Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Menuju Prambanan


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa like, vote, dan comment ya*


Happy Reading


.


.


Pagi yang cerah untuk jiwa yang bahagia. Tak lupa pagi ini aku pamitan ke mama dan bapak kalau aku mau ke Prambanan.


"Ra" panggil bapak.


"Apa?" jawabku singkat.


Bapakku kemudian memberiku uang Rp 35.000. Ia berkata untuk tambahan uang saku selama di perjalanan. Aku juga tak lupa mengucapkan terimakasih dan pamitan.


Aku kemudian bertemu Dika di pertigaan desa menuju rumah Ivan.


Dika sudah mulai agak kesal karena menungguku terlalu lama.


"Kemana saja?" tanya Dika sewot


"Maaf aku sarapan dulu, hehe." jawabku


"Sampai beruban aku menunggu mu." kata Dika


Aku tahu sifat Dika, jika sudah janjian maka dia akan sangat on time untuk datang. Sementara aku biasanya telat paling tidak 20 menit. Untuk mengurangi rasa kesalnya, aku tahu bagaimana membuat sahabatku ini tidak marah lagi.


Aku turun dari sepeda dan kucolek dagunya. Aku juga menggoda dan membuatnya tertawa agar tidak manyun sebelum berangkat. Setelah dia tersenyum, aku pun mulai basa - basi dengan dia.


"Dik, dah siap bekalnya?" tanyaku.


Dia kemudian menunjukan tas yang berisi minuman dan beberapa buah cemilan yang dibelikan oleh bapaknya.


"Banyak amat" kataku.


" Iya dong, kan bapakku habis gajian" katanya sambil tertawa.


Kami berdua kemudian menuju ke rumahnya Ivan. Ternyata Ivan juga sudah siap dengan jaket dan topinya.


"Van, mampir ke pasar bentar ya. Ambil nasi buat bekal kita nanti" kataku.


Mereka berdua kemudian mengikuti dari belakang bak penggawal, hehehe


(ini kalau mereka berdua ikutan baca pasti ketawa inget kejadian masa - masa nakalnya bersama).


Aku menyuruh mereka berdua menunggu di pinggir jalan. Sedangkan aku masuk ke pasar mencari mamaku. Di pasar, aku ketemu dengan budeku yang jualan slondok (itu hlo makanan dari ketela yang diolah dan dibentuk lingkaran trus digoreng, semacam klatink gitu).


"Ra, katanya mau ke Prambanan?" tanya Budeku.


"Iya, budhe" jawabku singkat.


Bude kemudian memberiku uang Rp 10.000 dan memberiku beberapa bungkus slondok.


"Makasih budhe" kataku.


Tak berapa lama mamaku datang sambil menyerahkan kepadaku 3 buah bungkusan nasi uduk, susu kedelai, dan jajanan lainnya.


"Ma, aku berangkat dulu ya" kataku.

__ADS_1


"Iya, hati - hati, lewat pinggir, jangan lewat jalan raya" nasihat mama.


Aku kemudian menghampiri Dika dan Ivan kutunjukan bekal yang diberikan mama dan budeku.


"Kayaknya kita bakalan piknik benenan nih" kata Ivan.


Kami ber dua hanya tertawa kegirangan. Astaga betapa bahagianya aku memiliki 2 orang sahabat yang sudah seperti penggawalku itu.


Ivan kemudian turun dari sepedanya. Dia berjalan ke arah penjual rambutan.


"Mau ngapain, Van?" tanyaku


"Mau tiduran ... beli rambutan lah." katanya sambil cekikikan


Aku dan Dika kemudian mengikuti Ivan menuju pedagang rambutan. Seperti kebanyakan wanita, kalau tidak nawar tidak afdol. Terlebih aku adalah anak seorang pedagang, tentu kebiasaan mama yang sering menawar juga turun kepadaku.


"Berapa bu?" tanya Ivan


"Seribu, mas. Manis lho ini." kata pedagangnya.


"Seribu lima ratus dua iket." kataku


Ivan dan Dika hanya tersenyum tatkala melihat aku menawar. Awalnya tidak dikasih, tapi setelah kami rayu. Akhirnya diberikan juga. Strategi dalam menawar adalah ketika kita telah menyebutkan angka jika masih tidak dikasih maka kita harus meninggalkannya.


"1, 2, 3 ... " hitungku


Tak berapa lama, pedagang rambutan tadi memanggil kami dan memberikan 2 ikat rambutan seharga seribu lima ratus. Setelah itu, kami kembali ke sepeda kami.


