
Bab 156. Medan Perang Samudera Hitam.
Dewa Binatang mengerutkan keningnya karena melihat dinding pertahanan raksasa yang tingginya mencapai lebih dari 100 meter, yang melingkari wilayah Samudera Hitam.
Yang lebih mengejutkannya, dia melihat raksasa yang ukuran tubuhnya sangat besar, mahkluk yang tidak pernah diketahuinya, dan yang dilihatnya adalah Bai Ze, masih diam mematung di dalam lingkungan sinar.
Melihat perubahan di Benua Peliades, Dewa Binatang baru sadar jika telah tinggal lama di dalam Dunia Jiwanya. Setelah dihitung-hitung, dia telah tinggal di Dunia Jiwa lebih dari 30 hari, atau dengan kata lain waktu telah berlalu sangatlah lama di dunia luar.
"Peduli amat!" gumam Dewa Binatang karena telah mengingkari kesepakatan, dia juga tidak ada niatan untuk mengingkari janjinya.
Karena tidak lagi khawatir dikalahkan, Dewa Binatang segera menuju ke arah Samudera Hitam yang menjadi pusat perhatiannya...
Ketika Dewa Binatang berada di dalam Dunia Jiwanya. Chen Yeon dan semua pendukungnya perlahan mulai kelelahan melawan para raksasa Bai Ze yang tidak ada habis-habisnya.
Akhirnya Chen Yeon meminta Kaisar Langit menggunakan rencana yang sebelumnya telah dibicarakan. Sayangnya, gabungan dari semua Artefak Alami yang dimiliki oleh mereka, tetap tidak mampu menghentikan serangan raksasa, malahan akibat kegagalan itu membuat raksasa berevolusi menjadi semakin kuat terhadap energi spiritual maupun senjata Artefak jenis apapun.
Seperti yang dulu pernah dikatakan oleh Chen Yeon, bahwasanya kehidupan yang berasal dari Galaksi Pengadilan Jagat Raya adalah antitesis. Yang artinya, kehidupan itu semakin kuat manakah lawannya menggunakan Artefak jenis apapun.
Tetapi anehnya, disaat-saat para raksasa berevolusi memukul mundur Chen Yeon serta pendukungnya, tiba-tiba Bai Ze yang telah lama terdiam mematung akhirnya bergerak, dengan mengayunkan senjata gada ke tanah sebagai bentuk perintah. Setelah itu, semua raksasa kembali ke dalam altar Dewa Sihir. Semenjak itu, Bai Ze tidak lagi bergerak, dan para raksasa juga tidak lagi keluar dari altar Dewa Sihir.
Keanehan ini juga kesempatan bagi Chen Yeon dan pendukungnya, di mana ia segera memerintahkan semua Dewa untuk membuat dinding pertahanan melingkari Samudera Hitam. Tujuannya agar para raksasa terkurung dan tidak keluar dari Samudera Hitam.
Setelah beberapa tahun berlalu, datang bala bantuan dari galaksi lain, salah satunya berasal Galaksi Mata Hitam yang dipimpin oleh Kaisar Pang Hong, dan Panglima Perangnya bernama Xu Huang.
Pang Hong dan Xu Huang adalah sahabat Dewa Binatang ketika menjadi peserta di Konferensi Tianwu. Xu Huang dikenal dengan sebutan Xu Fat, pria gundul bertubuh gemuk. Sedangkan Pang Hong adalah kakak dari Pang Shui yang menjadi kekasihnya Dewa Binatang.
Setelah kedatangan bala bantuan, keluar suara perintah dari dalam altar Dewa Sihir, kemudian keluar dari altar itu banyak binatang Banteng berwarna merah. Kekuatan Banteng-banteng itu tidak kalah dari para raksasa, ukurannya dua kali lebih besar dari Gajah.
Setiap harinya, kurang lebih 500 ekor Banteng keluar dari altar Dewa Sihir. Mau tidak mau, semua Dewa harus melawan Banteng yang akan menghancurkan dinding pertahanan agar bisa keluar. Saat semua Banteng berhasil dikalahkan, selalu saja 1.000 raksasa keluar dari dalam altar yang menunggangi Banteng.
Pertempuran antara Dewa dan raksasa Bai Ze telah berlangsung bertahun-tahun. Selama itu, Benua Peliades menjadi ajang latihan bagi prajurit junior, murid para Dewa. Dan satu hal lagi yang membuat Samudera Hitam menjadi daya tarik tersendiri bagi kultivator, yang mana setiap kali berhasil membunuh raksasa yang menunggangi Banteng, maka orang tersebut mendapatkan Kristal Energi.
