God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Guru Tang Shang.


__ADS_3

Bab 194. Guru Tang Shang, ahli Formasi Array, tingkat Supreme Formasi God.


Setelah beberapa saat melewati jalur pintu kecil, mereka tiba di sebuah ruangan seluas 230 meter persegi, dengan tinggi ruangan 3 meter. Ruangan itu tiba-tiba menjadi terang karena pencahayaan dari obor yang menyala sendiri.


Di ruangan itu terdapat banyak rak-rak buku, tungku untuk meramu pil, senjata berbagai jenis dan peringkat. Melihat harta itu, kedua mata si Lola berbinar-binar, namun berbeda dengan Dewa Abadi yang biasanya saja.


Kemudian, Dewa Abadi melihat di ujung ruangan terdapat sebuah patung. Patung itu terbuat dari emas bercampur dengan perak, patung seorang pria tua. Dari penampilannya, pria itu seperti seorang guru bela diri, dengan tombak dipegang yang tertancap di tanah.


"Siapa patung itu, kamu tahu?" tanya Dewa Abadi.


Si Lola juga melihat patung pria tua itu, dia mengangguk, lalu menjawab, "dia adalah orang pertama yang ada di Dunia Roh. Nama Tang Shang, Guru Shang. Menurut sejarah, beliau meninggal dunia di usia 1.200 tahun, sebelum Dunia Roh berpindah tempat. Anehnya, tidak ada satupun orang maupun keturunannya yang mengetahui tempat terakhir beliau meninggal dunia...,"


Lola berhenti berbicara saat pikirannya menebak sesuatu. "Apakah tempat ini makamnya?" gumamnya.


Dewa Abadi meliriknya dan menyahut, "di mana peti matinya?"


"Itu... Siapa tahu beliau meninggal dunia dengan cara menjadi patung! Tidakkah kamu melihat patung itu seperti bukan buatan manusia?" jawab si Lola yang asal berbicara karena memang tidak tahu.


Dewa Abadi segera mendekati patung emas itu. Setelah dekat, dia baru menyadari bahwa patung leluhur Dunia Roh bukan buatan manusia, tampak seperti nyata. Sedangkan si Lola menuju rak buku, lalu mengambil salah satu buku yang paling dekat dengannya.


Dewa Abadi berbicara kepada patung Tang Shang, "jika Anda adalah Guru Shang, seharusnya masih meninggalkan tubuh kesadaran sebelum tutup usia!"


Si Lola mendengar Dewa Abadi berbicara dengan patung, dia tertawa karena menganggapnya lucu. Namun, ia seketika terdiam saat melihat patung Tang Shang mengeluarkan cahaya yang tidak menyilaukan mata.


Lalu muncul seorang pria tua bertubuh transparan yang penampilannya sama seperti patung, tampak seperti hantu tapi bukan. Dan itu adalah tubuh kesadaran Tang Shang.


Tang Shang berdiri melayang karena tidak memiliki kaki, sebab dia hanya tubuh kesadaran. Dia menatap wajah Dewa Abadi, lalu melirik si Lola yang ketakutan.


"Kenapa yang menemukan tempat ini bukan keturunanku? Apakah mereka benar-benar melupakan aku!" ucap Tang Shang dengan nada penuh kekecewaan karena Dewa Abadi bukan keturunannya.


"Mana saya tahu! Saya menemukan tempat ini juga karena secara tidak sengaja," kata Dewa Abadi yang selalu melihat Tang Shang.


Tang Shang geleng-geleng kepala karena kekecewaannya terhadap keturunannya.


"Takdir jika Anda menemukan tempat ini sebelum keturunanku. Anak muda, apakah keturunanku baik-baik saja?" tanyanya kepada Dewa Abadi.


"Pria di belakang saya lebih tahu sejarah Dunia Roh. Saya bukan dari dunia ini, dan juga baru tiba!" jawab Dewa Abadi dengan jujur.

__ADS_1


Si Lola yang ketakutan menjadi kesal karena Dewa Abadi melibatkan dirinya. Selain itu dia menjadi marah karena dikatakan sebagai pria. Tang Shang melihat si Lola, lalu tertawa karena pria yang dimaksudkan oleh Dewa Abadi adalah wanita tulen.


Karena Lola mengenakan zirah perang pria, rambut pendek, serta tidak menggunakan rias wajah, maka jika dilihat sekilas akan seperti prajurit pria.


"Hei, gadis perawan! Siapa pria itu, katakan? Apakah semalam matamu buta, hah?!" bentakan si Lola, dia membalas ejekan Dewa Abadi yang memanggilnya sebagai pria.


Penampilan Dewa Abadi kebalikan dari si Lola, rambutnya panjang berwarna putih, kulit tubuh dan wajah halus melebihi wanita asli. Oleh karena itu, si Lola memanggilnya gadis perawan. Dia kesal karena semalaman dengan jelas Dewa Abadi melihat tubuhnya yang telanjang, dan Dewa Abadi adalah orang satu-satunya yang pertama kali melihatnya.


