
Bab 216. Kemarahan Dewa Abadi.
Benih Petir Semesta selalu memperhatikan Dewa Abadi yang berusaha untuk lepas dari kemelekatan terhadap duniawi. Setelah beberapa waktu lamanya, benih Petir Semesta masuk ke dalam pusar Dewa Abadi.
Sedangkan Dewa Abadi, dia saat ini telah kedamaian total, keheningan yang mendamaikan hati. Dia belum sadar bahwa sudah di dalam kehidupan nyata.
Gumpalan ungu memasuki pusarnya, lalu tubuhnya mulai mengambang ke permukaan air danau. Dewa Angin segera membopong tubuh Dewa Abadi. Dia dan Dewi Bunga menghilang dan muncul di Desa Nyanyian Hati, tepatnya muncul di kediamannya.
Dewa Angin membaringkan tubuh Dewa Abadi di ranjang empuk. Sedangkan Dewi Bunga segera merawatnya, mengenakan pakaian baru untuk Dewa Abadi yang telanjang bulat.
Dewi Bunga tidak canggung atau malu melihat tubuh Dewa Abadi yang telanjang, sebab baginya pria dan wanita tidak ada bedanya, sama-sama mahkluk hidup...
Waktu berlalu dengan cepat. Dewa Abadi akhirnya membuka mata, melihat atap rumah yang terbuat dari kayu, dengan genteng yang terbuat dari jerami daun pandan.
Setelah sepenuhnya pulih dari tidur panjangnya, dia segera masuk ke dalam Dunia Jiwanya. Ketika berada di dalam Dunia Jiwanya, dia melihat istri dan anaknya menjadi tua, namun mereka baik-baik saja dan terlihat bahagia.
"Hukum dunia dan waktu!" gumam Dewa Abadi saat tahu yang menyebabkan semua kehidupan menjadi tua.
Mereka menjadi tua bukan hanya karena kehilangan basis kultivasinya, melainkan akumulasi waktu yang lebih cepat dari dunia luar. Dengan kata lain, semua kehidupan yang tinggal di dalam Dunia Jiwanya tetap mengikuti hukum alam. Kecuali dirinya sendiri karena pemilik Dunia Jiwa.
Karena efeknya ini, banyak Dewa maupun Dewi yang jarang menyimpan kehidupan untuk berlama-lama tinggal di dalam Dunia Jiwa. Hanya digunakan saat keadaan terdesak. Untungnya, Dunia Jiwa milik Dewa Abadi berada di puncak tertinggi sehingga efek akumulasi waktu tidak dirasakan oleh penghuninya.
Dewa Abadi memutuskan untuk menemani hari-hari tua istri dan anaknya, dia tidak lagi memikirkan permasalahan di dunia luar, sebab istri dan anaknya merupakan belahan jiwanya.
Dewa Abadi menawarkan kepada semua istri dan anaknya agar kembali muda dan memiliki kekuatan. Sayangnya, istri dan anaknya lebih bahagia menjadi orang biasa, sebab waktu singkat merupakan hal yang membahagiakan, dan hidup lama merupakan siksaan.
Bagi mereka, hidup bersama dengan Dewa Abadi di Dunia Jiwa merupakan impian semua orang, dan mereka sangatlah bahagia.
Hingga waktu datang menjemput semua istri dan anak-anaknya. Kepergian orang yang dikasihi, jelas membuat Dewa Abadi bersedih, namun kesedihannya ini tidak berlangsung lama. Dia telah melakukan kewajiban sebagai seorang suami dan ayah dengan baik.
Dewa Abadi membakar jenazah semua istri dan anaknya yang tutup usia secara bergiliran. Lalu melakukan ritual berkabung seperti yang biasa dilakukannnya, menaburkan abunya di Dunia Jiwa.
Sedangkan jiwa semua istri dan anaknya, dia simpan di dalam wadah khusus. Dia akan mengirimkan jiwa mereka ke Alam Jiwa untuk bereinkarnasi menjadi manusia biasa sesuai keinginan terakhir.
Saat ini, yang tersisa dari semua istri dan putrinya adalah keempat kakak perempuannya. Sebelum mereka memejamkan mata untuk selamanya, mereka meminta kepadanya agar melupakan apa yang terjadi setelah menyelamatkan ibu dan neneknya.
Dewa Abadi memenuhi permintaan terakhir mereka. Setelah melakukan ritual, dia keluar dari dalam Dunia Jiwanya dengan kehidupan baru, kehidupan yang bebas tanpa beban.
Ketika keluar, Dewa Angin dan Dewi Bunga telah menunggunya, duduk bersila untuk berkultivasi. Saat melihat wajah Dewa Abadi yang memancar cahaya kelembutan, mereka berdua merasakan kedamaian hati.
