God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Alam Tianwu.


__ADS_3

Bab 218. Alam Tianwu.


Di suatu tempat, tepatnya di rumah es yang dibangun di bawah gua gunung bersalju. Di dalam rumah itu terdapat tiga orang, satu pria paruh baya, satu pria muda, dan satu wanita yang juga masih muda.


Pria muda itu berbaring di ranjang dengan sekujur tubuh penuh luka, dan dia adalah Dewa Abadi. Dari bawah lehernya seluruh tulangnya hancur akibat serangan terakhir dari Hei Ren si pria hitam. Dan kedua orang itu yang sedang merawatnya adalah Dewa Angin dan Dewi Bunga.


"Seluruh tubuhnya sulit untuk disembuhkan, butuh waktu lama untuk pulih sepenuhnya! Hmm...!" ungkap Dewa Angin setelah memeriksa tubuh Dewa Abadi, ia menghela nafas berat sebelum melanjutkan diagnosisnya, "dantian-nya rusak, dan hampir saja kehilangan seluruh kekuatannya!" lanjutnya.


Dewi Bunga geleng-geleng kepala karena tidak menyangka Dewa Langit dan Dewa Surgawi menciptakan manusia yang mengerikan, hanya untuk mengalahkan Dewa Abadi.


"Setidaknya Dewa Abadi masih hidup! Hanya masalah waktu untuk dia pulih seperti sediakala," kata Dewi Bunga sambil membersihkan darah dari tubuh Dewa Abadi.


"Seandainya Dewa Abadi mampu menghilang sifat keduniawian, dan mengendalikan benih Petir Semesta, mungkin tidak sampai terjadi seperti ini!" ujar Dewa Angin.


Tindakan Dewa Abadi yang tidak peduli dengan keselamatannya karena dikendalikan oleh benih Petir Semesta. Benih Petir Semesta mengikuti keinginan hati Dewa Abadi yang paling dalam, yaitu membalas dendam kepada Dewa Langit dan semua musuhnya. Dan itu adalah Iblis Hati yang dimiliki oleh Dewa Abadi, tersembunyi di dalam relung jiwanya.


Kebencian Dewa Abadi terhadap Dewa Langit dan semua musuhnya jelas sulit untuk dihilangkan, sebab mereka telah membunuh orang-orang yang dikasihinya. Walaupun tampak di luar seolah-olah melupakan rasa bencinya, tetapi di dalam relung hatinya masih tumbuh bibit kebencian.


Oleh sebab itu, benih Petir Semesta mampu mengendalikan Dewa Abadi agar meluapkan rasa kebenciannya. Dan sewaktu bertarung dengan musuhnya, bukan Dewa Abadi yang bertarung, melainkan benih Petir Semesta.


Dewa Angin memasukkan Pil Penyembuh tingkat tinggi ke dalam mulut Dewa Abadi. Namun, khasiat pil tidak sedikitpun membantu memulihkan kondisi Dewa Abadi, hanya memulihkan luka luarnya saja.


Kemudian, kedua orang itu membopong tubuh Dewa Abadi, dan di masukkan ke dalam peti es yang telah dipenuhi dengan cairan esensi tanaman obat. Setelah itu, mereka menutup peti es rapat-rapat.


"Jika bukan karena Yang Mulia Dewa Pemelihara yang menyelamatkan Dewa Abadi, hari ini nama Dewa Abadi tinggal sejarah," kata Dewi Bunga sambil melihat wajah Dewa Abadi yang dipenuhi dengan luka, tidak lagi dikenali oleh siapapun, kecuali mereka berdua.


Ya, Dewa Abadi diselamatkan oleh gurunya setelah terkena serangan Hei Ren. Dewa Pemelihara dengan sengaja tidak segera menyelamatkan muridnya, agar Iblis Hati di dalam jiwa muridnya sepenuhnya terlepas.


Jika Dewa Abadi tidak terluka parah seperti saat ini, benih Petir Semesta akan terus mengendalikan tubuhnya, sampai Dewa Abadi benar-benar tewas. Benih Petir Semesta akan berhenti mengendalikan Dewa Abadi setelah Iblis Hati hilang. Dan saat ini, Iblis Hati yang dimiliki oleh Dewa Abadi telah hilang.


