
Bab 181. Mencari Musuh.
Bing Nan tidak ingin membuat Dewa Abadi kecewa, dia mengajaknya menuju ke rumah yang tidak dihuni.
Dewa Abadi melihat rumah yang terbuat dari kayu beratapkan jerami, memiliki empat ruangan, halamannya sangat luas. Di depan rumah kayu itu tumbuh pohon mangga, manggis, dan rerumputan liar.
"Jika Anda mau, rumah ini bisa ditempati dan menjadi milik Anda. Pemiliknya meninggalkan desa dan menetap di Kota An Mang. Tetapi sebelumnya, saya minta maaf karena tidak bisa menjamu Anda selayaknya seorang tamu!" ucap Bing Nan.
"Tidak masalah. Terima kasih!" ucap Dewa Abadi sambil mengeluarkan peti harta yang berisi koin emas dan meletakkannya di tanah, jumlahnya mencapai dua juta koin emas, "bagikan ini kepada penduduk!" perintahnya.
Melihat peti harta yang tiba-tiba muncul, membuat Bing Nan terkejut karena sebelumnya meremehkan Dewa Abadi yang dianggap tidak memiliki banyak koin emas. Ternyata dia salah, dihadapannya adalah orang yang kaya raya. Memiliki Interspatial Ring – cincin ajaib (nama lain dari Cincin Dimensi) saja sudah tergolong kaya, apalagi memberikan peti harta.
"Terima kasih Tuan Muda, terima kasih!" ucapan Bing Nan dengan tulus, hatinya sangat gembira karena kerugian besar bagi penduduk desa akan terbayar lunas, bahkan berlebihan.
Bing Nan memanggil semua penduduk yang berjumlah kurang dari 70 jiwa. Semua penduduk segera keluar karena mengintip dari celah-celah jendela dan pintu rumah. Bing Nan segera membagi koin emas secara adil sesuai perintah Dewa Abadi.
Dewa Abadi mengangkat tangan kanannya di depan, lalu ujung jari telunjuk mengetuk udara. Dan, suara "Boom...!" Mengejutkan semua penduduk yang sedang gembira.
Mereka syok melihat rumah kayu tiba-tiba meledak hingga hancur berkeping-keping, tersisa pepohonan buah dan rumput liar disekitar rumah. Mereka melihat tangan kanan Dewa Abadi.
"Anda seorang Holy Monarch!" seruan Bing Nan yang mengira kekuatan Dewa Abadi berada di tingkat itu, tingkatan yang mampu menghancurkan rumah kayu dalam sekali ketukan di udara.
Dewa Abadi tidak memberikan respon apapun terhadap ucapan Bing Nan dan penduduk desa, dia menjentikkan jari tangan kanan. Dan...
Boom...
Tanah bergetar ketika bangunan seperti apartemen berlantai 10 muncul di tempat rumah kayu. Debu-debu berterbangan yang menghalangi pandangan mata. Penduduk desa sampai terduduk di tanah karena getaran tanah seperti gempa.
Ketika debu menghilang, penduduk desa tercengang melihat gedung besar sudah berada di tempat rumah kayu yang dihancurkan oleh Dewa Abadi. Gedung yang mampu menampung lebih dari 200 jiwa.
Dewa Abadi membalikkan badan dan tersenyum melihat reaksi penduduk desa yang membuka mulut terbuka karena tercengang.
Dia berkata kepada Bing Nan, "gedung ini akan menjadi tempat tinggal kalian. Atur penduduk yang mau tinggal di gedung ini!"
Bing Nan belum bisa berpikir normal karena kejadian ini diluar nalarnya. Justru yang segera bereaksi adalah anak-anak, mereka segera masuk ke dalam apartemen karena jelas penasaran dan mengaguminya.
Rencana Dewa Abadi untuk menarik perhatian musuhnya, dia akan menjadikan Desa Persik terkenal, kaya dan makmur. Dengan keadaan desa yang berubah dratis, jelas akan mengundang perhatian banyak penguasa. Bahkan dia juga akan mendidik penduduk di berbagai bidang unggulan.
Agar penduduk bersemangat dan merasa hidupnya aman, jalan pertama adalah memberikan tempat tinggal yang layak dan kokoh. Untuk selanjutnya, tinggal membenahi sistem perkebunan, pertanian, dan kemampuan penduduk yang minim ilmu pengetahuan.
__ADS_1
Dewa Abadi menepuk pundak kiri dari Bing Nan agar tersadar dari keterkejutannya. Segera Bing Nan berlutut dan diikuti oleh semua penduduk desa sebagai bentuk ucapan terima kasih.
Setelah itu, Bing Nan meminta kepada semua penduduk untuk pindah tempat. Mereka jelas senang mendapatkan tempat tinggal yang layak dan kokoh, tidak seperti rumah mereka yang terbuat dari kayu.
