Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Kakek Jubah Putih


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan comment ya*


Agak Horor dikit ya gaes


.


.


Suasana makam semakin mencekam. Meskipun baru sekitar pukul 15.00. Akan tetapi terasa seperti malam hari. Aku hampir pingsan karena ketakutan. Tapi aku tahan. Aku takut diculik sama hantu.


"Ada apa ini, kenapa kakiku masih nggak bisa digerakan?" kataku


Asap mulai banyak. Aku kemudian celinggukan mencari orang yang sedang bakar sampah. Ternyata nggak ada orang yang bakar sampah.


Tiba - tiba ada sosok hitam tinggi besar menghampiriku. Dia tidak bisa menyentuh apalagi masuk melewati dinding tipis yang melindungiku


"Bocah Teratai Emas !!" katanya.


Suaranya membuatku takut. Aku bahkan ngak berani melihat wajahnya. Aku hanya melihat dia melayang tanpa kaki. Aku masih binggung, kenapa dia memanggilku dengan sebutan teratai emas. Bentuk teratai emas saja aku nggak pernah lihat.


"Koe sopo, koe arek ngopo? ojo ganggu aku. Aku arek muleh! (Kamu siapa, kamu mau ngapain? jangan ganggu aku. Aku mau pulang." kataku ketakutan.


Dia kemudian memutari dan berusaha menembus dinding itu. Tapi sia - sia, semakin ingin menembusnya, dia semakin kesakitan.


"Aduuuuuh ... panaaaas ..." teriaknya.


Tiba - tiba aku melihat seseorang yang lewat depan makam. Dia Pakde Sarjo. Kupanggil dia sambil teriak - teriak. Tapi Pakdhe Sar seperti nggak melihat aku.


"Pakde ... Pakde Sar, tulungono aku, pakde" (pakde, pakde Sar. Aku minta tolong." teriakku sekencang mungkin.


Pakde Sar tidak menoleh padaku padahal jaraknya nggak ada 10 m.


Aku menangis lagi, karena ketakutan. Ingin rasanya aku pingsan. Tapi kalau aku pingsan aku takut akan dibawa sama hantu ke dunia lain. Jadi aku bertahan dengan merapalkan doa - doa yang ku tahu.


Tiba - tiba muncul makhluk - makhluk aneh lainnya. Ada anak kecil berlari - lari, ada makhluk yang bentuknya seperti sapi, kambing, dan ada makhluk yang seperti pocong.


Aku mulai gemeteran dan menanggis. Tiba - tiba aku teringat maha mantra. Mantra Gayatri, aku kemudian ucapkan mantra itu dengan keadaan kaki gemeteran


"Om Bhur Bwah Swah


Tat sawitur warenyam


bhargo dewasya dimahi


diyoyonah prascodayat".


Aku mengulangi sampe 10 kali. Aku juga menyebut mantra Siwa. "Om Nama Siwaya" sampe aku melihat dinding itu semakin tebal. Dinding itu mengeluarkan api yang membakar para hantu.


Aku masih dalam keadaan memejamkan mata. Tiba - tiba pundakku disentuh. Aku semakin keras dalam membacakan mantra.

__ADS_1


"Rara ... Rara ..." panggilan seseorang yang kukenal suaranya. Simbok yang memanggil. Aku kemudian membuka mata.


"Simbooook" teriakku.


Aku kemudian memeluk Simbok "Mbok, aku melu koe yo (Mbok, Aku ikut kamu ya.)" pintaku.


Simbok hanya menggeleng dan tersenyum.


"Mbok, itu siapa?" tanyaku.


Simbok kemudian menoleh kepada lelaki itu dan tersenyum "Dia adalah Mbah Kakungmu, Mbah Harjo Driyo." kata Simbok.


Aku kemudian sungkem, karena aku memang belum pernah bertemu. Soalnya Mbah Kakung sudah meninggal sebelum aku lahir.


"Nduk, mangkat o nyang Prambanan (Nduk, berangkatlah ke Prambanan)." pesannya.


Kemudian kakek itu menghilang dan Simbok berkata "Mulio, saiki koe wes digoleki mamamu (Pulanglah sekarang, kamu sudah di cari mamamu)"


Aku kemudian menoleh ke arah telunjuknya Simbok. Aku melihat mama sama bapak tiriku. Aku kemudian menoleh lagi pada Simbok dan ternyata sudah nggak ada. Dinding bening itu juga sudah ilang. Suasana makam yang tadinya menyeramkan sekarang berubah menjadi sejuk, tenang, dan damai.


