
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
Aku kemudian ingat dengan perkataan Adhiraksa. Jika dia sudah menunggu di lapangan panah. Aku harus segera ke sana. Mungkin ada hal yang sayang untuk dilewatkan.
"Puspa, aku harus ke lapangan panah." kataku
"Pergilah putri, akan ada adu kesaktian antara Rakyan Sanjiwani dan Widasari." kata Puspa
"Apaa??" tanyaku tak percaya
Secepatnya aku segera keluar kamar dan menuju lapangan panah. Anupali segera menyusul. Bagaimanapun juga dia adalah dayang yang bertugas atas aku. Jadi kemanapun aku pergi dia akan selalu ikut.
"Putri, ada apa berlari seperti ini. Apakah ada bahaya?" tanya Anupali
"Mau ke balai Dhanu (Dhanu artinya panah). Sanjiwani dan Widasari akan bertarung. Aku takut akan saling melukai satu sama lain." kataku
"Benar putri, terlebih karakter putri Widasari. Dia pasti dibutakan oleh cemburu terhadap pangeran Pasopati." kata Anupali
Tak berapa lama kami sampai ke Dhanu. Aku melihat sudah ramai dengan para prajurit. Mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Mataku mencari- cari keberadaan Widasari dan Sanjiwani. Tapi tak menemukan mereka.
"Prajurit, apakah adu tanding sudah selesai?" tanyaku
"Ampun putri, adu tanding baru akan di mulai." kata prajurit
"Lalu dimana putri Widasari dan Rakyan Sanjiwani?" tanyaku penasaran
"Mereka sedang persiapan dengan menggunakan baju zirah, putri" kata prajurit.
Tangan halus tiba - tiba menarik lenganku. Aku sempat menepis dengan kasar. Dalam hatiku berani sekali seorang prajurit menyentuh lenganku. Ku bali kan badan dan ternyata pemilik senyum manis.
"Adhira ... " kataku
Tapi belum sempat aku mengucapkan kata sepenuhnya. Telunjuknya sudah mendarat di depan bibirku.
"Sssstttt ... panggil aku?" tanyanya
"Iya Adhir ... eh Satria. Maaf aku baru bisa datang." kataku
"Apakah aku menakutkan? sehingga kau memasang pagar ghaib yang begitu kuat?" tanyanya
Ternyata dia mempermasalahkan pagar ghaib yang di buat oleh Kencana.
"Bukan begitu, tadi karena aku masih ngantuk. Jadi aku nggak mau diganggu siapapun" kataku
"Maaf aku sudah menganggumu." kata Adhiraksa
Aku hanya menggelengkan kepala. Setelah itu, aku fokus pada dua orang wanita yang sudah menggunakan baju zirah. Mereka terlihat sangat garang.
"Adhir.. eh Satria, apa kau tahu kenapa mereka tiba - tiba bertanding?" tanyaku
"Biasa persaingan, Widasari menganggap bahwa Sanjiwani telah merebut hati Pasopati. Dasar wanita" gerutu Adhiraksa
Aku langsung menatap tajam kepada Adhiraksa. Aku sebal, karena dia telah meremehkan wanita. Melihatku menatap seperti itu. Dia jadi salah tingkah.
"Putri, kamu kenapa menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Kamu meremehkan wanita, ya?" tanyaku sinis
"Bukan putri, bukan begitu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi jangan cemberut lah sayang" goda Adhiraksa.
Aku mencubit pinggangnya. Dia telah lancang memanggilku sayang. Panggilan itu hanya boleh diucapkan oleh Satria dan orang tuaku.
Pasopati hadir diantara kami. Dia langsung nyempil di tengah- tengah. Ya, dialah penjaga ku selama Satria tidak ada di tempat.
"Ini kenapa sih, penguasa kematian, ganggu saja." gerutu Adhiraksa
"Heh, apa kau bilang. Dasar raksasa." balas Pasopati
"Stop, hentikan. Kalau kalian mau ribut minggir sana." kataku galak
Akhirnya mereka berdua diam. Meskipun masih saling menatap tajam satu sama lain.
"So, minggir sana. Urusin tu 2 wanita mu" kata Adhiraksa
"Mau aku duduk dimanapun juga, terserah aku lah. Emang ini kerajaanmu?" tanya Pasopati
"Emang ini juga kerajaanmu? kita sama - sama numpang. Jadi jangan banyak tingkah." bentak Adhiraksa
"Elo tu yang banyak tingkah." gertak Pasopati
Aku semakin pusing mendengarkan mereka berdua. Terlebih kelakuan dua manusia ngeselin itu mengundang perhatian.
"Mau aku keluarin Pancaroba? biar kalian bisa diam?" tanyaku
"Ampun putri" kata mereka berdua
**
Adu kesaktian dua orang manusia sudah siap. Tapi aku merasakan tenaga dalam Sanjiwani sangat besar. Widasari tidak akan mampu mengalahkan Sanjiwani.
"Putri Widasari, tenang lah. Aku tidak akan pernah merebut Pasopati dari mu." kata Sanjiwani
"Jangan munafik wanita sialan!! sekarang kita buktikan, aku atau kamu, huh!!" gertak Widasari
Sanjiwani hanya menggelengkan kepala. Dia sangat lelah karena dituduh terus oleh Widasari. Demikian juga dengan Pasopati. Dia berusaha meredam amarah Widasari. Tapi maha di bentak dan di tuduh berselingkuh.
