
Bab 210. Kekalahan Dewa Elemen.
Dewa Abadi belum mengetahui apa yang terjadi di Alam Suci, sebab dia terfokus kepada lawannya yang sangat agresif menyerangnya. Berulang kali dirinya harus terpental ke belakang saat terkena pukulan berenergi tinggi dari Dewa Elemen.
Belum sempat untuk menstabilkan tubuhnya, Dewa Elemen terus menerus menyerang. Yang tidak bisa membuat Dewa Abadi membalas serangan dikarenakan kecepatan lawannya yang unggul dalam basis kultivasi.
Dewa Elemen keheranan melihat Dewa Abadi mampu bertahan setiap kali mendapatkan serangannya. Padahal lawannya dengan jelas kalah dalam basis kultivasi, namun selalu saja mampu menahan pukulan berenergi.
Dewa Elemen tidak segera menyerang Dewa Abadi, dia mengaktifkan Mata Dewa untuk melihat fisik lawannya. Dia mengerutkan kening karena melihat warna kekuningan menyelimuti tubuh Dewa Abadi.
"Jadi Anda mampu bertahan karena Kekuatan Jiwa? Pantas saja Anda mampu menahan setiap seranganku!" ucap Dewa Elemen setelah tahu pertahanan fisik lawannya.
"Bukan rahasia umum lagi, kenapa kau baru mengetahuinya!" Dewa Abadi keheranan karena lawannya seolah-olah tidak mengetahui tentang kelebihannya ini.
Seharusnya, pihak Alam Kudus telah memberikan informasi tentang dirinya kepada Dewa Elemen. Mengetahui kekuatan lawan merupakan hal penting sebelum menghadapinya. Dan anehnya, Dewa Elemen kenapa baru menyadarinya.
"Aku baru keluar dari kultivasi tertutup selama jutaan tahun. Ketika aku keluar, langsung mendapatkan tugas untuk membunuhmu dan mengambil Batu Keabadian!" ungkap Dewa Elemen dengan jujur.
Memang dia tidak tahu apapun yang terjadi selama berkultivasi tertutup. Ketika mendapat tugas ini, dia hanya mendapatkan informasi singkat dari kakaknya, yang tidak lain adalah Dewa Surgawi.
Karena sudah lama tidak mengetahui perkembangan di dunia ini, dia dengan senang hati menerima tugas ini. Selain itu, dia juga ingin tahu seberapa besar perkembangan kultivator di dunia saat ini.
Dewa Abadi akhirnya mengerti bahwa lawannya ini memang benar-benar buta informasi tentang dirinya. Namun satu hal yang membuatnya bertanya, "apa itu Hati Dunia?"
"Anda tidak tahu Hati Dunia? Hati Dunia sudah ada sebelum Batu Keabadian. Hati Dunia terlahir dari buah pemikiran dari tiga Dewa Tertinggi (Trimurti) yang masih melekat pada cinta kasih terhadap duniawi!" penjelasan Dewa Elemen.
Dia sebenarnya juga keheranan dengan Dewa Abadi yang tidak tahu tentang hal ini. Dia pikir Dewa Abadi memilikinya sesuai dengan informasi dari Dewa Surgawi dan Dewa Langit. Dan, pertanyaan Dewa Abadi ini, sudah pasti tidak memilikinya.
"Apa manfaat dari Hati Dunia ini?" tanya Dewa Abadi yang memang tidak tahu.
"Anggap saja Hati Dunia ini seperti Artefak Alami tetapi berada di puncaknya, dan lebih unggul dari Batu Keabadian. Seperti yang kukatakan sesaat lalu, Hati Dunia terlahir dari buah pemikiran tiga Dewa Tertinggi. Jika memilikinya, Anda bisa menciptakan Artefak Alami hanya dengan pikiran saja, menciptakan alam semesta juga hanya dengan kehendak hati. Selain itu, jika Anda memilikinya, kekuatan Anda setara dengan Dewa Tertinggi!" penjelasan Dewa Elemen secara gamblang tanpa ditutup-tutupi.