"Rara, kamu tu ngapain? bikin panik orang saja." Mama marah - marah dan kemudian menjewer telingaku.


Ini kali pertamanya mama tega menyakiti aku. Sepanjang jalan dari makam menuju rumah, mama tak berhenti mengomel.


"Mama sakit." kataku sambil memegang telingaku


Aku malu sama teman - teman seumuranku yang rumahnya di dekat makam. Mereka melihat ku dengan nada kasihan.


"Nakal, bikin khawatir orang tua. Dari pagi pergi sampai sore nggak pamit." kata mama


"Jangan di jewer dan disakiti, inget Sri kamu hanya punya dia." kata Budhe Ulu.


Budhe Ulu keluar dari rumahnya (kebetulan rumah budhe Ulu dekat dengan jalan yang kami lalui). Mama kemudian nanggis dan memeluk budhe Ulu. Mama berteriak - teriak seperti orang yang kurang waras.


Mama memanggil nama Simbok dan Kakung. Mama memasrahkan atas kelakuan nakalku pada mereka.


"Sri nyebut nyebut. Kamu tu kenapa?" bentak budhe Ulu


"Rara nakal banget, tidak bisa diatur." kata mama


"Rara nakal kenapa, Rara itu anaknya penurut. Kalau tidak terjadi sesuatu pasti dia tidak akan seperti itu." bela budhe.


Mama kemudian menceritakan kronologinya. Mama menceritakan kalau sudah mengambil tabunganku selama dua tahun untuk biaya pernikahan.


"Lha uangnya kamu ambil semua?" tanya budhe


"Iya, Mbak ... buat biaya nikah." kata mama


"Itu salahmu, Sri. Rara pasti kecewa dengan perbuatanmu." kata Budhe

__ADS_1


"Aku cuma pinjam sebentar, Mbak." kata mama


Budhe Ulu kemudian memberi mama segelas air putih agar tenang. Bapak tiri ku cuma diam mematung dan menunjukan wajah memelasnya.


Aku kemudian berlari pulang tanpa menoleh. Aku kemudian menuju rumah Mbok Temu. Aku masuk ke kamarnya Mas Antong sambil menanggis. Saat itu Mas Antong sedang kuliah, jadi kamarnya kosong.


Aku denger Mbok Temu sedang debat dengan mama. Mbok Temu berpesan agar mama nggak keras padaku. Aku kemudian tertidur di Kamar Mas Antong.


"Nduk, bangun." kata Mas Antong.


Aku kemudian memeluk dia dan menanggis.


"Sabar yo Nduk, itu dah jadi keputusan mama. Sebenarnya aku tidak setuju. Tapi mau gimana lagi" katanya ikut sedih.


Aku masih dalam isak tangisku.


"Kamu harus belajar yang rajin ya. Kamu harus bisa kuliah di perguruan tinggi. Kamu harus jadi orang yang mulya." katanya menasihatiku.


"Iya, Mas." jawabku singkat.


Malam ini aku kembali tidur di rumah Mbok Temu. Mama ku mencoba menarikku agar pulang ke rumah.


"Ayo pulang, seperti gembel saja numpang di rumah orang." kata mama


"Rumah orang??" bentak Mbok Temu.


"Lik (tante) kamu sekarang berubah, mudah emosi semenjak mau menikah dengan lelaki itu." kata Mas Antong.


"Apa kamu tidak ingat bagaimana janjimu dulu. Kamu akan menjaga Rara dengan sepenuh hati, kan?" tanya Mbok Temu.


Aku semakin menangis dan ternyata di luar rumah Mbok Temu sudah banyak orang. Tetangga kami, berdatangan karena mendengar mama teriak - teriak. Bahkan ketua RT pun menasehati mama.


Tindakan mama dinilai telah melakukan penyiksaan secara fisik dan batin terhadap anak di bawah umur. Pakde Kismo (salah satu sesepuh dan juga dianggap sebagai orang sakti) datang. Dia meniup tengkuk mama. Setelah itu, mama mulai reda marahnya.


"Sri, kamu kena pengaruh dari seseorang." kata Pakde Kismo


"Maksudnya apa, pak?" tanya Mbok Temu


"Dia terkena guna - guna agar keluarganya hancur." kata Pakdhe.


Mama kemudian sadar dan memeluk ku sambil minta maaf. Aku merasa lega karena mama sudah kembali seperti dulu.


**


Makasih ya sudah dengan setia membaca


Episode kali ini cukup.


With love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2