Menyerah saja dan menjadi tangan kanan Yang Mulia Ratu Laut Selatan!" imbuh Nicolas.
Dewa Abadi menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kacau.
"Aku dilahirkan di dunia ini bukan untuk tunduk kepada siapapun, melainkan menjadi yang terkuat dan disegani oleh semua kehidupan. Aku, Dewa Binatang Yang Abadi, tidak memiliki kamus kata untuk menyerah. Berjuang sampai titik darah penghabisan!" tekad Dewa Abadi yang akan melawan walaupun tidak tahu kekuatan lawannya.
Swosh...
Dewa Abadi melesat ke arah Nicolas yang mendekatinya dengan mengerahkan semua kemampuannya. Demikian juga dengan Nicola dan rekan-rekannya yang melesat ke arah Dewa Abadi.
Boom boom boom boom...
Rentetan ledakan ketika pukulan Dewa Abadi berbenturan dengan delapan pahlawan. Akan tetapi, Dewa Abadi terpental ke belakang karena kalah dalam jumlah. Tubuhnya terseret dan berhenti tepat di bawah kaki si Lola.
"Tidak mungkin!?" Dewa Abadi syok karena kalah dalam sekali pukulan, padahal dirinya telah mengerahkan seluruh kekuatan tempur yang seharusnya mampu mengalahkan delapan pahlawan itu. Nyata, mereka menang dan dirinya kalah.
Dewa Abadi yang masih berbaring di tanah menatap wajah si Lola yang tersenyum penuh kemenangan.
"Masih belum puas menerima kekalahan? Segera berdiri dan lawan mereka!" ejekan si Lola sambil melangkahkan kaki hingga tepat berdiri di atas wajah Dewa Abadi.
__ADS_1
Dewa Abadi dengan jelas melihat apa yang ada dibalik pakaian si Lola, organ kewanitaannya yang dilindungi oleh kain warna merah muda. Dia tidak tertarik dengan apa yang dilihatnya, namun perlakuannya si Lola bagi Dewa Abadi adalah penghinaan terbesar selama hidupnya.
Tiba-tiba Nicola dan Xavier menarik pergelangan kaki kanan dan kiri dari Dewa Abadi, lalu melemparkannya ke arah depan. Tubuh Dewa Abadi menghantam gedung-gedung pencakar langit sejauh ratusan meter.
Boom...
Ledakan keras ketika Dewa Abadi menghantam gedung terakhir, dia terduduk bersandar di dinding reruntuhan gedung. Kedua matanya tertuju kepada si Lola yang terhalangi tubuh delapan pahlawan.
"Hahaha...!!" tawa Dewa Abadi bukan karena senang, melainkan untuk menghilangkan rasa keterkejutannya ini yang masih belum menerima kenyataan.
Tiba-tiba si Lola sudah muncul dihadapannya sambil berjongkok, memegang dagu Dewa Abadi dengan ujung jari telunjuk, dan berkata, "menyakitkan, bukan? Melihat kenyataan ini tidak sesuai harapan!"
Dewa Abadi tidak menjawab, dia hanya tersenyum sinis sambil menepis tangan si Lola.
Sambil berbicara, dia berdiri dan diikuti oleh si Lola, "di puncak, angin berhembus sangat kencang yang mampu merobohkan apapun. Tetapi hingga detik ini, aku masih tetap berdiri kokoh di saat yang lainnya berjatuhan dan tidak mampu bangkit kembali!"
Makna dari ucapannya adalah filosofi kehidupan di dunia nyata. Selama hidupnya, dia sudah melihat orang-orang yang dikasihi meninggalkan dirinya yang masih berjuang, mereka tidak mampu mengalahkan kerasnya kehidupan di dunia ini.
"Anda masih belum menyerah?" si Lola geleng-geleng karena Dewa Abadi begitu keras kepala untuk melawannya.
Boom...
Tiba-tiba si Lola memukul dada Dewa Abadi dengan sangat cepat. Lagi-lagi, Dewa Abadi terpental dan terseret sejauh ratusan meter. Dewa Abadi berhenti ketika membentur dinding, dia memuntahkan darah segar.
