God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Ditipu!


__ADS_3

Bab 163. Ditipu!


Anak panah kali ini tidak secepat kedatangan Bai Ze, tetapi auranya lebih kuat dari Bai Ze. Semua Dewa dan Asyura bertanya kepada Chen Yeon, tentang siapa yang akan menjadi musuh berikutnya, tetapi Chen Yeon tidak mengetahuinya. Yang jelas, lebih kuat dari Bai Ze, kata Chen Yeon.


Jika yang akan datang lebih kuat dari sebelumnya, maka pola ini seperti permainan. Jika memang fenomena alam ini adalah sebuah permainan yang terencana dari Dewa Perusak, Chen Yeon memperkirakan yang akan datang adalah Fu Zhu yang mirip dengan binatang Griffin dan domba.


Namun, Chen Yeon mengatakan bahwa bisa saja musuhnya kali ini telah berevolusi, karena apa yang diketahuinya adalah pengetahuan lama.


Sebelum kedatangan musuh berikutnya, Chen Yeon meminta kepada Kaisar Langit, Maharaja Yaksa, semua Dewa dan Asyura untuk menyerahkan semua tanaman yang dimiliki, tujuannya untuk membuatkan Pil Pemulih Energi.


Tanpa banyak bicara, kedua penguasa itu dan semua orang menyerahkan tanaman langka. Chen Yeon, Hu Yue Yan dan semua ahli Alkemis bekerjasama dalam pembuatan Pil Pemulih Energi, diproduksi secara massal...


...****************...


Di Kuil Alam Kudus, yang berada di Observable Universe atau Alam Kudus. Alam Kudus sangatlah subur, lebih subur dari Alam Suci, dan juga luas wilayahnya.


Struktur kepemimpinan dan kekuasaan bukan dipegang oleh Kuil Alam Kudus, melainkan dipegang oleh empat keluarga besar, mereka adalah marga Tian, Zhi, Yu, dan Guan.


Keempat keluarga besar itulah yang selalu berkompetisi dalam segala hal, terutama dalam penciptaan, melahirkan banyak dewa dan dewi, yang menyebar ke seluruh dunia di alam semesta.


Menurut peringkat kekuatan, keempat keluarga besar bisa dikatakan seimbang, namun yang jelas mereka selalu menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya sebagai kartu As. Dengan kata lain menyembunyikan kekuatan untuk berjaga-jaga jika dominasinya terusik.


Pada dasarnya, keempat keluarga itu masih dalam satu garis keturunan yang sama, hanya berbeda nama marga sebagai identitas diri. Mereka juga berasal dari The Living Tribunal Multiverse.


Karena persaingan untuk menjadi yang terkuat serta terbaik dalam segala penciptaan, maka dibentuklah perwakilan sebagai tangan kanan dari keempat keluarga besar itu, yang hingga saat ini dikenal dengan nama Kuil Alam Kudus.


Pimpinan Kuil Alam Kudus ada empat orang yang diambil dari keempat marga, mereka disumpah Dao agar selalu bertindak adil tanpa memihak kepada siapapun. Mereka adalah Ketua Tian, Yu, Zhi, dan Guan.


Asal mula terjadinya persaingan karena saling berdebat siapa yang paling tua diantara mereka, dan semuanya berawal dari cerita God Of Partikel.


Tian Ba si God Of Partikel, mengatakan bahwa nenek moyang tidak memiliki nama, tidak terlukiskan, maupun berwujud. Karena tidak memiliki nama, dibuatlah sebuah nama sebagai bentuk penghormatan, Nenek moyang Chaos (Avyavastha / Hǔnluàn)


Konon katanya, Chaos terlahir dari waktu dan keniscayaan, membentuk wujud Telur Semesta (Telur Dunia). Chaos ada sebagai makhluk tanpa bentuk. Dia adalah materi tak bernyawa, tempat semua unsur penciptaan berkumpul bersama, sehingga yang satu tidak dapat dibedakan dari yang lainnya.


Jadi, karena masih dalam satu garis keturunan yang sama dan tidak tahu siapa yang tertua, maka persaingan pun terjadi. Yang terbaik dalam penciptaan dan terkuat adalah pemenangnya yang akan menjadi tertua untuk memimpin semuanya.


Kematian Taois Xian, Taois Chen, Taois Lim dan ketiga murid dari Kuil Alam Kudus, segera diketahui oleh semua pimpinan kuil. Setelah melihat kejadian yang menyebabkan kematian mereka melalui Cermin Sihir, empat pimpinan kuil itu segera berdiskusi.


"Sampai kapan perlombaan ini berakhir!" ucap Ketua Yu yang tidak tahu harus bagaimana caranya untuk mengatasi kekacauan ini.


