
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
"Kurang ajar, panah siapa ini." kata Satria.
Dalam panah itu pun terdapat sebuah surat. Mereka langsung mendekati dan membuka nya. Betapa terkejutnya mereka ketika membaca surat kiriman itu.
"Dewantara?" kata Satria kebingungan.
"Siapa dia, apa alasannya menyerang kita?" tanya Prasta.
"Tidak tahu, yang pasti ini pasti tidak akan baik - baik saja." sahut Satria.
"Sebenarnya apa maksud dia memanah kita? Seingat ku, tidak pernah punya musuh yang bernama Dewantara." kata Prasta.
Mereka berdua masih dalam kebingungan. Hingga akhirnya ada beberapa orang yang menjemput mereka.
"Selamat siang komandan, mari segera ke Batujajar" kata seorang prajurit TNI.
"Baik, ayo" kata Satria.
Tak berapa lama mereka pun sampai di Batujajar. Ya, Pusdikpassus (Pusat Pendidikan Kopassus). Mereka berdua mengikuti acara penyambutan bagi para TNI.
Sore hari nya (Prasta dan Satria) menuju bandara. Tak berapa lama pun kami rombongan dari Yogya tiba di Bandung. Tentu saja Satria dan Prasta menjemput kami.
"Gimana perjalanan luar negeri kalian?" tanyaku
"Ada sedikit masalah, tapi semua bisa dikendalikan" kata Satria.
"Oh iya, kita mau menginap dimana?" tanya Retno
"Tentu saja di hotel" sahut Denta.
Retno pun lalu mencubit lengan Denta. Bagaimana tidak, tentu saja Retno gemes dengan perkataan Denta.
"Bogor saja gimana?" usul Prasta.
"Setuju, di sana udaranya seger." sahut Retno.
Kami pun lalu melanjutkan perjalanan ke Bogor. Kami memilih sebuah villa yang sangat asri. Mungkin karena kecapekan, Retno dan Denta pun sudah tidur terlelap. Sementara kami ber 4, masih belum bisa tidur.
"Kenapa belum tidur?" tanya Prasta dengan manis.
"Tidak bisa tidur, entah kenapa seperti ada sesuatu yang aneh" kataku
"Sama aku pun merasakan hal yang sama." kata Adhiraksa.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Dewantara?" tanya Satria.
"Dewantara??" sahut aku dan Adhiraksa.
Satria lalu menceritakan tentang kejadian sebelum mereka ke Pusdikpassus.
Dewantara adalah musuh utama Satria dan Prasta. Mereka terus berselisih paham.
"Kayaknya kehadiran Dewantara ini bakalan mempersulit kita." kataku
"Kamu tenang saja, kita akan selalu melindungi kamu" kata Satria.
"Nara, kamu tidur dulu sana. Besok kita kan mau ke tanah leluhur" kata Prasta.
Aku pun menurut pada Prasta, karena memang benar bahwa malam ini sangat capek. Serta entah kenapa tatapan mata Prasta beda banget. Aku seperti telah mengenal lama pada Prasta.
"Pras... Prasta.. kamu" kata ku yg tertahan karena ada hal yang tidak seharusnya aku ucapkan.
"Kenapa dengan Prasta?" tanya Satria.
"Gue ganteng, Sat" kata Prasta sambil menaikan alisnya.
Satria pun lalu melempar bantal kepada Satria. Hadeeh, kelakuan 2 manusia ganteng ini membuat ku tertawa terus.
__ADS_1
"Nara, cepet kamu masuk kamar. Temani Retno sana, kasian dia tidur sendirian." kata Adhiraksa.
"Iya, yaudah.. kalian segera istirahat ya" kataku.
Aku pun lalu beranjak menuju kamar.
"Ra, pintu kamar jangan dikunci ya" kata Adhiraksa.
"Ada masalah tuan Adhiraksa?" tanya Satria.
"Aku merasakan sesuatu, tapi sudah lah. Kamu balik kamar sana. Aku akan berjaga jaga di sini" kata Adhiraksa.
Aku pun lalu menuju kamar yang untuk cewek cewek. Tapi memang aku merasakan hawa dingin yang aneh. Bulu kuduk merinding memang, tapi aku tidak khawatir karena ada para ksatria yang menjaga ku di depan. Selain itu, aku juga punya penjaga gaib. Meskipun Puspa dan Kencana tidak disampingku. Tapi aku yakin mereka pasti diam diam akan melindungi aku. Lagi pula, aku adalah seorang putri kerajaan. Aku juga punya liontin sakti. Jadi aman, hehehe.. tapi meskipun begitu, aku juga harus tetap hati hati dan waspada.
Aku pun lalu memandang Retno yang sedang tertidur pulas memeluk guling. Aku lalu merebahkan diri dan bersiap tidur.
"Mbak mau tidur?" tanya Retno yang kebangun secara tidak langsung.
"Iya, ngantuk aku" kata ku
"Yaudah mbak tidur sini, aku capek banget" kata retno.
Kami pun lalu mematikan lampu utama kamar.
(Sisi lain).
Dewantara dan pasukannya.
"Pangeran Dewantara, kapan kita akan menyerang mereka?" tanya Sakya.
Sakya adalah senopati pilih tanding milik Dewantara. Kesaktian dia sudah tidak diragukan. Bahkan dia adalah strategi dan samar dalam peperangan.
