God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Bangunnya Dewa Abadi.


__ADS_3

Bab 219. Bangunnya Dewa Abadi.


Di zaman ini, setelah Dewa Abadi menghilang selama jutaan tahun, bakat setiap kultivator atau zaman generasi muda di seluruh alam semesta tidak seperti dahulu, sangat jauh berbeda.


Jika zaman dahulu saat Dewa Abadi menjadi peserta Konferensi Tianwu, minimal pesertanya harus memiliki kekuatan tingkat Dewa Absolute. Tetapi, di zaman ini, pesertanya minimal harus memiliki kekuatan tingkat Dewa Sejati (kekuatan setelah tingkat Half God / Supreme Being).


Penurunan basis kultivasi yang sulit ditingkat, dikarenakan kehancuran Observable Universe akibat pertarungan antara Dewa Abadi dan musuhnya. Banyak energi dari seluruh alam semesta diserap oleh Formasi Array Hukum Alam Kudus untuk memulihkan kerusakan di Observable Universe.


Setingkat Dewa Absolute sudah dianggap langka di dunia ini, apalagi di tingkat Sang Void dan seterusnya, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Semua itu dikarenakan jarang sekali adanya tanaman langka, Buah Suci, dan energi jenis apapun di setiap planet, hampir semuanya diserap oleh Formasi Array Hukum Alam Kudus.


Akan tetapi, keadaan ini hal baik bagi penguasa Alam Suci, sebab semakin sedikit kultivator yang kuat, semakin mudah untuk mengendalikan kultivator di dunia agar berimbang. Selain itu, sedikit kultivator yang mendeklarasikan diri sebagai dewa, itu juga semakin baik bagi mereka.


Seperti Shima Aurora, dulunya dia adalah seorang penguasa tunggal di Planet Aurora, saat menjadi peserta Konferensi Tianwu, kekuatannya berada di tingkat True Alfa. Namun saat ini, dia sebagai reinkarnasi dari Yuna Aurora si Dewi Cahaya, hanya berada di tingkat Dewa Biru level 9, naik 1 level lagi akan mencapai tingkat Dewa Ungu


Demikian juga dengan Qian Diao Chan, dia adalah reinkarnasi dari Qin Diao Chin. Dulu sebagai Ratu Kuil Kegelapan, kekuatannya setara dengan Shima Aurora (Yuna Aurora). Dengan kekuatan mereka saat ini, sudah dianggap sebagai super jenius di alam semesta, termasuk Xu Huang dan Kun Liong.


Keadaan ini dialami oleh semua kehidupan di seluruh alam semesta, tidak hanya dialami oleh kedua wanita itu. Saat ini, Planet Aurora dilindungi oleh Pengadilan Surga atas perintah dari Tujuh Pelindung Alam Suci.


Selama jutaan itu, Dewa Langit, Dewa Surgawi, dan Hei Ren si pria hitam selalu mencari keberadaan Dewa Abadi. Akan tetapi, jejak Dewa Abadi tidak pernah ditemukan. Mereka tidak akan mengetahui keberadaannya dikarenakan bersembunyi di Alam Tianwu, alam bebas dari intervensi dari pihak manapun karena adanya Kitab Suci.


Sejarah Dewa Abadi melawan para penguasa Alam Kudus dicatat oleh Kitab Suci sebagai referensi untuk generasi muda. Namun, para Kitab Suci tidak sedikitpun mengungkapkan wajah asli Dewa Abadi di dalam sejarah.


Sosok Dewa Abadi digambarkan sebagai seorang pria tampan, dengan wajah yang selalu terselimuti oleh kabut, dikelilingi jutaan wanita dan miliran binatang sebagai pasukan.


Peperangan Global di Planet Peliades juga dicatat oleh para Kitab Suci. Hingga saat ini, Medan Perang Samudera Hitam menjadi tempat bersejarah bagi seluruh kultivator.


Pertarungan Dewa Abadi dengan penguasa di Alam Kudus adalah baik bagi kehidupan di seluruh galaksi, sebab Dewa Langit dan Dewa Surgawi tidak lagi ikut campur dalam urusan di Laniakea Super Cluster, Local Interstellar dan galaksi-galaksi lain, sebab mereka fokus untuk mencari keberadaan Dewa Abadi.


Karena sulitnya mencari persembunyian Dewa Abadi, kedua penguasa Alam Kudus itu harus mengerahkan seluruh kekuatan di Kuil Alam Kudus, yang dipimpin langsung oleh Hei Ren.


Kitab Suci yang mengambil jiwa-jiwa dari dalam Dunia Jiwa milik Dewa Abadi, dilakukan oleh membalas kebaikan Dewa Abadi yang telah membuat perubahan di seluruh alam semesta. Mereka ingin Dewa Abadi bersatu dengan semua orang yang dikasihinya.