Tiga Taois adalah wakil ketua yang bertugas sebagai penghubung antara Alam Suci dan Kuil Alam Kudus, kematian mereka jelas sangat merugikan pihak Kuil Alam Kudus karena kekuatannya di bawah para ketua.

__ADS_1


"Kita hanyalah wakil ... Lebih baik, kita tunggu perintah pimpinan. Saat ini, kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti!" instruksi dari Ketua Guan.


"Semua pihak memiliki kepentingannya masing-masing, entah siapa yang menjadi pemenangnya, kita juga tidak dirugikan. Semoga perlombaan ini tidak memicu terjadinya Peperangan Global Trimurti!" imbuh Ketua Zhi.


Empat ketua itu merenungi permasalahan yang tidak pernah ada akhirnya. Sebagai perwakilan, mereka hanya bisa mematuhi perintah pimpinan. Dan dalam semua aspek kehidupan, kekuatan adalah yang utama daripada apapun. Jadi, mereka berempat hanya bisa melihat kekacauan ini, dan mencatat apapun yang terjadi sebagai catatan sejarah.


...****************...


Waktu pun berlalu dengan cepat, akhirnya anak panah kedua jatuh ke Benua Peliades. Dampaknya menghancurkan dinding pertahanan. Untung saja, dinding pertahanan dibuat berlapis-lapis sehingga dampaknya tidak sampai memakan korban jiwa.


Semua mata memandang ke arah altar Dewa Sihir, yang mana setelah kepulan debu berlalu terlihat wujud raksasa. Kali ini raksasa bermata satu, dan bukan seperti yang diperkirakan oleh Chen Yeon.


Raksasa Mata Satu ini memiliki sepasang sayap kupu-kupu berapi-api, tubuhnya juga mengeluarkan api. Seperti Bai Ze sewaktu baru tiba, raksasa itu menutup mata dengan diam mematung.


Seperti sebelumnya, semua Dewa dan Dewi menduga jika Raksasa Mata Satu menunggu perintah yang keluar dari altar Dewa Sihir. Semua orang segera bersiap-siap untuk menghadapi apa yang akan keluar dari altar.


Namun setelah menunggu sekian lama, tidak ada terjadi sesuatu. Hal ini membuat semua Dewa dan Dewi menjadi gelisah, dan ini seperti strategi peperangan mengacaukan psikologis lawan.


Chen Yeon dan Hu Yue Yan dengan setia menjaga Dunia Jiwa milik Dewa Binatang, mereka selalu melihat Dunia Jiwa yang tidak bisa mereka lihat, tetapi tahu lokasinya saat Dewa Binatang masuk bersama pasukannya.


"Kenapa mereka tidak segera tiba? Apakah sesuatu yang buruk terjadi?" kekhwatiran Chen Yeon kepada Chen Ying dan Hu Yue Yan.


"Dewa Binatang telah memprediksi kejadian ini. Oleh sebab itu, dia meminta kita untuk mengawal Pagoda Berlian!" ucap Hu Yue Yan yang mengingatkan Chen Yeon


"Untuk lebih terjaminnya Pagoda Berlian tidak jatuh ke pihak yang jahat, alangkah baiknya jika Anda melindunginya bersama-sama!"


Kedua wanita itu menghela nafas panjang karena mengabaikan saran dari Dewa Binatang. Seandainya, mengikuti sarannya, kemungkinan besar Pagoda Berlian sudah kembali ke tempatnya, dan Raksasa Mata Satu tidak akan datang termasuk yang lainnya.


Entah apa yang dipikirkan oleh kedua wanita itu sehingga saling berpandangan penuh arti, wajah mereka terlihat serius.


Tiba-tiba Dewa Binatang muncul dihadapan kedua wanita itu. Chen Yeon dan Hu Yue Yan segera berdiri dengan wajah berseri-seri. Kedatangan Dewa Binatang seperti secercah harapan bagi mereka berdua.


"Apakah kalian merindukanku?" goda Dewa Binatang karena melihat kedua wanita ini seperti gadis yang bertemu dengan idola.


Seketika wajah kedua wanita itu menjadi muram karena ucapannya. Mereka jengkel kepada Dewa Binatang yang masih sempat-sempatnya bercanda di situasi seperti ini.


"Apakah Anda tahu apa yang baru saja terjadi?" tanya Hu Yue Yan dengan nada ketus.


"Tahu dengan jelas!" jawab Dewa Binatang, lalu keluar dari tenda untuk melihat situasi di medan perang Samudera Hitam.


"Tunggu!" cegah Chen Yeon sebelum Dewa Binatang keluar dari tenda.

__ADS_1


Dewa Binatang membalikkan badan dan bertanya, "ada apa?"


"Apakah kamu sudah menebak jika kedua rekanku tidak mungkin berhasil mengembalikan Pagoda Berlian ditempatnya?" selidik Chen Yeon.