"Wida, sudah berapa kali aku jelaskan. Aku dan Sanjiwani tidak ada hubungan apa - apa" kata Pasopati
"Diam!! tetap berdiri di sana. Kau harus menyaksikan, siapa wanita yang pantas denganmu." kata Widasari
"Putri Widasari, aku yakin Pasopati setia padamu. Tidak mungkin dia menyukai Sanjiwani. Wida, hentikan. Aku tidak mau melihatmu terluka" kata Adhiraksa
Dia nampak sangat mengkhawatirkan Widasari. Dia tahu, bahwa Sanjiwani bukanlah tandingannya. Tapi sepertinya, nasihat Adhiraksa diabaikan begitu saja.
"Kakak membela wanita sialan itu?? Aku yakin bisa mengalahkan dia dalam beberapa jurus saja." kata Widasari penuh kesombongan
Wida menganggap bahwa dirinya lebih sakti dengan Sanjiwani. Jadi dia yakin akan bisa mengalahkan Sanjiwani dengan mudah.
"Widasari ceroboh sekali. Hanya dengan sekali jurus. Sanjiwani bisa mengalahkan Widasari." gumam Adhiraksa
"Maksudmu apa? apa kau mengenal Sanjiwani?" tanyaku
**
Adu ketangkasan dimulai. Sanjiwani telah bertekad akan mengalah demi Widasari. Setiap serangan dari Widasari, dia hanya menghindar. Tanpa mengeluarkan jurus - jurus yang mematikan. Semua serangan Widasari dapat dipatahkan dengan mudah.
"Putri sudah, hentikan. Aku tidak akan merebut Pasopati." kata Sanjiwani
__ADS_1
"Lancang sekali kau berani memanggil Pasopati tanpa menyebut 'pangeran'" protes Widasari
Wida terus mengeluarkan jurus - jurus yang menurutnya mematikan. Tapi semua dapat ditepis dengan mudah. Wida semakin bernafsu untuk mengalahkan Sanjiwani. Dia menyangkan bahwa Sanjiwani adalah pendekar yang lemah.
"Bagaimana Sanjiwani, apakah kau masih berani mendekati, Pasopati?" tanya Widasari
"Tidak putri, maafkan saya." kata Sanjiwani masih santun
"Tapi sayangnya, aku lebih suka menghabisi nyawamu. Karena aku tidak percaya denganmu!" kata Widasari sambil mengayunkan pedangnya. Sanjiwani lengah, dan lengannya tergores.
"Aawww... sial" umpat Sanjiwani
Sanji berpikir jika dia terus mengalah. Dia akan semakin di bully. Sanjiwani melirik ke arah Adhiraksa. Dia mengajak berkomunikasi melalui mata batin.
"Adhiraksa, apakah boleh memberikan pelajaran kepada wanita sombong ini?" tanya Sanjiwani
"Tentu saja, dia pantas mendapatkannya. Agar dia tidak semena - mena. Tapi jangan membunuhnya. Jangan menimbulkan reaksi yang berlebihan dari putri Nararia. Bagaimanapun juga, dia sangat hebat. Terlebih dia murid Dewi Sakti." terang Adhiraksa
"Aku mengerti." kata Sanjiwani.
Pasopati nampak khawatir dengan luka Sanjiwani. Dia hendak beranjak. Tapi Adhiraksa segera mencegahnya.
"Jangan ikut campur. Widasari bisa semakin ngamuk" kata Adhiraksa
"Tapi Sanji ... " kata Pasopati
"Sanjiwani pendekar yang hebat, So. Kau tidak mengenalnya. Dia hanya bermain - main dengan Widasari. Kekuatannya sangat besar dan hebat. Sekali jurus yang dia miliki. Wida bisa tewas seketika." kata Adhiraksa
"Dari mana kau mengenalnya?" tanya Pasopati curiga
"Dasar bodoh! coba rasakan tenaga dalamnya." kata Adhiraksa berbohong.
**
Widasari sangat bangga, karena dapat mengores lengan lawan. Dia tertawa puas. Sifat sombong dan arogan muncul di hati Widasari.
"Putri Widasari, aku sudah bersabar. Aku sudah katakan bahwa aku tidak menyukai Pasopati. Tapi kau terus menuduhku. Bahkan kau mengajakku adu ketangkasan. Sekarang aku sudah hilang kesabaran Widasari. Aku akan memberimu sedikit pelajaran." kata Sanjiwani
"Tikus kecil macam kamu mau mengalahkanku? bahkan kau tidak bisa menghindari pedang ku." kata Widasari masih sombong.
Sanjiwani memejamkan mata. Dia mengucapkan mantra memanggil dan menggunakan kesaktiannya. Kesempatan emas tak di sia - sia kan. Dia bernafsu ingin membunuh Sanjiwani. Widasari mengeluarkan pedang dan meluncur ke arah Sanjiwani.
"Widaaaa jangaaan" teriak Pasopati
Secepatnya Pasopati melesat dan akan menghalangi Widasari.
"Pasopatiiiii" teriak Adhiraksa
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe
next :
Apa yang akan terjadi pada Pasopati dan Widasari?
Apakah Sanjiwani akan menghabisi Widasari?
Tunggu episode selanjutnya
With Love
__ADS_1
Citralekha