
Bab 188. Dewa Abadi Beraksi.
Dewa Abadi keluar dari kamar, dia melihat Bing Nan yang tertidur di kursi. Tidak ingin menganggu bawahannya, dia menemui ketiga ratu dan beberapa orang yang sedang berdiskusi tentang patung emas.
"Aku mendengar desas-desus, kalian datang ke Dunia Roh bertujuan untuk melawan kejahatan... Siapa kejahatan itu?" Dewa Abadi bertanya kepada para pahlawan.
Semua orang yang sedang serius kaget melihat Dewa Abadi sudah duduk di kursi kosong, kursi yang memang dikosongkan untuk dirinya.
"Dewa Binatang!" jawab singkat dari Lola.
Mendapatkan jawaban ini, Dewa Abadi tidak terkejut maupun marah, sebab dia sudah tahu hal ini dari Gongsun Ling. Semenjak tiba di Laniakea Super Cluster, dia selalu disebut-sebut sebagai kejahatan. Yang menjadi pertanyaannya, siapa orang yang menyebarkan desas-desus bahwa dirinya adalah kejahatan? Hal ini yang sampai sekarang belum menemukan jawabannya.
Istrinya si Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian yang berasal dari Alam Suci, hanya tahu dirinya adalah biang kejahatan dari ucapan Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa.
Anehnya, Dewa Abadi yang dicap sebagai kejahatan selalu menjadi penyelamat bagi banyak orang, bahkan mengorbankan banyak istri, sahabat, orang-orang kepercayaannya, serta pasukan untuk melawan mahkluk Rasi Bintang di Planet Peliades.
Tanpa ikut campur Dewa Abadi, entah apa yang akan terjadi dengan Laniakea Super Cluster, dan sudah berapa banyak korban jiwa yang mati di tangan mahkluk-mahkluk raksasa itu. Namun, saat tiba di Dunia Roh, Dewa Abadi lagi-lagi dicap sebagai kejahatan.
"Dari mana kalian tahu jika Dewa Binatang itu jahat?" selidik Dewa Abadi yang ditujukan kepada semua orang.
Ditanya hal ini, semua orang kesulitan untuk menjawab dengan tatapan mereka tertuju kepada Ratu Mu Yu Huang. Tampaknya Mu Yu Huang mengetahui jawabannya.
"Altar Pemanggilan diberikan oleh seseorang yang bukan berasal dari dunia ini. Beliau mengatakan bahwa Dewa Binatang akan datang ke Dunia Roh untuk menjinakkan semua binatang roh, menjarah semua wanita, harta... Bahkan beliau mengatakan Dunia Roh akan diekstrak demi untuk meningkatkan kekuatan. Ka--"
"Siapa orang itu?" sela Dewa Abadi sebelum Mu Yu Huang selesai berbicara.
"Setelah beliau memberikan Altar Pemanggilan, semua orang yang melihatnya kehilangan ingatan. Semenjak itu, kami tidak ingat wajahnya, dan hanya mengingat pesannya agar kita melawan Dewa Binatang!" jawab Ratu Da Xia.
Dewa Abadi tersenyum mendengar jawaban mereka yang tidak memuaskan hatinya. Lagi-lagi Infomasi terhenti di sini. Tetapi, dia berasumsi bahwa otaknya adalah Tian Bo yang bersekutu dengan Dewa Perusak. Yang menjadi pertanyaan besar dihatinya, apa motif mereka melakukan semua ini?
"Apakah kalian sudah bertemu dengan Dewa Binatang?" tanyanya kepada semua orang.
"Anda... Bukan kah Anda adalah Dewa Binatang!" sahut Lola dengan nada ketus.
Dewa Abadi melihat si Lola yang langsung menunduk wajahnya. "Ya, aku adalah Dewa Binatang Yang Abadi. Sejujurnya, awalnya aku memang ingin memusnahkan Dunia Roh. Tetapi, karena keempat istriku ada di sini, aku mengurungkan niat. Jika aku tetap melakukan keinginanku, sama saja mengikuti arus rencana dari orang yang memiliki Altar Pemanggilan!" ungkapnya sambil menatap ketiga istrinya secara bergantian.
Semua orang saling berpandangan karena tidak menyangka bahwa Dewa Abadi memiliki istri di Dunia Roh. Yang menjadi pertanyaan di hati, siapa keempat wanita itu?
__ADS_1
"Lalu kenapa Anda menyelamatkan kami, justru menampung kami di tempat ini?" selidik si Lola yang menatap tajam Dewa Abadi.
Ia curiga kepada Dewa Abadi yang pasti memiliki rencana buruk kepada Dunia Roh yang menjadi tempat tinggalnya. Dia tidak ingin dunia indah ini dirusak oleh Dewa Abadi.