"Akhirnya Anda keluar!" sapaan Dewa Angin yang senang melihat Dewa Abadi karena sudah sangat lama tinggal di dalam Dunia Jiwa.
__ADS_1
Dewa Abadi hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia mengaktifkan Mata Surgawi yang tidak lagi terpengaruhi oleh apapun. Dia menemukan tempat penjara yang memenjarakan ibu dan neneknya, mereka berada di dalam Pagoda Penjara.
Setelah mengetahui lokasinya, Dewa Abadi menghilang dari hadapan Dewa Angin dan Dewi Bunga.
Dewa Angin dan Dewi Bunga menghela nafas panjang karena tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi. Melihat Dewa Abadi yang tenang, justru hal yang sangat membahayakan bagi seluruh Alam Kudus.
"Kehilangan orang yang dicintai merupakan pukulan terberat bagi siapapun, apalagi melihat dengan mata kepala sendiri saat mereka tutup usia.!" ujar Dewi Bunga yang ikut merasakan kesedihan Dewa Abadi yang terpendam.
"Inilah syarat utama untuk duduk di Tahta Trimurti, melepaskan keterikatan duniawi dan menyelesaikan semua masalah dunia sebelum duduk di singgasana itu!" sahut Dewa Angin.
"Semoga... Dengan semua yang telah dilalui oleh Dewa Abadi, kuharap beliau dengan bijak saat bertindak. Semoga saja!" harapan Dewi Bunga.
"Ayo, kita bersiap-siap untuk menyelamatkan banyak kehidupan di Alam Kudus!" Dewa Angin segera menghilang setelah berkata. Demikian juga dengan Dewi Bunga yang segera menyusulnya...
Dewa Abadi muncul di dalam Pagoda Penjara, tepat berada di depan jeruji penjara. Dia melihat ibunya yang sedang berkultivasi.
"Akhirnya kamu datang juga! Ibu sudah lama menunggumu!" ucap Zhi Xiu Juan, ibu kandung dari Dewa Abadi, dia segera membuka mata menatap wajah putranya.
Melihat wajah tampan putranya yang begitu tenang dan damai, bukannya senang, justru membuat Zhi Xiu Juan geleng-geleng kepala karena tahu kemarahan putranya yang disembunyikan.
Dewa Abadi menyentuh jeruji penjara yang langsung hancur berkeping-keping. Ibunya tidak heran melihat kehebatan putranya, jutsru dia khawatir akan kemarahan putranya ini.
"Ayahmu--"
"Cucuku!" sapa Guan Shilin nenek dari Dewa Abadi, istri dari Dewa Alam.
Guan Shilin yang ingin memeluk cucunya segera mengurungkan niatnya, sebab melihat perubahan sikap cucunya yang dingin, dia juga melihat Zhi Xiu Juan yang menggelengkan kepala tanda agar diam.
"Semua menantu dan cucu kalian telah tutup usia!" ungkap Dewa Abadi dengan nada datar sambil berjalan keluar dari Pagoda Penjara.
Ibu dan neneknya meneteskan air mata kesedihan karena tidak bisa menemani menantu dan cucunya. Mereka segera menyusul Dewa Abadi yang sudah keluar dari Pagoda Penjara.
Akan tetapi, mereka tidak menemukan putranya di luar. Dengan panik karena tahu tujuannya, mereka segera berteleportasi menuju ke Kerajaan Tian.
Di Kerajaan Tian, Dewa Abadi ternyata bisa terbang dan melayang di atas istana, tidak lagi terpengaruhi oleh Formasi Hukum Alam Kudus. Kemudian, cuaca yang awal cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung, angin berhembus kencang seperti akan terjadi badai. Berubah ini karena kemarahan Dewa Abadi yang mengeluarkan Kekuatan Jiwa Semesta.
Semua kehidupan di Alam Kudus menjadi panik dan melihat ke arah sumber utama terjadinya fenomena alam ini.
"Keluar kalian semua!" teriakan Dewa Abadi yang suaranya terdengar di seluruh penjuru Alam Kudus.
Kemudian, bermunculan banyak orang yang juga bisa melayang di udara. Mereka adalah Dewa Langit, Dewa Surgawi, Dewa Matahari, dan banyak orang-orang yang berasal dari Kuil Alam Kudus, mereka memiliki kekuatan yang mengerikan.
__ADS_1
Di kejauhan, Dewa Alam melihat cucunya, dia bersama dengan Zhi Xiu Juan dan Guan Shilin. Dewa Alam geleng-geleng kepala karena rencananya gagal total. Dia sudah berusaha untuk mencegah Dewa Abadi agar tidak bentrok dengan Dewa Langit, namun cucunya lebih cerdas darinya.
