Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Hampir Saja


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


***


Setelah menyebutkan kata tanah suci, keadaan pun tiba - tiba berubah. Kami tidak lagi berada di tengah sungai, tapi sebuah tempat yang sangat indah.


"Tempat ini... sangaat indaah" kata Adhiraksa.


"Benar-benar sangat luar biasa" kata Satria.


Mereka ber 6 pun berada di sebuah tempat keramaian. Dimana banyak masyarakat yang duduk mengelilingi semacam Balai Istana.


"Apa yang akan dilakukan mereka, kenapa mereka mengelilingi batu besar?" tanya Retno.


"Ini.. ini bukan masa Megalitik, kan? kita tidak di masa Manusia Purba, kan?" tanya Denta.


"Enggak lah, ini adalah tanah leluhur. Coba lihat, itu.. " kataku menunjuk pada kejauhan yang ramai.


Masyarakat yang duduk tadi pun lalu berdiri menyambut keramaian itu.


"Apa ya, kok suara nya gedebug-gedebug gt." kata Satria.


Tak berapa lama, kami melihat pasukan kerajaan. Ya bener benar pasukan kerajaan. Sangat mewah dan megah.


"Kereen bangeet ini mah, kendaraannya gajah semua." teriak Denta.


"Raja siapa ya kira-kira yang akan datang dengan pasukan gajah ini?" tanya Retno.


Aku melihat pasukan itu pun dengan takjub. Bagaimana tidak, gajah itu jumlahnya tidak puluhan. Melainkan ratusan dan itu semua gajah putih hang diberikan perhiasan yang .mewah.


"Raja ini pasti kaya raya, secara gajah saja diberikan kemewahan yang luar biasa." seru Denta.


Adhiraksa pun penasaran, sehingga dia bertanya kepada salah satu warga.


"Maaf kisanak, raja ini sangat luar biasa. Dia datang dengan ratusan pasukan gajah. Apakah mau ada perang?" tanya Adhiraksa.


"Hei, apakah kamu buta.. ini adalah gajah yang mulia Sang Maharaja Purnawarman" kata orang itu.


"Apa?? Raja Purnawarman??" teriak kami semua.


"Kalian ini kenapa? gelagat kalian mencurigakan. Apakah kalian bukan dari masyarakat Tarumanegara?" tanya orang itu.


Semua mata pun lalu memandang kepada kami. Haiih,. sepertinya akan terjadi sesuatu lagi ini.

__ADS_1


"Apa?? Apakah mereka penyusup?" tanya warga lain.


"Bukan,. tidak.. kami bukan penyusup. Kami adalah keturunan Yang Mulia Maharaja Purnawarman." kata Prasta.


Tapi tetap saja, omongan kami tidak digubris. Bahkan sekarang pun kami sudah dikepung oleh para prajurit.


"Bagaimana ini?" tanya Denta.


"Kita ladeni saja, dengan kita membuat ribut. Pasti akan menarik perhatian Raja Purnawarman." usul Adhir.


"Oke, ayo maju.. tapi jangan membunuh mereka. Cukup kita lemahkan saja tenaga dalam mereka." usul Prasta.


Setelah sepakat, kami pun ingin mulai bersiap untuk menyerang. tapi kejadian tak terduga berasal dari Denta.


"Tunggu.. kalau kalian maju menyerang prajurit. Kalian enak, kalian bisa bela diri. Sementara saya, bagaimana?" tanya Denta.


Kami pun lalu melihat ke arah Denta.


"Kali ini kamu harus melindungi diri sendiri." kata Satria.


"Tapi.. aku kan" kata Denta terputus..


Karena prajurit sudah menyerang kami terlebih dahulu. Banyak sekali prajurit yang menyerang dan mengepung kami. Tapi kekuatan prajurit tidak lah sebanding dengan kekuatan kami. Melihat prajurit tumbang, Nayaka pimpinan perang pun lalu maju.


"Kalian penyusup berani sekali masuk ke Kerajaan Tarumanegara. Tidak ada jalan kembali, kecuali nyawa kalian." ancam Nayaka itu.


Nb: Nayaka adalah sebutan untuk pimpinan perang.


"Nayaka, dengarkan penjelasan kami. Kami bukan penyusup." terang Satria.