"Sakya, kita lihat dulu perkembangan. Aku masih merasakan bahwa Adhiraksa merasakan kehadiran kita" kata Dewantara.
"Pangeran, apakah kita kirim ular cobra untuk menguji kewaspadaan mereka?" tanya Sakya.
"Baik, lakukan" titah Sakya.
Sakya pun lalu mengirim sebuah senjata sakti nya yang berbentuk panah ular cobra. Panah itu lalu melesat jauh menuju villa tempat Adhiraksa menginap.
(Villa).
"Prasta, Satria, kalian berjaga-jagalah. Kita akan kedatangan tamu tak diundang." kata Adhiraksa.
Prasta pun lalu melirik sekitar dan dia pun menoleh pada Adhiraksa serta menganggukan kepala. Dengan cekatan Prasta menangkap panah itu. Tapi tangannya digigit oleh ular cobra. Ular itu langsung ditekan dengan genggaman Prasta.
"Prasta, tanganmu" kata Satria.
dengan rasa sakit, Prasta pun lalu mencengkeram dan membuat ulat cobra itu berubah menjadi panah.
"Panah kobra sakti milik Sakya" gumam Prasta.
"Sakya?" tanya Adhiraksa.
"Ya, dia adalah senopati milik Dewantara" kata Satria.
"Kurang ajar! pantas saja dari tadi, aku merasakan ada yang aneh." kata Adhiraksa.
Prasta pun lalu menyimpan panah itu. Tangan nya lalu berlumuran darah.
"Pras, tanganmu" kata Satria yang terlihat gusar.
"Tenang saja, aku bisa menetralisir racun panah ini dengan liontin saktiku" kata Prasta.
"Kayaknya malam kita bakalan panjang, kita harus berjaga sepanjang malam" kata Satria.
"Tidak, kalian berdua tidurlah. Aku yang akan menjaga kalian." kata Adhiraksa.
Mereka bertiga pun berdebat satu sama lain. Hingga akhirnya memutuskan untuk bergantian berjaganya. Musuh utama sudah mulai menampakkan diri.
(Hotel)
Dewantara pun tersenyum tatkala melihat darah keluar dari mulut Sakya.
"Pangeran, maafkan saya" kata Sakya
"Aku sudah menduga, bahwa pangeran Jatiningrat juga ada di sana" kata Dewantara.
"Pangeran Jatiningrat?" tanya Sakya.
"Ya, pangeran Jatiningrat. Ini akan menjadi hal yang menarik. Sakya, istirahat lah. Begitu mereka memasuki tanah leluhur. Bahkan aku sendiri pun tidak akan mampu menembus nya. Kumpulkan kekuatan dan strategi perang terbaik mu. Perang akan segera dimulai". kata Dewantara.
__ADS_1
Dewantara pun lalu menyuruh anak buahnya untuk keluar dari kamarnya. Begitu hening dan sendiri, Dewantara tersenyum.
"Jatiningrat, kamu yang memaksa ku untuk menggunakan kekerasan. Tunggu pembalasanku." ancam Dewantara.
(Villa).
Pagi hari.
Pagi pagi sekali, aku bangun. Aku merasakan bahwa semalam telah terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Retno" kata ku lirih.
Tapi Retno hanya menggeliat saja. Akhirnya aku keluar kamar dan melihat 4 lelaki tampan sedang tidur pulas.
Tiba-tiba mata ku tertuju pada Prasta.
"Ada apa dengan lelaki ini?" tanya ku dalam hati.
Aku hendak melangkah maju dan menyentuh Prasta. Tapi tiba-tiba dia membuka mata. Sontak aku pun menjadi kaget.
"Aaaakkh" teriakku
Alhasil semua pun menjadi bangun. Bahkan Dengan bangun dengan sikap kuda-kuda.
"Mana musuh yang menyerang?" tanya Denda dengan sikap kuda-kuda nya.
"Apaan sih, berisik saja" kata Satria.
Satria pun lalu terbangun dan melihat kami (Aku dan prasta) saling tertawa.
"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Satria.
"Prasta nih, ngagetin saja" kata ku.
Mata ku lalu tertunduk dan tiba-tiba melihat tangan Prasta. Tangannya membiru, dan membuat aku bertanya.
"Prasta, tangan kamu kenapa?" tanya ku.
Aku pun lalu meraih tangan Prasta. Serta melihat dengan seksama.
"Ini, apa yang terjadi?" tanya ku.
Satria dan Adhiraksa hanya saling menatap dan menggelengkan kepala.
"Ada apa?" tanyaku.
"Smalam ada yang menyerang kami" kata Adhiraksa.
"Siapa yang melakukan? Apakah Dewantara?" tanya ku.
Mereka bertiga lalu menganggukan kepala. Ternyata benar, bahwa Dewantara yang melakukan hal itu.
"Kamu tenang saja, luka ini akan sembuh setelah kita sampai di tanah leluhur" kata Prasta.
"Yaudah kalau begitu, ayo segera bersiap dan kita pergi ke tanah leluhur" kata ku.
***
Maaf banget baru sempat update.
Banyak hal dan deadline yang harus dikerjakan.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
Maaf ya, sudah off lama,. sekarang akan update tiap 2 hari sekali yaa..
__ADS_1