God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Relief Di Pohon Mata Dunia.


__ADS_3

Bab 185. Relief Di Pohon Mata Dunia.


Tanda lingkaran kedua tidak jauh dari wilayah Kerajaan Selatan yang dikuasai oleh Ratu Juan Rong. Seperti di wilayah Kerajaan Timur, wilayah ini juga masih alami, tanaman, pepohonan, dan aneka macam binatang dengan mudah ditemui. Di sepanjang perjalanan, binatang roh tidak berani mendekati Dewa Abadi.


Kali ini Dewa Abadi tidak melewati hutan, melainkan menyusuri lembah sesuai dengan petunjuk dari peta. Lembah yang dilalui merupakan jalan satu-satunya yang menghubungkan empat wilayah kerajaan. Lembah ini tergolong lebar, lebarnya mencapai 3 kilometer dari dua sisi dinding lembah.


Di antara dua sisi lembah terdapat sungai dangkal berbatu, airnya jernih dan ikan dengan mudah dilihat. Di setiap sisi sungai itu seperti padang rumput hijau. Tempat itu disebut dengan Lembah Hijau.


Dan, Dewa Abadi berjalan di sisi kiri dari sungai, mengikuti jalan yang sering dilalui. Dia sengaja berjalan karena ingin menikmati pemandangan di Dunia Roh yang masih alami. Sampai akhirnya dia berhenti karena jalan terbagi menjadi lima jalur.


Di simpang lima itu dijaga oleh 40 prajurit dari keempat kerajaan. Mereka tidak menjadi satu tempat, melainkan setiap 10 orang menjaga jalur yang berbeda, jalan sebelah kanan dijaga oleh 10 prajurit, di jalan yang kiri dan yang lainnya juga sama.


Hanya ada satu jalur yang menuju ke wilayah tak bertuan yang tidak dijaga, wilayah itu yang menjadi rebutan keempat kerajaan. Jalur itu diberi nama Jalan Reruntuhan Tang. Diberikan nama yang sesuai dengan nama Kekaisaran Tang. Dan, tanda lingkaran disilang memang berada di wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang.


Dan, tugas utama para prajurit itu untuk menjaga Jalan Reruntuhan Tang agar siapapun orangnya yang hendak menuju ke jalan itu melaporkan diri.


"Anda mau ke mana?" teguran salah satu prajurit dari Kerajaan Utara sambil memperhatikan Dewa Abadi, semua prajurit yang tadi mengobrol kini ikut melihat ke arahnya.


"Ke sana!" jawab Dewa Abadi sambil jari telunjuk menunjuk ke Jalan Reruntuhan.


"Tujuan Anda?" selidik prajurit itu.


"Mencari harta!" jawab Dewa Abadi dengan singkat.


"Anda tahu aturannya, bukan? Jika sudah mengerti, silakan jalan!" ujar prajurit itu.


Dewa Abadi mengangguk sebagai jawaban. Dia tahu kenapa wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang menjadi rebutan setelah membaca ingatan dari prajurit yang menegurnya.


Kekaisaran Tang telah lama berkuasa di Dunia Roh selama puluhan ribu tahun. Saking lamanya berkuasa, kekayaannya sangat besar dan ada disimpan di tempat rahasia. Semenjak Kekaisaran Tang runtuh, kekayaannya belum banyak ditemukan. Diperkirakan yang ditemukan hanya sebesar sepuluh persennya saja.


Oleh karena kekayaannya, wilayah Kekaisaran Tang menjadi rebutan banyak orang. Para pahlawan membuat aturan bagi siapapun yang hendak menuju ke arah Jalan Reruntuhan Tang, yaitu memberikan hasil penemuannya sebesar 50%.

__ADS_1


Jika orang yang berasal dari wilayah Kerajaan Utara, maka yang mendapatkan hasilnya adalah para pahlawan dari Utara, nama sebutan untuk Albert dan kedua rekannya.


