God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Omniverse Magic World - Lord Transcendental.


__ADS_3

Bab 164. Dunia Lain Di Dalam Altar Dewa Sihir, Omniverse Magic World.


Mendengar teriakan Hu Yue Yan, Xu Huang, Pang Bersaudara, Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, mereka segera masuk ke dalam tenda. Melihat Dewa Binatang, Xu Huang tertawa bahagia karena sahabat akhirnya keluar juga.


Kemudian, Chen Yeon yang mewakili Dewa Binatang, mengungkapkan bahwa kedua rekannya gagal mengembalikan Pagoda Berlian. Ia juga mengatakan bahwa Dewa Binatang telah mengetahui apa yang akan terjadi, sehingga harus membuat yang palsu.


Karena Pagoda Berlian yang asli masih berada di dalam Dunia Jiwa, maka Dewa Binatang bisa meningkatkan kekuatannya. Sedangkan Energi Kekuatan Jiwanya yang terkuras, telah pulih sepenuhnya setelah berkultivasi ganda dengan semua istrinya.


"Jadi Dewa Binatang sudah tahu siapa berusaha untuk menghentikan Guru Ying dan Guru Weiheng?" tanya Kaisar Langit.


"Ini hanya dugaanku. Kalau tidak salah, dia adalah Tian Ba!" jawab Dewa Binatang.


Sebenarnya, Dewa Binatang telah diwanti-wanti oleh keluarganya agar tidak mengungkapkan rahasia keluarga, yaitu dilarang mengungkapkan nama keluarga.


Tetapi, Karena Dewa Binatang dan keempat kakaknya telah dikorbankan oleh Tian Ba, serta dipisahkan, maka buat apa merahasiakan semua ini. Toh, lambat laun semuanya akan tercium juga, pikirnya.


"Tian Ba, siapa orang itu?" selidik Chen Yeon yang tidak kenal.


"Orang yang berasal dari Observable Universe!" jawab Dewa Binatang.


"Kurang ajar!?" kegeraman Hu Yue Yan.


Bagi Chen Yeon dan Hu Yue Yan, Observable Universe dianggap galaksi kelas dua, berada di bawah The Living Tribunal Multiverse, yang artinya seharusnya tunduk dan patuh kepada Trimurti sebagai penguasa seluruh Alam Jagat Raya.


"Apakah Anda yakin?" Chen Yeon ingin memastikan bahwa tuduhan Dewa Binatang tidak sembarangan.


"Sudah kubilang, hanya dugaanku karena belum ada bukti! Sekarang yang perlu kita pikirkan ada dua. Pertama, menyelesaikan masalah di sini. Yang kedua, siapa yang akan mengembalikan Pagoda Berlian. Apakah ada saran dan rencana?" jawab Dewa Binatang dan balik bertanya dengan tujuan mengalihkan pembicaraan.


Semua orang segera memikirkan rencana. Di dalam pikiran mereka, untuk segera mengatasi fenomena ini, langkah terbaik adalah sesegera mungkin mengembalikan Pagoda Berlian. Permasalahannya, siapa yang bisa membawa kembali Pagoda Berlian?


"Apakah Guru Yeon dan Guru Yan bisa membawa kembali Pagoda Berlian?" tanya Kaisar Langit dengan sopan.


Dia juga khawatir jika Chen Yeon dan Hu Yue Yan tidak mampu melindungi Pagoda Berlian ketika dalam perjalanan. Kedua wanita ini yang paling kuat dari semua orang yang ada di sini, dan juga merupakan utusan. Yang artinya, kedua wanita ini yang seharusnya bisa diandalkan.


"Sekuat apa orang itu?" tanya Chen Yeon kepada Dewa Binatang karena ingin tahu seberapa besar kekuatan Tian Ba.


"Aku tidak tahu. Tetap, dengan kegagalan kedua rekanmu itu, sudah dipastikan dia lebih kuat!" jawab Dewa Binatang, lalu dia geleng-geleng kepala karena kurangnya Chen Yeon menganalisis kejadian.


Seharusnya, Chen Yeon tidak perlu bertanya seberapa kuat Tian Ba, dan sudah bisa mengukur batas kekuatannya jika harus berhadapan dengan Tian Ba. Sayangnya, Chen Yeon tidak mengerti makna dari gestur wajah Dewa Binatang.


"Dewa Binatang, kita bisa membawanya asal Anda mengantarkan kita, antar kita sampai di wilayah kami! Bisakah Anda membantu kita?" Chen Yeon meminta bantuan karena Pagoda Berlian masih dibawa oleh Dewa Binatang.


Dewa Binatang menatap wajah Chen Yeon, lalu menjawab, "tentu bisa. Tetapi... Bagaimana dengan masalah di sini?"

__ADS_1


"Aku sudah memikirkannya. Setelah kita mengalahkan Gemini, segera kita kembalikan Pagoda Berlian!" rencana Chen Yeon yang sederhana.


