
Bab 145. Permasuri Sabine Ivy.
Semalaman, Bola-Peor dan tentara Asyura terus dihujani anak panah energi. Anehnya, tidak ada satupun tentara Asyura yang tewas, tetapi tetap saja banyak yang terluka serius.
Hingga hari menjelang pagi, akhirnya serangan anak panah energi pun berhenti. Banyak tentara Asyura yang langsung membaringkan tubuhnya di tanah karena kelelahan.
Bola-Peor yang menjadi target utama, segera duduk di atas batu tanpa sedikitpun mengendurkan kewaspadaannya, terus melihat sekitarnya karena khawatir.
"Sialan... Aku menjadi incarannya! Siapa dia, apakah aku pernah bermasalah dengannya?" umpatan Bola-Peor yang baru sadar menjadi incaran setelah melihat tentaranya tidak ada yang tewas.
"Pemimpin, lebih baik kita mundur dan memanggil bala bantuan. Hamba yakin dia adalah Dewa Binatang!" saran dari seorang Perwira Tinggi Kerajaan Yecha.
Bola-Peor tidak segera menjawab, dia berpikir untuk menangkap Dewa Binatang tanpa meminta bantuan dari siapapun, sebab akan mendapatkan hadiah besar dari Maharaja Yaksa tanpa harus berbagi.
"Kalau benar itu dia, aku bisa menanganinya. Masalahnya, dia selalu selalu menyerang seperti seorang pengecut! Jika berhadapan secara langsung, dia bukan apa-apa!" ucap Dewa Kemalasan yang penuh percaya diri.
Sang Perwira Tinggi tersenyum masam karena tahu sifat Bola-Peor. Karena mengetahui sifatnya, dia berkata, "meminta bantuan hanya untuk mengatasinya tanpa perlu mengeluarkan tenaga. Pemimpin bisa mengambil keuntungan ini!"
Bola-Peor melihat Perwira Tinggi dengan senyuman. Apa yang disarankan oleh perwiranya ini memang masuk akal. Dia segera berdiri, meletakkan kedua tangannya di belakang pinggang.
"Semalaman dia terus membabi-buta menyerang, ketika hari berganti serangannya dihentikan. Apakah dia takut jika di siang hari akan ketahuan penyamarannya?" gumam Bola-Peor yang sedang berpikir.
Perwira Tinggi meninggalkan pemimpinnya yang sedang berpikir, dia mengatur tentara Asyura yang belum mendapatkan giliran istirahat.
Bola-Peor berjalan menjauhi tentara Asyura untuk memeriksa lokasi serangan semalaman. Ketika jaraknya terpaut 300 meter dari tentara Asyura, dia merasakan keanehan di tempatnya berdiri. Dia segera membalikkan badan dan tercengang karena tidak melihat pasukannya.
Bola-Peor melesat ke arah berkumpulnya tentara Asyura. Namun, jarak 300 meter terasa sangat jauh baginya. Karena merasakan keanehan, dia segera berhenti dan memeriksa sekitarnya.
"Formasi Ilusi... Sejak kapan ini ada?" gumam Bola-Peor yang keheranan sebab semalaman tidak melihat Dewa Binatang, dia menebak jika telah masuk ke dalam jebakan Formasi.
Menurut informasi dari Maharaja Yaksa, mengatakan bahwa Dewa Binatang adalah seorang ahli Formasi Array tingkat Celestial Supreme. Dengan kemampuannya itu, tidak mungkin setingkat Super Omega bisa dikelabui oleh Formasi Array jenis apapun, asal tidak lebih tinggi dari Celestial Supreme. Selain itu, dia juga mengetahui kemampuan Dewa Binatang yang mampu berkamuflase.
Dia pun menduga jika sosok yang membawa Wand Of Despair bukanlah Dewa Binatang, melainkan seorang penyihir yang ahli dalam Formasi Array, dua profesi yang saling berhubungan.
"Benar, kau telah berada di dalam Formasi Ilusi!"
Tiba-tiba Bola-Peor mendengar suara seseorang pria yang membawa Wand Of Despair, dia segera membalikkan badan untuk mencari sumber suara, namun tidak melihat siapapun.
"Keluar kau, jangan jadi pengecut!?" bentak Bola-Peor sambil mengeluarkan senjata kapak.
Tiba-tiba hembusan angin kencang muncul di arah depannya. Setelah itu, Bola-Peor melihat sosok pria yang membawa Wand Of Despair.
"Siapa kau?" selidik Bola-Peor.
"Apakah penting siapa aku?" tanya balik Dewa Binatang dengan suara serak.
"Kenapa kau mengincarku?"
__ADS_1
Dewa Binatang tertawa karena pertanyaan Bola-Peor yang konyol. Setelah berhenti tertawa, dia berkata, "bukannya kebalik? Aku melakukan ini hanya untuk bertahan hidup!"
"Ya sudah, berikan Wand Of Despair milikmu dan aku pasti mengampunimu!" pinta Bola-Peor.
