God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Benih Petir Semesta.


__ADS_3

Bab 215. Benih Petir Semesta di Danau Tangisan.


Dewa Abadi membalikkan badan dan melihat pria usia 56 tahun, dan putrinya usia 17 tahun. Mereka membawa hasil buruan, binatang rusa dan babi hutan. Terlihat mereka adalah orang yang baik.


Mereka tinggal di Desa Nyanyian Hati (Xīn zhī gē / Xinzhige), sesuai dengan nama danau yang dekat desa tersebut, namanya Danau Tangisan. Danau tersebut akan selalu mengeluarkan tangisan wanita saat bulan purnama, terkadang tangisan itu seperti nyanyian hati yang terluka.


Danau Tangisan sangat terkenal, tetapi tidak menarik perhatian banyak orang karena tidak ada sesuatu yang berharga, dan juga berbahaya.


Dewa Abadi segera bertanya, "apakah di tempat ini ada sesuatu yang mencurigakan?"


Bapak dan putrinya itu saling berpandangan, lalu melihat Dewa Abadi karena tidak pernah mengenalinya.


"Yang Anda maksud adalah suara jeritan wanita di Danau Tangisan?" tanya balik pria itu yang mengira pria muda dihadapannya utusan dari Kerajaan Tian.


"Iya, itu salah satunya. Apakah Anda tahu suara siapa itu, dan di mana danaunya?" selidik Dewa Abadi walaupun tidak tahu tentang keanehan danau itu. Baginya, informasi apapun yang terkait dengan ibu dan neneknya akan sangat berharga.


"Sudah banyak orang yang menyelidik fenomena tangisan wanita yang keluar dari dasar danau, tetapi mereka tidak menemukan apapun di dalamnya. Hingga saat ini, danau itu tidak ada lagi yang mengunjunginya, bahkan kami enggan ke sana!" jelas pria itu.


"Terima kasih!" Dewa Abadi segera menuju ke Danau Tangisan setelah membaca ingatan pria itu.


Pria itu dan putrinya keheranan melihat Dewa Abadi yang berprilaku aneh, mereka dibuat kebingungan.


"Aneh!" ucap wanita muda itu sambil menatap punggung Dewa Abadi.


"Ayo kembali, Ibumu pasti sudah menunggu kita!" Mereka berdua segera kembali ke Desa Nyanyian Hati.


Tidak berselang lama, Dewa Abadi akhirnya tiba di Danau Tangisan, danau yang tampak tenang seperti pada umumnya, hanya saja airnya terlihat hitam karena saking dalamnya.


Dia merasa aura kematian yang pekat keluar dari dalam danau. Jika orang biasa yang mendekati danau, sudah pasti akan berhalusinasi seolah-olah melihat danau ini seperti tempat yang angker. Di sekelilingnya ditumbuhi semak-semak setinggi manusia.


Tanpa rasa takut dan demi menemukan ibunya, Dewa Abadi masuk ke dalam sungai, dia berharap menemukan petunjuk. Dia terus menyelam ke dalam dasar danau, secara perlahan sambil melihat sekelilingnya.


Yang membuatnya merasakan keanehan, di dalam danau tidak ada seekor pun ikan, seperti danau air mati, bahkan lumut pun tidak ada yang tumbuh. Saat berada di dasar danau, Dewa Abadi melihat gumpalan berwarna ungu yang tidak menyatu dengan air.


Dia segera menyentuh gumpalan ungu itu, terasa seperti listrik. Tampaknya memancarkan energi, seperti pulsar di angkasa luar. Bagian tengahnya bersinar merah muda lembut. Bola itu mengapung, terpasang di tempatnya, sementara bintik putih beterbangan di sekitarnya.


Bentuknya hampir sempurna, dengan permukaan bergelombang, seperti bola golf mini berwarna neon yang hilang di dasar danau.


Dewa Abadi, yang masih terpesona, mulai berspekulasi. Mungkinkah ini adalah Tunicate, yang biasa dikenal dengan sebutan Sea Squirt. Itu pasti jenis planktonik yang menggumpal dan kental, pikirannya.


"Mungkinkah ini yang mengeluarkan suara tangisan wanita?" batinnya yang menerka-nerka.


Karena penasaran karena tidak ada kehidupan di dalam danau, Dewa Abadi mengeluarkan seekor ikan sebagai uji coba. Ketika ikan dilepas, gumpalan ungu itu segera mengeluarkan serat-serat petir yang membuat ikan seketika mati.

__ADS_1


Ketika ikan itu mati, gumpalan ungu menyelimutinya, dan dalam sekejap mata ikan itu menghilang. Dewa Abadi mengerutkan kening karena gumpalan ungu ini adalah mahkluk hidup.


Anehnya, gumpalan ungu itu tidak bereaksi ketika disentuhnya. Dewa Abadi melihat sekelilingnya, yang mana di dasar danau dipenuhi dengan gumpalan ungu. Kemudian, ia melambaikan tangan kanannya.