Namun, untuk mendapatkan kekayaan dari Kekaisaran Tang tidaklah mudah, banyak rintangannya. Salah satunya sesama pemburu harta dan binatang roh. Jika si pemburu harta tewas karena banyak faktor, maka pihak darimana pun tidak akan bertanggung jawab, itu juga salah satu dari aturan yang dibuat oleh para pahlawan.


Dewa Abadi diberi jalan oleh prajurit yang selalu menatap heran. Mereka heran karena dia berburu sendirian, biasanya para pemburu harta selalu berkelompok untuk meminimalisir korban jiwa.


"Apakah kamu tidak curiga kepadanya?" selidik salah satu prajurit kepada rekannya yang tidak seperti biasanya dalam berprilaku.


"Ledakan keras beberapa waktu lalu membuatku menjadi waspada kepada siapapun! Aku samar-samar merasakan orang itu sangat berbahaya!" ungkap prajurit yang sesaat lalu berbicara kepada Dewa Abadi.


Para prajurit penjaga Jalan Reruntuhan Tang merasakan dampak aura kekuatan yang dimiliki oleh Dewa Abadi, namun mereka tidak tahu kondisi terkini Kerajaan Utara. Mereka hanya tahu jika para penguasa, pahlawan dan banyak prajurit menuju ke arah sumber ledakan hebat dengan tergesa-gesa.


Semua prajurit yang selalu memperhatikan Dewa Abadi tercengang karena tidak melihatnya, padahal jalan menuju ke reruntuhan Kekaisaran Tang tidak berkelok-kelok...


Dewa Abadi akhirnya tiba di wilayah luar dari reruntuhan Kekaisaran Tang yang kini telah berubah menjadi hutan. Dia melihat banyak reruntuhan bangunan telah ditumbuhi lumut, rumput dan pepohonan. Dia juga melihat banyak binatang roh berkeliaran, rata-rata usianya di atas 10 tahun.


Dewa Abadi mengeluarkan peta milik perampok untuk memastikan jika tidak salah jalan. Lokasi lingkaran bersilang masih sejauh 23 kilometer, dan akan ada pohon besar sebagai petunjuk titik koordinat.


Dewa Abadi melihat ke atas karena pohon mati ini sangat tinggi, tingginya mencapai lebih dari 135 meter, dengan diameter lingkaran mencapai 75 meter. Di puncak pohon mati itu tidak memiliki cabang, tampak rata seperti dipotong dengan presisi tinggi.


Pohon itu unik karena adanya ukiran-ukiran disetiap lingkaran batang pohon seperti Relife, relife 3 dimensi. Dan, ada anak tangga melingkar di batang pohon mati itu.


Dia berjalan di anak tangga untuk mencari petunjuk lain sambil mengamati relief yang menceritakan tentang sejarah awal berdirinya Kekaisaran Tang. Walaupun hanya relief, ketika diamati dengan hati jernih maka seseorang akan merasakan ikut berada di dalam masa awal Kekaisaran Tang.


Semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya juga ikut mengamati relief di batang pohon mati. Sampai akhirnya Dewa Abadi berada di puncak pohon mati. Tetapi, di puncak tidak ada apapun.


"Apakah kalian menemukan petunjuk pada relief pohon?" tanya Dewa Abadi kepada semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya, dia melihat Dunia Roh yang bisa dilihat dengan jelas dari puncak pohon mati.


Pada zaman Kekaisaran Tang, pohon mati itu dijadikan tempat untuk mengawasi Dunia Roh. Tempat Kaisar Tang bermeditasi sambil mengawasi perkembangan di Dunia Roh. Hampir setiap hari Kaisar Tang berada di puncak pohon yang dikenal dengan sebutan Pohon Mata Dunia.


"Aku tidak menemukan petunjuk apapun. Coba sekali lagi kita pelajari relief itu!" sahut Yuna Aurora.