Gemini adalah nama lain dari Raksasa Mata Satu. Jika dalam wujud sempurna seperti Bai Ze, wujudnya menjadi setengah manusia setengah burung, tetapi tetap memiliki mata satu, sayap kupu-kupu yang memiliki api khas dari Vermilion Bird. Sedangkan nama lain dari Bai Ze adalah Taurus, yang merujuk pada ciri-cirinya seperti Minotaur yang bertubuh manusia kepala banteng.


Lagi-lagi Dewa Binatang geleng-geleng kepala karena rencana dari Chen Yeon tidak seharusnya sesederhana ini, sebab melawan Bai Ze saja sangat merepotkan.


Karena malas berdebat tentang hal ini, dia memutuskan untuk segera mengeliminasi Raksasa Mata Satu, apapun caranya. "Kita kalahkan dulu Raksasa Mata Satu!" ucapnya.


"Apakah Anda kali ini bisa memasuki lingkaran sinar?" tanya Chen Yeon sebelum Dewa Binatang beranjak dari tempat duduk.


"Akan kucoba!" jawab singkat Dewa Binatang.


Sejujurnya, Dewa Binatang malas berhadapan dengan wanita bodoh seperti Chen Yeon, dia tidak peduli dengan kecantikannya. Tetapi, untuk menghargai seorang wanita seperti Chen Yeon, dia tidak mengungkapkan isi hatinya. Teguran sebelumnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Chen Yeon mengerti.


Dewa Binatang segera keluar dari tenda dan diikuti oleh semua orang. Xu Huang yang hafal dengan sifat Dewa Binatang hanya tersenyum, dia tidak berani berucap sepatah katapun karena Chen Yeon lebih kuat darinya.


Kemudian, Dewa Binatang sengaja tidak terbang agar lebih cepat memasuki lingkaran sinar, sebab dia ingin memeriksa kekuatan dinding pertahanan. Dia melihat dinding pertahanan telah ditinggikan, kini ketinggiannya mencapai lebih dari 400 meter, dan ada 20 dinding pertahanan yang melingkari medan perang Samudera Hitam.


Dewi Aura segera mendekati Dewa Binatang, lalu dia bertanya tentang ketiga muridnya, Dewi Pesona, Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian, "Dewa Binatang, bagaimana dengan ketiga muridku?"


Dewa Binatang segera berhenti berjalan dan diikuti oleh semua orang yang mengikutinya. Dia melihat Dewi Aura yang tampak gelisah dan takut kepadanya.


"Mereka baik-baik saja, tetapi tidak dengan Dewi Pesona!" jawab Dewa Binatang.


Kaisar Langit, Maharaja Yaksa, dan semua Dewa yang memusuhinya menundukkan wajah karena merasa bersalah. Dewi Aura tahu arti ucapannya, lalu melihat Dewa Binatang melambaikan tangan kanannya.


"Guru!" sapa Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian secara bersamaan.


"Terima kasih telah merawat kedua muridku!" ucapan tulus dari Dewi Aura.


Dewa Binatang hanya mengangguk sebagai respon, lalu meninggalkan guru dan murid itu. Setelah tiba di depan medan perang Samudera Hitam, dia segera terbang seorang diri ke arah lingkaran sinar.


Semua orang melihatnya dengan penuh harap, berharap Dewa Binatang berhasil mengalahkan Raksasa Mata Satu dan juga menghancurkan altar Dewa Sihir.


Saat ini, Dewa Binatang bisa memasuki lingkaran sinar, dia berhadapan dengan wajah Raksasa Mata Satu. Seperti sebelumnya, dia bertanya, tetapi tidak ada tanggapan.


"Terakhir aku bertanya. Apakah fenomena alam ini ada yang mengaturnya? Jika ada siapa orangnya?" tanya Dewa Binatang sekali lagi. Sayangnya, tidak ada tanggapan dari Raksasa Mata Satu.


Karena tidak ada tanggapan, Dewa Binatang mendarat di pinggir altar Dewa Sihir. Untuk membuka altar, dia mempelajari lantai altar yang berukir rumit, ukiran Formasi Array yang tidak dipahaminya.


Karena tidak bisa memahami ukiran itu, Dewa Binatang berjongkok dan meletakkan kedua telapak tangan dan di lantai altar Dewa Sihir, dia mengalirkan energi kekuatan jiwanya. Semua orang yang melihat dari kejauhan, terkejut melihat Dewa Binatang terhisap ke dalam altar Dewa Sihir...


Dewa Binatang tidak panik saat melintasi lorong waktu, sebab sudah terlalu sering mengalami hal seperti ini. Tidak berselang lama, dia muncul di tempat lain, atau bisa dikatakan berada di dunia lain.

__ADS_1


Saat ini, dia melihat dunia gelap ini hanya diterangi oleh cahaya kemerahan yang redup. Tetapi Dewa Binatang tidak memikirkan darimana asal cahaya di dunia ini. Kedua matanya tertuju pada apa yang dihadapannya.