Masalahnya, benih Petir Semesta masih bersemayam di dalam tubuhnya, siap untuk kembali mengendalikan Dewa Abadi jika kembali melahirkan Iblis Hati. Agar tidak dikendalikan oleh benih Petir Semesta, hanya Dewa Abadi yang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Tugas kita sudah selesai. Ayo kita tinggalkan tempat ini!" ajak Dewa Angin yang masih memiliki banyak tugas setelah kekacauan di Alam Kudus.

__ADS_1


Mereka berdua segera meninggalkan gua es di gunung bersalju, meninggalkan Dewa Abadi yang berada di dalam peti es untuk penyembuhan, dan juga tempat persembunyian dari kejaran Dewa Langit.


Setelah kedua orang itu pergi, cairan esensi tanaman obat memasuki pori-pori kulit Dewa Abadi dengan sangat cepat. Tidak butuh waktu lama, tidak ada setetes pun cairan esensi tanaman obat, hanya ada kotoran dari tanaman itu.


Setelah itu, muncul 12 Kitab Suci yang pernah bertemu dengan Dewa Abadi di Alam Tianwu. Kitab Suci itu mengeluarkan sinar yang memasuki tubuh Dewa Abadi. Kemudian, seluruh organ dalam dan dantian milik Dewa Abadi perlahan mulai pulih karena Kitab Suci.


Setelah seluruh tubuh Dewa Abadi sembuh, Kitab Suci mengambil jiwa semua istri dan anaknya agar segera bereinkarnasi kembali. Kemudian, mereka segera menghilang.


Mereka tidak bisa memulihkan kekuatan Dewa Abadi yang menurun akibat rusaknya dantian, kekuatan dari tingkat The Realm Of Eternal Darkness turun hingga ke tingkat Half Super Omega level 1.


Walaupun Dewa Abadi sudah pulih kembali, dia masih belum sadarkan diri, sebab jiwanya juga ikut terluka, saat ini sedang tertidur untuk pemulihan. Jiwa ini juga tidak bisa dipulihkan oleh Kitab Suci, karena jiwa milik Dewa Abadi berbeda dengan mahkluk hidup di dunia ini.


Kemunculan Kitab Suci hanya untuk memenuhi janjinya yang belum dipenuhi, yaitu memberikan apapun keinginan Dewa Abadi setelah berhasil menjadi juara di Konferensi Tianwu. Jika mereka tidak menyembuhkan dantian milik Dewa Abadi, kemungkinan besar kekuatannya akan turun dratis. Kemungkinan terburuk, Dewa Abadi seperti istrinya, menjadi tua karena tidak memiliki basis kultivasi...


Waktu berlalu dengan cepat, sudah lebih dari 10.000 tahun Dewa Abadi belum sadarkan diri. Gua es tempat persembunyiannya telah ditutupi salju tebal.


Tetapi, setelah waktu lewat lebih dari dua juta tahun berlalu, ada beberapa orang pencari harta karun yang mengeksplorasi gunung bersalju itu. Dan, tempat Dewa Abadi saat ini berada di Alam Tianwu.


Orang-orang itu adalah peserta Konferensi Tianwu, mencari harta yang mampu meningkatkan kekuatannya. Di Alam Tianwu, Dewa Abadi akan aman dari musuhnya, sebab alam ini bebas dari intervensi dari pihak manapun karena dilindungi oleh Kitab Suci.


Ketika salah satu pria pencari harta karun ingin mengeledah tubuh Dewa Abadi, salah satu wanita dari kelompok mereka menghentikannya.


"Jangan kurang ajar! Walaupun sudah menjadi mayat, kita harus tetap menghormatinya!" teguran wanita itu kepada rekannya, wajahnya sangat cantik mirip dengan Yuna Aurora, namanya adalah Shima Aurora, usianya 19 tahun, tinggi badan mencapai 175 cm, tubuh proporsional seperti seorang model kelas dunia.


Pria yang akan mengeledah tubuh Dewa Abadi adalah Xu Huang, bertubuh gendut, dengan tinggi badan mencapai 168 cm. Jika Dewa Abadi sadarkan diri dan melihat Xu Huang, sudah pasti akan mengenalinya, sebab wajahnya sangat mirip dengan sahabatnya yang dipanggil Xu Fat.


"Siapa tahu di dalam pakaiannya tersembunyi harta berharga!" alasan Xu Huang yang tidak berani menatap wajah Shima Aurora, dia takut dengan Shima Aurora karena pemimpinnya.


Selain mereka berdua, ada tiga anggotanya, dua pria dan satu wanita. Dua pria itu adalah Kun Liong dan Lu Xu Pang, dan wanita muda usia 18 tahun itu adalah Qian Diao Chan.