Gumpalan ungu itu terbelah, namun dengan cepat menyatu karena serat-serat petir itu saling terhubung. Ketika terhubung kembali, serat-serat petir itu menyambar Dewa Abadi.


Dewa Abadi tidak terkejut maupun takut saat melihat gumpalan ungu itu menyerangnya, bahkan tidak menganggapnya bahaya. Akan tetapi, ketika serat-serat petir itu mengenai kulitnya, seketika Dewa Abadi merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


Rasa sakit berkali-kali lipat dari sambaran Petir Asyura yang dimilikinya. Dengan panik, dia berusaha untuk berenang ke atas, berniat untuk keluar dari dasar danau. Sayangnya, gumpalan itu memblokir semua kemampuannya.


"Sialan...! Ini adalah benih Petir Semesta!" batin Dewa Abadi yang baru sadar yang dihadapinya.


Akhirnya tahu kenapa Danau Tangisan tidak menjadi daya tarik bagi kultivator karena ganasnya gumpalan ungu. Pantas saja tidak ada kehidupan di dasar danau. Dan, orang yang mampu mengatasi benih Petir Semesta hanyalah gurunya - Dewa Pemelihara.


Tubuh Dewa Abadi semakin kesakitan dan melemahkan diri karena gumpalan ungu menyelimuti tubuhnya. Karena berada di dalam air, suara teriakannya tidak keluar, hanya gelembung-gelembung udara dari mulutnya yang keluar. Rasa sakitnya ini sampai melukai jiwanya.


Dampak terlukanya jiwa, Dunia Jiwanya berguncang hebat seperti gempa bumi. Lalu muncul Petir Semesta di dalam Dunia Jiwanya. Petir Semesta langsung menyambar semua kehidupan di Dunia Jiwa.


Semua orang jelas sangat panik dengan kemunculan Petir Semesta. Semua orang yang mengetahui sejarah Bencana Petir Semesta seketika teringat, dan trauma karena masa lalu muncul.


Dewa Abadi semakin panik saat Dunia Jiwanya terpengaruh benih Petir Semesta, ia ingin masuk tetapi gumpalan ungu telah memblokir kemampuannya. Dia melihat banyak orang tersambar petir, jerih payahnya selama ini juga disambar petir.


"Arghhh...!!" teriakan Dewa Abadi saat melihat istri dan putrinya disambar Petir Semesta.


Tanaman langka dan Buah Suci seketika menjadi busuk akibat tersambar benih Petir Semesta. Binatang mistik juga kehilangan kekuatan, mereka seketika ambruk dan siap untuk menerima ajalnya.


"Maaf, maafkan aku!!" ucap Dewa Abadi yang suaranya terdengar di seluruh Dunia Jiwanya, dia sangat menyesal karena tidak bisa menolong semua orang di Dunia Jiwanya.


Setelah itu, dia tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya dan memejamkan mata, siap mati untuk selamanya...


Di sekitar Danau Tangisan, ada dua orang, mereka adalah orang yang baru saja bertemu dengan Dewa Abadi. Mereka segera menyusul Dewa Abadi karena penasaran. Yang tidak diketahui oleh Dewa Abadi, kedua orang itu adalah Dewa dan Dewi Pelindung Alam Kudus, utusan dari Dewa Tertinggi.


Mereka sebenarnya bukanlah ayah dan anak, statusnya hanyalah samaran, bahkan wajahnya mereka juga samaran. Mereka adalah Dewa Angin dari Galaksi Pengadilan Jagat Raya, dan si wanita itu adalah Dewi Bunga.


"Kenapa Dewa Abadi begitu ceroboh masuk!" ucap Dewi Bunga.


"Demi menemukan ibu dan neneknya, siapapun orangnya pasti akan berusaha keras untuk menemukan keluarganya!" terang Dewa Angin yang tahu tujuan Dewa Abadi, dia dan Dewi Bunga juga tahu apapun yang terjadi di Alam Kudus.


"Takdirnya mungkin harus terhenti di tempat ini, tempat kelahiran dan juga pemakamannya!" ucap Dewi Bunga yang sangat menyesali murid dari Dewa Pemelihara harus berakhir seperti ini.


Mereka berdua tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mampu mengatasi kehebatan benih Petir Semesta. Jika hanya setingkat Petir Asyura, mereka masih mampu menolong Dewa Abadi walaupun harus berjuang ekstra.


"Jika Dewa Abadi mampu lepas dari jeratan benih Petir Semesta, dia memang layak untuk menjadi pewaris Dewa Pemelihara. Kita tunggu dan berharap dia mampu melepaskan diri dari keterikatan duniawi!" Dewa Angin yakin Dewa Abadi mampu keluar dari masalahnya ini, sebab memiliki Batu Keabadian.