__ADS_1


"Aku juga tidak menemukan hal-hal yang aneh dari ukiran itu!" jawab Tian Shuwan, dan semua orang juga menjawab sama.


Dewa Abadi pun menuruni anak tangga. Namun, cahaya matahari terbenam membuatnya berhenti karena melihat seberkas sinar yang keluar dari tempat duduk Kaisar Tang.


Dia membalikkan badan dan melihat ke bawah kakinya, yang mana mengeluarkan cahaya kecil yang saling terhubung, bentuknya menyerupai garis binatang.


"Itu mungkin petunjuknya!" seruan Tian She Meili yang penasaran karena ingin tahu petunjuk apa yang akan didapatkan nanti.


Dewa Abadi tersenyum melihat bentuk sinar yang saling terhubung. Ketika matahari benar-benar terbenam, tempat duduk Kaisar Tang berubah menjadi garis bintang berwarna kebiruan. Lalu terdengar suara raungan segala jenis binatang.


"Coba kamu duduk di tengah garis berbintang itu!" pinta Tian Lihua.


Dewa Abadi segera duduk bersila di tengah garis binatang. Namun setelah duduk, tidak terjadi sesuatu apapun. Kedua matanya tertuju ke arah Utara, yang mana rombongan para penguasa berjalan beriringan di Lembah Hijau.


"Gunakan energi kekuatan jiwa!" pinta Tian Lihua yang asal karena ingin menguji apakah ada reaksi pada garis berbintang.


Dewa Abadi memejamkan mata dan mengeluarkan energi Kekuatan Jiwanya. Energinya segera keluar dan membuat garis berbintang semakin bercahaya. Cahaya di puncak pohon dilihat oleh penghuni Dunia Roh.


Tiba-tiba garis berbintang itu bergerak-gerak, lalu membawa Dewa Abadi turun seperti naik lift. Dia melihat ke atas yang tertutup kembali seperti sediakala. Dia menunggu akan dibawa ke mana dirinya. Ketika turun sejauh 7 meter, tempat duduknya berhenti, dan dia melihat sebuah pintu.


Dewa Abadi segera berdiri dan menuju ke pintu yang terbuat dari kayu berukir, tingkat 3 meter dengan lebar 1,5 meter. Ketika jaraknya dari pintu terpisah setengah meter, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Terlihat ada anak tangga menurun, dan dia berjalan melewati anak tangga itu. Dia melihat ke belakang dan pintu tertutup.


Obor menyala dengan sendirinya sejalur dengan anak tangga menurun. Dewa Abadi terus berjalan ke bawah hingga sedalam 20 meter. Namun, tiba-tiba ratusan anak panah melesat ke arahnya dari depan yang keluar dari dinding pohon, jarak yang sangat dekat.


Dewa Abadi tidak panik, dia mengetuk udara di depannya. Seketika ratusan anak panah itu berjatuhan. Kemudian, dia lanjut berjalan. Setiap beberapa meter, mekanisme jebakan anak panah tidak sedikit menyentuh kulitnya, namun anak panah terus bermunculan.


Mungkin bagi orang lain yang diserang anak panah jarak dekat, sudah pasti akan terluka jika beruntung, dan terburuknya jelas tewas. Ketika berada di kedalaman tanah, atau tepatnya berada ketika Dewa Abadi berdiri di depan Pohon Mata Dunia, tiba-tiba anak tangga menjadi rata dan licin.


Akibatnya membuat Dewa Abadi hampir terpleset. Untungnya saja dia bisa melayang sehingga tidak terperosok ke bawah. Dia menghela nafas panjang dan menyusuri lorong sambil melayang...


(Note; Relief merupakan seni rupa murni yang unik sebab gambar hasilnya bentuknya 3 dimensi atau yang disebut dengan trimatra. Tapi gambar tersebut dibuat di bidang 2 dimensi yang disebut dengan dwimatra. Pada umumnya relief ditemukan pada tempat bersejarah misalnya aspark dan candi.)

__ADS_1


__ADS_2