
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, rate, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Satria mengajakku untuk berjalan mengitari sekitar sungai. Ia terlihat tidak ingin aku berhubungan dengan masa depan. Terlebih dengan sahabat lelakiku itu.
"Nara, ayo aku ajak mengelilingi sekitar sungai ini." ajak Satria
"Tapi Dika dan Ivan, gimana?" tanyaku
Aku masih memikirkan ke dua sahabat di masa depanku. Apakah mereka dalam keadaan kesulitan saat ini. Apa yang terjadi dengan mereka berdua. Sepeninggalanku, mereka sedang menyusuri lorong dan Candi Sewu yang sangat banyak itu.
"Apakah mereka dalam keadaan baik - baik saja?" tanyaku sambil menangis.
"Mereka baik - baik saja, sayang." kata Satria sambil membelai rambutku
"Aku mau kembali ke masa depan." kataku lirih.
Tak terasa aku meneteskan air mata. Bayangan masa depanku melintas di pikiranku. Bayangan Dika, Ivan, dan orang - orang terdekatku di masa lalu terus terngiang - ngiang.
"Mereka baik - baik saja, sayang." kata Satria.
Ia kemudian memelukku dan menenangkanku. Perasaan marah bercampur sedih bercampur jadi satu.
"Kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku lho." kata Satria
Aku mengiyakan perkataan dia. Aku takut kalau dia marah, dia tidak akan membangun Candi Prambanan dan aku tidak akan bisa kembali lagi untuk selamanya.
"Baiklah." kataku
"Ayo kita jalan - jalan, cari Pasopati dan Widasari." kata Satria
Aku bangkit dari duduk dan menggandeng lengannya. Aku sesekali melirik pada aliran air Sungai Opak yamg berkelok dan berkilau karena pantulan sinar matahari.
"Widasari, Pasopati." teriakku
Mereka berdua menoleh dan melambaikan tangan. Aku lihat mereka menggelar tikar dan kain untuk makan siang yang sudah agak sore.
"Wuah seperti pesta kebun." gumamku
"Kakak sini gabung, Kak Pasopati sudah membakar ayam ni untuk kita." terang Widasari.
"Dari mana kalian dapat ayam? nyuri ya?" tanyaku
Mereka ber tiga melihatku. Ada tatapan aneh dan kemudian mereka tertawa secara bersamaan.
"Kenapa?" tanyaku agak sebal.
"Rara, rara ... kamu ini. Mana ada aku mencuri. Aku berburu tadi sama Widasari." jelas Pasopati
Aku kemudian tersenyum setelah mendengar penjelasan dari Pasopati. lagi - lagi aku lupa dan tidak sadar kalau masih di masa lalu.
"Baiklah ayo makan. Aku sudah lapar." kataku
Sais kereta mengambil makanan yang tadi disiapkan oleh dayang untuk bekal kami. Setelah itu dia pergi lagi.
"Eh sais, kemana kamu?" tanyaku
"Ampun putri, hamba akan kembali ke kereta." katanya
Aku mendekatinya dan menyuruh bergabung makan bersama kami.
"Ayo sais makan bersama kami." kataku
__ADS_1
"Tidak putri, saya hanya seorang pelayan, tidak layak makan bersama bangsawan." katanya
Aku terus memaksanya agar berkenan makan bersama. Tapi sepertinya dia takut. Ia juga melirik pada mereka ber tiga. Aku paham makna lirikan sais itu.
"Apa sais ini boleh makan bersama kita?" tanyaku
"Putri, dia adalah sais tidak seharusnya makan bersama tuannya." kata Widasari.
"Tidak, dia sudah menemani kita dan baik pada kita. Apakah dengan makan bersama akan mengurangi nilai dari makan?" tanyaku agak marah.
Satria akhirnya berdiri dan menghampiri kami.
"Baiklah, kau boleh makan bersama kami." kata Satria
"Tidak tuan, ampun saya tidak berani." katanya tertunduk
"Aku akan menghukummu jika kau menolak." kata Satria
Sais akhirnya mengalah dan ikut makan bersama kami. Ini adalah kali pertama sais dan tuannya makan bersama. Mereka ber dua (sais kereta) terlihat sangat canggung.
"Sais, ayo makan jangan malu - malu." kataku
"Baik tuan putri." katanya
Kami makan siang dengan canda tawa. Aku kemudian melihat ada arang bekas kayu yang dipakai untuk membakar ayam tadi. Aku iseng mencolek arang itu. Aku mendekati Satria dan bersikap manja padanya.
"Kakak, apa kau tahu betapa aku sangat mencintaimu." godaku.
"Makasih ya sayang." balasnya
Aku kemudian memegang pipinya dan langsung mencoretkan jariku pada pipinya.
"Kau sangat tampan pangeranku." kataku
"Kau juga permata hatiku." kata Satria.
