
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Aku dan Pasopati sudah sampai di gerbang kota raja. Kami ingin segera masuk dan ke balai obat untuk menyembuhkan Widasari. Tapi tiba - tiba ada yang memanggil kami.
"Pangeran Pasopati." teriaknya
Kami menghentikan langkah dan segera membalikan badan. Aku lihat orang yang sedang mendekat ke arah kami.
"Pangeran, putri." katanya sambil memberikan hormat.
"Bagaimana dengan penyelidikannya?" tanya Pasopati
Dia langsung sigap , akan tetapi dia melirik ke arahku
"Katakan saja, aku dan putri berteman baik." kata Pasopati
Aku langsung tahu bahwa orang itu adalah telik sandi. Dia diperintahkan Pasopati untuk mencari tahu kebenaran berita sakitnya Rakai Patapan Pu Palar.
"Pangeran dan putri, hamba sudah menyelidiki ke Pikatan dan ternyata Rakai Patapan Pu Palar tidak sakit. Dia dalam keadaan sehat." katanya
Aku dan Pasopati saling tatap muka. Aku sekali lagi menanyakan tentang info itu kepada telik sandi. Jawabannya sama, bahwa Rakai Patapan tidak sakit.
"Apa kau yakin?" tanya Pasopati
"Hamba tidak berani bohong, betul pangeran." katanya
"Lalu apa kau melihat Rakai Pikatan berada di istananya?" tanyaku
"Tidak putri, hamba sudah bertemu dengan telik sandi di Pikatan. Pangeran tidak ada di Istana." katanya
Aku semakin bingung, jika Rakai Patapan tidak sakit lalu kenapa telik sandi Pikatan datang dan melaporkan hal demikian. Aku juga semakin khawatir, ketika tahu bahwa Satria tidak ada di Istana Pikatan.
"Apa kau tahu dimana keberadaan Rakai Pikatan?" tanyaku
"Mohon ampun putri, kami tidak tahu." katanya
"Baik, terimakasih ... istirahatlah sebentar dan setelah itu cari tahu dimana keberadaan pangeran." perintah Pasopati
"Baik pangeran." jawab telik sandi.
Dia lalu pergi dari hadapan kami. Aku semakin sedih memikirkan Satria yang tiba - tiba menghilang tanpa pamit.
"So, apa Satria diculik?" tanyaku
"Hmmm ... bisa jadi tapi apa motifnya?" tanya Pasopati balik
Aku juga kurang tahu apa motif dibalik hilangnya Satria secara mendadak.
"Berarti telik sandi yang menemui Satria adalah telik sandi palsu." kata Pasopati
"Palsu bagaimana?" tanyaku
Dia menjelaskan bahwa telik sandi itu adalah gadungan yang sengaja ingin menyingkirkan Satria keluar dari istana Medang. Kemungkinan lain ialah untuk menggagalkan pernikahan kami.
__ADS_1
Analisis Pasopati kemudian ku jadikan sebagai kunci untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Apakah Satria akan kembali?" tanyaku
"Entahlah, kita tidak tahu kemana dia pergi." kata Pasopati
"Apa ada petunjuk, So?" tanyaku
Dia hanya menggelengkan kepala sebagai tanda dia tidak tahu. Aku hanya bisa terduduk lemas karena Satria tiba - tiba hilang.
"Ra, ayo kembali ke Istana. Aku akan sebar mata - mata untuk mencari keberadaan satria." kata Pasopati
Aki menjadi sedikit memiliki harapan. Aku bangkit dan bangun dari dudukku. Kami kemudian berjalan dan segera menuju ke balai obat. Sesampainya kami sudah disambut oleh dayang yang segera mempersilahkan kami masuk.
Pasopati segera menyerahkan getah pohon pulai merah kepada tabib kerajaan.
"Pangeran, anda hebat sekali bisa mendapatkan getah pulai merah." kata tabib.
"Tabib, tolong segera sembuhkan Widasari." kata Pasopati.
Aku dan Pasopati dipersilahkan untuk keluar dari ruangan pemeriksaan. Terlihat dengan jelas bahwa Pasopati sangat khawatir dengan Widasari. Demikian juga denganku, aku sangat mengkhawatirkan Wida dan tentunya Satria.
Tak berapa lama, tabib kerajaan keluar dari ruang pemeriksaan. Dia keluar dengan wajah yang sumringah. Pasopati segera berdiri dan menghampiri tabib.
"Tabib, bagaimana keadaan Widasari?" tanya Pasopati
"Putri baik - baik saja, dalam waktu sehari dia akan bangun." kata tabib
"Apa kami boleh melihat Widasari?" tanyaku
"Tentu tuan putri, silahkan." kata tabib
"Dia akan segera bangun, kan?" tanya Pasopati
"Iya, kita doakan yang terbaik untuk Widasari." kataku
.
.
Sehari kemudian Widasari sadar dan pelan - pelan mulai kembali seperti semula. Pasopati sangat bahagia melihat Widasari bisa sehat kembali. Aku juga menyambutnya dengan penuh suka cita.