__ADS_1


Kedua orang itu duduk bersila di pinggir danau, menunggu Dewa Abadi...


Sedangkan Dewa Abadi yang pingsan, dia saat ini seperti bermimpi kembali ke masa lalunya, ketika belum terjadi Bencana Petir Semesta. Dia melihat masa kecilnya bersama dengan keempat kakak perempuannya.


Kejadian ini pernah dialaminya ketika berada di Alam Tianwu, pingsan dan bermimpi. Secara perlahan, dia mulai pulih dari ingatan masa lalunya sebelum terlahir di Benua Jiang Shan.


Di dalam mimpinya ini, dia beranjak dewasa dan menikahi keempat kakak perempuannya. Setelah kebahagiaan itu, ia melihat dirinya sendiri diajak oleh Tian Bo untuk diambil sampel darahnya, darah yang akan melahirkan Naga 12 Elemen.


Dewa Abadi melihat ayahnya membuat dirinya pingsan sebelum diambil darahnya. Tian Bo si Dewa Langit mengambil satu liter darahnya, jumlah yang sangat banyak. Yang mengejutkannya, Tian Ba si God Of Partikel (kakeknya) juga ikut andil dalam kelahiran Naga 12 Elemen.


Mereka mencampurkan setetes darahnya dengan darah empat binatang, lalu menyimpannya di dalam tabung reaksi. Ketika bercampur, darah milik Dewa Abadi perlahan mulai menyatu dengan keempat darah binatang. Akan tetapi, darahnya lebih dominan dan membuat darah lain menjadi mati.


Ayah dan kakeknya itu terus melakukan hal yang sama karena yakin darah milik Dewa Abadi mampu berevolusi menjadi Naga 12 Elemen. Setelah beberapa kali uji coba, akhirnya mereka berhasil menyatukan lima jenis darah yang berbeda.


Namun, tiba-tiba tabung reaksi disambar petir. Mereka tahu jika ciptaannya ini tidak mendapatkan restu dari Sang Pencipta. Tetapi, mereka tetap tidak menghiraukan peringatan-Nya, kembali mencoba menciptakan Naga 12 Elemen.


Sampai akhirnya Naga 12 Elemen terlahir. Dewa Abadi yang melihat mimpi masa lalunya ini geleng-geleng kepala karena kakeknya juga terlibat.


"Apakah kebaikan kakek kepadaku untuk menebus kesalahannya?" batin Dewa Abadi sambil melihat Bencana Petir Semesta mengamuk, menghancurkan Alam Semesta.


Lalu dia teringat dengan masalahnya sendiri yang sedang bergumul dengan benih Petir Semesta. Buru-buru dia melihat ke dalam Dunia Jiwanya, namun dia tidak menemukan Dunia Jiwanya.


"Jika harus mati, matilah tidak perlu harus melalui masa laluku!" kekesalan Dewa Abadi karena hidupnya seperti dipermainkan oleh seseorang.


Tiba-tiba muncul serat-serat petir, lalu berubah wujud menjadi seorang wanita muda dan cantik di samping Dewa Abadi, wanita itu adalah perwujudan dari benih Petir Semesta.


"Karena darahmu, aku terlahir. Terlahir dari penyatuan darahmu dan Petir Semesta!" ungkap benih Petir Semesta yang mengejutkan Dewa Abadi.


"Siapa kau?" tanya Dewa Abadi dengan menjauhi benih Petir Semesta karena kaget.


"Bodoh! Sudah kukatakan masih saja bertanya!" gerutu benih Petir Semesta sambil menatap Dewa Abadi.


"Bagaimana kau bisa terlahir hanya karena darahku?" selidik Dewa Abadi.


Benih Petir Semesta berjalan memutari tubuh Dewa Abadi dengan gerakan yang sangat cepat. Dewa Abadi semakin waspada karena khawatir diserang, tetapi benih Petir Semesta tidak melakukan apapun, hanya memutarinya.


Lalu benih Petir Semesta berkata, "lihatlah dengan mata hatimu jika kamu ingin mengetahui dampak dari kemarahan Dewa Pemelihara."


Dewa Abadi tidak segera melakukan apa yang dikatakan oleh benih Petir Semesta, sebab dia kebingungan dengan situasinya saat ini, seperti di dalam mimpi tetapi yang dilihatnya semua tampak nyata. Jika jiwanya benar-benar telah mati, tidak seharusnya seperti mengalami hal seperti ini.


"Lepaskan hati dari keterikatan duniawi, mata hatimu sebagai jalan pembimbingnya!" teguran dari benih Petir Semesta saat tahu Dewa Abadi sedang kebingungan.


Dewa Abadi segera memejamkan mata, melepaskan semua ego, keinginan pikiran yang mempengaruhi hatinya. Namun, itu tidak semudah yang dibayangkan, melepaskan keterikatan duniawi sama saja melupakan rasa cintanya terhadap istri dan anak.

__ADS_1


__ADS_2