Tetapi, musuh-musuh Dewa Abadi di masa lalunya yang telah terbunuh juga bereinkarnasi kembali, dengan kekuatan yang jauh lebih rendah, tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Shima Aurora dan Qian Diao Chan. Namun, tidak lagi menjadi penguasa suatu planet, hanya sebagai kultivator jenius...


Saat ini, Shima Aurora dan Qian Diao Chan sedang menuju ke Akademi Dewa Dewi, dengan tujuan untuk merawat Dewa Abadi. Tetapi, mereka dihadang oleh Kun Liong yang bersekutu dengan lawannya, lawan yang bertarung di depan gua es.


Kun Liong dan Lu Xu Pang mengikat tubuh Xu Huang karena mendukung Shima Aurora. Alasan mereka mencegat Shima Aurora karena cemburu, dan juga ingin mengeledah tubuh Dewa Abadi. Mereka pikir Dewa Abadi memiliki artefak yang mampu mengeluarkan aura kuat seperti yang dirasakan oleh semua orang.


Saat ini, mereka melihat Dewa Abadi pingsan sambil duduk di kursi roda milik Shima Aurora. Keadaan yang dialami oleh Dewa Abadi dikarenakan tubuhnya belum beradaptasi setelah berbaring selama jutaan tahun. Dan, dia masih dalam kondisi terlemah.


"Serahkan mayat itu, atau kita akan perbuatan sesuatu yang tidak akan kalian melupakan seumur hidup!" ancaman Kun Liong ingin memperkosa Shima Aurora dan Qian Diao Chan jika tidak menyerahkan Dewa Abadi.


Tetapi, ancaman itu bukan sekedar gertak sambal saja, dia sudah jatuh cinta kepada Shima Aurora dan Qian Diao Chan. Jika tidak mendapatkan cintanya, maka Kun Liong akan berbuat secara kasar dengan menikmati tubuh mereka berdua, setelah itu akan diserahkan kepada sekutunya.


Karena mulut Xu Huang disumpal kain, dia menggunakan komunikasi telepati saat berbicara kepada Shima Aurora dan Qian Diao Chan, "serahkan saja orang itu, bajingan ini akan melakukan apapun yang sesuai dengan ucapannya!"


Shima Aurora dan Qian Diao Chan menatap tajam ke arah Kun Liong, mereka tidak menyangka bahwa anggota sendiri akan berkhianat, hanya demi ego sesaat.


Mereka juga melihat musuhnya, yaitu Song Hye yang bersekutu dengan Kun Liong, ada 5 anggotanya. Total 8 orang musuh. Dengan kekuatan mereka yang terpaut satu level, jelas bukan tandingan jika dikeroyok.


"Orang ini bukanlah orang sembarangan! Jika dia bangun, kalian akan tahu akibatnya!" gertakan Shima Aurora agar musuh takut.


Kun Liong dan teman-temannya menertawakan perkataan Shima Aurora, sebab mereka melihat Dewa Abadi yang pingsan. Kejadian sesaat lalu, mereka menebak jika Dewa Abadi memiliki sesuatu yang berharga, dan bukan orang kuat.

__ADS_1


"Percuma berbicara dengan keledai!" kegeraman Qian Diao Chan sambil mengeluarkan senjatanya, senjata berbentuk bulan sabit, jenis senjata lempar.


"Kalian bukan lawan kita!" ujar Song Hye sambil menatap tubuh Shima Aurora yang menggiurkan bagi kaum pria.


Shima Aurora segera mengeluarkan pedang panjang, siap untuk melawan Kun Liong dan tujuh musuhnya. Semua ini dilakukan oleh melindungi Dewa Abadi. Yang tidak diketahui oleh mereka, Dewa Abadi yang tampak pingsan ini tidak perlu perlindungan.


"Serang bersama!" perintah Kun Liong yang ingin segera menikmati tubuh Shima Aurora dan Qian Diao Chan.


Swosh Swosh...


Delapan orang langsung menyerang Shima Aurora dan Qian Diao Chan. Mereka melepaskan serangan jarak jauh terlebih dahulu untuk melemahkan kedua wanita ini.


Shima Aurora dan Qian Diao Chan juga menyerang mereka, walaupun tahu tidak mungkin mengalahkan mereka. Kedua wanita itu mengerahkan seluruh kemampuannya.


Sedangkan Xu Huang berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya, dia melihat kedua sahabat kewalahan menghadapi delapan musuh. Setelah ikatan terlepas, dia langsung menyerang Kun Liong dari belakang dengan melemparkan senjata palunya.


Boom...


Ledakan keras ketika punggung Kun Liong terkena lemparan palu sehingga terjungkal ke depan. Lu Xu Pang segera membalas serangan Xu Huang dengan menghunuskan pedangnya. Namun, palu milik Xu Huang yang terikat dengan rantai segera menangkis serangan Lu Xu Pang.


