
Bab 68. Akhirnya Bertemu!
Akan tetapi, Dewa Binatang jelas tidak akan melepaskan Dewa Tombak Api yang akan melarikan diri, sebab belum waktunya musuhnya tahu tentang garis darah Naga 12 Elemen, tidak untuk saat ini.
Dewa Binatang segera mengayunkan ekornya dengan sangat cepat, walaupun tubuhnya sangat besar tidak membuatnya menjadi lambat. Ekor Naga 12 Elemen memicu gelombang angin kencang.
Dewa Tombak Api langsung berteleportasi sebelum terkena serangan, dia muncul di atas bungker King Wolf. Baru saja muncul, dia dikejutkan oleh Dewa Binatang yang melesat ke arahnya.
Sebelum cakar Naga 12 Elemen mencengkeram tubuhnya, 12 tangan Dewa Tombak Api mengayunkan pukulannya bertubi-tubi. Pukulannya berubah menjadi api yang menyerupai kepalan tangan.
Boom boom boom boom...
Rentetan ledakan energi saat mengenai Dewa Binatang hingga terpental ke belakang dan menghancurkan Kerajaan Naga. Terciptalah lubang sepanjang jalur yang dilalui tubuh besar Naga 12 Elemen.
Melihat lawannya yang terkena pukulannya, Dewa Tombak Api segera memberikan perintah kepada bawahannya, "cepat, kerahkan Formasi Penjara Langit!"
Dengan segera jenderal utusan para penguasa beserta 10.000 kultivator keluar dari persembunyiannya. Dewa Tombak Api memimpin bawahannya membentuk Poligon (segi lima), dengan dirinya sebagai pusat.
Ternyata, mereka telah membuat rencana ini sebelum Dewa Binatang berubah wujud. Formasi Penjara Langit adalah ciptaan Kaisar Langit yang dikhususkan untuk musuh kuat.
Formasi ini membutuhkan energi langit dan bumi dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu Dewa Tombak Api membawa banyak kultivator yang memiliki kekuatan di atas tingkat Mahadewa. Mereka mengangkat kedua tangannya ke atas sambil mengeluarkan energi spiritual.
Sebelum Dewa Binatang bangkit, muncul Formasi segi lima dari empat penjuru mata angin. Dengan segera Dewa Binatang bangkit dan terbang sebelum terkurung Formasi. Namun, dia terlambat sehingga tubuhnya besar tidak bisa keluar dari Formasi Penjara Langit.
Ketika berusaha untuk menghancurkan dinding Formasi tersebut, tubuhnya makin tertekan oleh Formasi. Karena tidak bisa keluar, dia merubah wujud sebagai manusia.
"Pengecut!? Kalau berani, ayo duel satu lawan satu!?" bentak Dewa Binatang yang menantang Dewa Tombak Api.
Dewa Tombak Api tertawa keras. Dia jelas tidak mungkin mau berduel dengan musuhnya setelah mengetahui kekuatan Dewa Binatang.
"Hahaha!! Bodoh, siapa yang mau berduel jika ada cara yang lebih praktis untuk mengalahkanmu! Hal ini sudah lama direncanakan oleh Yang Mulia Kaisar Langit hanya untuk menangkapmu hidup-hidup!" ungkap Dewa Tombak Api.
Dewa Binatang tersenyum sinis sambil melihat Formasi Penjara Langit, di mana dinding Formasi makin mengecil sehingga tubuhnya merasa tertusuk ribuan jarum.
Bukannya berteriak kesakitan, dia malah tersenyum karena rasa sakit serta energi langit dan bumi justru memperkuat fisiknya. Fisiknya ini seperti ditempa dengan berbagai macam ramuan langka. Itu dikarenakan kemampuan dari Root Power Stone yang menyerap elemen jenis apapun untuk memperkuat fisik.
"Jika ini adalah Pagoda Emas, mungkin aku akan mengalami nasib tragis seperti sebelumnya. Sayangnya kalian dan juga dua orang bodoh itu tidak pernah belajar ...!" hinaan Dewa Binatang.
Dewa Tombak Api dan bawahannya jelas marah karena perkataan musuhnya yang menghina dua penguasa Alam Suci.
"Kerahkan seluruh kekuatan kalian!" perintah Dewa Tombak Api yang sangat marah.
"Dewa, jika dia mati bagaimana?" tanya jenderal Lei yang khawatir.