Lagi-lagi ucapannya membuat Dewa Binatang tertawa, sungguh konyol. Dia tidak tahu harus berkata apa dengan kekonyolan Dewa Kemalasan ini.
Bola-Peor melesat ke arah Dewa Binatang sambil mengayunkan kapaknya, dia sangat tersinggung karena ditertawakan. Bilah kapaknya menebas tubuh Dewa Binatang, namun tubuh musuhnya berubah menjadi asap putih dan menghilang.
"Sial, aku lupa jika terkurung di dalam Formasi Ilusi!" umpatan Bola-Peor setelah melihat musuhnya berubah menjadi asap putih.
Lalu dia mendengar musuhnya tertawa di sebelah kirinya, sejauh 30 meter. Kali ini, dia tidak lagi menyerang, sebab akan membuang-buang energi dan waktu.
"Kau memaksaku!" kegeraman Bola-Peor.
Tubuhnya berubah dari pria tampan menjadi seorang wanita cantik jelita, dengan pakaian yang transparan. Tetapi, kedua matanya menjadi merah darah, keluar taring yang meneteskan darah, dari punggungnya mengeluarkan sepasang sayap kelelawar, kedua kakinya seperti cakar burung elang, dan kedua tangannya juga berubah menjadi cakar.
Di dahinya mengeluarkan mata ketiganya, ciri-ciri khas sebagai seorang Dewa. Dari mata ketiganya mengeluarkan cahaya kemerahan.
Dewa Binatang yang mengetahui mata ketiga musuhnya segera menghentakkan Wand Of Despair di tanah, tujuannya untuk memperkuat Formasi Ilusi.
"Aku Bola-Peor si Dewa Kemalasan. Hancurkan apapun yang merintangi keinginanku. Hancurkan musuhku!"
Setelah Bola-Peor mengucapkan hukum ciptaannya sebagai seorang Dewa, Formasi Ilusi bergetar hebat, lalu badai angin kencang memenuhi Formasi Ilusi. Kemudian, tanah menjadi retak dan menyemburkan cairan magma. Dia bertujuan untuk menghancurkan Formasi Ilusi beserta dengan musuhnya.
Dewa Binatang tersenyum tipis karena tidak takut dengan musuhnya. Lalu dia melihat Yuna Aurora keluar dari dalam Dunia Jiwanya dan sudah berdiri di depannya.
"Kau datang pasti hanya untukku, bukan? Sungguh hari yang sangat beruntung!" ucap Bola-Peor dengan percaya diri.
"Iya, aku datang khusus untukmu... Tetapi khusus untuk menyerap kekuatan Dewa-mu!" ungkap Yuna Aurora, lalu merentangkan tangan kanan ke arah Bola-Peor.
Perkataan Yuna Aurora sontak menyadarkan Bola-Peor dari kebodohan, dia teringat jika Yuna Aurora adalah istri dari Dewa Binatang. Dia juga tahu maksud perkataannya, yang mana kekuatan Dewa bisa meningkat basis kultivasi dari seseorang yang menyerapnya.
Bola-Peor melihat telapak tangan Yuna Aurora mengeluarkan Api Semesta, api yang sangat ditakutinya. Buru-buru dia mengayunkan kapaknya berulang kali untuk membela diri.
Sayangnya, Api Semesta dengan mudah melahap serangannya. Bola-Peor makin merasakan panas Api Semesta. Namun, sebelum dia mengayunkan kapaknya, tiba-tiba Dewa Binatang muncul di belakangnya dengan telapak tangan berada di pundaknya.
Seketika tubuh Bola-Peor tidak bisa digerakkan, lalu dia melihat Yuna Aurora telah berada di hadapannya.
Yuna Aurora meletakan telapak tangannya di dahi Bola-Peor untuk menyerap kekuatan Dewa.
"Arghhh...!!" teriakan Bola-Peor yang kesakitan ketika kekuatannya diserap oleh Yuna Aurora.
Dewa Binatang tersenyum sambil menatap wajah cantik istrinya. Dan inilah tujuan yang menargetkan Bola-Peor, dia ingin Yuna Aurora segera menerobos ke tingkat Half Super Omega...
Di luar Formasi Ilusi, Perwira Tinggi melihat pemimpinnya yang sedang berdiri, seperti seseorang yang sedang mengamati kedalaman Hutan Kematian. Dia tidak sedikitpun curiga jika pemimpinnya akan menemui ajal.
"Terkadang seorang Dewa akan seperti manusia fana ketika tergiur dengan kekayaan!" gumam Perwira Tinggi, lalu dia meneguk arak untuk memulihkan fisiknya.
__ADS_1
Baru saja selesai meneguk arak, dia melihat pemimpinnya tiba-tiba tersungkur di tanah. Buru-buru dia dan tentara Asyura menghampiri Bola-Peor. Setelah dekat, mereka syok melihat tubuh pemimpinnya tinggal kulit, tulang dan pakaiannya saja.