Kemudian, dia segera bangkit dan mengaktifkan zirah perangnya yang mengeluarkan cahaya keemasan. Delapan pahlawan segera melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Boom boom boom...
Akan tetapi, 100 ribu prajurit wanita melesat ke arahnya, dan delapan pahlawan bergabung dengan barisan mereka. Dengan sangat cepat mereka melepaskan pukulan berenergi tinggi ke arah Dewa Abadi yang terengah-engah.
Boom...
Ledakan energi menggetarkan dunia bawah air sehingga kubah besar itu bergetar hebat. Tubuh Dewa Abadi yang telak terkena serangan gabungan jatuh ke tanah.
Di pertempurannya kali ini, dia tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan semua kemampuannya. Serangan yang bertubi-tubi menyulitkannya untuk mencari kesempatan.
Boom...
Tubuh Dewa Abadi menghantam tanah dengan sangat keras hingga menciptakan sebuah kawah. Zirah perangnya muncul retakan menandakan bahwa kekuatan mereka sangat mengerikan, jelas zirah perangnya tidak mampu menahan serangan mereka.
Dewa Abadi telentang di tanah sambil menatap langit, tangan kanan mengelus dada yang terlindungi zirah perangnya. Gabungan dari Artefak Alam yang selalu menemani sepanjang hidup akhirnya berakhir di sini.
Dia meneteskan air mata kesedihan karena dirinya sangatlah lemah di dunia ini. Dia tidak lagi memperdulikan luka di sekujur tubuhnya. Dia teringat bagaimana perjalanannya ini hingga menemukan semua Artefak Alami.
Si Lola, delapan pahlawan dan 100 ribu prajurit wanita mengelilingi bibir kawah, mereka melihat Dewa Abadi yang telentang di tanah.
"Zirah perang tidak akan berguna di tingkatan kita. Sungguh konyol kau masih mengandalkannya!" ejekan si Lola.
Ucapan si Lola memang benar, dan Dewa Abadi memahaminya. Dia selalu menggunakan Artefak Alami karena telah terbiasa berjuang bersama selama ini.
__ADS_1
"Hahaha...!!" Dewa Abadi tertawa karena begitu tragis hidupnya saat ini, dikalahkan oleh orang yang awalnya lemah.
Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk berdiri. Ketika berdiri, zirah perangnya yang retak langsung hancur berkeping-keping.
"Selama tinggal Tuan! Maaf, kami tidak bisa menemani perjalanan anda!"
Terdengar suara Artefak Alami di telinganya. Dewa Abadi meraih serpihan zirah perangnya. Air matanya menetes membasahi serpihan zirah perangnya.
Lalu dia menatap wajah si Lola yang tersenyum puas melihat dirinya.
"Aku kehilangan istri, sahabat, orang-orang kepercayaannya... Dan, Artefak Alami yang selalu menemaniku selama ini ... Semua yang kumiliki telah meninggalkan diriku! Pada akhirnya, kehidupan akan selalu sendirian, hanya akan ditemani oleh jiwanya yang melekat...,"
Setelah berbicara, Dewa Abadi meniup serpihan zirah perangnya yang berada di telapak tangan. Zirah perangnya yang hancur berkeping-keping itu mengeluarkan cahaya keemasan yang berkedip-kedip, melayang di udara.
"Lautan jiwa... Menerima segalanya dengan keihklasan yang tak terbatas. Aku paham!" ucap Dewa Abadi yang tersenyum karena berhasil memahami makna dari ujiannya ini.
Dia memejamkan mata dengan kedua tangannya merentangkan ke samping. Si Lola dan semua orang melihatnya yang perlahan melayang di udara. Di belakang punggungnya mengeluarkan tiga lingkaran Cincin Roh Dewa.
Yang mengejutkan si Lola dan delapan pahlawan, mereka melihat gumpalan warna keemasan di atas kepala Dewa Abadi. Gumpalan itu menyatu dengan Cincin Roh Dewa. Kemudian...
Boom...