Di dalam hati, Dewa Abadi jelas terkejut karena baru tahu bahwa ada sesuatu yang mampu menggemparkan alam semesta. Dia tahu bahwa Batu Keabadian tidak bisa menciptakan Artefak Alami, sebab Batu Keabadian sebenarnya adalah Artefak Alami.
Yang tidak diketahui oleh Dewa Abadi, Celestial Snake istrinya yang telah mengambil Hati Dunia sebelum bertemu dengan dirinya. Dia mengambilnya dari Pagoda Berlian yang menyegel Dewa Perusak.
Ironisnya, Dewa Perusak yang andil besar dalam kelahiran Hati Dunia, justru tersegel karena kekuatan Hati Dunia. Setelah Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta menggunakan Hati Dunia, mereka meletakkannya di dalam salah satu dari lima Pagoda Berlian.
Karena Hati Dunia diambil oleh Celestial Snake, maka Pagoda Berlian bisa dicuri oleh Dewa Langit agar Dewa Perusak bisa lepas dari segel. Jika Hati Dunia masih berada di dalam, tidak mungkin Dewa Langit mampu mencuri Pagoda Berlian.
Sayangnya, Pagoda Berlian justru menghilang saat dirinya dihukum oleh Dewa Pemelihara gara-gara ketahuan telah mencurinya sebelum Dewa Perusak keluar dari segel. Dan, secara kebetulan setelah itu, Pagoda Berlian ditemukan oleh Dewa Perang.
Oleh karena itu, Dewa Perusak memerintahkan kepada Dewa Langit untuk menangkap Celestial Snake dalam keadaan hidup atau mati untuk mendapatkan Hati Dunia. Sayangnya, setelah membunuh Celestial She, Dewa Langit tidak menemukan Hati Dunia.
Namun, yang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan tidak diketahui oleh Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta, Dewa Perusak mengetahui bahwa Batu Keabadian dan Hati Dunia jika disatukan, maka akan memicu suatu kekuatan yang mengerikan.
__ADS_1
Dewa Perusak sampai tidak berani membayangkan jika dua benda itu disatukan. Agar mampu menghadapi kejadian yang mengerikan itu, terlebih dahulu dia harus mendapatkan Hati Dunia.
"Batu Keabadian memang aku memilikinya, dan itu milikku. Hati Dunia, aku tidak memilikinya. Aku mendengarnya juga baru kali ini!" ucap Dewa Abadi yang juga dengan jujur.
Satu hal yang menjadi pertanyaan besar dibenak Dewa Abadi. Jika Hati Dunia ini terlahir dari pemikiran Dewa Tertinggi, kenapa gurunya si Dewa Pemelihara tidak menyimpannya, bahkan tidak memberitahukan kepadanya.
Dewa Abadi pun menyimpulkan bahwa Hati Dunia bukan benda yang berharga bagi Dewa Tertinggi.
"Aku tidak akan membunuh Anda, asal serahkan Batu Keabadian dan hancur kekuatan Anda," kata Dewa Elemen.
Ucapannya membuat Dewa Abadi tersenyum, ingin rasanya tertawa karena tidak mungkin melakukan keinginan musuhnya ini.
"Kau terlalu meremehkan lawan! Cukup kita bermain-main, dan lihatlah Kekuatan Jiwaku!" Dewa Abadi tidak ingin berlama-lama menghadapi Dewa Elemen. Kedua tangannya terkepal erat. Lalu muncul sembilan gelang pelangi di kedua lengannya.
Boom boom....
Letupan energi keluar dari tubuh Dewa Abadi yang mengejutkan Dewa Elemen. Tubuh Dewa Elemen berguling-guling ke belakang saat tidak mampu menahan aura Kekuatan Jiwa. Luar angkasa bergejolak hebat, bebatuan luar angkasa hancur berkeping-keping.
Kekuatan Jiwa itu dirasakan oleh seluruh Laniakea Super Cluster. Peperangan di Alam Suci sampai terhenti, semua orang yang bertarung sampai tersungkur di tanah karena tidak mampu menahan aura kekuatannya.
"Gelang pelangi pertama, aktif!" gumam Dewa Abadi.