"Tak ku sangka, kamu jago nawar, Ra." puji Ivan


"Iyalah, jiwa pedagang mama nya menurun ke dia tu. Pasti sering ikut ke pasar dan melihat mama nya nawar, kan?" tanya Dika


Kami kemudian mulai mengayuhkan sepeda dan bersepeda di pinggir jalan. Maklum jalan yang kami lalui adalah jalur alternatif dari Yogya ke Solo. Selain itu jalan itu merupakan jalan utama yang dilalui truck pasir dari Merapi. Jadi kami harus berhati - hati dan kadang mengalah ketika truck bermuatan batu dan pasir melintas.


Aku merasa ngeri dan membayangkan jika batu yang diangkut tiba - tiba terjatuh. Kira - kira 1 km, Dika membelokan sepedanya.


"Eh lewat sini saja ya" usul Dika.


Dia kemudian membelokan arah sepedanya ke kiri. Melewati jalan tengah desa yang penuh dengan pepohonan hijau dan sejuknya mata karena tanaman padi sudah menghijau. Bak hamparan kasur berwarna hijau yang luas.


Kami mengikuti arah yang diberikan pada Dika. Jujur, aku juga setuju dengan pilihan Dika. Dia memilih jalan alternatif pedesaan. Meskipun tidak sehalus jalan besar. Tapi jalan yang kami lalui relatif aman dari kendaraan besar. Kami melalui jalan di pinggir sawah. Udara pagi dan semilir angin membuat kami bersiul menyanyi kecil.


"Ingin tidur di tengah - tengah sawah itu, coba kalau tubuhku ringan dan bisa melayang" kataku berhalusinasi.


Aku melihat mereka berdua hanya tertawa ngakak melihatku membayangkan hal demikian. Sampailah kita di suatu tempat di pinggir jalan yang di sebelah selatannya terdapat bangunan kuno yang lumayan panjang.


" Apa itu?" tanya Dika.


"Penjara, kayaknya" kataku.


"Ke sana yuk, lihat" ajak Ivan.


Kami bertiga kemudian belok arah menuju sebuah bangunan kuno itu. Kami kemudian memakirkan sepeda kebanggan kami di bawah pohon. Aku berjalan ke arah bangunan kuno itu.


"Ini mah bukan penjara" kata Dika.


Bangunan itu adalah bangunan kuno tinggalan Belanda.


Aku kemudian bertanya kepada para petani yang sedang mengerjakan sawahnya.

__ADS_1


"Coba Ra tanya ke petani itu." usul Dika.


Aku kemudian mendekati petani yang sedang menyiangi rumput.


"Kulonuwun, Mbah, nderek tanglet. Niku bangunan nopo, njih? (permisi, mbah. ingin tanya, itu bangunan apa ya)" tanyaku menggunakan bahasa Jawa alus. Aku juga menunjukan tangan dan mengarahkan ke bangunan itu.


"Oh itu.. itu namanya Aqua Dag" kata Simbah itu.


"Apa itu mbah?" kata Ivan penasaran.


"Itu bangunan tinggalannya Belanda, le. Dulu bangunan itu digunakan untuk saluran irigasi tanaman tebu" kata Mbah Bardi. Simbah - simbah itu namanya Mbah Bardi.


"Dulu ini ada tanaman Tebu ya mbah?" sahutku.


"Iya, Nduk. ini dulu semua lahan tebu. Ini di daerah sini banyak sekali tinggalan Belanda, sumur - sumur kuno, dan di selatan sana ada candi" kata Mbah Bardi


"Candi Prambanan, Mbah?" kita mau ke sana" kataku sok tahu.


"Bukan, tapi Candi Plaosan, candi budho, candi kembar, candi pengantin" jelas Mbah Paijan, teman Mbah Bardi.


Dika dan Ivan kemudian bertanya - tanya tentang keberadaan sumur - sumur kuno itu.


"Mbah di sini ada sumur kuno nya?" tanya Dika.


"Ada, itu di sana" kata Mbah Paijan sambil menunjukkan sebuah gundukan yang berlubang.


Kami kemudian menuju sumur kuno dan ternyata di sumur itu ada beberapa batu candi.


"Batu candi" kata Dika.


Aku kemudian memperhatikan sumur itu. Mbah Bardi kemudian menimbakan kami air sumur itu.


"Air sumur ini dipercaya membuat awet muda" terang Mbah Bardi.


Dika dan Ivan kemudian mengambil dan membasuh mukanya dengan air sumur itu.


"Segeeeer...brrrr, pengen mandi" kata Ivan.


"Kamu belum mandi?" tanyaku


"Enak saja, udah ya." bela Ivan


Dika mulai dengan keusilannya. Dia menyirati ku dengan air sumur dalam ember.


"Dika basah ih." kataku


"Kamu kan tadi bangun kesiangan, pasti belum mandi, kan?" ledek Dika


Aku sedikit ngomel - ngomel padanya. Akhirnya dia berhenti. Aku masih memperhatikan air sumur itu. tiba - tiba...


**


Episode kali ini cukup ya


terimakasih atas waktunya


With love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2