Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Bukit Hijau Aachen


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Happy reading


***


Setelah mengetahui keberadaan Dika. Tamara pun tertawa puas. Setelah itu juga, Walaing menghilang.


"Tunggu Nararia, aku akan menyakiti orang - orang terdekatku. Aku akan membuat mu memohon ampunanku." kata Tamara


"Lalu apa rencana mu?" tanya Aura


"Tentu saja kita harus ke sana besok pagi." kata Tamara sambil tersenyum licik.


"Tamara, apa kamu tahu, bukit hijau adalah tempat pelatihan komando. Kita akan susah masuk ke sana." kata Tamara


Tamara pun lalu tertawa puas. Dia tahu apa yang harus dilakukan.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Aura


"Bukan Tamara kalau sampai tidak bisa masuk ke tempat pelatihan komando. Lagian kamu jadi orang bego banget. Kita kan bisa gunakan ajian untuk menghilang dan pergi ke sana secepat mungkin." kata Tamara


"Ah iya, kenapa aku lupa. Kan kita bisa menghilang." kata Aura yang penuh dengan kemenangan.


*


Dika dan Ivan, mereka sudah berbaikan kembali setelah kesalahpahaman tentang Ara dan Ciki. Mereka telah menyelesaikan pendidikan komando untuk hari ini. Setelah makan malam, mereka pun berada di kamar Dika.


"Sepertinya kita akan kedatangan tamu." kata Dika


"Tamu?" tanya Ivan


"Ya, tunggulah beberapa saat. Pasti akan datang." kata Dika yakin.


Bener saja, tak lama kemudian. Kencana dan Senopati Dandaka datang.


"Selamat datang pangeran Kencana dan Senopati." kata mereka berdua.


"Ada kabar penting apakah yang pangeran bawa dari Nararia?" tanya Dika


Kencana dan Senopati pun lalu memberikan mereka restu dan ucapan panjang umur.


"Ternyata instingmu semakin tajam pangeran Dika." kata Kencana.


Dika pun terlihat gugup dengan perkataan Kencana.


"Saya hanya mencoba mengasah kemampuan saya, pangeran." kata Dika sambil tertunduk.


"Dika Ivan, karena Mahadewi Kali tidak lagi melindungi kalian. Maka kalian dengan mudah terdeteksi oleh Pangeran Walaing Pu Kumbhayoni. Jadi bersiap - siaplah kalian. Karena Tamara dan Aura akan datang untuk menyerang kalian. Oh iya, mereka juga menganggap jika kalian adalah manusia lemah tanpa kekuatan sama sekali." kata Kencana


Dika dan Ivan pun kemudian saling menatap satu sama lain. Lalu mereka berdua tersenyum.


"Kenapa kalian tersenyum? Tamara dan Aura bukan orang sembarangan. Mereka adalah reinkarnasi dari Rakyan Pu Tamer, selir raja." kata Senopati


"Mohon maafkan kami senopati, bukan kami meremehkan mereka. Tapi ini adalah kesempatan kami untuk menjajal kesaktian kami. Kami harap tidak akan mengecewakan guru senopati dan pangeran Kencana." kata Dika.


"Kamu semakin cerdas dan cerdik, Dika." kata Kencana


"Lalu apa yang harus kami lakukan pangeran, senopati?" tanya Ivan.


Mereka ber empat pun kemudian menyusun siasat untuk menyambut kedatangan Tamara dan Aura. Kencana pun lalu mengamati Dika dan Ivan dengan seksama. Lalu dia mengangkat tangannya. Tak berapa lama muncullah copian dari Dika dan Ivan.

__ADS_1


"Hah?? kami kembar?? bagaimana bisa?" tanya Ivan


Kencana pun lalu tersenyum.


"Kita akan gunakan bayangan kalian yang lemah. Mereka akan menyambut kedatangan Tamara dan Aura. Kalian perhatikanlah kekuatan musuh. Inget jangan langsung gunakan senjata pamungkas kalian. Jangan membuat dan memancing pangeran kegelapan." kata Kencana


"Belum saatnya kalian berhadapan dengan Walaing Pu Kumbhayoni." kata Senopati.


Setelah menyampaikan hal itu, Kencana pun lalu pamit. Tapi sebelum Kencana pergi.


"Pangeran Kencana, tolong sampaikan ke Nara. Untuk tidak mengkhawatirkan kami. Kami akan berusaha semaksimal mungkin melindungi Nararia. Selain itu di sini juga ada senopati Dandaka yang akan melindungi kami." kata Dika


"Baik Dika, Ivan, Senopati. Aku pamit dulu, pasti putri mahkota sangat mengkhawatirkan aku." kata Kencana


Setelah itu Kencana menghilang. Tinggalah mereka ber 3. Mereka kini pun akan menggunakan bayangannya menyambut Tamara.


"Ini pasti akan sangat menyenangkan" kata Ivan.


*


Jakarta


Aku dan Puspa sedang menunggu kedatangan Kencana kembali dari Jerman. Sebenarnya, aku ingin ikut ke Jerman. Tapi dilarang oleh Puspa. Karena kedatanganku nanti akan memicu raja kegelapan muncul. Sedangkan aku belum bisa menghadapi nya. Meskipun aku sakti, tapi ilmuku akan sempurna jika aku bersatu dengan reinkarnasi Rakai Pikatan.


"Putri Nararia." kata Kencana


Aku dan Puspa pun langsung berdiri dan menyambut kedatangan Kencana.