Song Hye dan kelima rekannya terfokus kepada kedua musuhnya. Shima Aurora dan Qian Diao Chan yang diserang oleh enam orang jelas kalah, tubuh mereka terpental ke belakang karena serangan energi spiritual.


Sebelum mereka bangun, Song Hye dan temannya segera menyerang dengan kekuatan penuh. Demikian juga dengan Kun Liong yang segera bangkit dan menyerang Xu Huang untuk membalas dendam.


Ketika dalam keadaan tersudut dan siap menerima penderita, tiba-tiba waktu berhenti. Semua orang itu menjadi diam seperti patung. Setelah waktu berhenti, Kun Liong dan sekutunya langsung ambruk karena sesuatu yang keras memukul tengkuk lehernya.


Setelah waktu kembali normal, Shima Aurora, Qian Diao Chan dan Xu Huang kebingungan dengan situasinya saat ini, mereka melihat pengkhianat dan musuhnya sudah tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi?" ucap Shima Aurora sambil berdiri dan memegang lengan kiri karena terluka.


"Ayo, kita kembali ke akademi!" ajakan Xu Huang yang khawatir musuhnya segera bangun.


Buru-buru mereka bertiga menuju ke Akademi Dewa Dewi, Shima Aurora mendorong kursi roda. Ketika dalam perjalanan, mereka dihadang oleh binatang mistik, namun binatang itu langsung kabur saat melihat Dewa Abadi.


Kejadian ini tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Mereka bertiga berhenti saat binatang mistik yang terakhir menghadang kabur, dan mereka melihat Dewa Abadi dengan penuh pertanyaan.


Sebelum bersama dengan Dewa Abadi, setiap kali menjelajahi Alam Tianwu, mereka selalu bertarung dengan binatang mistik, dan tidak jarang mereka harus bersembunyi karena kalah dalam hal basis kultivasi.


"Siapa orang ini?" gumam Xu Huang sambil menatap wajah Dewa Abadi.


Shima Aurora dan Qian Diao Chan sedikit mencondongkan tubuh di depan Dewa Abadi, mereka mengamati seluruh tubuhnya.


"Kok aku merasakan mengenalinya!" ungkap Qian Diao Chan setelah wajah Dewa Abadi tidak lagi tertutupi es.


Ketika berada di gua es, dia tidak terlalu jelas melihat wajah Dewa Abadi karena terselimuti es. Dengan melihat dari dekat, ia merasakan pernah dekat dengan Dewa Abadi.


"Aku juga, bahkan lebih!" imbuh Shima Aurora, dia mengangkat tangan kanan untuk menyentuh wajah Dewa Abadi.


Akan tetapi, tiba-tiba Dewa Abadi membuka matanya. Seketika membuat ketiga orang itu terpental ke belakang karena terkena cahaya yang keluar dari kedua mata Dewa Abadi.


Mereka bertiga memuntahkan darah segar karena cahaya itu seperti memukul dadanya. Shima Aurora, Qian Diao Chan dan Xu Huang segera berdiri dan menjauhi Dewa Abadi, mereka ketakutan dengannya.


Dewa Abadi yang matanya masih buram hanya melihat bayangan dari ketiga orang di depannya. Dia segera memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Saat menarik nafas, ketiga orang itu panik karena tubuhnya ditarik oleh nafas dari Dewa Abadi.

__ADS_1


Untungnya saja hanya sekali tarikan nafas. Shima Aurora dan kedua temannya segera bersembunyi di balik pepohonan besar, dan mengintip Dewa Abadi.


Setelah membuka matanya kembali, Dewa Abadi bisa melihat dengan jelas. Segera dia mengaktifkan Mata Surgawi untuk melihat keseluruhan tempat yang tidak diketahuinya. Setelah beberapa saat melihat, dia mengerutkan kening karena tempat ini sangatlah familiar.


"Alam Tianwu? Bagaimana aku bisa ada di sini?" gumam Dewa Abadi yang keheranan. Lalu dia sedikit terkejut saat melihat tiga orang yang bersembunyi di balik pohon.


"Yuna Aurora, Qin Diao Chin, Xu Fat... Apakah itu kalian?" tanya Dewa Abadi dengan semangat, dia segera bangun dari kursi roda. Namun, karena tubuhnya yang belum terbiasa setelah pemulihan total, seketika terjatuh ke tanah.


Shima Aurora, Qian Diao Chan dan Xu Huang keheranan karena Dewa Abadi memanggil nama yang bukan namanya. Mereka memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya untuk membantu Dewa Abadi.


Dewa Abadi tertawa kecil karena fisiknya yang masih lemas. Dia kembali memejamkan mata untuk mengingat ingatan yang sudah lama tertidur. Ketika berusaha untuk memulihkan ingatannya, Shima Aurora dan Qian Diao Chan membantunya untuk duduk di kursi roda.