__ADS_1
Dengan seluruh energi spiritual dikerahkan, maka Formasi Penjara Langit akan menjadi seperti bom yang mahadahsyat. Menurut pengetahuan mereka, dengan mengerahkan seluruh energinya, maka siapapun yang terkurung di dalam Formasi Penjara Langit akan hancur berkeping-keping, apapun benda atau alat perlindungan jenis apapun tidak akan mampu melindungi, bahkan jiwanya juga ikut musnah.
Jika hal itu terjadi, Batu Keabadian, Artefak Alami dan apapun yang dimiliki oleh Dewa Binatang tidak merasa dapatkan. Oleh karena itu, Jenderal Lei khawatir tidak mendapatkan sesuatu yang berharga milik musuhnya.
"Yang Mulia yang akan memberikan kompensasi untuk kalian, dan aku juga yang akan bertanggung jawab!" jawab Dewa Tombak Api dengan nada tinggi.
Mendapatkan jaminan ini, Jenderal Lei tersenyum senang, demikian juga dengan semua orang. Mereka segera mengeluarkan seluruh energinya untuk mengalahkan Dewa Binatang.
Formasi Penjara Langit makin mengecil dan menekan tubuh Dewa Binatang yang mengangkat kedua tangannya untuk menahan dinding energi. Energi Formasi itu memasuki seluruh pori-pori kulit yang memperkuat fisik.
Semua orang belum menyadari apa yang dilakukan oleh Dewa Binatang, mereka melihat musuhnya meringis menahan rasa sakit. Melihat reaksi musuhnya, mereka makin bersemangat untuk mengeluarkan energi.
Dewa Binatang sendiri belum menyadari jika Formasi Penjara Langit akan memicu ledakan dahsyat ketika menerima energi spiritual dalam jumlah yang berlebihan.
"Ayo, bantu aku menyerap energi ini!" pinta Dewa Binatang kepada Batu Keabadian.
Lalu dia mengaktifkan zirah perang Naga yang sudah lama tidak digunakannya. Tubuhnya mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata siapapun, lalu keluar jiwa Satria 12 Naga yang menyerupai wujud aslinya, mereka meraung-raung keras sambil mengelilingi tubuh Dewa Binatang.
Dengan sangat cepat energi Formasi Penjara Langit diserap oleh Batu Keabadian dan Satria 12 Naga.
"Cepat, jangan tahap energi kalian!" perintah Dewa Tombak Api saat melihat musuhnya berinsiatif untuk melawan, dia juga mengeluarkan seluruh energinya.
Di sekitar Formasi Penjara Langit, angin berhembus sangat kencang, awan hitam berkumpul di atas semua orang. Lalu keluar badai petir yang disertai dengan turunnya salju.
"Tidak baik!!" seruan Dewa Binatang saat tahu musuh berniat untuk menghabiskannya.
Dhummm....
Dentuman keras ketika Formasi Penjara Langit meledak. Setelah ledakan itu, memicu gelombang kejut yang mengerikan, membuat Dewa Tombak Api yang bertubuh raksasa sampai terpental, demikian juga dengan bawahannya yang tubuhnya seperti dilemparkan dengan sangat keras.
Gelombang kejut dari ledakan itu menghancurkan apapun yang dilaluinya. Setelah itu, lokasi Dewa Binatang muncul cahaya terang yang hanya sesaat. Kemudian, terpampang jelas pusat ledakan itu menciptakan kawah raksasa sedalam ratusan meter.
Kini wilayah Heavens Land tidak lagi seindah dulu, yang ada hanya ada sisa-sisa kehancuran dan kobaran api, bahkan tidak ada satupun tembok bangunan yang tersisa, semuanya menjadi abu.
Dewa Tombak Api berubah wujud menjadi aslinya dan memuntahkan darah segar karena dampak terkena gelombang kejut. Dia tidak menyangka ledakan Formasi Penjara Langit sangat mengerikan.
Separuh tubuhnya hancur, tapi dengan cepat segera pulih, tapi bukan berarti luka dalamnya bisa disembuhkan dengan cepat. Dia akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kondisi dalam keadaan prima.
Dia melihat bawahannya yang banyak tidak selamat dari dampak ledakan tersebut. Tapi dia menghela nafas lega karena keempat jenderal utusan masih hidup walaupun mengalami luka berat.
Dari 10.000 kultivator yang tersisa kurang dari 3.000 jiwa, harga yang sangat mahal tapi sebanding dengan hasilnya. Mereka berhasil mengalahkan musuh yang ditakuti dan dikhawatirkan oleh banyak kekuatan.
Dewa Tombak Api melihat bungker King Wolf menjadi terlihat. Untungnya saja tidak sampai menghancurkan kapal luar angkasa. Setelah itu, dia segera memeriksa ke dalam kawah untuk memastikan jika Dewa Binatang telah berhasil dikalahkan.
