Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Rencana Pernikahan


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Kami menikmati raja mangsa bersama keluarga kerajaan. Ayahku tiba - tiba berkata


"Pangeran, kapan kalian akan menikah?" tanya ayahku


Kami semua menghentikan makan dan langsung melihat ke arah ayah dan Satria.


"Kalau saya, terserah dengan Rakyan saja, baginda." kata Satria


Ibuku kemudian memandang dan menghampiriku


"Nak, apa kamu sudah siap?" tanya ibuku


Aku tersenyum bahagia, karena dengan cepat menikah aku akan segera kembali ke mada depan.


"Secepatnya, bunda." kataku


"Kapan itu, secepatnya harus ada target lah, kak?" kata Widasari


"Gimana kalau Wrehaspati Wagai samargasira Suklapaksa?" kata Satria


Wrehaspati adalah kamis Wagai dalam perhitungan jawa. sedangkan Suklapaksa adalah bulan purnama.


'Hari itu bukannya, hari dimana Candi Prambanan diresmikan?' batinku


"Hei, melamun saja, gimana putri?" tanya Widasari.


"Jadi itu kapan?" kataku


"Satu bulan lagi." kata Pasopati


Adikku, Balaputra langsung berdiri dan mengatakan ketidaksetujuan


"Kenapa harus buru - buru, bunda?" tanya Balaputra.


"Bukankah semakin cepat semakin baik?" kata Satria.


"Kenapa Balaputra tidak setuju dengan rencana pernikahan kami dilangsungkan bulan depan?" tanyaku


"Maaf paman, saya sependapat dengan Balaputra. Kenapa harus buru - buru?" tanya Pasopati.


Aku tahu bahwa Pasopati pasti akan mengundur pernikahanku. Dia tahu kalau aku menikah dan Satria dan ia membangun candi. Aku akan kembali ke masa depan.


"Maksudmu apa, So? " kata Satria sinis


"Sebaiknya dipikirkan dengan matang, pernikahan kalian pasti akan menjadi pernikahan termegah. Jadi harus diperhitungkan." kata Pasopati

__ADS_1


Dayang kerajaan segera membereskan makanan yang ada di meja. Hanya disisakan buah dan minuman.


"Gimana putriku, apakah kamu siap jika menikah bulan depan?" tanya ibu Tara


"Sendiko ibu, saya siap kapanku. Semakin cepat semakin baik, ibu, ayah." kataku


"Kalau perlu besok pagi pun aku siap" kata Satria


"Pangeran pikirkan dulu." kata Pasopati


Terjadi adu mulut antara Satria dan Pasopati. Adikku juga ikut menimbrung dan kekacauan terjadi malam ini.


"Cukup semua, ini meja makan bukan tempat adu mulut." kata ayahku


Mendengar ayahku naik pitam, kami semua tertunduk dan tak ada yang berani menatap matanya.


"Putriku dan pangeran sudah siap. Jadi kalian berdua akan menikah bulan depan. Segala keperluan pernikahan akan disiapkan oleh kerajaan, jika Pasopati, Balaputra, dan Widasari tidak mau membantu." kata ayahku


"Tidak paman maharaja, Widasari pasti akan membantu menyiapkan pernikahan kakak." kata Widasari


"Kalian berdua?" tanya ayah kepada Pasopati dan Balaputra


Balaputra dan Pasopati saling bertatap muka. Aku melihat kali ini mereka bekerjasama untuk menunda pernikahanku. Tapi mereka berdua memiliki memiliki misi yang berbeda. Aku melihat misi dari adikku adalah untuk menggagalkan dan ingin menguasai istana Medang. Sedangkan Pasopati ingin agar aku tetap berada di istana dan tidak kembali.


"Mapatih Rake, tolong segera umumkan bahwa bulan depan Kerajaan Medang akan melangsungkan pernikahan. Umumkan pada rakyat dan segera kirim undangan ke negara tetangga dan sahabat di mancanegara." kata ayahku


"Baik maharaja, segera kami laksanakan." kata Mapatih.


"Kami amit mundur bunda, ayah, Paman patih." kataku


Aku dan Widasari segera menuju bilik untuk istirahat. Hari yang sangat melelahkan. Ingin segera masuk dan berbaring dalam kasur. Badanku rasanya pegel dan mata sudah tidak bersahabat.