Dewa Abadi mengangkat kedua bahunya sebagai ketidakpedulian terhadap ejekan. Si Lola semakin marah karena tidak bisa membuat Dewa Abadi tersinggung, dia menendang pantatnya.


Namun, Dewa Abadi terlebih dahulu menghindari tendangan si Lola. Lalu memegang pergelangan kakinya dengan cepat dan menariknya, lalu melepaskannya. Hal ini membuat tubuh si Lola kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh dengan kedua kakinya lurus


"Aduh...!!" seruan si Lola dengan memegang organ kewanitaannya yang terasa sakit akibat kedua kaki lurus.


Tang Shang tertawa melihat pasangan ini yang terlihat dengan jelas jika tidak akur. Sudah lama dia tidak tertawa seperti ini semenjak menjadi ahli bela diri yang disegani di Dunia Roh. Kehidupannya yang lalu selalu serius dalam segala hal, dan penuh dengan kewaspadaan tinggi setiap harinya karena memiliki banyak musuh.


Tang Shang sebenarnya tidak sendirian menemukan Dunia Roh, dia bersama dengan tiga temannya. Mereka berasal dari Benua Biru, planet yang masih dalam jajaran Galaksi Bima sakti.


Tetapi, karena melihat dunia ini kaya akan sumber daya alamnya, pertemanan mereka rusak karena ingin menguasai Dunia Roh. Mereka bertiga memutuskan untuk membagi wilayah Dunia Roh menjadi tiga. Kemudian mereka memanggil keluarganya untuk mengeksplorasi dunia ini.


Lambat laun, Dunia Roh diketahui oleh banyak kultivator. Dunia Roh yang dulunya hanya dihuni Binatang Roh, kini menjadi lahan bagi kultivator yang ingin menjadi kuat. Pertemanan mereka yang sudah rusak, kini menjadi permusuhan.


Ketika si Lola berdiri, Tang Shang bertanya kepadanya, "Anda sepertinya bukan murni seseorang kultivator ... Apakah benar Anda mengetahui keturunanku?"


"Kekaisaran Tang telah runtuh ratusan tahun lalu!" jawab si Lola dengan nada ketus sambil menatap tajam Dewa Abadi.


Tang Shang menghela nafas panjang karena sudah memperkirakan bahwa pemerintah sekuat apapun pada akhirnya menjadi sejarah. Dan hal ini sudah diprediksinya. Pantas saja tidak ada satupun keturunannya menemukan tempat ini yang menjadi makamnya.


"Anak muda, Anda tampaknya bukan orang biasa. Apakah Anda seorang Dewa?" tebakan Tang Shang karena merasa auranya yang berbeda dengan manusia biasa, dan berbeda juga dengan si Lola.


"Hanya manusia biasa yang memiliki leluhur seorang Dewa!" jawab Dewa Abadi yang enggan menyebutkan jati dirinya.


Tang Shang mengangguk paham sambil tersenyum penuh makna. Lalu berkata, "tubuh kesadaran ini hanya bertahan hidup untuk menunggu keturunanku. Karena mereka tidak datang, Anda yang berhak mewarisi kekayaanku. Tetapi, kekayaan ini bukan emas maupun berlian, melainkan ilmu...,"


Sebagai seorang guru, Tang Shang tidak menimbun harta berharga seperti halnya orang lain. Dia menimbun ilmu yang ada di tempat ini, seperti teknik bela diri, senjata dan juga tungku untuk meramu pil. Baginya, ilmu pengetahuan lebih berharga daripada emas, karena ilmu menghasilkan emas.


Tang Shang berjalan menuju rak-rak buku yang berjajar rapi, yang tingginya hampir menyentuh atap ruangan. Dewa Abadi dan Lola mengikutinya. Di rak buku itu ada berbagai macam jenis teknik bela diri, ada yang diciptakan orang lain tetapi sudah disempurnakan. Itu adalah teknik bela diri yang didapatkan sewaktu masih berada di Benua Biru. Ada juga yang murni ciptaannya sendiri, terutama teknik Cincin Roh yang tidak dimaksimalkan oleh kultivator di Dunia Roh.

__ADS_1


Dewa Abadi sebenarnya tidak membutuhkan teknik apapun yang akan diwariskan, dia mengikuti keinginan Tang Shang karena tujuannya, yaitu menemukan Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka.


Yang dipikirkan oleh Dewa Abadi, dia sudah berada di tempat terakhir dari Lembah Berhantu. Namun, dia tidak menemukan apa yang sedang dicari-cari. Yang menjadi fokusnya adalah Tang Shang ini.


Dewa Abadi melihat Tang Shang menyentuh bibir rak buku. Setelah itu, semua rak buku bergetar sesaat. Kemudian, seluruh ruangan bergerak hebat, dan perlahan mulai melebar.


