Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Tirta Gangga (Awal Mula).


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan coin juga boleh.*


Happy reading.


.


.


Sepeninggalnya Satria, hari - hariku nampak sepi dan hampa. Aku masih memikirkan bagaimana dengan keadaan dia. Terlebih Kencana tidak mau bercerita padaku selama dalam pengawalan Satria ke wana Taas.


Pasopati dan Widasari terus menghiburku. Beberapa pungawa dan ksatria kerajaan hanya tahu bahwa Satria kembali ke Pikatan untuk menemui gurunya. Keberadaan dia terus kita sembunyikan. Termasuk pada Widasari. Hanya aku dan Pasopati yang tahu tentang keberadaan Satria.


Puspa dan Kencana pun selalu mengajakku bermain dan berlatih beladiri.


"Puspa, apakah jika nanti aku kembali ke masa depan. Semua keahlianku akan hilang?" tanyaku


Sebenarnya aku pernah bertanya hal itu, tapi aku masih penasaran.


"Iya putri, terutama kekuatan ghaib yang kau miliki. Semuanya akan kembali ke asalnya." jelas Kencana


"Kenapa?" tanyaku lagi


"Karena di masa depan ilmu akan semakin canggih. Sehingga kamu tidak perlu memilikinya. Jika kamu masih memilikinya, akan sangat membahayakan dirimu." tambah Puspa.


Aku paham sekarang dengan perbedaan masa lalu dan masa depan. Tekhnologi akan semakin maju dan itu semua akan merubah pola pikir pula.


Hari - hariku jika sepi, maka aku pergi ke sanggar pemujaan. Ada arca bodhisatwa dan tri murti. Pemujaan terhadap Siwa dan Budha. Ke dua kepercayaan itu merupakan kepercayaan resmi di kerajaan Medang.


Suatu hari karena lelah dalam penantian. Puspa keluar dari tubuhku.


"Ada apa?" tanyaku


Aku heran, karena jika Puspa keluar pasti menyampaikan kabar atau akan ada suatu hal besar. Tapi dia hanya tersenyum manis.


"Putri, kami akan mengajakmu ke suatu tempat." kata Puspa


"Kemana?" tanyaku penasaran


Tidak seperti biasanya Puspa mengajakku ke suatu tempat. Apakah itu Kaindran atau Kailasha. Tapi kenapa aku harus ke sana lagi.


"Nanti kamu akan tahu." katanya


"Bagaimana kita pergi? Apakah kita bisa melewati penjagaan yang begitu ketat?" tanyaku


"Putri, apa kau lupa. Kami ini bukan manusia. Dalam sekejab juga kita akan sampai di tempat tujuan." katanya


Hahahha ... Aku lupa kalau mereka adalah apsara dan apsari. Jadi dengan mudah akan menghilang. Aku poun tertarik ajakan Puspa. Dari pada bengong di istana. Pasopati juga sibuk pacaran dengan Widasari. Sesekali mereka mengunjungiku, menyebalkan bukan?.


"Ayo kita pergi." kataku penuh semangat


Kencana juga keluar dari tubuhku. Mereka kemudian menggandeng lenganku di kanan dan kiri. Setelah itu, aku merasakan sedang terbang di angkasa dan tak lama kemudian kami turun di suatu tempat.


Udara yang semilir serta angin sepoi - sepoi yang kuat menghempaskan kain yang aku pakai. Aku juga mendengar suara gemuruh aliran air yang sangat besar.

__ADS_1


"Dimana ini? Aku mendengar suara air." kataku


"Kita ada di dekat dengan sungai Gangga, putri." kata Puspa


Aku kaget mendengar penjelasan Puspa. Apakah aku lagi ada di India. Setahu ku Sungai Gangga terletak di India.


"Apakah kita ada di Bharata Warsa??" tanyaku


Bharata Warsa adalah sebutan untuk negara India pada jaman dahulu. Selain itu juga dikenal dengan sebutan Jambu Dwipa.


"Bukan, masih di lingkup istana Medang, kok." kata Kencana


Mereka kemudian mengajakku menembus rerumputan yang tinggi. Di balik rerumputan itu ternyata terhampar sungai yang berkelok. Airnya seolah - olah bersinar, karena terkena pancaran Sinar Matahari. Sungai yang indah dan sangat jernih. Bunga tanjung bermekaran di tepi sungai.


"Sungai apa ini?" tanyaku keheranan.


"Inilah Tirta Gangga. Oleh leluhurmu disebut sebagai sungai suci seperti sungai Gangga di Jambu Dwipa." terang Puspa.


"Putri, coba lihat ditengah sungai itu." kata Kencana sambil mengacungkan jarinya


Aku mengikuti arah petunjuk dari jari Kencana. Ada sebuah danau di tengah sungai. Luar biasa, itu artinya aliran sungai ini berasal dari danau itu. Danau yang cantik dan sangat rindang. Di sana ada angsa yang sedang berenang.


"Tempatnya indah banget." gumamku


"Tapi, kami mengajakmu ke sini bukan untuk piknik." terang Kencana


"Lalu?" tanyaku semakin penasaran


Mereka kemudian memegang lenganku dan dalam sekejab kita sudah berada di tengah danau. Di tengah danau (bisa di bilang sumber air) terdapat letupan air sebagai tanda bahwa ini adalah mata air yang airnya sangat jernih. Di samping itu terdapat sebuah batu kali yang selalu ada sesajinya.