Kami pun kembali diserang oleh pasukan Taruma yang lebih kuat lagi. Kekuatan mereka bisa mengimbangi kami. Akan tetapi, kami bukan lah orang lemah yang tidak memiliki apa-apa. Jadi tetap saja, mereka semua terkulai di hadapan kami.


"Kalian berani sekali melumpuhkan prajurit Taruma. Kalian pantas matii" kata Nayaka yang sudah naik pitam.


"Nayaka, apakah kamu tidak lihat.. jika kami adalah mata-mata dan penyusup. Tentu saja kami tidak akan terang-terangan. Serta prajurit mu sudah kami bunuh. Tapi kamu lihat, kami hanya melumpuhkan saja. Kami tidak membunuhnya." terang Adhiraksa.


Nayaka pun melihat apa yang barusan dikatakan oleh Adhiraksa. Tapi sepertinya dia tetap tidak bergeming. Bahkan bersiap mengeluarkan pusaka andalannya. Pusaka itu berupa kujang sakti


"Itu pusaka Kujang, kan?" tanya ku.


Tiba-tiba langit seperti terbelah, angin besar datang. Suasananya menjadi mencekam.


"Kekuatannya sangat mengerikan." kata Adhiraksa.


"Nara, keluarkan senjata Padmapatni" bisik Satria.


"Tapi aku tidak tahu, bagaimana cara menggunakannya." bisikku


"Haduuh.. habis lah kita." gerutu Satria.


Denta dan Retno pun lalu bersembunyi di belakangku. Jujur, aku juga panik, panik banget. Karena tidak tahu harus berbuat apa. Jika aku melawan, maka akan melukai Nayaka itu. Tapi jika kita tidak melawan, kita akan terus dituduh sebagai penyusup.


"Nara, cepet lakukan sesuatu." bisik Prasta.

__ADS_1


"Baiklah, jika memang sudah tidak ada pilihan. Semiga setelah ini leluhur tidak akan mengutuk kita." kata ku.


Konon katanya, jika pusaka Kujang sudah dikeluarkan. Pusaka itu harus menumpas musuh nya sampai habis.


"Nara cepat lakukan sesuatu, aku belum mau mati. Aku masih perjaka, Ra. Aku juga masih jomblo. Aku nggak ikhlas kalau mati masih perjaka. Jika aku selamat nanti, aku bakalan mrawanin Retno biar tidak menyesal aku." ucap Denta.


"Sembarangan saja lu, mau mampus di tanganku?" cekik Retno yang geram.


Sontak kami pun tertawa mendengar ocehan Denta. Serta amukan Retno. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk saling menertawakan.


"Nayaka, maafkan kami jika kami lancang membela diri." kata Nara.


nara pun lalu mengeluarkan senjata panah pencarian nya. Panah anugerah dari Dewi Sakti juga tidak kalah hebatnya dengan pusaka Kujang.


Kini 2 pusaka anugrah dewa telah berada di tangan yang punya. Serta siap dilepaskan satu sama lain. Nayaka pun nampak kaget dengan kehadiran panah sakti itu.


"Panah Pancaroba, kau nyimas dari mana kamu mendapatkan pusaka itu? menurut ramalan, orang yang memiliki panah itu ialah calon Maharatu. Siapa kah kalkan ini sebenarnya?" tanya Nayaka.


"Maaf Nayaka, kami sudah menjelaskan, bahwa kami berasal dari masa depan. Kami adalah keturunan dari Yang Mulia Maharaja Purnawarman. Kami bukan lah penyusup atau mata-mata" kata ku.


Setelah melihat panah Pancaroba, Nayaka pun akhirnya menyimpan kembali pusaka Kujang.


"Akhirnya selamat kita." kata Denta.


"Apa?? Elu jadi dan brani mrawanin gue hah??" bentak Retno.


"Maaf Retno jangan marah-marah, nanti cantik lho." ledek Denta.


Kami pun lalu melerai kelakuan mereka berdua. Setelah semua tenang. Kami pun lalu mendekati Nayaka.


***


Maaf banget baru sempat update.


Banyak hal dan deadline yang harus dikerjakan.


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"

__ADS_1


Maaf ya, sudah off lama,. sekarang akan update tiap 2 hari sekali yaa..


__ADS_2