Kemudian, dari sembilan gelang pelangi, satu gelang mengeluarkan cahaya pelangi. Dewa Elemen yang sudah menstabilkan tubuhnya melihat kedua mata Dewa Abadi mengeluarkan cahaya pelangi, di punggungnya juga mengeluarkan lingkaran pelangi, dia juga melihat lengan musuhnya.
Tiba-tiba, Dewa Elemen syok karena Dewa Abadi sudah berada di depan. Dia benar-benar tidak menyangka lawannya memiliki kekuatan yang mengerikan.
Ledakan hebat ketika pukulan tangan kanan Dewa Abadi mengenai wajah Dewa Elemen. Seketika Dewa Elemen tewas karena kehilangan kepalanya. Mengalahkan lawan, tidak sedikitpun membuat Dewa Abadi berpuas diri, sebab Dewa Elemen sejak awal bukanlah lawan yang tangguh.
Dia yang berulang kali terpental, sebenarnya hanya ingin menguji seberapa hebat kekuatan Dewa Abadi yang unggul dalam basis kultivasi. Ternyata, walaupun unggul satu tingkat, Dewa Elemen masih bukan lawannya.
Dewa Abadi melihat jiwa Dewa Elemen tidak berusaha kabur setelah tidak memiliki tubuh.
"Terima kasih sudah mengalahkanku! Dengan begini, saya bisa bereinkarnasi lagi dan hidup sebagai manusia biasa. Dewa Binatang Yang Abadi, saya harap di kehidupanku yang akan datang, kita bisa bertemu dan menjadi teman!" ucap Dewa Elemen dengan tulus, ia ingin berhubungan baik dengan seseorang yang memiliki kemampuan unik, kemampuan yang tidak dimiliki oleh siapapun.
Dewa Abadi mengangguk sambil menyembunyikan Kekuatan Jiwanya agar tidak membuat kehancuran di luar angkasa, dan kehidupan di Laniakea Super Cluster.
"Dari tanah kembali ke tanah, jiwa-jiwa pergilah dalam damai, lahirlah kembali dengan tubuh baru dan kembalilah setelah lelah. Udara berhembus membelai jiwa, jiwa luka akan kembali pulih ... Pulanglah!" ucap Dewa Abadi yang melakukan ritual sebagai bentuk penghormatan kepada musuhnya.
Jiwa Dewa Elemen membungkuk sebagai rasa terima kasihnya. Kemudian, jiwanya menjadi serpihan kunang-kunang, demikian juga dengan seluruh tubuhnya yang tanpa kepala. Lalu muncul bola kristal berisi kekuatan yang dimiliki oleh Dewa Elemen.
Dewa Abadi geleng-geleng kepala karena pihak Alam Kudus memperalat seseorang yang sebenarnya baik hati. Lalu dia melihat ke arah Alam Suci sambil meraih bola kristal energi yang ditinggalkan oleh Dewa Elemen untuknya...
Dewa Kecantikan dan Maharani Shiwu juga syok melihat Dewa Abadi dengan mudah mengalahkan Dewa Elemen. Tubuh mereka gemetaran karena ketakutan, takut jika Dewa Abadi membunuhnya.
Tujuh bawahan Dewa Elemen segera kabur karena Dewa Elemen pemimpinnya telah dikalahkan. Mereka segera menggunakan Teknik Teleportasi agar tidak dikejar oleh Dewa Abadi.
__ADS_1
Melihat pendukungnya kabur, Dewi Kecantikan dan Maharani Shiwu segera memerintahkan pasukannya untuk segera kembali ke wilayahnya. Setelah memberikan perintah, ibu dan anak itu terlebih dahulu kabur meninggalkan pasukannya.
Kaisar Giok, tujuh Pelindung Alam Suci menatap ke arah luar angkasa, melihat Dewa Abadi dengan menggunakan Mata Dewa. Mereka sangat senang karena Alam Suci hampir saja terjadi pertumpahan darah.
Mereka terkejut karena Dewa Abadi menghilang dan...
Boom boom boom boom....
Rentetan ledakan energi yang suaranya sangat keras. Tujuh Pelindung Alam Suci, Kaisar Giok dan semua orang melihat ke arah lain, di mana Dewa Abadi membunuh anggota Kuil Alam Kudus dengan mudah...
