
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Pasopati kemudian meminta uangku kepada pedagang selendang.
"Tolong berikan itu kepadaku. Maaf itu adalah daluwang." kata Pasopati.
"Daluwang tapi bentuknya sangat aneh ya." kata pedagang itu sembari memberikan uangku tadi.
Aku kemudian mengambil uangku dan menyimpannya kembali. Satria kemudian meraih selendang yang ku bawa. Ia langsung memakaikan selendang di bahuku.
"Kamu sungguh cantik prameswari." katanya
"Prameswari?" tanyaku
"Iya prameswari adalah gelar istri raja." terangnya
Aku berfikir apakah mungkin aku akan menikah dengan Satria di dunia ini. Sungguh di luar nalarku. Apa yang harus kukatakan pada mama kalau aku menikah tanpa sepengetahuan mereka.
"Paduka Rakai" teriak seorang wanita.
Aku heran kenapa dia bisa mengenali Rakai. Padahal kami sudah menyamar dan menggunakan baju biasa. Kami bertiga kemudian menoleh ke arah sumber suara itu.
"Pasopati, kenapa dia mengenali Rakai?" tanyaku
"Ampun paduka, hamba juga tidak tahu." kata Pasopati.
Wanita itu kemudian turun dari tandu. Ia menaiki gajah yang juga dikawal oleh puluhan prajurit. Dari pakaiannya, sepertinya dia adalah seorang putri raja. Ia sangat cantik, tinggi, dan menggunakan perhiasan yang banyak. Wanita itu kemudian melangkah mendekati Rakai. Masyarakat di pasar kemudian menyadari keberadaan kami. Sehingga mereka menyembah kepada kami.
"Paduka Rakai, aku telah lama mencarimu. Apa kabar?" katanya dengan mesra.
Ia juga berusaha memeluk Rakai. Tapi Rakai langsung menepisnya. Rakai kemudian melirik ke arahku. Aku memilih membuang muka dan mendekati Pasopati.
"Pasopati, siapa dia?" tanyaku
"Ampun Rakyan, dia adalah Gendis Wangi. Putri dari kerajaan Keling." jawab Pasopati.
"Apa dia kekasihnya Rakai?" tanyaku penasaran
"Ampun Rakyan, dia sangat tergila - gila ingin menjadi permaisuri Rakai. Akan tetapi paduka Rakai hanya mencintai paduka Rakyan." kata Pasopati.
Aku tertarik dengan cerita Pasopati. Aku pun kemudian menggali lebih dalam lagi.
"Pasopati kenapa Rakai ingin menikah denganku?" tanyaku
"Rakyan adalah putri tunggal dari raja Medang ri Poh Ptu. Paduka merupakan pewaris kerajaan ini. Sedangkan Rakai adalah pewaris kerajaan utara Jawa. Jika Rakai dan Rakyan menikah maka akan menyatukan 2 kerajaan besar." terang Pasopati.
Aku kemudian berpikir bahwa apa yang diberitakan dalam prasasti itu benar. Aku akan menikah dengan Rakai.
__ADS_1
"Pasopati apakah Rakai menyerang ayahku?" tanyaku.
Ia kemudian tersentak dan kaget ketika aku bertanya seperti itu.
"Apakah Rakyan tidak ingat dengan kejadian perang besar yang banyak korban jiwa itu?" kata Pasopati.
"Pasopati aku sangat tidak ingat sama sekali. Pasopati aku sebenarnya berasal dari masa depan. Aku ditarik oleh Rakai untuk masuk ke dunia kalian." terangku.
Pasopati semakin bingung dengan ucapanku. Ia terus bertanya bagaimana mungkin aku dari masa depan.
"Pasopati kamu lihat uang ini?" kataku.
Ia kemudian mengambil uang yang aku berikan. Ia sangat kebingungan.
"Ini adalah uang di duniaku sekarang. Uang mas ma dan yu tidak berlaku lagi. Tapi uang itu akan menjadi sebuah benda yang sangat berharga." kataku
Satria kemudian mendekatiku. Nampaknya ia tidak suka aku terus berkomunikasi dengan Pasopati.
"Rakyan jagalah sikapmu. Aku adalah suamimu. Jangan bertingkah aneh - aneh di depanku. Pasopati kamu lancang berbicara dengan Rakyan!!" Satria terlihat sangat marah.
"Kak Satria, jangan pernah melarangku untuk berteman dengan siapapun. Aku tidak pernah mengaturmu. Lagi pula Pasopati adalah sahabatku. Kalau kamu membentak Pasopati di depanku. Aku akan meninggalkanmu dan kembali ke duniaku." kataku
Kami berdua kemudian saling adu tatapan penuh benci. Wanita yang bernama Gendis Wangi itu mendekati kami.
"Rakai menikahlah denganku. Aku akan berikan kerajaanku untukmu." katanya bergelayut manja.
"Pasopati, ayo kita pulang." kataku pada Pasopati.