"Pangeran Satria kau sangat tampan sekali." goda Pasopati
"Nggak ada yang mengalahkan ketampanan kakak." timpal Widasari.
Sais kereta pun juga tertawa tipis begitu melihat wajah Satria.
"Kalian kenapa sih?" tanya Satria curiga.
"Apa yang sayangku lakukan pada wajahku?" tanyanya
Ia langsung mengelus pipinya. Tangannya langsung menghitam begitu selesai mengoles pipinya. Ia kemudian melihatku. Aku menjauh beberapa langkah darinya sebelum ia menyadarinya.
"Jadi ini kerjaan sayangku?" kata Satria.
"Baru kali ini pangeran tampan dicoret dengan angus." ledek Pasopati.
"Nararia ... awas kau. Begitu aku menangkapmu, nggak akan ku lepaskan dan kuampuni sampai kau memohon." ancam Satria.
Ia langsung mengejarku. Aku terus menghindar dan berusaha lari. Satria terus mengejarku.
"Awas yaaa" kata Satria
"Kau nggak akan bisa menangkapku." kataku
Ia semakin bersemangat untuk menangkapku. Tapi sayangnya aku memakai jarik yang membuat aku tidak leluasa berlari. Aku juga sudah lelah menghindarinya. Akhirnya dia menangkapku. Ia mengayunkan aku dan menjatuhkanku di rumput.
"Kakak hentikan." kataku
"Apa kau akan mengulanginya lagi?" tanyanya
"Jika ada kesempatan." godaku
__ADS_1
Ia semakin menggelitikku. Aku meronta - ronta karena geli dan berusaha melepaskan cengkramannya.
"Hentikan, Kak." kataku
"Aku akan mengampunimu tapi dengan satu syarat." katanya
"Apa? cepat katakan." kataku
"Hapus noda di pipiku." katanya
Aku tersenyum, ternyata ia hanya meminta membersihkan noda arang. Hal yang sangat mudah pikirku. Tapi ternyata dia licik.
"Bersihkan dengan bibirmu." katanya
"Gimana bisa?" tanyaku
"Kau harus terus menciumku sampai nodanya bersih." katanya disertai senyum licik.
"Nggak maauuuuu." kataku
Ia terus menggelitik dan membuatku lemas, karena terus meronta. Akhirnya aku menyerah.
"Baiklah, aku bersihkan." kataku
"Nggak usah, aku nggak mau bibir indah dan manismu ini terkena noda arang. Ntar jadi jelek gimana?" godanya
Aku hanya tersenyum sipu mendengar rayuan darinya. Mataku kemudian tertuju pada seberkas cahaya di ujung barat Sungai Opak. Keindahan yang tiada kira. Lebih indah dari yang pernah aku lihat.
"Matahari terbenam." kataku
"Indah kan?" tanya Satria
Pasopati dan Widasari kemudian mendekati kami. Mereka juga melihat sangat takjub akan pemandangan sore yang indah. Sungai Opak sangat elok karena pantulan cahaya sore yang indah.
"Kata mamaku, pemandangan sore itu namanya candi ayu." kataku
"Candi ayu?" tanya Widasar
"Iya, di ujung sana ada istana yang indah. Tempat bersemayamnya putri Candi ayu yang sangat elok, cantik, dan mempesona." kataku
"Iya, putri Candi ayu ada di sampingku." kata Satria
Ia kemudian memandangku dan aku pun tergoda untuk memeluknya. Matanya yang begitu indah tak tahan aku melihatnya.
Pasopatipun segera memeluk Widasari. Ia ingin memberikan kebahagian yang sama seperti Satria berikan padaku.
Mentari sore ini telah membuat dua pasang sejoli memadu kasih di tepi Sungai Opak. Keromantisan sore hari ini sangat sempurna dengan hadirnya cahaya Surya yang begitu mempesona. Cahaya yang akan terus aku rindukan ketika aku kangen dengan Satria.
Pengalaman dan kebersamaan ini pasti tidak akan langgeng. Cepat atau lambat, aku pasti akan berpisah dengannya. Menatap hidupku yang baru di masa depan. Jika pada masa ini telah ditemukan kamera. Aku ingin sekali mengabadikan moment ini. Kenangan ini akan aku bawa ke masa depan.
"Rara, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Satria
"Terimakasih untuk kenangan hari ini. Aku akan merindukan kalian semua." kataku sambil menangis.
"Apa maksudmu?" tanya Satria
"Aku takut aku tidak bisa menikmati sinar senja bersama kalian di sini." kataku.
Satria memelukku dengan sangat erat bahkan aku juga membalasnya. Aku lihat Pasopati juga nampak sedih. Hanya dia yang tahu kapan aku akan kembali ke masa depan.
**
Episode kali ini cukup ya teman - teman. Terimakasih atas waktunya.
with love
Citralekha
__ADS_1