Dewa Abadi naik ke punggung Kuda Surgawi. Kemudian, dia mengelilingi Desa Persik untuk melihat geografis alamnya. Sambil melihat, dia berkonsultasi dengan semua istrinya.
Sebenarnya, Dewa Abadi ingin semua istrinya keluar dari dalam Dunia Jiwanya. Tetapi setelah itu, mereka tidak akan bisa kembali masuk. Dia bisa memasukkan Fu Zhu ke dalam Dunia Jiwanya karena bukan bagian dari penerimaan tantangan ini.
Dia tidak menginginkan sesuatu hal buruk terhadap istrinya jika dikeluarkan dari dalam Dunia Jiwanya. Kejadian masa lalu belum sepenuhnya hilang dari hatinya, dan jelas tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Duduk di punggung Kuda Surgawi, Dewa Abadi menggunakan kemampuannya dalam mengendalikan elemen, yang mana dia membuat dinding pertahanan yang melingkari wilayah desa, dinding yang akan melindungi perkebunan, pertanian dan segala kebutuhan penduduk desa.
Tanah kembali bergetar hebat karena Dewa Abadi yang mengendalikan elemen tanah. Semua penduduk yang sedang berkemas-kemas, mereka jelas kebingungan dengan fenomena ini.
Ketika mereka keluar dari kediamannya, sudah melihat dinding pertahanan setinggi 120 meter, dinding itu terus naik dan berhenti ketika ketinggian mencapai 345 meter. Kemudian, mereka melihat Dewa Abadi yang menunggangi Kuda Surgawi melambaikan kedua tangan, lalu bermunculan banyak Batu Formasi.
Batu Formasi menyebar melingkari dinding pertahanan di luarnya. Batu itu memasuki tanah hingga kedalaman mencapai 500 meter dari permukaan tanah. Setelah itu, Dewa Abadi menjentikkan jari tangan kanan, lalu bermunculan banyak sinar dari dalam tanah, dan membentuk Formasi Perlindungan seperti kubah besar melindungi Desa Persik.
Aksinya membuat penduduk desa gemetaran, sebab pria muda yang baru tiba seperti seorang Dewa. Bing Nan kembali salah menebak, karena aksinya itu lebih dari tingkat Holy Monarch, tetapi setingkat Supreme Being (Half God / Setengah Dewa).
"Kepala Desa, bagaimana jika Tuan Muda itu dijadikan pengganti Anda. Sedangkan Anda sebagai wakilnya!" usulan salah satu dari penduduk yang telah mempercayai Dewa Abadi karena kemampuannya.
Bing Nan melihat anak-anak keluar dari apartemen, mereka berlarian memutari dinding pertahanan desa, dan sebagian naik ke anak tangga menuju puncak dinding. Mereka terlihat sangat bahagia dan bersemangat sambil bertepuk tangan untuk Dewa Abadi.
"Bodohnya aku yang tidak menanyakan nama beliau!" sesal Bing Nan.
"Panggil saja aku Shimo!" sahut Dewa Abadi yang mendengar obrolan penduduk desa.
Dia geleng-geleng melihat penduduk desa kembali berlutut sambil memanggil namanya sebagai Dewa Shimo. Seandainya Yuke keluar dari dalam Dunia Jiwanya, sudah dipastikan akan lebih mengejutkan penduduk, sebab Yuke adalah Sistem Pencipta yang telah disempurnakan olehnya, dan tidak perlu susah payah membuat dinding pertahanan dari elemen tanah dan logam.
Setelah membuat pertahanan Desa Persik yang memiliki one gate (satu pintu gerbang), langkah selanjutnya adalah mendidik penduduk desa, hal yang sebenarnya malas dilakukan oleh Dewa Abadi. Namun, dia sengaja tidak segera melakukannya karena memberikan waktu kepada penduduk desa untuk membiasakan diri dengan kehidupan baru.
Dewa Abadi membuat kediamannya sendiri yang terpisah dari apartemen, dia membuat rumah berlantai dua, dengan empat ruangan di lantai dasar, dan tiga ruangan di lantai dua. Disamping rumah dibangun kandang mewah untuk Kuda Surgawi.
Setelah tujuh hari di Desa Persik. Dewa Abadi telah merenovasi Desa An Mang yang kini menjadi megah, lebih megah daripada kota besar. Selama itu, dia sedikit banyak mengetahui tentang Dunia Roh yang dipenuhi dengan kabut misteri.
Sayangnya, Bing Nan sebagai rakyat kecil tidak tahu banyak apa yang terjadi di Dunia Roh, dia hanya tahu setiap informasi jika ada orang yang berkunjung ke Desa Persik.