__ADS_1
Kini, dia tidak lagi merasa aura musuhnya, seperti hilang tertelan bumi.
"Akhirnya kamu mati juga," gumam Dewa Tombak Api yang senang musuh penyebab bencana bagi alam semesta telah dimusnahkan, lalu dia tersenyum lebar karena melihat banyak Batu Alam yang berserakan di dasar kawah...
Di lokasi yang dekat dengan wilayah Suku Pohon, Dao Li Xia menangis sejadi-jadinya saat melihat ledakan hebat itu, semua istri Dewa Binatang juga menangis karena melihat suaminya terkurung, lalu ledakan pun terjadi.
Empat tetua Suku Pohon dan seluruh anggotanya juga menangis mengetahui perjuangan Dewa Binatang yang bertarung seorang diri melawan penjajah.
Raja Long Ying yang meremehkan serta sempat menghina Dewa Binatang merasa bersalah, dia telah berhutang budi kepadanya yang telah diselamatkan.
Setelah Dao Li Xia tenang dan tidak ingin mengecewakan pengorbanan suaminya, dia memerintahkan untuk semua orang untuk segera masuk ke dalam wilayah Suku Pohon...
...****************...
Di suatu tempat, tepatnya di dalam gua, sesosok jiwa wanita sedang menatap wajah seorang pria. Wanita itu adalah Guru Agung yang menyelamatkan Dewa Binatang dari ledakan Formasi Penjara Langit.
Dengan lambaian tangannya, seluruh luka yang dialami oleh Dewa Binatang pulih, namun dia masih belum sadarkan diri. Setelah menyembuhkan lukanya, Guru Agung mengaktifkan altar segitiga. Dalam sekejap mata, mereka berdua menghilang.
Mereka berdua muncul di sebuah pondok yang terbuat dari bahan kayu gaharu dan jati. Sedangkan Dewa Binatang dibaringkan di ranjang kayu yang beralaskan kasur kapuk.
Selain Guru Senior, di dalam pondok kayu itu berdiri empat wanita sangat cantik yang sedang menatap wajah Dewa Binatang. Wajah mereka mirip satu dengan lainnya karena bersaudari. Terlihat air mata bahagia mengalirkan membasahi pipinya.
Mereka adalah jiwa kakak perempuan Dewa Binatang, yang berbaju merah adalah kakak tertua yang bernama Tian Lihua, berbaju putih adalah kakak kedua yang bernama Tian Chunhua, mengenakan pakaian biru adalah kakak ketiga yang bernama Tian Shuwan, dan yang terakhir adalah Tian Mei Yin mengenakan pakaian serba berwarna merah muda.
Tian Mei Yin memeluk tubuh Dewa Binatang sambil mencium seluruh wajahnya karena sangat rindu. Tian Shuwan dan Tian Chunhua juga memeluk adiknya, sekaligus suaminya yang telah berpisah sangat lama.
"Terima kasih telah membawanya ke sini!" ucap Tian Lihua sambil memegang tangan kanan Dewa Binatang.
"Ini sudah menjadi tugas murid, Guru!" jawab Guru Agung.
Guru Agung bernama Dao Long Shu, dia adalah murid dari Tian Lihua. Tugasnya ini sudah lama diemban hanya untuk menantikan kedatangan Dewa Binatang, dia akan menjadi jalan bagi mempertemukan mereka.
"Karena tugasmu sudah selesai, apa kamu yakin tidak mau hidup lagi?" tanya Tian Lihua yang ingin memberikan hadiah.
Guru Agung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, lalu dia berkata, "murid sudah lelah menjalani kehidupan fana. Ijinkan murid untuk menyatu dengan Alam Semesta! Murid hanya minta, lindungi seluruh penghuni Mysterious Land, Guru!"
Setelah berbicara, Guru Agung segera berlutut sebagai bentuk penghormatan kepada gurunya untuk terakhir kali sebelum pergi. Kemudian, Tian Lihua melambaikan tangan.
"Pergilah dalam damai!" ucapannya.
Jiwa Guru Agung tersenyum manis sambil menatap wajah Tian Lihua, lalu jiwanya menyebar dan menghilang untuk selamanya. Tian Lihua menghela nafas berat karena kehilangan muridnya yang paling setia.
"Shimo, bangun... Apa tidak lelah tidur terus!" kata Tian Mei Yin sambil mencubit hidung Tian Zhi Shimo si Dewa Binatang.
__ADS_1