"Saya adalah Shima Aurora, dan mereka ...," Shima Aurora memperkenalkan dirinya.


"Saya Qian Diao Chan."


"Xu Huang, bukan Xu Fat!" ucap Xu Huang dengan penegasan agar Dewa Abadi tidak salah memanggil namanya.


Sambil tetap memejamkan mata, Dewa Abadi tersenyum mendengar mereka. Akhirnya dia tahu bahwa ketiga orang ini adalah reinkarnasi dari kedua istri dan sahabatnya. Dan menduga, jika Kitab Suci yang telah membantunya.


Setelah itu, dia membuka mata dan menatap lekat-lekat wajah ketiga orang yang dikasihinya ini. Shima Aurora dan Qian Diao Chan tersipu malu karena dilihat oleh Dewa Abadi, mereka membalikkan badan karena salah tingkah.


Xu Huang menertawakan reaksi kedua sahabatnya ini yang tidak pernah dilihatnya. Setelah itu, dia berkata, "ada yang jatuh cinta kayaknya!"


Karena digoda, Shima Aurora dan Qian Diao Chan langsung memukuli Xu Huang. Dewa Abadi tersenyum melihat mereka, dia teringat dengan masa lalunya saat berada di Alam Tianwu.


Namun, senyumannya seketika menghilang karena masa lalunya juga. Tidak ingin masa lalunya terulang kembali, dia memutuskan untuk tidak lagi mengulanginya. Dia perlahan berdiri, lalu merenggangkan seluruh otot yang terasa sangat kaku.


Setelah terbiasa, dia mengeluarkan cincin dimensi yang berisi dengan banyak sumber daya alam yang dibutuhkan oleh kultivator. Lalu berjalan perlahan mendekati Xu Huang yang dikejar oleh Shima Aurora dan Qian Diao Chan.


Mengetahui Dewa Abadi mendekat, mereka bertiga segera berhenti dan membalikkan badan, tidak berani menatap wajah tampan Dewa Abadi.


Tiba-tiba, Dewa Dewa meraih tangan Shima Aurora. Shima Aurora sampai gemetaran karena baru pertama kali tangannya dipegang oleh pria. Namun, dia tetap diam karena takut. Dia melihat Dewa Abadi menyelinap cincin dimensi tingkat tinggi yang tidak dimilikinya.


Entah kenapa Shima Aurora meneteskan air mata bahagia karena mendapatkan cincin dimensi, dia merasakan jatuh cinta untuk pertama kali kepada seorang pria yang baru dikenalnya.


"Terima kasih sudah menolongku! Terima kasih juga telah menemaniku selama ini!" ucap Dewa Abadi sambil menatap wajah Shima Aurora yang memerah, dan menundukkan wajah karena malu.


Dia tidak tahu maksud perkataannya. Dewa Abadi mengucapkan terima kasih karena Yuna Aurora telah mendampingi perjalanan hidupnya selama ini. Kemudian, Dewa Abadi juga menyelinap cincin dimensi di jari manis tangan kanan milik Qian Diao Chan, lalu mengucapkan kata yang sama.


Dewa Abadi juga memberikan cincin dimensi kepada Xu Huang, memeluknya erat karena Xu Fat adalah sahabat pertama kali di Alam Tianwu.


Mereka bertiga kebingungan dengan ucapan Dewa Abadi yang seakan-akan sudah lama mengenalinya. Di hati mereka, juga merasakan kedekatan dengan Dewa Abadi, tetapi mereka bingung karena tidak tahu kapan pernah bertemu. Karena perkataan Dewa Abadi, mereka tidak sempat untuk memeriksa isi cincin dimensi.


"Kehidupan ini, kalian harus menikmatinya dengan sebaik mungkin! Semoga kita bertemu lagi!" ucap Dewa Abadi dan berjalan melewati ketika orang yang dikasihinya, ia tidak ingin masa lalunya terulang kembali jika membawa mereka.


Dewa Abadi bisa saja membuat ketiga orang yang dikasihinya mengingat masa lalu sebelum menjadi seperti saat ini.


Shima Aurora segera mengejar Dewa Abadi sambil berkata, "bolehkah aku mengikutimu?"


Dewa Abadi tidak menjawab. Mereka bertiga tercengang karena Dewa Abadi menghilang dari pandangan matanya.


"Tunggu, siapa namamu?" teriakan Shima Aurora sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Aku juga ikut...!!" teriakan Qian Diao Chan yang tidak mampu menahan air mata.


Sayangnya, Dewa Abadi tidak membalas ucapan mereka, benar-benar melupakan semua masa lalunya. Xu Huang seorang pria juga meneteskan air mata kesedihan, padahal baru pertama kali bertemu dengan Dewa Abadi.


__ADS_2