Kemudian, Dewa Abadi memberikan banyak tugas kepada Bing Nan, memberikan buku tebal berisi tentang pengetahuan bercocok tanam, cara penanggulangan wabah tikus, belalang dan segala cara untuk menanggulangi hama tanaman.
__ADS_1
Bing Nan menerima pengetahuan itu dengan senang hati. Lalu Dewa Abadi bertanya, "berapa banyak penduduk yang bisa membaca, bela diri dan berburu?"
Bing Nan tampak malu-malu saat menjawab, "selain saya, ada 10 penduduk yang bisa membaca, dan hanya ada 2 pria tua yang bisa bela diri, tetapi hanya setingkat Kelahiran level 6. Saya dan kedua penduduk itu yang selama ini menjadi andalan Desa Persik!"
Tanpa banyak bicara lagi, Dewa Abadi mengeluarkan cincin dimensi tingkat rendah, yang berisi banyak botol giok dengan beda warna. Botol giok itu berisi Pil Kultivasi tingkat Beginner tahap rendah hingga puncak. Ada juga beberapa Kitab Kuning yang berisi tentang pengetahuan bela diri, dan cincin itu diletakkan di atas meja tamu.
"Bagikan itu kepada semua penduduk. Khusus untuk anak-anak, berikan botol berwarna kuning. Ingat, distribusikan secara adil!" perintahnya.
Bing Nan diam membeku melihat Interspatial Ring yang berharga tinggi, dia tidak tahu harus berkata apa dengan pemberian Dewa Abadi. Selama beberapa hari ini, dia dan penduduk desa selalu dibuat terkagum-kagum dengan perbuatannya.
"Terima kasih atas pemberian Anda! Jujur saja, kami kebingungan harus bagaimana untuk membalas kebaikan Anda!" ucap Bing Nan yang tidak berani menatap wajah Dewa Abadi karena malu.
"Aku hanya minta kalian semua menjadi orang yang cerdas, berpendidikan dan kuat. Jika suatu hari nanti aku pergi, kalian sudah bisa menjaga diri. Itu permintaanku!" ujar Dewa Abadi dengan nada tegas dan berwibawa.
Sekali lagi Bing Nan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Dewa Abadi. Dengan tangan gemetaran, dia mengambil Interspatial Ring di atas meja tamu, dan menyelipkan di jari telunjuk tangan kanan.
Kemudian, Dewa Abadi berpamitan kepada Bing Nan. Sambil berjalan menuju ke kandang Kuda Surgawi, dia berpesan, "selama aku pergi ke Kota An Mang, jangan sembarang membawa masuk pihak luar, kecuali jika ada keluarga dari luar yang berkunjung. Ingat, desa ini sudah menjadi berharga di mata orang lain!"
"Saya akan selalu ingat pesan Anda, Dewa!" jawab Bing Nan sambil melihat Dewa Abadi naik ke punggung Kuda Surgawi.
Kuda Surgawi mengepakkan sayapnya dan terbang ke arah Barat Laut menuju ke Kota An Mang. Tujuannya ke kota terdekat karena mendapatkan informasi bahwa ada seseorang yang juga bukan asli penduduk Dunia Roh.
Dewa Abadi berharap orang itu adalah musuhnya dan mengalahkannya. Dia tidak ingin berlama-lama berada di Dunia Roh karena tujuan utamanya adalah ke Alam Kudus.
Karena pandangannya terbatas, untuk menuju ke Kota An Mang, Dewa Abadi mengikuti jalan setapak yang sering dilalui, dan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bing Nan.
Ketika jaraknya dari Desa Persik sejauh dua kilometer, dia melihat segerombolan orang berpakaian hitam menuju ke arah desa. Mereka menunggangi kuda sebagai alat transportasi, dan mereka adalah perampok.
Tahu tujuan para perampok, Dewa Abadi segera membalikkan Kuda Surgawi untuk mencegat mereka. Kuda Surgawi turun dan menghadang jalan para perampok.
Sontak para perampok kaget dan mengakibatkan tunggangannya saling bertabrakan. Mereka segera berdiri dan melongo melihat kuda yang memiliki sayap.
"Kau membuat kerusakan pada kami. Serahkan hartamu atau--"
Belum sempat pemimpin perampok selesai berbicara, Kuda Surgawi melesat ke arahnya, dan Dewa Abadi memenggal leher para perampok. Dalam hitungan satu kali tarikan nafas, semua perampok bertumbangan.
Dewa Abadi menjentikkan jari, dan tiba-tiba mayat para perampok terbakar dengan cepat. Dia melihat Interspatial Ring milik pemimpin perampok, dan cincin itu terbang ke arahnya.
Dia memeriksa isi cincin bukan karena menginginkan harta, melainkan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail. Dia mendapatkan peta Dunia Roh milik pemimpin perampok...
__ADS_1