"Anda dari Bumi, kan? Setahuku, orang di Bumi itu pintar-pintar, tetapi justru yang kutemui kenapa orang bodoh!" cemoohan Dewa Abadi yang ditujukan kepada si Lola, wanita cantik berambut pirang, hidung mancung berkulit putih, bola mata kebiruan dan tinggi badan mencapai 170 cm, khas ciri-ciri orang dari barat.
Ketiga ratu menundukkan wajahnya karena menahan tawa. Mereka paham yang diucapkan oleh Dewa Abadi. Seharusnya si Lola tidak perlu bertanya seperti ini, sebab sudah jelas Dewa Abadi bukan orang jahat seperti yang dikatakan oleh pemilik Altar Pemanggilan. Jika memang jahat, sudah pasti Dewa Abadi tidak akan sudi melawan patung emas di reruntuhan Kekaisaran Tang.
Ratu Da Xia mengangkat tangan kanannya sebelum Lola berbicara kepada Dewa Abadi. Lola mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarah karena dibilang bodoh.
"Dewa Binatang, terima kasih sudah membantu kita!" ucap Ratu Da Xia.
"Siapa yang membantu kalian? Aku tidak berpikiran untuk menolong kalian, justru tujuanku ingin menggagalkan rencana orang itu!" sahut Dewa Abadi sebelum Ratu Mu Yu Huang menyambung ucapan Da Xia.
Memang Dewa Abadi tidak peduli dengan kehidupan di Dunia Roh, dia hanya ingin memulihkan ingatan keempat istrinya. Jika istrinya tidak dibunuh, maka hal ini telah menggagalkan rencana mereka yang berasal dari Alam Kudus.
Ketiga ratu dan pendukungnya kebingungan harus berkata apa. Ruangan menjadi hening dan canggung.
"Dewa, maafkan hamba yang ketiduran!" sesal Bing Nan yang memecahkan keheningan.
Dewa Abadi berdiri dan melihat Bing Nan. Dia tersenyum kepada bawahannya. Lalu dia keluar dari rumah bersama Bing Nan. Ketiga ratu itu buru-buru menyusulnya, dan diikuti oleh semua orang.
"Dewa, bagaimana cara kita menghadapi patung emas?" tanya Ratu Mu Yu Huang yang berharap Dewa Abadi memiliki solusi, ia juga melihat ke arah yang sama, berdiri di sisi kiri.
"Belum tahu. Melawan musuh yang lebih kekuatan, rencana apapun terkadang akan sia-sia! Kita cari dulu kelemahan lawan, baru setelah itu kita bertindak!" jawab Dewa Abadi yang memang belum mengetahui kelemahan lawannya.
Dia telah berdiskusi dengan semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya, menganalisa pertarungan di reruntuhan Kekaisaran Tang. Walaupun Api Semesta mampu mencairkan patung emas, mereka masih saja hidup kembali dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Tian Lihua menyarankan untuk mengeluarkan energi Api Semesta dan Kekuatan Jiwa secara maksimal, tujuannya agar logam emas benar-benar musnah. Tetapi masalahnya, dampak panasnya Api Semesta dan Kekuatan Jiwa berpengaruh besar terhadap Dunia Roh, dan dunia ini bisa-bisa ikut musnah.
Tetapi, bisakah Formasi Alami tahan terhadap panasnya Api Semesta dan Kekuatan Jiwa, hal ini yang belum pernah diuji oleh Dewa Abadi. Untuk menghilangkan Formasi Alami, Dewa Abadi memiliki solusinya, yaitu istrinya si Shuǐ Jingling yang mampu menyerap energi Formasi Alami.
"Mata-mata kami masih berada di sana. Semoga mereka menemukan kelemahan mereka!" harapan Ratu Juan Rong yang berdiri di sisi kanan Ratu Mu Yu Huang, dan Ratu Da Xia.
"Perintahkan mereka untuk kembali. Biar aku sendiri yang mencari kelemahan mereka!" perintah Dewa Abadi.
Si Lola menyentuh lengan Ratu Da Xia agar tidak mencegah Dewa Abadi yang akan pergi ke reruntuhan Kekaisaran Tang. Ratu Juan Rong mengeluarkan alat komunikasi jarak jauh, Giok Komunikasi berbentuk segitiga, digunakan sekali pakai.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, Dewa Abadi melayang secara perlahan, lalu berbicara kepada semua orang, "apapun yang terjadi, kalian jangan keluar dari tempat ini!"