"Apakah sudah puas dengan permainan kalian?" tanya Dewa Abadi dengan ketus kepada semua orang, terutama kepada ayahnya si Dewa Langit.
"Putraku, Anda berkembang pesat, Anda begitu hebat!" pujian Dewa Langit.
"Siapakah orang yang kalian sayangi? Istri, anak, harta, atau diri sendiri?" tanya Dewa Abadi kepada semua orang, dia tidak menanggapi pujian dari Dewa Langit yang sudah tidak dianggap sebagai seorang ayah.
"Apa maksud Anda?" kegeraman Dewa Surgawi yang tahu arti perkataan Dewa Abadi yang ingin membunuh semua orang yang dikasihinya.
Dewa Abadi mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Istana Kerajaan Tian. Dari lengannya satu gelang pelangi menyala. Kemudian, Alam Kudus bergetar hebat, muncul retakan tanah.
Istana Kerajaan Tian langsung hancur berkeping-keping sebelum Dewa Abadi melepaskan energi Kekuatan Jiwa Semesta. Untung saja semua orang yang berada di dalam istana telah keluar menyelamatkan diri.
"Anak kurang ajar?! Tangkap anak durhaka ini?!" perintah Dewa Langit kepada bawahannya.
Lalu bermunculan jutaan prajurit yang berasal dari dalam Dunia Jiwa milik Dewa Langit. Dewa Surgawi juga mengeluarkan jutaan prajurit dari dalam Dunia Jiwanya, dia tidak ingin Dewa Abadi memusnahkan Alam Kudus yang menjadi mercusuar di seluruh alam semesta.
Para tetua Kuil Alam Kudus juga memerintahkan seluruh anggotanya untuk melawan Dewa Abadi. Sedangkan Dewa Matahari berkumpul dengan Dewa Alam karena dilarang ikut campur dalam urusan ini.
Dewa Abadi menghilang dan muncul di kejauhan, dia tidak sedikitpun gentar melawan banyak prajurit yang kekuatannya jauh dari Pasukan Omega. Justru dia bersyukur hasil jerih payahnya tidak tewas dengan sia-sia saat menghadapi lawan ini.
Kematian penghuni Dunia Jiwanya yang secara alami membuat Dewa Abadi tidak terbebani dengan rasa bersalah. Baginya, tewas seorang diri lebih baik daripada harus bersama dengan istri, anak dan semua pasukannya saat bertempur di hari ini.
Ketika pasukan musuh melesat ke arahnya, Dewa Abadi mengeluarkan gelang pelangi kedua. Kemudian, dia berulang kali meninju ke arah pasukan musuh. Pukulannya itu melesat sangat cepat dan juga mengeluarkan aura kekuatan yang mengerikan.
Kekuatan Jiwa Semesta gelang kedua membuat Alam Kudus semakin bergejolak hebat. Semua orang tercengang karena tidak menyangka kekuatan Dewa Abadi sangat mengerikan.
Boom boom boom...
Ledakan hebat ketika pukulan Dewa Abadi mengenai pasukan musuh. Tidak terhitung banyaknya prajurit yang tubuhnya menjadi hancur berkeping-keping, darah mereka seperti air hujan.
Pasukan yang lolos dari pukulan berenergi tinggi dari Dewa Abadi segera melepaskan serangan jarak jauh. Sayangnya, serangan berenergi tinggi dengan mudah dinetralisir oleh Dewa Abadi.
"Musnahkan semuanya!" perintah Dewa Abadi sambil merentangkan tangan kanan ke langit.
Kemudian, awan hitam mengeluarkan serat-serat petir, Petir Asyura. Dari langit Petir Asyura menyambar semua kehidupan di Alam Kudus. Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, para penguasa Alam Kudus segera melepaskan pukulan berenergi ke arah Dewa Abadi sebagai sumber kehancuran ini.
Dewa Langit, dan Dewa Surgawi yang juga bersekutu dengan Dewa Perusak mengeluarkan aura kekuatan tingkat Creator Of The Universe. Mereka melambaikan tangan kanannya untuk menghilangkan Petir Asyura.
Boom boom boom boom...
__ADS_1
Suara ledakan energi menggelegar keras di seluruh penjuru Alam Kudus. Dewa Abadi yang diserang oleh banyak kekuatan, dia sampai mengeluarkan Kekuatan Jiwa Semesta gelang pelangi kelima. Dampaknya, Alam Kudus porak-poranda, dan kekuatan itu mampu menetralisir serangan musuhnya.