"Kita sudah mendapatkan banyak harta di gua ini, lebih baik kita tinggalkan tempat ini!" ajakan Kun Liong sambil meraih pergelangan tangan Shima Aurora.


Akan tetapi, Shima Aurora segera menepis tangan Kun Liong sebelum menyentuh tangannya. Dia melototi Kun Liong karena tidak suka, lalu dia kembali menatap wajah tampan Dewa Abadi yang tertutupi es.

__ADS_1


Wajah Kun Liong menjadi muram karena perlakuan Shima Aurora yang terang-terangan menepis tangannya dihadapan rekan-rekannya. Karena ingin membalas perbuatan Shima Aurora yang selalu menolak rasa cintanya, dia melihat Qian Diao Chan yang membelai wajah Dewa Abadi.


Tiba-tiba, Kun Liong meraih tangan kanan Qian Diao Chan. Alhasil, Qian Diao Chan menampar pipi kiri Kun Liong dengan telapak tangan kirinya.


Xu Huang dan Lu Xu Pang menertawakan Kun Liong yang gagal menaklukkan hati kedua wanita ini. Bagi mereka, hal ini sudah sering dilihat, dan ujung-ujungnya Kun Liong selalu mendapatkan tamparan dari kedua wanita yang ditakutinya.


"Jangan kurang ajar kau!?" bentakan Qian Diao Chan sambil melotot melihat Kun Liong.


"Dasar ...!" Kun Liong hampir saja keceplosan menghina kedua wanita ini yang menjadi incarannya, dia segera keluar dari gua sambil menarik kerah baju kedua temannya.


"Ayo kita juga keluar!" ajakan Qian Diao Chan sebelum ditinggal oleh rekannya.


"Aku akan membawa mayat ini," kata Shima Aurora, ia ingin mengubur jenazah Dewa Abadi yang dianggapnya telah mati, dikuburkan di tempat yang lebih layak.


Boom boom...


Baru saja Shima Aurora berbicara, di luar gua terdengar suara ledakan energi spiritual. Buru-buru kedua wanita muda itu bergegas keluar dari dalam gua es. Setelah berada di luar gua, Shima Aurora dan Qian Diao Chan melihat ketiga rekannya bertarung dengan tim lain. Mereka segera membantu rekannya...


Karena pertarungan di luar gua es, akhirnya Dewa Abadi membuka matanya setelah sekian lama tak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya yang berbalutkan es hancur berkeping-keping.


Dampak terbangunnya Dewa Abadi, seluruh gunung bersalju bergetar hebat hingga dirasakan oleh penghuni di Alam Tianwu. Shima Aurora dan timnya segera menjauh dari gunung bersalju yang akan longsor, demikian juga dengan musuhnya yang terlebih dahulu kabur.


Boom...


Letusan gunung bersalju setelah tanah berguncang hebat. Salju berhamburan ke seluruh wilayah gunung di sekitarnya. Anehnya, letusan gunung itu tidak memuntahkan magma, melainkan keluar sosok pria yang berada di dalam peti es.


Tubuh semua orang yang berada di Alam Tianwu sampai gemetaran karena merasakan aura kekuatan yang tidak diketahui tingkatannya. Yang jelas, lebih kuat dari siapapun yang berada di Alam Tianwu.


Shima Aurora, Qian Diao Chan dan timnya sampai lemas karena tidak mampu menahan aura kekuatan Dewa Abadi, mereka tercengang melihat orang yang berada di dalam peti es ternyata masih hidup.


Xu Huang yang paling ketakutan karena hampir mengeledah tubuh orang yang dianggap telah mati membeku.


Dewa Abadi tidak mengetahui jika dirinya berada di Alam Tianwu, sebab saat ini dia belum sepenuhnya pulih dari kondisinya yang telah lama tertidur. Wajahnya tertunduk lemah, mata masih buram karena terlalu lama memejamkan mata.

__ADS_1


Karena tubuhnya masih lemas, Dewa Abadi yang melayang di atas gunung bersalju, terjatuh. Buru-buru Shima Aurora terbang untuk menyelamatkan Dewa Abadi. Lalu segera disusul oleh Qian Diao Chan.


Sebelum Dewa Abadi terjatuh di salju, tubuhnya ditopang oleh Shima Aurora dan Qian Diao Chan. Mereka berdua segera membawa Dewa Abadi ke tempat tinggalnya di Akademi Dewa Dewi.


__ADS_2