Tok tok tok


Jendela bilik kamarku diketok seseorang. Aku ogah membuka pintu. Aku takut kalau itu adalah danawa.


"Rara ... Rara... Rara " teriak seseorang dari balik jendela.


Aku bangun dari tidur dan segera membuka jendela kamar dan kulihat.


"Oh, ada apa So?" tanyaku


"Kamu sudah mau tidur?" tanya Pasopati


"Aku ngantuk banget ni, So." kataku malas


Pasopati melihat sekeliling bilik ruanganku. Dia mengamati dan memastikan aman dan tidak ketahuan oleh orang lain.


"Ada apa sih, So?" tanyaku


"Kamu yakin mau menikah bulan depan?" tanya Pasopati


"Kamu masih bahas itu, So?" tanyaku

__ADS_1


Pasopati berusaha membujukku agar aku mau menunda pernikahan. Tapi di sisi lain, aku ingin segera kembali ke masa depan dan melanjutkan hidupku yang normal.


"Aku ingin kembali ke masa depan, So." kataku


"Kamu yakin mau meninggalkan kami?" tanya Pasopati.


"Aku ingin hidup normal sesuai dengan kodrat hidupku, So." kataku sambil menangis.


Aku juga mengingat semua kenangan indah bersama teman kecil di desa. Aku juga ingin segera sekolah dan merasakan masa remaja yang menyenangkan. Aku juga berusaha menenangkan Pasopati dan mendukung pernikahan kami bulan depan.


"So, aku nggak akan melupakanmu. Aku janji akan selalu ingat kamu, Widasari, dan keluarga kerajaan ini." kataku


"Satria tidak tahu kan kalau kalian menikah, punya anak, dan dia akan membangun candi. Kau akan pulang?"


"Iya, tapi itu kan butuh waktu lama, So." kataku


Pasopati akhirnya paham dengan maksud dan perkataanku. Akhirnya Pasopati pamit dan akan istirahat.


"Istirahatlah, Ra. Aku juga ngantuk dan capek." kata Pasopati


Aku lihat Pasopati dari jendela. Aku ingin memastikan agar dia aman dan masuk ke biliknya tanpa diketahui oleh pengawal. Sesekali dia menengok kebelakang dan tersenyum.


Aku langsung menutup jendela kamar dan merebahkan di kasur. Aku sudah menantikan hari untuk segera menikah dengan Satria. Meskipun aku mulai menyukai dan nyaman tinggal di dunia abad 9. Tapi kenangan manis di abad 21 membuatku ingin segera kembali.


Tiba - tiba aku melihat bayangan Dika dan Ivan. Mereka memanggil dan mencariku.


"Dikaaaa, Ivaaaan ... " teriakku


Tapi mereka hanya tersenyum dan segera menghilang. Aku menatap langit langit kamar ku dan terus memikirkan tentang mereka ber dua.


"Apa Dika dan Ivan saat ini sedang bingung mencariku. Tapi Rsi Narada bilang jika waktu 50 tahun di sini hanya 2 jam di abad 21." gumamku


Aku jadi sedih karena 2 sahabat baik juga sudah menghilang. Mereka adalah Puspa dan Kencana. Mereka sudah kembali ke Kaindran.


"Aku jadi rindu dengan Puspa dan Kencana." batinku


Tapi semua itu hanya dalam anganku, kalau mereka berdua masih ada di tubuhku dan dapat berkomunikasi denganku.


Aku akhirnya terlelap. mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Tapi samar - sama ak mendengarkan suara orang yang sedang berbicara.


"Aneh, malam - malam seperti ini masih ada orang yang ngobrol." gumamku


Aku pun penasaran dan akan melihat siapakah yang sedang berbisik - bisik. Aku mengendap endap keluar dari bilik dan memastikan semuanya aman. Aku langsung mencari sumber suara.


"Balaputra." gumamku


"Ngapain dia malam - malam begini menemui orang orang itu. Apa yang sedang dibicarakan." kataku


Suaranya sangat kecil dan aku mengamati mereka agak jauh agar tidak ketahuan. Tapi aku ingat, kalau aku bisa mendengar pembicaraan orang lain dengan bantuan liontin pancaroba. Aku langsung mencobanya dan berharap semuanya akan baik - baik saja.


**


Episode kali ini cukup ya... maaf telat update.

__ADS_1


__ADS_2