Aku duduk termenung di serambi pendopo depan bilikku. Aku masih menunggu kedatangan dan kabar dari Satria yang tak kunjung datang. Tiba - tiba Pasopati datang bersama prajurit sandi. Aku segera menyambut mereka. Berharap aku akan mendapatkan kabar tentang keberadaan Satria.
"So, ada apa? Apa Satria sudah ketemu?" tanyaku
"Sebaiknya kita duduk dulu." kata Pasopati
Aku segera mempersilahkan Pasopati untuk duduk di kursi dan meminta dayang menyiapkan makan dan minum untuk Pasopati dan telik sandi.
"Sekarang ceritakan, apa yang kau temukan." kata Pasopati pada telik sandi
Aku semakin deg - degan dengan perkataan Pasopati. Telik sandi kemudian mengeluarkan sebuah kain yang dia buka perlahan - lahan. Mataku terbelalak tat kala aku mengetahui apa isi dari bungkusan itu. Aku segera meraih isi bungkusan.
"Ini ... ini gelang 3 datu dari Dewa Indra sebagai perlindungan, yang aku berikan ke Satria." kataku
"Dan ini adalah kelat bahu yang dipakai oleh Satria." kata Pasopati
"Telik sandi, dimana kau temukan benda - benda ini?" tanyaku
__ADS_1
Dia segera menjelaskan dimana dia menemukan benda - benda itu. Mereka menemukan ke 2 benda itu di Wanua Tengah. Sebuah desa yang letaknya tidak jauh dari Pikatan.
"Kami menemukan ini di tepi sungai Wanua Tengah." kata telik sandi
"Kami juga sudah menyusuri sungai Gotami untuk mencari pangeran. Tapi tidak ketemu." kata telik sandi satunya
Seketika itu air mataku menetes. Aku mulai memikirkan yang tidak - tidak tentang Satria.
"So, pasti berita dari Pikatan adalah sebuah jebakan untuk membuat Satria keluar dari istana Medang dan mungkin ada seseorang yang sakti, yang ingin mencelakainya." kataku sambil menangis.
Pasopati kemudian mulai merangkai beberapa puzzle kasus Satria.
"Kemungkinan memang bisa terjadi seperti itu. Pasti ada seseorang yang sudah merencanakan ini dengan sempurna." kata Pasopati
"Lalu siapa ya, So." tanyaku
"Entahlah tapi cepat lambat pasti akan segera ketemu." kata Pasopati
"Kalau tidak gimana?" tanyaku tertunduk
Aku kemudian ingat sesuatu dan segera mempersilahkan telik sandi untuk pergi istirahat dan kembali melakukan pencarian terhadap Satria. Kami berharap akan segera mendapatkan laporan dari mereka secepatnya. Setelah telik sandi pergi, aku mengajak Pasopati ke Sanggar Pamujan (tempat khusus untuk meditasi dan berdoa).
"Ada apa Ra, kamu mengajakku ke Sanggar Pamujan?" tanya Pasopati
Aku segera melepaskan gelang yang aku pakai. Ya gelang yang sama persis dengan gelang yang aku berikan kepada Satria sebelum dia menghilang. Aku meletakan gelang itu dan ternyata gelang itu bersinar. Tak berapa lama Rsi Narada muncul.
"Narayan ... Narayan ... Narayan..." katanya
Aku dan Pasopati langsung menghaturkan sembah kepada sang rsi.
"Anak - anakku, apa yang kalian cari akan segera ketemu. Nararia, aku tidak bisa memberikanmu informasi tentang kejadian yang akan menimpamu. Tapi Satria akan segera kembali. Saat dia kembali, semua kesaktian yang kau dapatkan dari Dewi Sakti harus kau manfaatkan dengan baik." katanya
"Maksud rsi?" tanyaku tak mengerti
"Kalian akan segera tahu, kalau begitu aku harus pergi. Narayan ... Narayan ... Narayan." kata Rsi kemudian menghilang
Aku dan Pasopati masih termenung memikirkan perkataan yang disampaikan oleh sang rsi. Kami berdua kemudian keluar dari sanggar Pamujan.
"So, aku masih bingung." kataku
"Sama, apalagi aku." kata Pasopati
Tak berapa lama, kami mendengar suara gemuruh dari prajurit dan masyarakat. Aku dan Pasopati segera berlari ke arah sumber suara itu.
"Ada apa dayang?" tanyaku
"Putri dan Pangeran Pasopati segeralah datang ke halaman 2 istana." mata dayang.
Aku dan Pasopati segera melangkah dan menuju halaman 2 istana Medang. Kami masih penasaran dengan apa yang membuat masyarakat berkumpul dan bersorak - sorak.
Prajurit segera membantu kami agar kami berdua bisa lewat dan melihat ada apakah gerangan ini. Dengan perjuangan panjang, akhirnya kami sampai ke lokasi utama. Aku dan Pasopati kaget ketika melihat apa yang membuat masyarakat bersorak - sorak.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih sudah berkenan mampir.
with love
Citralekha
__ADS_1