Si Lola segera memeluk lengan kiri Dewa Abadi karena takut, takut terhadap hal-hal berbahaya yang muncul di tempat ini. Mereka berdua melihat Tang Shang memisahkan diri karena ukuran ruangan yang melebar. Kini, ruangan yang awalnya kecil menjadi luas, ukurannya melebihi wilayah Kerajaan Barat.


Namun yang membuat Dewa Abadi dan Lola terkejut, mereka telah dikelilingi oleh dinding energi yang memisahkan dari Tang Shang. Kemudian, muncul sungai besar. Setelah itu, muncul dataran tinggi, dan muncul juga lautan. Sungai dan lautan dipisahkan oleh dataran tinggi seluas Kerajaan Selatan.


Dataran tinggi itu dipenuhi dengan pepohonan, ada juga pegunungan setinggi 11.000 meter dari permukaan air laut. Gunung itu tertutupi oleh salju, demikian juga dengan pepohonan yang berada di sekitarnya.


Dewa Abadi segera mengeluarkan peta milik perampok, dan melihat di peta ada gunung bersalju yang memisahkan antara sungai besar dan lautan. Sungai itu adalah Sungai Kematian, dan laut itu adalah Laut Selatan. Apa yang dilihatnya seperti yang dikatakan oleh si Lola tentang tempat berbahaya.


"Sungai melambangkan pikiran, gunung melambangkan hati, dan lautan melambangkan jiwa. Itu adalah inti dari kekuatan Cincin Roh. Untuk memahami, serta memaksimalkan kehebatan Cincin Roh, Anda harus melewati rintangan ini...," Tang Shang menjelaskan kepada Dewa Abadi dan Lola tentang apa yang dilihatnya saat ini.


Menurut Tang Shang, pada dasarnya Cincin Roh itu sangat sederhana untuk bisa memaksimalkan kekuatannya. Semua orang beranggapan bahwa memiliki banyak Cincin Roh akan menjadi dirinya semakin kuat, namun itu semuanya tidak benar.


Karena kesalahan ini, maka kultivator Dunia Roh harus berburu Binatang Roh, mulai dari usia 10 tahun (warna kuning) untuk menyesuaikan kekuatannya, hingga berburu binatang berusia lebih dari jutaan tahun (warna emas). Sebenarnya, semua itu tidak perlu, cukup memiliki tiga cincin roh, maka kekuatannya melampaui siapapun yang memiliki cincin roh berwarna emas.


Tentang pengetahuan ini, Dewa Abadi sangat memahaminya, cincin roh seperti halnya dengan kekuatan tempur, kekuatan tempur yang mampu meningkatkan kemampuan seseorang. Penjelasan dari Tang Shang, bagi Dewa Abadi hanya kembali seperti pelajar yang baru memulai berkultivasi.


Ketika Tang Shang masih memberikan penjelasan, Dewa Abadi menyela dengan bertanya, "di mana Kristal Energi bergambar?"


Raut wajah Tang Shang seketika berubah menjadi merah karena marah. Dia segera berbicara dengan nada tinggi, "warisanku ini sangat berharga dan Anda tidak menghargainya?! Akan aku tunjukkan kehebatannya!"


Kemudian, Tang Shang mengangkat tangan kanannya ke arah si Lola. Seketika tubuh si Lola melesat ke arahnya. Dewa Abadi segera meraih pergelangan kaki si Lola, namun dia terlambat menyelamatkannya.


"Tolong...!!" teriakan si Lola sambil melihat Dewa Abadi, dia berusaha keras agar tidak mendekati Tang Shang.


Dewa Abadi segera mengejar si Lola, namun dirinya membentur dinding. Dia memukul dinding energi dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, upayanya sia-sia karena dinding energi itu sangatlah kuat.


Ketika si Lola dekat, Tang Shang menepuk keningnya sehingga pingsan. Lalu berbicara kepada Dewa Abadi, "gadis ini akan menjadi bukti kehebatan ciptaanku. Jika kau berhasil mengalahkan gadis ini, pengetahuan Formasi Array tingkat Supreme Formasi God menjadi milikmu!"


Dewa Abadi menatap tajam ke arah Tang Shang. Akhirnya dia tahu semua ini adalah ilusi dari Formasi Array tingkat Supreme Formasi God, tingkatan yang belum dilampauinya. Di bidang ini, dia masih berada di tingkat Sovereign God Formasi Array tahap puncak.


Dengan kemampuannya saat ini, jelas tidak mungkin bisa menghancurkannya Formasi Array tingkat Supreme Formasi God tahan puncak. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Tang Shang seorang guru dengan kemampuan tingkat tinggi.

__ADS_1


"Ketika dinding energi menghilang, itu artinya kau harus melewati Sungai Kematian!"


Setelah Tang Shang berbicara, dia menghilang dari hadapan mata Dewa Abadi sambil membawa si Lola...


__ADS_2