__ADS_1
Kegunaan dari Kristal Energi ini mirip dengan Batu Roh, namun memiliki perbedaan yang besar. Kandungan di dalam Kristal Energi inilah yang dibutuhkan oleh kultivator di tingkat Half Super Omega, dan besar manfaatnya jika digunakan oleh kekuatan di bawah tingkat itu. Jadilah Planet Peliades surga bagi kultivator.
Namun, untuk mendapatkan Kristal Energi tidak semudah membalikkan tangan, sebab raksasa Bai Ze yang telah berevolusi kekuatan tempurnya semakin meningkat sehingga banyak membunuh tentara Asyura dan tentara Langit, tidak sedikit pula beberapa Dewa terbunuh di medan pertempuran. Setiap kali pihak para Dewa dikalahkan, lingkaran sinar semakin terang benderang, dan Bai Ze yang terdiam juga semakin kuat auranya.
Demikian juga dengan pihak para Dewa, jika berhasil mengalahkan satu raksasa Bai Ze penunggang Banteng, maka akan mendapatkan Kristal Energi.
Selama itu, Chen Yeon dan pendukungnya tetap terus mencari keberadaan Dewa Binatang, sebab Pagoda Berlian sangatlah penting untuk menyelamatkan alam semesta. Satu Bai Ze saja mampu merepotkan semua Dewa, apalagi jika semua mahkluk-mahkluk dari 12 rasi bintang itu turun, sudah dipastikan akan hancurnya kehidupan di manapun. Ketika hari itu terjadi, maka hal yang lebih buruk daripada menghadapi mahkluk-mahkluk 12 rasi bintang itu, adalah bangkitnya Lord Dark Matter si Dewa Perusak.
Saat ini, pertempuran antara Dewa dan raksasa Bai Ze baru saja berakhir. Dan seperti sebelumnya, kedua belah pihak itu tidak ada yang menang maupun kalah, sama-sama dirugikan.
Di saat tentara dan Dewa akan kembali ke tempat perlindungan, salah satu prajurit Langit melihat punggung seseorang pria di dekat Bai Ze, dengan kata lain pria itu berada di dalam lingkaran sihir yang tidak mampu ditembus oleh siapapun.
Pria itu hanya mengenakan celana panjang longgar berwarna hitam, rambut panjang sepinggang dan berwarna putih yang tergerai bebas, tinggi badan lebih dari 200 cm. Di punggungnya terdapat tato Yin Yang, yang mana di dalam lingkaran tato itu ada gambar 12 Naga Elemen yang tampak bergerak-gerak. Pria itu tidak lain adalah Dewa Binatang.
Sontak hal itu membuat prajurit Langit itu terkejut dan memberitahukan kepada rekan-rekannya. Kemunculan Dewa Binatang yang belum diketahui identitasnya, segera didengar oleh semua pihak.
Chen Yeon, Hu Yue Yan, Chen Ying, Hu Weiheng, dan semua pendukungnya segera menghampiri pria itu, namun karena lingkaran sinar membuat mereka tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu.
"Siapa Anda, musuh atau kawan?" teriakan Chen Yeon yang tertuju kepada Dewa Binatang.
Karena di dalam lingkaran sinar, Dewa Binatang tidak mendengar teriakan Chen Yeon, bahkan dia tidak mendengar suara apapun dari luar. Saat ini, dia fokus memperhatikan Bai Ze yang mengeluarkan aura yang familiar.
Kemudian, tiba-tiba altar Dewa Sihir yang berbentuk lingkaran terbelah menjadi dua, lalu muncul lubang hitam. Dari lubang itu keluar raksasa penunggang Banteng. Dewa Binatang melihatnya, namun tetap diam.
Altar Dewa Sihir kembali tertutup setelah seribu raksasa telah keluar. Raksasa Bai Ze melewati Dewa Binatang, seolah-olah dirinya tidak ada, padahal dia tidak menggunakan Teknik Perubahan Wujud.
Keluarnya para raksasa penunggang Banteng yang lebih cepat daripada sebelumnya, membuat Chen Yeon segera mundur dan diikuti oleh semua orang. Xu Huang, Pang Bersaudara, Pang Shui dan Juan Rou yang paling terakhir mundur, sebab mereka ingin sekali menemui Dewa Binatang, tetapi terhalang lingkaran sinar.
Semua orang telah berkumpul di atas tembok pertahanan, menunggu para raksasa keluar dari lingkaran sinar.