Dihadapannya, berbaris mahkluk-mahkluk raksasa bersayap kupu-kupu, tidak jauh beda dengan Raksasa Mata Satu, hanya beda tinggi badannya yang setinggi 12 meter. Jumlahnya, membuat Dewa Binatang bergidik, mencapai angka miliaran raksasa.


Kemudian, di kejauhan melihat ubur-ubur raksasa yang memiliki jutaan tentakel, ukurannya mampu menutupi Planet Peliades. Dari ujung tentakel itu, keluar banyak mahkluk-mahkluk raksasa. Seluruh tubuh ubur-ubur raksasa itu berwarna hitam, dan mengeluarkan serat-serat petir di dalam tubuhnya.


Dewa Binatang memicingkan kedua matanya saat melihat dua orang berada di tengah-tengah bawah dari tubuh ubur-ubur raksasa itu, tubuh mereka terikat tentekal. Kedua orang itu dikenalinya, mereka adalah Yao Shuo dan Dewa Sihir alias Dewa Tianwu.


Melihat kondisi mereka, Dewa Binatang menduga jika mereka yang terikat sedang dikendalikan oleh ubur-ubur raksasa itu.


"Sudah lama kami menunggumu! Selamat datang di Omniverse Magic World!"


Terdengar suara keras yang menggelegar keras di seluruh penjuru dunia ini, yang ternyata adalah nama dari dunia ini. Dewa melihat Dewa Sihir yang berbicara mewakili ubur-ubur raksasa, dengan kata lain yang berbicara adalah mahkluk itu.


Setelah mahkluk itu menyapa Dewa Binatang, semua raksasa dihadapannya membuka jalan untuknya. Namun, dia tidak melangkah kaki.


"Siapa Anda?" tanya Dewa Binatang.


"Perwujudan dari energi kegelapan. Aku tak bernama! Tetapi kau bisa memanggilku Transcendental, Lord Transcendental!" jawab mahkluk ubur-ubur raksasa itu.


Dewa Binatang mengingat sejarah altar Dewa Sihir, dan menduga jika Lord Transcendental itu adalah The King Of Dark Matter, yang merubah wujudnya menjadi ubur-ubur.


"Apakah kau The King Of Dark Matter?" selidik Dewa Binatang.


"Dulu, sebelum aku dikurung di tempat ini, dunia tanpa energi apapun. Sayangnya, mereka melupakan sesuatu... Kegelapan itu juga energi. Dan kegelapan adalah asal mula adanya kehidupan!" jawab ubur-ubur raksasa itu dengan jujur.


Dewa Binatang akhirnya mengerti bahwa The King Of Dark Matter telah berevolusi menjadi Lord Transcendental karena kegelapan. Karena energi kegelapan inilah The King Of Dark Matter mencipta dunianya sendiri yang disebut Omniverse Magic World. Bisa dikatakan, The King Of Dark Matter adalah penguasanya.


"Berarti kau adalah anak buah dari Dewa Perusak? Dan kau juga yang telah merencanakan semua kejadian ini, bukan? Lalu apa tujuanmu membawaku ke tempat ini?" selidik Dewa Binatang.


Sebenarnya, Dewa Binatang tidak berniat memasuki Omniverse Magic World, awalnya hanya ingin tahu apa yang ada di dalam altar Dewa Sihir. Namun, justru tindakannya yang mengalirkan energi kekuatan jiwa sehingga membawanya ke tempat ini.


"Aku bukan sekedar anak buah-Nya. Karena aku telah berevolusi, kini aku menjadi wakil-Nya! Dan namaku adalah Lord Transcendental!" jawabnya dengan nada tinggi, tampak sangat marah karena tidak ingin disamakan dengan kasta rendah.


Dewa Binatang tersenyum sinis, tidak ada rasa takut walaupun tahu tidak mungkin mengalahkan Lord Transcendental.


"Bagaimana dengan dua pertanyaanku sebelumnya?" sekali lagi dia bertanya


"Momentum yang sengaja dibuat oleh seseorang, kami hanya memanfaatkannya. Dan kau, adalah jalan kita untuk keluar dari tempat ini. Tunduk atau tersiksa!" ungkap Lord Transcendental.


Dewa Binatang akhirnya tahu telah terjebak dalam skema seseorang yang belum diketahuinya. Karena tidak mungkin bisa keluar dari jebakan ini, maka satu-satunya jalan harus melawannya. Dia segera mengaktifkan zirah perangnya, dan mengeluarkan Pedang Semesta...


Apakah Dewa Binatang mampu melawan Lord Transcendental yang kekuatannya jauh lebih kuat?

__ADS_1


Seandainya, Lord Transcendental dikalahkan, apakah fenomena alam ini bisa dihentikan?


Bersambung.


__ADS_2