Ia kemudian mengikutiku. Aku nggak tahu kenapa aku sangat benci dan sebal melihat kelakuan Gendis Wangi ke Satria.
"Tidak ... aku nggak akan cemburu. Itu hak Satria mau dekat dengan siapapun juga." kataku.
Satria kemudian meninggalkan Gendis dan mengejarku. Tapi aku tidak memperdulikan dia. Aku semakin menghindar karena kelakuan dia yang membuatku sebal.
"Rakyan kamu kenapa?" tanyanya.
"Udah deh nggak usah peduli denganku. Aku bisa pulang sendiri. Kakak sebaiknya meladeni Gendis Wangi saja." kataku
Aku kemudian berlalu meninggalkan Satria. Akan tetapi pengawal dari Gendis telah mencegatku. Pasopati hendak melawannya. Tapi aku tahan dia agar tidak terjadi pertumpahan darah di depanku.
"Kenapa kalian menghadangku?" tanyaku.
"Hei kamu ... wanita tidak tahu diri. Apa pantas seorang wanita rendahan sepertimu akan bersaing denganku? dilihat dari pakaianmu kamu bukanlah seorang bangsawan." kata Gendis.
"Apakah paduka Gendis tidak mengenalinya." teriak Pasopati.
Aku kemudian menoleh pada Pasopati dan memberikan isyarat untuk diam. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku masih terlalu dini mengenal dunia ini. Jadi aku harus berhati - hati dan akan menyelidiki.
"Aku memang bukan wanita bangsawan. Tapi aku tahu bagaimana harus bersikap dengan seorang lelaki. Malu bagiku mengejar lelaki yang tidak pernah mencintaimu." kataku
Gendis kemudian maju dan berusaha menamparku. Tapi Pasopati dengan sigap menahan tangan Gendis. Bahkan tangannya dicengkeram oleh Pasopati
"Gendis Wangi jangan keterlaluan." katanya
__ADS_1
"Oh seorang sais kereta berani menahan tanganku. Apa kamu ingin dirajah?" kata Gendis.
"Apa kau bilang? seorang sais? dia adalah kakakku mulai dari sekarang." kataku
Satria kemudian menghampiri kami. Ia terlihat sangat marah dengan Gendis Wangi. Ia juga memerintahkan pengawal Gendis menyingkir dari hadapanku. Setelah mereka menyadari bahwa aku adalah putri mahkota. Gendis berusaha mengejarku tapi aku tidak mempedulikannya.
"Pasopati ayo kita pulang." ajakku lagi.
Kali ini aku benar - benar marah dengan Satria. Ia seperti tidak peduli denganku ketika Gendis ingin melukaiku. Aku terus masuk ke kereta dan meminta lada Pasopati untuk menjalankan kereta nya.
Kami juga meninggalkan satria seorang diri. Aku tidak memperdulikan bagaimana nantinya dia akan pulang.
"Putri, kenapa kau meninggalkan Rakai bersama Gendis?" tanya Pasopati
"Aku ingin menguji cintanya padaku, So." kataku
Aku berusaha tenang di dalam kereta. Sesekali melihat pemandangan yang kami lewati. Di suatu tempat yang penuh dengan bunga teratai. Aku meminta pada Pasopati untuk berhenti.
"So, boleh kita berhenti sebentar di sini?" kataku
Pasopati segera menghentikan kereta kencana kami. Dia kemudian mempersilahkan ku untuk turun dari kereta. Aku turun dari kereta dan Pasopati kemudian menurunkan beberapa kendi yang berisi minuman di abad ini.
"Putri kamu mau minum air nira?" tanya Pasopati
"Boleh." kataku singkat
Pasopati kemudian menuangkan air nira ke dalam gelas gerabah bermotif bunga. Dia kemudian menyerahkan gelas itu dan aku meminumnya.
"Manis banget, ini minuman kesukaanku." kataku
Pasopati nampaknya tahu dengan suasana hatiku saat ini. Rasa perih yang ada di dalam hatiku membuat aku sesak. Bahkan aku mengingat bagaimana Satria ingin sekali aku berada di sini. Tapi setelah di sini, ternyata tidak semanis yang aku bayangkan. Ternyata banyak para wanita yang berusaha mendekati Satria.
"Putri kamu tidak apa - apa?" tanya Pasopati.
Dia kemudian memberikanku sehelai kain untuk mengusap air mataku.
"Makasih So." kataku
"Putri, maaf menurut pengamatan dan pandanganku, bahwa anda sangat cemburu terhadap pangeran." katanya
"Aku tidak cemburu, So." kataku
"Tapi mata dan raut wajah anda menunjukan jika ada sedang sakit hati." kata Pasopati
Aku akhirnya menyerah dan mengaku pada Pasopati. benar aku sangat terluka ketika melihat Satria bersama wanita kain.
**
Episode kali ini cukup ya.
Terimakasih atas waktunya telah berkenan membaca ceritaku.
With love
__ADS_1
Citralekha