Aku kemudian mendekati batu itu dan betapa kagetnya aku melihat sebuah batu yang terdapat pahatan berbagai simbol dan ada aksaranya (baca prasasti).


"Apa ini?" tanyaku


"Ini adalah batu peringatan tentang mata air ini." kata Puspa.


Puspa kemudian membacakan syair yang terlihat di atas batu itu. Demikian syair nya :


Iyant usucy ambruruhanujata, kvacic chilavaluka nirggateyam, kvacit prak prakirnna subhasitatoya, samprasrta daya kariwa Gangga.


Artinya :


Mata air yang airnya jernih dan dingin ini keluar dari batu atau pasir ke tempat yang banyak bunganya tunjung putih, serta mengalir ke sana - sini. Setelah menjadi satu lalu mengalir seperti sungai Gangga.


"Merdu sekali suaramu, Pus," pujiku


Tapi memang suara nya merdu dan lantunan sloka yang dia bawakan sangat indah.


Note :


Sloka tersebut pada masa sekarang di kenal dengan nama Prasasti Tuk Mas. Prasasti tersebut diperkirakan berasal dari abad ke VI Masehi. Aksara yang digunakan menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.


Ukuran batu tersebut ialah 174 cm x 103 cm x 80 cm. Lokasi sekarang berada di Dukuh Tuk Mas, Kelurahan Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

__ADS_1


Air dari mata air Tuk Mas sangat besar. Bahkan air tersebut digunakan oleh PDAM untuk mengairi kebutuhan air di Kabupaten Magelang.


Saat hari raya, sumber air tersebut digunakan oleh Umat Hindu Magelang untuk tempat Melasti (Sebelum melakukan Catur Brata Penyepian).


...


"Putri, coba perhatikan simbol yang ada di atas batu itu." perintah Kencana


Aku kemudian semakin mendekat dan duduk di depan prasasti batu itu. Aku pandang satu - persatu simbol suci ini. simbol tersebut ialah Tri Sula (senjata Dewa Siwa), Kendi (Brahma), Sanka dan Cakra (Wisnu), serta berbagai senjata dari Dewata Nawa Sanga. Ada dupa, kapak, bajra, dan aku juga melihat 4 buah lukisan padma (bunga). 2 gambar memiliki 8 kelopak, sebuah lagi memiliki 9 kelopak, dan yang paling atas 8 kelopak utama dan 6 kelopak kecil serta di tengahnya terdapat lingkaran.


8 kelopak melambangkan 8 mata angin. 9 kelopak melambangkan 9 dewa penguasa mata angin. Mungkin berharap agar seluruh dewa dapat melindungi dan memberkati mata air ini.


Oh iya, tulisan yang ada pada Prasasti Tuk Mas ini sama dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Purnawarman (Tarumanegara - Jawa Barat). Jadi bisa dikatakan bahwa usia prasasti ini sangat tua. Prasasti itu juga merupakan prasasti tertua hang ditemukan pada Masa Mataram Kuna (di Jawa Tengah dan DIY).


...


"Putri, apa yang kamu pikirkan?" kata Puspa.


Aku kemudian tersadar dari lamunan ku setelah di sentuh oleh puspa.


"Aku sangat kagum bahwa pada saat itu. Leluhurku sudah dapat menggambarkan di atas batu." kataku sambil berkaca - kaca.


Aku kemudian memeluk Puspa dan mengucapkan terimakasih, karena aku telah diajak ke sini. Suatu pengalaman yang luar biasa.


"Ini adalah tinggalan dari leluhurmu. " kata Kencana


"Di masa depan, kalian akan menemukan ini. Ingatlah untuk menjaganya ya putri." pesan Puspa


Setelah mendapatkan penjelasan dari mereka berdua. Aku kemudian berdoa kepada Dewi Gangga dan membasuh mukaku di Tuk Mas. Rasanya sangat segar, ingin sekali aku berlama - lama dan bermain air.


"Putri, kami akan mengajakmu ke lain tempat." kata Puspa


"Kemana lagi?" tanyaku penasaran


"Kita akan memperkenalkan padamu tentang kehebatan leluhurmu." kata Kencana


Aku masih bingung dari dari mereka hanya membicarakan leluhurku. Tapi siapakah leluhurku yang dimaksud oleh mereka.


"Tunggu, siapakah leluhurku yang kalian maksud?" tanyaku


"Kau akan segera tahu setelah kita sampai di Sthirangga." kata Puspa.


Sthirangga tempat macam apa itu. Aku semakin penasaran. Pasalnya Pasopati maupun Satria tidak pernah menceritakan itu padaku. Bahkan di saat bersama Fais pun. dia juga tidak menceritakan tentang asal usul kerajaan Medang.


"Ayo kita ke sana." kataku


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Jika teman - teman suatu hari berkunjung ke Magelang (Candi Borobudur) mampirlah ke sumber mata air Tuk Mas. Rasakan kesegaran dan keharmonisan berada di alam perbukitan yang masih asri.


with love


Citralekha.

__ADS_1



__ADS_2