Ledakan energi ketika gumpalan emas yang berasal dari Artefak Alami menyatu dengan Cincin Roh Dewa. Si Lola, delapan pahlawan dan 100 ribu prajurit terpental ke segala arah karena terlalu kuatnya luapan energi itu.
Mereka terbelalak melihat tubuh Dewa Abadi terselimuti oleh warna pelangi. Kemudian setelah itu, di kedua lengannya muncul 9 lingkaran seperti gelang dengan beda warna.
Ketika si Lola berdiri dan diikuti oleh semua orang, Dewa Abadi muncul dihadapan si Lola. Sontak si Lola kaget dan secara naluri mengayunkan pukulannya. Akan tetapi, Dewa Abadi dengan mudah menahan kepalan tangan itu dengan ujung jarinya.
Dewa Abadi menyentilnya kepalan tangan si Lola sehingga terpental ke belakang dan menabrak apapun yang dilewatinya. Delapan pahlawan syok melihat kecepatan dan kekuatan Dewa Abadi yang jauh berbeda.
Ketika mereka masih syok, Dewa Abadi muncul di depan Nicolas. Kemudian menyentuh dada Nicolas. Dengan sentuhannya itu, Nicolas seakan-akan dihantam oleh benda besar dan kuat. Tubuhnya terpental ke belakang dan berguling-guling seperti bola yang menggelinding.
Dewa Abadi melakukan hal yang sama terhadap Xavier dan yang lainnya, mereka tidak bisa menghindar sentuhan ujung jari telunjuknya. Kecepatannya melebihi cahaya, dan membuat mereka terpental.
Ketika 100 ribu prajurit wanita akan menyerang Dewa Abadi, dia menyentil udara dan membuat semua prajurit itu seperti dihantam oleh benda besar dan kuat. Dalam sekejap mata, tubuh para prajurit itu meledak.
Si Lola yang kali ini syok, mengalami guncangan jiwa melihat perubahan Dewa Abadi yang sangat berbeda jauh dari sebelumnya. Delapan pahlawan segera bangkit dengan susah payah, mereka memuntahkan darah karena sentuhan ujung jari telunjuk di dadanya.
"Bagaimana rasanya terkena Kekuatan Jiwaku? Mau merasakannya lagi?" tanya Dewa Abadi dengan nada datar, seolah-olah si Lola dan delapan pahlawan hanyalah semut.
Sembilan gelang di lengannya adalah Kekuatan Jiwa yang menyatu dengan gabungan Artefak Alami dan tiga Cincin Roh Dewa.
"Kau .... Bagaimana kau bisa memiliki kekuatan ini?" si Lola terbata-bata saat bertanya kepada Dewa Abadi, ia jelas tidak ingin merasakan sakit lagi.
Dengan sentilan saja sudah membuat tulang kepalan tangannya patah, rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Demikian juga dengan delapan pahlawan, mereka berusaha berdiri walaupun mengalami luka dalam.
"Sejak awal, aku telah memiliki basis kultivasi Kekuatan Jiwa ... Dengan adanya ujian ini, dan ikhlas merelakan apapun yang pergi dariku ... Justru, apapun yang kualami saat ini dan di masa lalu, sebenernya berkumpul di dalam jiwaku. Entah apa namanya kekuatanku ini! Yang jelas, kalian sudah merasakannya!"
Dewa Abadi sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya sendiri, dia hanya mengikuti nalurinya yang memintanya untuk melakukan apapun sesuka hati tanpa lagi memikirkan emosi negatif.
__ADS_1
Yang dia tahu, kekuatannya ini bukan lagi berasal dari basis kultivasi di tingkat The Realm Of Eternal Darkness ataupun yang lainnya, melainkan Kekuatan Jiwanya yang melampaui puncaknya yang berada di tingkat Langit.
Si Lola dan delapan pahlawan kebingungan mendengar penjelasan Dewa Abadi. Demikian juga dengan Tang Shang yang selama ini mengawasinya, awalnya dirinya senang melihat Dewa Abadi berhasil melewati ujian ini. Namun, rasa senang itu berubah menjadi keterkejutannya.