"Kencana, apakah Dika dan Ivan baik - baik saja?" tanyaku


"Ya putri, malam ini mereka akan berhadapan dengan Tamara dan Aura. Tapi putri tenang saja, mereka akan aman bersama Senopati Dandaka." kata Kencana


Meskipun mereka bersama senopati sakti. Tapi tetap saja, aku sangat khawatir. Bagaimanapun juga, Tamara dan Aura sangat licik dan sakti.


"Bagaimana bisa aku memastikan kalau Dika dan Ivan akan baik - baik saja, Kencana?" tanyaku


"Puspa, kamu mau menonton tv?" tanyaku


"Bukankah putri ingin melihat bagaimana keadaan Dika dan Ivan?" tanya Puspa


"Iya, tapi ..." protesku belum selesai.


Puspa pun langsung menunjukan kalau tv tersebut nyala. Bukan nya saluran chanel tv tapi itu menunjukan keberadaan Dika dan Ivan. Wah, canggih banget mereka ... Kita bisa melihat keberadaan Dika dan Ivan dari tv di hotel ku. Kalau begini kan aku tidak perlu pergi ke Jerman. Ya, seperti orang mau menonton film kolosal. Aku pun kemudian membuat minuman.


"Bagaimana putri?" tanya Puspa


"Aku suka Puspa, kita nggak perlu ke Jerman." kataku


Setelah itu, kami pun menyaksikan bagaimana Dika dan Ivan berada. Kalau begini aku bisa mengawasi mereka dengan aman.


*


Prasta menelpon Satria


Beberapa kali Prasta menelpon Satria Tapi tidak diangkat.


"Ini Satria kemana sih?" gerutu Prasta


15 menit kemudian Satria menelpon balik. Mereka melakukan sambungan via video call.


"Satria, kamu kemana saja sih?" protes Prasta


"Sorry Pras, aku sedang mengamati sekitar. Tamara sudah tidak bisa dikendalikan sepertinya. Dia malam ini akan menyakiti Dika dan Ivan." kata Satria


"Bahaya, kalau sampai Dika dan Ivan kenapa - napa. Pasti Nararia akan sedih. Aku akan susul dan lindungi mereka." kata Prasta


Tapi Satria oun kemudian melarangnya. Menurut Satria, Prasta harus selalu ada di sisiku selama dia di Jerman. Satria takut, jika Tamara dan Aura adalah umpan dari Walaing. Ya umpan agar Prasta ke Jerman. Sementara aku ditinggal sendirian.

__ADS_1


"Kamu tetap di sana, jaga Nara. Aku akan melindungi Dika dan Ivan dari rumahku. Kamu lindungilah Nara, jangan sampai dia kenapa - napa." kata Satria


"Baiklah Sat, kamu hati - hati. Jangan sampai membuat Walaing curiga. Serta jangan sampai membuat raja kegelapan muncul. Belum saatnya kita menghadapinya." kata Prasta.


Prasta dan Satria pun lalu melakukan meditasi untuk melindungi aku, Dika, dan Ivan. Mereka menganggap jika Ivan dan Dika akan mudah dikalahkan.


*


Jerman.


"Kamu siap Van?" tanya Dika


Ivan hanya menganggukan kepala. Lalu bayangan Dika dan Ivan yang dibuat Kencana tadi keluar dari kamar Dika. Ya, ternyata Tamara dan Aura telah mengintai mereka berdua keluar dari kamar.


"Jangan membuat gaduh, kita langsung sirep yang lainnya." kata Tamara


"Termasuk Dika dan Ivan saja." usul Aura


"Tidak, mereka harus kita siksa dulu. Agar Nararia marah" kata Tamara.


Aku pun hanya diam dan tersenyum. Ternyata Kencana telah membuat rencana yang bagus. Tamara dan Aura tidak sadar. Jika Dika dan Ivan yang ada di luar kamar itu hanyalah bayangan saja.


Tamara pun menggunakan ajiannya untuk membuat para pasukan khusus lainnya tertidur. Tinggalah Dika dan Ivan, lalu Tamara dan Aura muncul.


"Selamat malam Dika dan Ivan. Perkenalkan aku Tamara dan ini Aura. Kami adalah temannya Nararia. Kami diminta oleh Nara untuk menjemput kalian berdua." kata Tamara


"Teman? tapi Nara nggak pernah cerita punya teman seperti kalian." kata Ivan


"Ya, dia ingin membuat kejutan untuk kalian." kata Aura


"Oke" kata Dika dan Ivan.


Tamara dan Aura pun lalu membawa Dika dan Ivan. Pada saat mereka lengah, Tamara memberikan serbuk tidur. Setelah Ivan dan Dika tertidur. Lalu mereka membawa Dika dan Ivan ke markasnya.


Tak berapa lama mereka sampai di kediaman Tamara.


"Mudah sekali mengelabui dua manusia bodoh ini." kata Tamara


"Tapi aku curiga, Tam ... Sepertinya kita mudah banget membawa mereka berdua. Jangan - jangan ini adalah jebakan?" tanya Aura


"Jebakan? kita terjebak, tidak Aura. Sudah, cepat kamu lakukan video call ke Nararia." kata Tamara


Aura pun lalu memvideo call aku. Kami bertiga lalu tersenyum, karena Aura dan Tamara tidak tahu sedang kita permainkan.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next :


Kira - kira apa yang akan terjadi jika mereka tahu, kalau Dika dan Ivan yang mereka bawa adalah sebuah bayangan?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.

__ADS_1


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2