Setelah berbicara, dia melesat sangat cepat ke arah reruntuhan Kekaisaran Tang. Semua orang melihatnya dengan tatapan kagum. Terutama ketiga ratu yang merasakan pernah dekat dengan Dewa Abadi...
Dewa Abadi tiba di reruntuhan Kekaisaran Tang, tetapnya di tebing tinggi. Dia melihat Pasukan Cancer berbaris rapi, siap kapanpun untuk keluar dari wilayah ini. Saat ini, wilayah reruntuhan berbeda dari sebelumnya, kini sudah banyak bangunan, tetapi masih tak berpenghuni.
"Ambil satu patung emas!" perintah Tian Lihua yang ingin mencari kelemahan musuh.
Dewa Abadi melompat dari tebing tinggi, ujung kakinya menyentuh puncak pepohonan di bawahnya. Lalu turun dan mendarat di atas cabang batang pohon. Dia melihat beberapa patung emas yang menjaga pintu masuk ke wilayah reruntuhan. Mereka berdiri rapi di antara dua tebing tinggi, dengan jarak dua meter dari yang lainnya.
Dengan menggunakan energi Kekuatan Jiwanya, Dewa Abadi berubah wujud menjadi udara. Lalu melesat ke arah prajurit Cancer yang paling dekat dengannya.
Dengan gerakan cepat, ketika berada di samping prajurit Cancer, dia mengeluarkan energi Kekuatan Jiwanya dan menyelimuti tubuh prajurit itu. Dalam sekejap mata, prajurit itu telah masuk ke dalam Dunia Jiwanya.
Kemudian, dia melakukan hal yang sama kepada prajurit yang lain sehingga penjaga pintu masuk berada di dalam Dunia Jiwanya. Ketika berada di dalam Dunia Jiwa, prajurit Cancer seketika ambruk karena kehilangan koneksi dengan Taowu.
Satria 12 Naga segera memasukkan mereka ke dalam tungku. Tungku ini dibuat khusus dari bahan tahan api, material yang digunakan adalah Titanium, Zirkonium, Wolfram, Molibdenum, Tungsten, Osmium dan masih banyak lagi material tahan api hingga lebih dari 3.000 derajat Celcius.
Segera Yuna Aurora membakar tubuh mereka dengan Api Semesta dengan suhu 3.500 derajat Celcius. Hasilnya, patung emas mencair. Namun setelah beberapa waktu, cairan kembali mengeras dan menjadi bentuk prajurit Cancer.
Yuna Aurora meningkatkan suhu panasnya hingga mencapai 10.000 derajat Celcius. Namun anehnya, prajurit Cancer masih belum mampu dimusnahkan. Mau tidak mau, semua orang bekerja sama dengan mengeluarkan energi spiritual untuk melindungi tungku.
Kemudian, Yuna Aurora mengeluarkan Api Semesta hingga suhunya mencapai 15 juta derajat Celcius, setara dengan panas matahari. Tungku itu membara karena panasnya Api Semesta yang dikeluarkan mencapai 25%.
Dengan suhu yang ditingkatkan, maka prajurit Cancer akhirnya menjadi uap dan mati untuk selamanya. Dengan hasil ini, maka diputuskan bahwa Taowu mampu dikalahkan dengan suhu panas lebih dari matahari.
Dengan kata lain, Dewa Abadi harus mengeluarkan sebesar 45% dari kekuatan maksimum Api Semesta, setara dengan panasnya Api Penguasa.
Setelah itu, Dewa Abadi segera mengeluarkan Api Semesta yang mencapai angka 45%. Kedua tangan terarah ke reruntuhan Kekaisaran Tang. Namun, Taowu terlebih dahulu melesat ke arahnya setelah kehilangan koneksi dengan prajuritnya, lalu diikuti oleh Pasukan Cancer yang ikut menyerang Dewa Abadi.
Dewa Abadi tidak panik, dia tersenyum dan menghentakkan kedua tangannya yang sudah mengeluarkan Api Semesta. Sontak membuat Taowu kelabakan karena sudah dekat dengan Dewa Abadi.
Karena terlambat menghindar, dua bola Api Semesta mengenai tubuhnya dan Pasukan Cancer yang berada di belakang.
Boom boom...
Ledakan keras menggetarkan Dunia Roh ketika bola Api Semesta menghantam tubuh Taowu, luapan api menyalar di seluruh wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang.
__ADS_1
Semua orang yang berada di Desa Persik dengan jelas melihat luapan api besar di tempat itu, mereka merasa panas Api Semesta sehingga keringat deras membasahi pakaiannya. Untung saja mereka dilindungi oleh Formasi Perlindungan yang ikut bergetar hebat karena ledakan itu.