Perwira Tinggi dan tentara Asyura sangat marah dengan berteriak-teriak memanggil nama Dewa Binatang. Mereka tahu penyebab kematian Dewa Kemalasan, melihat kondisinya seperti ini, sudah pasti Dewa Binatang menyerap kekuatan pemimpinnya.
Mereka juga melihat disekitarnya yang porak-poranda akibat pertempuran yang baru saja terjadi, bukan karena pertempuran semalam.
Perwira Tinggi segera mengeluarkan bambu yang khusus untuk meminta bala bantuan. Dari dalam bambu itu keluar sinar ke atas seperti kembang api. Setelah di atas pepohonan, sinar itu meledak hingga cahayanya seperti siang hari.
Sambil menunggu bala bantuan datang, Perwira Tinggi memerintahkan tentara Asyura untuk keluar dari dalam Hutan Kematian. Semua penyihir yang selalu mengikuti dari belakang juga ikut keluar karena takut dengan penghuni Hutan Kematian.
Akan tetapi, Permasuri Ivy dan Putri Melvina tidak ikut keluar, justru mereka masuk lebih jauh ke dalam Hutan Kematian. Entah apa yang mereka cari.
Di kejauhan, Dewa Binatang dan Yuna Aurora sedang bergandengan tangan sambil melihat kepergian tentara Asyura yang membawa jenazah Dewa Kemalasan.
"Segeralah masuk ke dalam Dunia Jiwaku untuk menerima Kesengsaraan Petir!" pinta Dewa Binatang kepada istrinya.
"Terima kasih!" ucap Yuna Aurora dan mencium pipi suaminya.
Berkat Dewa Binatang, Yuna Aurora akhirnya meningkatkan kekuatan ke tingkat Half Super Omega. Dan masih banyak istri utamanya yang belum mencapai ranah itu, seperti Qin Diao Chin, Yuke, Qin Lianshi dan lainnya.
Walaupun Dewa Binatang memiliki Pagoda Berlian, tetap saja membutuhkan waktu lama bagi istri untuk mencapai tingkat Half Super Omega. Oleh sebab itu, dia menargetkan semua Dewa yang memburunya untuk meningkatkan kekuatan istrinya.
Setelah Yuna Aurora masuk ke dalam Dunia Jiwanya, Dewa Binatang melihat dua wanita yang dikawal oleh 100 penyihir sedang menuju ke arahnya.
Karena penasaran dengan tujuan mereka, Dewa Binatang tetap berdiri di posisinya, bersandar di batang pohon besar dengan menyilangkan kedua tangannya. Penampilannya tetap seperti pria paruh baya yang membawa Wand Of Despair.
Permasuri Ivy dan Putri Melvina melihatnya. Segera 100 pengawalnya maju untuk melindungi, mereka khawatir pengganti Raja Datura terbunuh.
"Apakah Anda adalah Dewa Binatang?" tanya Permasuri Ivy yang berada di belakang pengawalnya.
"Apakah aku terlihat seperti orang yang Anda sebutkan?" tanya balik Dewa Binatang yang tidak mengakui.
Permasuri Ivy segera maju mendekati Dewa Binatang, ia tidak sedikitpun khawatir jika dilukai oleh pria ini yang tidak mengakui diri sebagai Dewa Binatang. Putri Melvina juga mengikuti ibunya sambil tangannya memegang erat tongkat sihirnya.
Setelah Permasuri terpaut jarak tiga meter dari Dewa Binatang, ia berkata, "saya memang tidak mengenali Dewa Binatang, tetapi melihat Anda yang mampu mengalahkan salah satu jajaran penting Kerajaan Yecha, jelas ada adalah Dewa Binatang. Di benua ini, tidak ada orang yang memiliki kekuatan seperti Anda. Saya pastikan Anda adalah dia!"
Dewa Binatang tersenyum tipis sambil menurunkan topi khas penyihir agar menutupi wajahnya, lalu dia sedikit menjauhi Permasuri Ivy dan membalikkan badan.
"Memang tidak ada, tetap bukan berarti tidak ada! Adakalanya ada kekuatan besar yang sengaja bersembunyi, dia akan muncul ketika sesuatu membahayakan seluruh kehidupan."
Setelah berbicara, dia berjalan menuju ke arah tengah Hutan Kematian. Namun...
"Tunggu!" cegah Permasuri Ivy.
Tanpa membalikkan badan, Dewa Binatang bertanya, "apa keinginan Anda?"
Buru-buru Permasuri Ivy mendekati Dewa Binatang, berhenti ketika terpaut jarak tiga meter, kemudian berbicara dengan nada memohon, "bisakah saya meminta bantuan?"
__ADS_1
Mendengar suara Permasuri Ivy yang memelas, Dewa Binatang seperti diingatkan karena memiliki banyak istri. Timbul rasa hati untuk menolong Permasuri Ivy.