"Terlambat jika kalian baru menyadarinya!" sahut Dewa Binatang sambil duduk di kursi.


"Jadi kamu sudah tahu siapa orang yang menghalangi rekanku?" Chen Yeon ingin Dewa Binatang berbicara dengan sejujurnya.


"Hanya dugaanku saja!" jawab Dewa Binatang yang membuat hati kedua wanita itu semakin penasaran.


"Jangan-jangan Pagoda Berlian itu ...!"


"Sebelumnya aku minta maaf! Aku tidak berniat untuk menipu kalian semua, tetapi ini untuk berjaga-jaga jika tebakanku benar. Iya, Pagoda Berlian yang dibawa kedua rekanmu adalah palsu. Seperti yang sudah kalian ketahui, mahkluk itu telah datang atau fenomena ini belum berakhir, hal ini menandakan bahwa kedua rekanmu telah gagal mengembalikan Pagoda Berlian...," Dewa Binatang berkata jujur kepada Chen Yeon dan Hu Yue Yan.


Sebelum Dewa Binatang menyerahkan Pagoda Berlian, dia sempat menutup mata. Ternyata, dia di dalam Dunia Jiwanya sedang membuat replika dari Pagoda Berlian. Perasaannya yang selalu khawatir, menandakan jika akan terjadi sesuatu ketika Pagoda Berlian akan dikembalikan.


Oleh sebab itu, dia meragukan mereka berempat sanggup menjaga Pagoda Berlian, yang akhirnya mereka harus bersumpah Dao sebagai bukti agar bisa dipercayai oleh Dewa Binatang dan semua Dewa yang hadir.


Dewa Binatang melihat kelemahan Chen Yeon yang mudah percaya kepada siapapun, oleh karena itu dia berani menipu semua orang dengan membuat replika dari Pagoda Berlian. Dan, Chen Yeon menerima Pagoda Berlian palsu tanpa melihat keasliannya.


Lucunya lagi, Chen Ying dan Hu Weiheng memberikan jejek spritual pada Pagoda Berlian palsu. Sebenarnya waktu itu, Dewa Binatang ingin tertawa karena keluguan semua orang.


"... Aku sudah menjalani sembilan siklus Samsara. Karena pengalamanku itu, sifat-sifat setiap kehidupan mudah kuketahui, bahkan arah jalan pikiran mereka. Berkat pengalamanku ini, aku selalu waspada, entah kepada teman, sahabat, istri, apalagi kepada orang yang baru kukenali. Pendidikan setinggi langit atau kekuatan, tidak akan mengalahkan yang namanya pengalaman! Kalian seharusnya sudah memahaminya, dan bahkan lebih lama hidup dariku!"


Diakhiri kata, Dewa Binatang menegur kedua wanita itu karena tidak belajar dari pengalaman, yang mana mudah dibaca pola pikirnya oleh siapapun.


Seperti murid yang ditegur oleh gurunya, kedua wanita itu menundukkan wajahnya karena malu. Jika dihitung-hitung, mereka berdua telah ditipu oleh Dewa Binatang sebanyak dua kali.


Pertama, sewaktu ditantang, dan akhirnya Dewa Binatang menghilang. Dan yang kedua, memberikan Pagoda Berlian yang palsu dihadapan semua Dewa dan Dewi. Siapapun orangnya, sudah pasti akan malu telah ditipu secara terang-terangan.


"Setidaknya Pagoda Berlian yang asli masih aman bersama Anda. Kuakui, Anda sangat cerdas dan tak terduga jalan pikirannya!" pujian Chen Yeon sambil memberanikan diri menatap wajah tampan Dewa Binatang.


"Tapi aku masih belum terima dikalahkan!" sahut Hu Yue Yan dan membuat Dewa Binatang menertawakannya.


Hu Yue Yan semakin kesal karena ditertawakan. Sebelum protes, Dewa Binatang terlebih dahulu menggoda "kalian sudah tua masih saja seperti gadis kecil!"


Hu Yue Yan langsung melesat untuk memukul wajah Dewa Binatang. Namun, Dewa Binatang yang duduk dengan mudah memegang kepalan tangannya, lalu memelintir tangannya sehingga membuat Hu Yue Yan duduk di pangkuannya.


"Ahhh...!!" teriakan Hu Yue Yan seperti gadis kecil karena merasakan tonjolan di pantatnya ketika duduk, ia buru-buru melepaskan diri dari Dewa Binatang.


Chen Yeon yang melihat kedua orang itu, ingin rasanya tertawa dan menangis. Ingin tertawa karena sudah lama tidak merasakan candaan seperti ini. Dia ingin menangis karena teguran Dewa Binatang yang secara langsung, padahal sedang berbicara dengan wanita yang ada selalu menggunakan perasaan.

__ADS_1


__ADS_2