Dewa Abadi mengambil tujuh bola kristal energi milik anggota Kuil Alam Kudus, dia melihat ke arah Alam Kudus yang jaraknya sangatlah jauh.
"Sebelum aku datang, kirimkan banyak orang lagi agar aku mendapatkan kekuatan mereka," kata Dewa Abadi yang secara tidak langsung menantang pihak Alam Kudus.
Setelah berbicara, dia menghilang dan muncul di hadapan kedua istrinya (Dewi Kedamaian dan Dewi Kasih). Kedua istrinya segera memeluknya.
Semua orang membalikkan badannya karena malu melihat kemesraan Dewa Abadi. Setelah beberapa saat, Dewa Abadi memberikan dua bola kristal energi kepada Kaisar Giok.
"Segera Yang Mulia Kaisar Giok tingkatan kekuatan agar tidak lagi diremehkan oleh dua wanita itu," kata Dewa Abadi.
Dengan tangan gemetaran menerima pemberian Dewa Abadi, Kaisar Giok berbicara, "sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, Dewa!"
Dewa Abadi mengangguk sebagai respon, lalu mendekati lima Pelindung Alam Suci, dia memberikan mereka satu bola kristal energi kepada mereka berlima.
Dewa Abadi memberikan bola kristal energi kepada mereka agar bisa mandiri melindungi tiga alam. Dengan kekuatan mereka saat ini, melindungi alam semesta akan sangat kesulitan jika menghadapi pihak dari Alam Kudus.
"Terima kasih, Dewa!" ucapan serempak dari lima Pelindung Alam Suci.
Dewa Abadi tersenyum sambil memegang tangan kedua istrinya, dan menghilang dihadapan mata semua orang.
"Batu Keabadian, benar-benar hebat!" pujian Kaisar Giok, muncul di hatinya menginginkan Batu Keabadian yang menciptakan Kitab Kultivasi Delapan Hukum Jiwa.
"Yang Mulia, segera serap energi di bola kristal itu!" teguran Dewa Bumi saat melihat Kaisar Giok yang terlihat melamun.
"Tentu! Saya undur diri!" pamit Kaisar Giok kepada lima Pelindung Alam Suci. Dia segera menghilangkan keinginannya yang tidak mungkin tergapai. Jika terus mengikuti keinginan hatinya, dia akan sama seperti sifat ayahnya si Kaisar Langit, dan jelas tidak mau mendapatkan gelar yang sama.
Kaisar Giok mengajak untuk jenderal dan pasukannya untuk kembali. Dia tidak khawatir dengan penguasa Istana Yaksa karena masih ada lima Pelindung Alam Suci.
Dewa Bumi bersama dengan keempat rekannya menghilang dan muncul di puncak Piramida Formasi Nonagon. Mereka melihat Pasukan Maharani Shiwu yang telah kembali ke wilayahnya.
"Kenapa Dewa Abadi tidak menghukum mereka?" Dewa Surya keheranan karena Maharani Shiwu dan ibunya tidak mendapatkan hukuman setelah perbuatannya ini.
"Maharani Shiwu adalah mantan istri, Dewa Abadi jelas tidak menghukumnya! Tindakannya ini jelas lebih menyakitkan hati bagi Maharani Shiwu yang diabaikan!" sahut Dewa Kekayaan yang lambat laun memahami karakter Dewa Abadi yang bertindak secara elegan terhadap wanita dan lawannya.
Dewa Pelindung Alam Suci tertawa karena tahu apa yang dirasakan oleh Maharani Shiwu yang diabaikan oleh Dewa Abadi. Namun yang tidak diketahui oleh mereka, ibu dan anak itu akan membangkitkan Maharaja Yaksa setelah kegagalannya ini...
__ADS_1
Dewa Abadi berada di dalam Dunia Jiwanya, dia ingin membahagiakan Dewi Kedamaian dan Dewi Kasih sebelum pergi ke Alam Kudus. Selain itu, dia juga memberikan kekuatan kepada istrinya ini yang akan tinggal di Alam Suci.