"Guru, biar kami yang kali ini melawan raksasa penunggang Banteng!" pinta Xu Huang kepada Chen Yeon yang menjadi guru bagi semua Dewa, sebab kekuatannya lebih tinggi dari siapapun.
__ADS_1
"Baiklah, Panglima Perang Xu, Kaisar Pang dan yang lainnya harus hati-hati! Aku tidak ingin hari ini ada korban jiwa di pihak kita!" ucap Chen Yeon yang tidak ingin kekuatan di atas tingkat True Alfa tewas di medan perang Samudera Hitam.
Tanpa banyak bicara, Kaisar Pang Hong, Panglima Perang Xu Huang, Juan Rou, Pang Heng sebagai Menteri Pertahanan, dan Pang Shui sebagai Penasihat Kekaisaran Pang, mereka segera keluar dari tembok pertahanan dengan membawa lima ribu tentara.
Di tengah-tengah antara tembok pertahanan dan lingkaran sinar, kini kembali menjadi bising dengan adanya pertempuran. Seribu raksasa melawan lima ribu manusia. Pihak para raksasa tidak sedikitpun takut kepada lawannya yang menang jumlah...
"Apakah kamu ada hubungannya denganku?" tanya Dewa Binatang kepada Bai Ze yang selalu diam seperti patung.
Sekali lagi, Bai Ze tidak menjawab semua pertanyaan Dewa Binatang, bahkan pergerakan sedikitpun tidak. Karena semua pertanyaannya tidak dijawab, dia membalikkan badan dan melihat pertempuran antara raksasa dan Dewa.
Saat Dewa Binatang membalikkan badan, Chen Yeon dan pendukungnya tercengang. Chen Yeon segera memerintahkan semua pendukungnya turun ke media perang, tujuannya agar bisa berbicara dengan Dewa Binatang terkait Pagoda Berlian.
Dewa Binatang mengurungkan niat untuk menemui kekasih dan sahabatnya, sebab ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Chen Yeon. Dia juga memperhatikan bagaimana pihak Dewa mengalahkan para raksasa. Sebelum tubuh raksasa yang terbelah menyentuh tanah, buru-buru dua orang menggunakan energi untuk meledakkan tubuh raksasa, lalu keluar satu Kristal Energi berwarna kehitaman.
Dengan turunnya semua Dewa bersama balatentara Langit dan Asyura, seribu raksasa jelas dengan mudah dikalahkan. Namun, raksasa penunggang Banteng justru lebih banyak keluar dari altar Dewa Sihir, jumlahnya berkali-kali lipat dari sebelumnya, dengan jumlah yang sama dengan pihak Dewa.
Pertempuran makin sengit dan menyulitkan Chen Yeon yang ingin mendekati Dewa Binatang, seakan-akan para raksasa melarang siapapun mendekati lingkaran sinar.
Karena hal ini, Chen Yeon dan pendukungnya menduga jika Dewa Binatang yang menjadi pemimpin atas para raksasa. Namun, dugaan mereka ternyata salah besar, sebab mereka melihat Dewa Binatang yang baru saja keluar dari lingkaran sinar segera diserang oleh para raksasa.
Chen Yeon dan pendukungnya terkejut bukan main ketika melihat Dewa Binatang dengan santainya mampu meledak tubuh raksasa dalam satu serangan.
Dewa Binatang berjalan menuju ke arah Pang Shui. Disaat raksasa mendekatinya, cukup dengan lambaian tangan yang mengeluarkan kekuatan jiwa, maka seketika tubuh raksasa itu hancur berkeping-keping.
Pang Shui yang masih berada di kejauhan, melihat kekasihnya sehingga mengabaikan serangan raksasa, ia diam saling berpandangan dengan Dewa Binatang.
"Aiyoo...! Kayak baru saja jatuh cinta saja!" kekesalan Xu Huang ketika membelah tubuh raksasa yang akan menyerang Pang Shui.
"Diam kau, Xu Fat!?" bentakan Pang Shui tanpa peduli dengan sekitarnya, ia sangat merindukan Dewa Binatang yang telah lama berpisah, terakhir bertemu ketika berada di Alam Tianwu.
Xu Huang, Pang Bersaudara dan Juan Rou kesal karena harus melindungi Pang Shui. Mereka sibuk membukakan jalan bagi Pang Shui yang berjalan mendekati Dewa Binatang.
__ADS_1
Chen Yeon dan pendukungnya belum menyadari jika ada dua insan yang saling berpandangan di tengah-tengah medan peperangan, sebab mereka terfokus pada raksasa yang terus-menerus menyerang.